Candra Kirana

Candra Kirana
Kampung Demit



Kiran dan Candra juga meninggalkan meja makan setelah dirasa cukup kenyang. Mereka duduk di ruang tamu untuk mengobrol. "Ayahmu masih belum pulang?"


"Biasanya kalau pergi ke desa memang butuh beberapa hari, apalagi kalau harus mengurus tamunya."


Kiran sedikit bersyukur, setidaknya dia tidak ketahuan tidur berdua dengan Candra oleh calon mertuanya. "Hm, kamu kok nggak bangunin aku sih? Aku tidur seharian loh, gila aja!"


Candra tergelak, "Kamu tidur kayak orang mati, siapa yang tega mau gangguin coba?"


"Iya ya, rasanya emang nyenyak banget, sama sekali nggak kebangun loh aku sepanjang tidur siang tadi. Padahal biasanya kalau tidur setelah begadang cuma tahan sampai empat jam."


"Begadangnya sambil olahraga, wajar kalau kecapekan!" timpal Candra geli. Kalimat yang spontan membuat Kiran mengusap pipinya yang panas dan merona.


"Jalan-jalan yuk, aku mau lihat kampungmu di waktu malam sebelum pulang!" ajak Kiran mengalihkan pokok bahasan. Kikuk dan takut obrolannya dengan Candra terdengar orang lain di rumah itu.


"Kamu mau pulang?"


"Ya iyalah, aku aja ke sini nggak pamit sama Septi. Dia pasti ngamuk bingung nyariin aku!"


"Oh gitu ya, kirain kamu mau di sini seterusnya sama aku!"


"Ya nggak sekarang, Can! Kita aja belum nikah," protes Kiran dengan mimik menahan malu.


"Trus kapan? Kenapa kita nggak nikah aja kalau memang itu masalahnya, toh kita udah sama-sama dewasa, udah pinter bikin anak juga hehehe …!"


Kiran memukul bahu Candra, "Kamu ini …!"


Candra menangkap tangan Kiran, mencium jemari kecil dan lentik itu penuh sayang. "Ayo kita keliling, kamu belum tau kan kalau ada kampung lain di belakang?"


"Hah, yang bener? Kok kamu nggak bilang-bilang sih, aku kira cuma ada empat rumah sama hutan di sini!"


"Lereng selatan gunung ini banyak kampung tersembunyi, Kiran! Kamu kan pernah dengar suara-suara orang bicara waktu tersesat dulu," ujar Candra yang sudah berdiri, bersiap untuk mengajak kekasihnya berkeliling. "Itu suara penghuni gunung!"


Kiran memutar memorinya yang hanya ingat samar-samar, "Ayo deh berangkat sekarang biar pulangnya nggak kemaleman! Jalan kaki nih ceritanya?"


"Kamu mau melompat-lompat?" tanya Candra setengah nyengir.


Kiran justru terbahak dengan ide konyol Candra. "Ngaco kamu!"


Dengan tak sabar, Kiran mendahului Candra keluar rumah menuju halaman. Kabut tipis menutupi pandangan jarak jauh, Kiran mengerjap beberapa kali untuk beradaptasi dengan kabut dan gelap malam. Meski tanpa cahaya, entah bagaimana Kiran bisa melihat jalan di depannya.


Kiran melangkah penuh percaya diri menyusuri jalan setapak ke arah rumah-rumah tetangga. Matanya menangkap banyak bayangan bergerak secepat cahaya, melintas di depannya, menerobos kabut dan menggetarkan udara. Kiran meremang.


Melewati dua rumah, Kiran dikejutkan oleh sosok nyata, nenek tua berpakaian putih berambut kusut masai, bekas luka menutupi wajahnya yang berkerut bergelambir. Kiran mundur selangkah saat tawa cekikikan nenek-nenek terdengar sangat keras, melengking menembus gendang telinganya.


"Candra!" Dada Kiran bergemuruh karena takut, tapi pemandangan mengerikan dan tak biasa itu tidak lagi membuatnya pingsan. Kiran berusaha menguasai ketakutannya, juga tubuhnya, toh bukan sekali ini dia melihat penampakan.


"Kenapa? Itu cuma nenek tua! Coba diperhatikan lagi yang benar, pasti nggak jauh beda dengan yang pernah kamu bayangkan!" Candra mengusap kepala Kiran, menertawakan reaksi berlebih dari kekasihnya. "Aku tau kamu salah satu orang yang kuat melihat penampakan!"


Kiran menolak argumen dengan cara menggeleng ringan. Tapi di sisi lain, hatinya ingin menantang ketakutannya. Adrenalin Kiran mulai bekerja untuk menundukkan rasa takut, rasanya hampir sama seperti saat dia berupaya menaklukkan badai gunung yang menjebaknya dua kali dalam pendakian.


Memasuki kampung pertama, Kiran terheran-heran dengan banyaknya kegiatan yang dilakukan oleh penduduknya. Awalnya Kiran sulit mengikuti pergerakan mereka. Tapi Candra membantunya untuk fokus, sehingga setelah beberapa waktu yang cukup lama, tidak ada gerakan yang luput dari mata Kiran.


Semua penampakan baik itu bangunan dan kehidupan yang ada di dalamnya terlihat jelas oleh mata demit Kiran. Dari satu kampung ke kampung lain, Kiran tidak begitu banyak menemukan perbedaan. Mereka semua sibuk di malam hari yang cerah itu, persis seperti manusia normal yang berkegiatan di siang hari.


Dan akhirnya, siapa yang sangka kalau Kiran malah sudah menghabiskan waktu semalam penuh dengan Candra di kampung-kampung memedi yang tersebar di seluruh area selatan gunung?


Rasa takut Kiran terkikis habis, Kiran tidak merasakan apapun lagi saat melihat rupa-rupa warga desa alam gaib tersebut. Buruk rupa dan mengerikan adalah ciri utama yang melekat pada wajah dan tubuh penghuni selatan gunung di bawah pimpinan Candra.


Namun, mereka tidak ada yang bermata jahat pada Kiran. Semua menunduk saat Candra dan Kiran melintas. Kiran bahkan bisa menarik kesimpulan kalau Candra benar-benar dihormati dan ditakuti di area tersebut.


Kiran memang pusing tujuh keliling, tapi bukan karena takut. Tapi karena otaknya tidak mampu lagi melogika perjalanannya yang penuh keganjilan. Bagaimana tidak, selain Candra dan keluarganya, dia tidak menemukan wajah manusia lain di kampung-kampung itu.


"Can … apa benar ini yang dimaksud tukang ojek itu sebagai kampung demit?" tanya Kiran lirih. Jumlah memedi yang tinggal di daerah itu benar-benar di luar dugaan. Luar biasa banyak, dan Kiran baru tau kalau sisi selatan gunung itu merupakan area yang sangat luas. "Mereka semua memedi, kan?"


“Iya mereka bangsa memedi.”


“Kirana ….” Kiran menoleh ke kiri ke kanan, mencari suara mistis yang kembali memanggilnya. Malam kemarin sebelum larut dalam penyatuan dengan Candra, suara itu juga muncul.


Kini, suara itu menggema lebih besar di dalam kepalanya. Kiran hampir bisa menebak kalau pemilik suara itu adalah dukun muda asal Jombang. Kiran sungguh tidak menyukainya, tapi entah kenapa dia sulit menolak hawa magis yang datang bersama dengan masuknya panggilan itu ke dalam kepalanya.


“Aku harus pulang, Can!”


"Oke," jawab Candra tak keberatan. "Sudah mau pagi, kita memang seharusnya pulang sekarang!"


Kiran menanggapi setengah linglung, "Aku mau pulang ke kost, aku belum ngomong sama Septi kalau main ke sini. Ponselku mati!"


"Baiklah, aku antar kamu, istirahatlah dengan benar, jangan lupa makan! Mau aku jemput kapan?" Candra merangkul bahu Kiran yang sedang dalam situasi sulit mengendalikan logika dan pikiran. Ya, perjalanan gaib dengan fisik memang sering membawa kesulitan.


"Malam aja ya jam sepuluh, aku mau mengerjakan tugas kuliah dulu!" Kiran bergelayut di lengan Candra, bukan bermaksud manja, tapi kakinya lemas dan kepalanya berputar pening. Fisiknya serasa kehabisan tenaga setelah berkeliling dengan Candra. Mata demitnya yang terbuka sempurna menguras semua energinya. "Can … aku kok rasanya capek banget, nggak kuat jalan lagi!"


"Tidurlah sekarang!" Candra mengangkat Kiran yang sudah memejamkan mata, menggendongnya ala tuan putri dan bergerak dengan kecepatan cahaya melintas dimensi, mengejar waktu gelap yang hanya tersisa beberapa kerjapan mata saja.


Seperti sebuah hipnotis yang bekerja di bawah alam sadarnya, Kiran tidur tanpa terganggu dengan perjalanan gaibnya. Detik berikutnya, Kiran sudah memeluk gulingnya, berselimutkan kain penghangat bergambar gunung hutan. Tergeletak lelap di atas kasur empuk di kamar kostnya.


***