
Candra kadang tak habis pikir, bagaimana bisa manusia memujanya untuk sesuatu yang hanya bisa dinikmati sesaat? Sementara upah dari kerjanya menyediakan uang untuk kekayaan mereka itu sejatinya sangat mahal.
Asal muasal pemujaan di punden itu sendiri berdasar atas naf-su manusia pada dunia. Mereka yang sengaja memanggil kuasa kegelapan untuk hadir di sana sebagai Tuhan kedua, yang mampu mengabulkan setiap permohonan dengan tumbal nyawa.
Demi materi dan ilmu kedigdayaan semu manusia rela menjual jiwa, demi mendapatkan anak tercinta mereka mau menjadi bagian dari kerak neraka. Terlalu banyak alasan yang mengatasnamakan cinta dan hasrat dunia saat mereka datang padanya dan melakukan ritual pemujaan.
Ngomong-ngomong soal cinta, ternyata bukan hanya manusia yang memilikinya, bukan hanya jenis mereka saja yang merasakan nikmatnya jatuh karena cinta!
Siapa sangka, Candra yang sudah tak memiliki raga sebagai manusia juga bisa jatuh cinta?
Ya ampun, apa tidak ada yang tahu kalau Candra gelisah dengan kehadiran Kiran yang selalu penasaran? Apa tidak ada yang paham kalau Candra ingin memiliki Kiran jauh lebih besar dari apapun yang ada di dunia ini?
Candra tak mampu membendung perasaannya, dia jatuh cinta pada yang bukan dari jenisnya, pada anak manusia biasa. Bahkan, jika Candra harus bertahta sebagai sing mbaurekso seribu tahun lagi, atau mungkin sampai dunianya berakhir, dia sangat bersedia, asalkan Kiran ada disisinya.
Ah, Candra semakin tak sabar saja! Kiran kini sedang dalam perjalanan menuju rumahnya, bau wangi gadis itu tercium semakin dekat. Masuk ruang dadanya dengan indah, dan bersemayam tak mau pergi bagai rindu di malam hari.
Sumpah, Candra sudah tidak tahan untuk mendekap dan mengendus seluruh aroma gadisnya hingga matahari terbit esok hari.
Rumahnya akan selalu terbuka untuk Kiran, kapanpun gadisnya ingin datang. Candra justru berharap Kiran sudi tinggal bersamanya dalam suka dan duka selamanya.
Hanya saja semua memang butuh waktu. Candra sadar, jalan untuk bersama dengan Kiran tidak akan pernah mudah, mereka beda alam. Perbedaan mencolok yang bisa dibilang mustahil untuk disatukan.
Kiran mungkin tidak curiga padanya karena ayahnya, si juru kunci adalah manusia biasa. Begitu juga dengan mak Sinah selaku pembantu pak Subarkah. Tapi jika pada siang hari Candra tidak pernah bisa menemuinya, bisa jadi gadis itu akan banyak bertanya untuk menjawab rasa penasarannya.
Candra bisa saja menggunakan kesaktiannya untuk memerangkap Kiran di dalam rumahnya, membuatnya lupa pulang atau menggunakan pengasihan memedi agar Kiran takluk padanya.
Tapi bukan itu yang diinginkan Candra. Dia justru berharap akan ada ketulusan dalam cinta Kiran padanya.
Bagi Candra, cinta tidak akan menilai kekurangan pasangan. Dia siap Kiran melihatnya dalam wujud apapun, mengenalnya luar dalam, mengetahui masa lalunya yang kelam, tapi tetap mau menerima dan memberikan pelukan hangat untuknya. Tanpa syarat.
Namun, bisakah Kiran membiarkan cinta mereka tetap tumbuh setelah kepergiannya ke dukun itu? Sudah mulai sadarkah Kiran dengan semua keganjilan dalam hubungan mereka?
Sementara mimpi yang dikirim Candra mengenai orang tuanya sebagai langkah awal pengenalan masa kelamnya, langsung ditanggapi Kiran dengan mendatangi rumahnya untuk mencari kebenaran.
Candra tersenyum masam, gadisnya memang tipe cewek penasaran, tapi Candra tidak keberatan menjawab semua pertanyaan Kiran agar mood gadisnya tidak berantakan.
Lagian apa sih nggak buat Kiran? Candra bahkan mulai berlagak seperti manusia yang memujanya, berani mengorbankan apa saja dengan alasan cinta, demi kebahagiaan wanita yang mulai dicintainya.
Meski tidak tega harus membuat Kiran dan ojeknya sedikit tersesat dan salah jalan, tapi itu dilakukan Candra bukan tanpa alasan. Candra ingin Kiran sampai rumahnya saat 'surup', sehingga dia bisa menyambut sendiri kekasihnya yang manis itu.
Tak lama, Kiran datang. Tukang ojek yang ditumpangi Kiran langsung hendak kabur begitu gadis itu mengulurkan uang pembayaran.
Setelah melewati hujan, jalanan berumput licin dan sedikit tersesat di tengah hutan, pemuda penjaga warung itu memang berhasil mengantarkan penumpangnya sampai tujuan. Dengan penuh perjuangan tentunya.
Setapak sepi dan minimnya pencahayaan mentari yang siap tenggelam semakin menyulitkan perjalanan mengantar Kiran. Bahkan, siang hampir berganti malam ketika arah ke kampung demit itu benar-benar terbuka untuknya.
Hanya saja, surup itu harus dilewati pemuda penjaga warung dengan jantung yang hampir lepas. Sosok pocong menyambut kedatangan mereka tepat di depan pintu rumah, berdiri tanpa melakukan gerakan apapun.
Sorot mata dari memedi putih itu mengawasi Kiran yang sedang turun dari motor, wajahnya dingin tanpa ekspresi. Tapi Kiran tak menyadari kalau tukang ojeknya gemetar ketakutan. Kiran malah sengaja tidak mengambil uang kembalian karena teramat gembira akan segera bertemu Candra.
Berbanding terbalik dengan pemuda tukang ojek yang spontan pias karena melihat penampakan itu. Suaranya nyaris tak didengar Kiran saat berpamitan dan mengucapkan terima kasih karena Kiran menolak uang kembalian.
Pemuda itu keluar halaman rumah kuncen dengan sangat tergesa, perjalanannya keluar kampung masih cukup memakan waktu, sementara memedi yang terang-terangan menampakkan diri padanya itu bakal menjadi momok mengerikan sepanjang dia berkendara pulang.
Kiran menduga tukang ojeknya pucat dan gemetar karena hawa dingin gunung. Ekspresinya memang seperti orang tertekan, tapi Kiran tidak menemukan alasan kenapa pemuda itu harus keluar halaman rumah Candra dengan sangat terburu-buru.
Kiran menatap punggung tukang ojek yang mengantarnya hingga hilang ditelan gelapnya hutan. Deru mesin motor juga sudah menghilang, berganti dengan sepi yang menyayat hati.
Kiran tidak asing dengan situasi aneh itu karena pernah tinggal di rumah sang juru kunci, sandyakala juga hampir dimakan gulita, wajar jika senyap menyapanya.
Hembusan nafas Kiran berat, perkiraannya meleset jauh soal waktu tempuh dari kostnya ke rumah Candra. Kepalanya berdenyut pusing memikirkan bagaimana dia pulang nanti?
"Kiran …." Suara berat dan serak milik seseorang mampir di pendengaran Kiran seperti alarm di pagi hari. Kiran hampir terlonjak karena kaget dengan sapaan tersebut. Lembut, tapi karena suasana sangat sepi, suara itu menjadi satu-satunya penyebab lamunannya bubar.
Kiran menoleh ke arah pintu masuk rumah. Seseorang yang dirindukannya berdiri dengan seulas senyum menawan. "Candra?"
"Siapa lagi memangnya yang akan menyambut kedatanganmu selain aku?"
Dengan wajah merona, Kiran mendekat dan berdiri satu meter di depan pacarnya. "Aku kemalaman, rumahmu ternyata tidak mudah ditemukan. Tukang ojek tadi mengomel sepanjang jalan karena putus asa nggak nemuin arah ke kampung ini."
Candra mengambil kupluk gunung Kiran dan mengacak-acak rambutnya dengan sayang. "Ayo masuk, kamu kedinginan!"
"Sebentar!" Kiran melepas jas hujan dan menyampirkannya di kursi kayu teras. "Untung hujannya nggak deres banget."
"Tetep aja bajumu lembab, ayo ganti sekalian. Aku buatin teh hangat! Kamu juga pasti laper,” ajak Candra.
“Ayahmu mana? Aku sungkan dateng bertamu malam-malam," tanya Kiran dengan senyum kikuk.
Candra merangkul bahu Kiran, "Ayah lagi ada keperluan di desa, ayo masuk dulu! Sudah mulai gelap."
Kiran mengangguk samar, mengikuti langkah Candra menyusuri rumah minim penerangan tersebut. Dia langsung diantar ke kamar.
Candra membuka lemari dan memberikan baju kering untuk dikenakan Kiran. "Aku tunggu di meja makan ya!" kata Candra melangkah menuju pintu keluar.
"Jangan, Can! Tunggu di sini aja, cuma sebentar kok," sahut Kiran cepat. Dia tidak mau ditinggalkan di dalam kamar sendirian.
Candra tergelak, langkahnya berhenti di tengah pintu, membelakangi Kiran yang sedang berganti baju. "Kamu masih takut tinggal di rumah ini? Pencahayaannya kurang terang ya?"
"Kamu bilang karena belum terbiasa!"
"Jadi kamu ingin terbiasa dengan kondisiku?"
"Hm," jawab Kiran singkat, meski tak mengerti maksud sebenarnya dari pertanyaan Candra.
"Aku suka gelap, Kiran!"
"Aku juga suka asal ada kamu," timpal Kiran sambil menahan tawa. "Garing ya? Yuk ah, aku udah selesai!"
Candra berbalik dan mendekati Kiran dengan cepat, satu kecupan kilat mendarat di bibir Kiran, tak lebih dari sedetik, "Aku gemes banget sama kamu!"
"Kalau aku kangen banget sama kamu!" balas Kiran ceria.
"Kita makan dulu, setelah itu baru kangen-kangenan!" ujar Candra seraya mengedipkan sebelah mata.
***