
Keringat dingin mengucur dari tubuh Kiran. Punggungnya basah, pun dengan dahi dan telapak tangan. Mas Bambang sukses membuatnya kelimpungan dengan rasa sakit yang tak biasa. Tak disangka, aura gelap dukun muda itu sangat menekan dan menyesakkan dada Kiran.
Beruntung Septi sudah selesai dengan keperluannya, sehingga mereka bisa undur diri dari hadapan sang paranormal. Jabat tangan yang dilakukan Kiran dan mas Bambang pun seperti sambaran listrik yang mematikan. Kiran spontan muntah di tempat, cairan menjijikkan itu bahkan sempat muncrat dan mengenai baju mas Bambang.
"Maaf," ujar Kiran segera menarik tangannya yang masih ditahan mas Bambang. Tubuhnya yang limbung segera dipapah Surya setelah dilepaskan.
"Jangan makan minum sembarangan, Kiran! Kalau udah sakit parah susah disembuhkan!" pesan mas Bambang penuh maksud. "Ehm, ngomong-ngomong aku salut sama pacarmu!"
Kiran terkesiap, tapi tidak mau menanggapi lebih jauh. Dia hanya mengangguk tanpa mau menatap mata juling orang yang hampir membuatnya pingsan. Entah mengapa dia tidak suka dukun muda itu ikut campur urusan pribadinya!
Saat datang, Kiran merasa baik-baik saja dan tidak butuh bantuan, aneh jika dia pulang justru membawa rasa sakit di seluruh badan. Mas Bambang pasti sengaja mengerjainya dengan maksud tertentu, maksud terselubung tanpa Kiran ketahui.
Mas Bambang menatap Kiran iba. Sakit yang dirasa gadis itu karena adanya benturan energi di dalam tubuhnya. Sayang sekali Kiran tidak menyadari kalau apa yang terjadi pada dirinya itu adalah hal positif.
Kiran justru berpikir sebaliknya.
Mereka bertiga akhirnya keluar dari ruang praktek mas Bambang. Kiran minta langsung diantar pulang ke Mojokerto, sementara Septi memilih untuk menginap di rumah Surya. Besok pagi mereka baru akan pulang setelah janjian bakal menjemput Kiran sebelum jam enam.
Di rumah, Kiran merebahkan tubuh di kamarnya. Tenaganya terkuras habis, Kiran juga melewatkan makan malam, hebatnya dia bisa tidur nyenyak hingga tengah malam.
Setelah lewat tengah malam, mimpi dikejar-kejar pocong menjadi bunga tidur Kiran hingga hampir subuh. Dalam mimpi itu Kiran sudah berlari menjauh, bersembunyi di beberapa tempat, tapi selalu berakhir ditemukan.
Bahkan Kiran sudah ditolong oleh sejumlah orang yang sukarela memasang badan untuknya, tapi tetap saja pocong itu yang menang. Mimpinya mengisyaratkan seolah-olah dimana ada Kiran disitu pula ada pocong yang mengikuti.
Kiran merasa mimpinya terlalu lama dan melelahkan, dia bangun dengan nafas tersengal-sengal. Pakaian dan bantalnya basah oleh keringat. Kiran duduk memeluk lutut di tengah ranjang, ternyata suhu tubuhnya sedang panas. Pantas saja kalau dia tidur gelisah dan mimpi aneh-aneh.
Surya dan Septi menjemput tepat pukul lima lebih tiga puluh. Kiran sudah minum obat penurun panas dan juga makan ala kadarnya untuk mengisi perutnya yang keroncongan.
Mereka merental mobil hanya untuk 24 jam, jadi sebelum jam sebelas siang, mobil harus sudah dikembalikan. Kiran pamit pada kedua orangtuanya setelah mengatakan kalau kondisinya baik-baik saja.
Perjalanan pulang tidak terlalu banyak percakapan, mereka semua lelah. Kiran menghabiskan waktu di mobil untuk tidur, sementara Septi menemani Surya dengan obrolan ringan seputar musik dan kegiatan kuliah lapangan.
"Ran, kamu nggak apa-apa? Kamu pucet loh!" tanya Septi begitu mereka diantar Surya sampai kost.
"Pusing dikit, nanti juga sembuh!"
"Tapi badan kamu masih panas, apa aku anter ke dokter biar dapat penanganan?"
"Nop!" Kiran menggeleng lemas, "Aku bawa tiduran aja nanti juga baikan, paling mau flu!"
"Ya udah kamu istirahat aja di kamarku kalau gitu, biar aku bisa pantau keadaan kamu!"
"Astaga, aku nggak sakit parah, Septi! Aku di kamarku aja mau baring-baring sambil denger lagu, pintu nggak aku kunci," tegas Kiran. "Kamu masih takut?"
Septi tergelak, "Siang-siang mana ada demit nongol, Ran! Tapi aku udah pakai semua syarat dari mas Bambang kemarin waktu di rumah Surya. Hasilnya aku tidur nyenyak banget sampai subuh. Kayaknya mataku udah normal!"
"Syukurlah kalau gitu, aku ikut seneng! Aku ke kamar sekarang ya?"
"Hm," jawab Septi. "Bilang kalau butuh sesuatu!"
"Aku butuh Candra," kata Kiran dengan ekspresi mendamba.
"Baru juga kemarin diapelin!"
Kiran membela diri sambil ngeloyor masuk kamar, "Namanya juga masih baru!"
Sebelum merebahkan diri di kasur, Kiran mengambil bandana lusuh yang terlipat rapi di lemari pakaian. Kiran menggenggam erat bandana itu, menghirup aroma dupa yang sudah tersamar oleh bau pewangi pakaian untuk mencari ketenangan.
Andaikan saja mereka tidak terpisah jarak, andai saja Candra memiliki ponsel agar mereka bisa terhubung kapan saja, andai saja Kiran memiliki foto Candra, mungkin cinta pandangan pertamanya tidak akan menyiksa begitu rupa.
Entah mengapa Kiran selalu saja lupa untuk memotret Candra saat mereka sedang berdua. Aneh, kenapa gangguan 'pikun' menyerang di usianya yang masih sangat muda?
Puas menciumi bandana kekasihnya, Kiran tiduran sambil memeluk kain tersebut. Tubuhnya yang masih lemas tidak bisa menahan kantuk karena efek obat turun panas yang diminumnya. Sebenarnya masih terlalu pagi untuk Kiran masuk kembali ke dunia mimpi.
Hanya saja, alam bawah sadar Kiran menuntunnya untuk berjalan tak tentu arah di dalam gelap. Kiran mengikuti jalan setapak yang seperti tak berujung di tengah hutan itu. Tak lama, dia malah berakhir di sebuah punden. Kiran berhenti, bingung dengan keadaan asing yang ada di dalam mimpinya.
Ternyata, mimpi pagi itu membawa Kiran ke masa lampau. Di waktu itu, Kiran melihat sepasang suami istri sedang bertengkar di depan punden. Bau wangi menyengat hidung Kiran, berasal dari asap bakaran dupa di kaki punden.
Namun, hal itu sama sekali tidak mengganggu pasangan yang sibuk beradu argumen. Padahal, Kiran merasa sesak dengan aromanya yang terlalu tajam.
"Aku ingin anak, titik!" Sang suami mengakhiri debat dengan nada sarkas.
"Mas Marcell, kamu serius? Haruskah kita lakukan dengan cara seperti ini?"
"Aku tidak peduli! Selama kamu bisa hamil dan memberikan keturunan, aku nggak akan pernah meninggalkanmu! Aku butuh pewaris, Winda!"
"Jadi tekadmu sudah bulat untuk memiliki anak pujan? Anak yang akan kita dapatkan dari campur tangan setan?"
"Itu lebih baik daripada kita tidak memiliki anak! Aku tidak mungkin mencari istri lagi hanya untuk mendapatkan pewaris, aku mencintaimu, Winda! Tolong mengertilah keadaanku!"
Sang istri yang bernama Winda mengangguk lesu sembari mengusap air mata. "Baiklah, kita temui juru kunci itu sekarang! Aku bersedia. Aku harap kamu sudah memperhitungkan semua resikonya, jangan sampai menyesal di kemudian hari! Aku juga mencintaimu, tidak akan ada pria lain dihatiku selain kamu, Mas!"
"Beberapa hari lagi bulan penuh, juru kunci sudah mengatakan kalau ritual akan dilakukan saat tengah malam di bawah sinar purnama. Aku harap kamu sudah siap untuk menjalani prosesnya! Biarlah segala resiko aku yang akan menanggung. Kedepannya aku akan menukar hidupku untuk anakmu jika masanya di dunia telah berakhir!"
"Mas Marcell …!" Winda menggeleng berat, air mata merebak dan menggenang.
"Sudahlah, Win! Aku sudah ratusan kali memikirkan hal ini, kamu akan hidup bahagia dan berkecukupan dengan anak kita tanpa perlu bekerja!"
"Bagaimana aku bisa bahagia jika aku nantinya harus kehilanganmu atau anak kita?" Suara isak mulai keluar tanpa bisa dibendung.
"Dua puluh dua tahun itu tidak sebentar, Winda! Kamu akan puas menatap aku dan anakmu selama perjanjian belum berakhir. Kita tidak akan bisa menghindari maut, cepat atau lambat kita pasti terpisahkan. Aku hanya ingin membuat kita lebih bahagia sebelum perpisahan itu tiba!" Pria bernama Marcell itu menyeka air mata istrinya dengan punggung tangan. "Percayalah padaku!"
Winda mengangguk samar, "Aku akan siap saat purnama tiba!"
"Aku akan menamai anak kita dengan nama yang artinya cahaya bulan jika dia lahir nanti. Ayo kita masuk, kita sudah ditunggu juru kunci!"
Kiran menatap pria dan wanita tersebut berpelukan di depan punden, lalu masuk ke dalam pendopo dimana seorang kakek berpakaian serba hitam sudah menunggu.
Langkah penasaran Kiran terhenti, seseorang memanggil namanya dari jauh. Sangat samar, seperti suara sahabatnya di dunia nyata.
"Ran … Kiran, Kiran! Bangun sebentar, ayo makan siang dulu, aku udah masak!"
Guncangan di tubuh dan tepukan di pipi tak ayal membuat Kiran keluar dari alam mimpinya. Matanya membuka malas. "Septi?"
"Hm, ayo makan trus minum obat lagi, badan kamu panas banget!" Septi memaksa Kiran meraih puing-puing kesadarannya.
"Oke!" Kiran duduk ditepi ranjang sambil memikirkan mimpinya. Punden yang dilihatnya dalam mimpi serasa mirip sekali dengan yang ada di rumah pak Subarkah.
Kiran harus memastikannya agar tidak mati penasaran!
***