
"Mau ikut ke rumah?" tanya Candra mengurai pelukan. "Katanya kangen banget!"
Kiran menggeleng, "Kamu udah gila ngajak aku ke rumah lewat tengah malam gini?"
"Ya kita bisa menyelinap lewat jendela, langsung masuk kamar!" jawab Candra kalem. "Ayah nggak bakal tau, aku jamin. Mau?"
"Nggak, aku masih waras. Aku nggak mau ayah kamu nilai aku buruk, aku cewek baik-baik … ntar nggak jadi diambil mantu kalau pecicilan masuk rumah orang kayak maling! Lagian apa nggak ada ide lain selain main di kamar?"
"Kamu gemesin banget sih!" kata Candra mengusap kepala Kiran sambil tertawa. "Siapapun dia, mau bagaimana tingkahnya, kalau aku suka ayah pasti suka."
"Dia? Maksudnya ada yang lain lagi yang pernah kamu ajak ke rumah?" Kiran mendongkol tanpa mencerna maksud ucapan Candra lebih dulu. Gerutuan cemburu keluar dari bibirnya, "Baru lima menit jadian udah nyeritain cewek lain!"
Candra mengangkat dagu Kiran dengan telunjuknya, masih dengan terkekeh-kekeh menjawab keraguan Kiran. "Belum ada satu cewek pun yang pernah ke rumahku selain kamu, Sayang!"
Kiran meringis, "Bisa dibilang mustahil cowok seganteng kamu itu nggak punya cewek cadangan."
"Kamu kebanyakan gaul sama garangan kayaknya, makanya semua cowok dinilai sama. Aku udah seabad menjomblo, Kiran!"
"Jomblo abadi dong?" tanya Kiran menuntut. Tawanya pecah mendengar pengakuan Candra yang menurutnya lucu. "Ya cowok memang memiliki kesamaan, entah itu garangan atau bukan kalau dia punya tampang pasti lagunya banyak. Tampan itu memang identik dengan tak setia, kan?"
"Kamu bisa uji kesetiaan denganku! Aku justru takut kamu yang akan berpaling …."
Kiran menggeleng, "Kok jadi serius gini sih? Baru juga jadian, gini deh mending kita jalani aja dulu! Soal cocok apa nggak di depan urusan nanti, jangankan orang baru pacaran, yang udah nikah tahunan juga banyak yang bubar."
"Hm, moga-moga kita nggak sampai bubar … ngomong-ngomong kamu nggak pakai bandana buat nutup telinga, nggak dingin?"
Kiran cengar-cengir penuh maksud, "Ya kalau dingin tinggal minta peluk sama kamu. Boleh?"
Kalau saja suhu tubuhnya sehangat Kiran, Candra tidak akan keberatan memeluk gadis manis itu sepanjang malam, siang, malam lagi hingga dia merasa puas menghirup aroma Kiran yang memabukkan.
"Nggak boleh kalau cuma sebentar!" Candra tertawa lepas, dia menyukai cara Kiran mengungkapkan isi pikirannya. Selain bau wangi Kiran yang selalu membuatnya betah, liontin miliknya itu seolah menjadi penanda bahwa mereka akan memiliki cerita yang panjang di hari berikutnya.
Seharusnya memang bukan Kiran yang menemukan liontin itu, juga bukan perempuan-perempuan lain di luar sana. Liontin itu dipasang untuk ditemukan oleh seorang pemuda yang memiliki julung wangi dengan hari lahir yang ternyata sama persis dengan Kiran.
Ah, Candra dalam dilema! Kenapa liontinnya justru jatuh ke tangan seorang gadis?
Buruknya gadis itu adalah Kiran yang sangat manis, ceria dan juga wangi. Candra menyukainya, seperti dia menyukai Ayu Kumala semasa hidupnya dulu. Masa muda yang banyak dihabiskannya dengan menjelajahi alam liar sebagai seorang mapala.
Hm, tragis memang! Candra tidak pernah pamit saat pergi untuk selamanya dari sisi Ayu Kumala.
Di ulang tahunnya yang ke-22, Candra mendaki gunung sendirian, menantang adrenalin sampai batas tertingginya. Candra tidak memperdulikan hujan badai yang sedang mengganas, tekadnya untuk menaklukkan gunung sebelum hari lahirnya lewat justru menjadi awal bencana.
Pendakian Candra bahkan belum sampai setengah gunung ketika dia tergelincir ke dalam jurang setelah buang hajat besar. Padahal dia hanya turun ke arah lembah lebih sedikit agar kotorannya tidak mengganggu jalur pendakian, baik kelihatan rupanya atau dari baunya.
Hanya saja, rumput terlalu licin saat Candra mulai naik ke jalur pendakian. Sepatu trekkingnya selip dan dia tersungkur, menggelinding mengikuti kontur gunung menuju lembah.
Kalungnya tersangkut akar pohon edelweis hingga terlepas. Namun tubuhnya meluncur sederas air menuju tempat yang lebih curam. Dalam balutan jaket flanel kotak-kotak merah hitam itu Candra pasrah dan melepaskan keberuntungannya, hidupnya.
Liontin yang kata kakeknya akan melindunginya dari segala petaka nyatanya hanya isapan jempol belaka. Candra tetap kehilangan nyawa hari itu, dan juga tersesat di alam lain gunung setahun lamanya.
Tahun kedua, Candra bertemu dengan sang penguasa gunung. Makhluk gaib yang ternyata memiliki andil besar dalam kehidupannya dan keluarga. Makhluk yang akhirnya menobatkan dirinya sebagai 'sing mbaurekso' gunung untuk satu abad lamanya.
"Kamu beneran bikin gemes!" kata Candra mengacak-ngacak rambut Kiran.
"Kalau aku nggak gemesin, kamu nggak bakal kangen sama aku!" ledek Kiran. "Nggak usah kemana-mana ya, kita pacaran di sini aja! Aku masakin kalau kamu mau makan!"
Seperti apa yang dikatakannya pada Kiran, cinta datang tak berbatas waktu. Setelah satu abad lebih, Candra kembali merasakan getaran saat berdekatan dengan perempuan. Jika itu bisa disebut getaran tentunya, karena faktanya Candra sudah tidak memiliki sesuatu yang berdetak, cairan yang mengalir dalam tubuh atau udara yang memenuhi rongga paru sebagai pusat kehidupannya.
Candra berdecak tak berdaya menyadari keadaannya. "Kamu nggak ada kuliah hari ini?"
"Sebenarnya aku ada tugas yang harus dikumpulin hari ini, tapi mau balik males. Mau di sini lama nanti malah nggak selesai-selesai kuliah, bisa-bisa duit bulanan distop orang tua kalau nggak lulus cepet."
"Kamu ribet bener jadi orang."
Kiran menukas tajam, "Itu karena kamu juga!"
"Kok jadi aku yang salah?"
"Ya ampun … jadi kamu nggak ngerti arah pembicaraan ini kemana?"
"Ya nggaklah, aku bukan Tuhan yang serba tau. Biasanya kamu juga blak-blakan nggak pake teka teki silang," jawab Candra kalem.
"Jarak kita itu masalahnya, aku nggak bisa menghubungi kamu setiap waktu layaknya pasangan lain, aku juga nggak mungkin terus-terusan kesini buat nemuin kamu," kata Kiran keki.
"Oh kamu minta diapelin?"
Kiran terkikik geli, "Umumnya cowok yang dateng ke tempat cewek, bukan sebaliknya kayak kita gini."
"Loh inikan mau kamu datengin aku, kalau kamu maunya dibalik aku yang dateng ke tempatmu ya bisa aja, asal nggak tiap hari. Aku ada kerjaan sampai malam, aku bisanya datang lebih malam, nggak apa-apa, kan?"
Wajah Kiran langsung berbinar-binar, "Ya aku juga tau kalau kamu bukan pengangguran, Can!"
"Ya udah nanti tiap malam Selasa Kliwon, Jumat Kliwon sama Sabtu Kliwon aku apelin," ujar Candra dengan raut jenaka tapi serius saat mengucapkannya.
"Astaga, kenapa pilihan hari apel kamu aneh gitu sih? Horor bener!"
"Biar beda sama yang lain," jawab Candra asal.
"Hm, iya deh! Lagian aku juga kalau Minggu kadang pulang kampung ambil jatah makan."
"Rumah kamu dimana emangnya?"
"Mojokerto, Can!"
"Jauh juga ya? Gimana kalau kamu tinggal di rumahku aja?"
"Kamu ini emang agak-agak ya? Nikah belum udah main ajak anak orang tinggal serumah," ujar Kiran tersipu-sipu. Tidak menyangka kalau Candra akan menawarinya tempat tinggal.
"Ya udah aku tunggu kamu sampai siap! Aku nggak bakal maksa kamu kok, tinggal di rumahku itu artinya kamu bakal jadi pasanganku selamanya. Kamu kan belum tentu mau, apalagi rumahku pelosok!" ujar Candra dengan gaya memelas. "Butuh cinta dan kemauan besar untuk mewujudkan itu semua."
Kiran termehek-mehek mendengar ucapan melankolis Candra, terlalu dini menurutnya. "Aku nggak menilai kamu dari keadaan rumah atau yang lain, aku di sini karena aku memang suka sama kamu. Kamu itu unik, kayak edelweis ungu yang membuatku terpukau dalam satu kali lihat."
"Hm, bunga abadi. Seabadi cintaku padamu …!"
"Preeeettttt!" sahut Kiran terpingkal-pingkal.
"Kita buktikan aja gimana?"
***