Candra Kirana

Candra Kirana
Ratu Memedi



Candra membalas kecupan sang gadis dengan sepenuh jiwa, juga menyesap keseluruhan rasa cinta Kiran yang diungkapkan oleh pelukan penuh hasrat padanya.


Mereka masih polos tanpa busana, hanya berselimut kain putih untuk menutup kaki hingga dada. Kiran dengan manja bersandar pada lengan Candra, menghirup aroma maskulin pria yang baru saja menjadikannya seorang wanita.


Tidak ada penyesalan, Kiran menikmati momen manis itu dengan lebih banyak tersenyum. Sesekali merona saat mengingat Candra yang kelihatannya dingin begitu nakal saat ada di atas tubuhnya.


"Can, kamu nggak bakal ninggalin aku, kan?"


Candra mengecup puncak kepala Kiran, "Kita akan selalu bersama sepanjang masa!"


Kiran terkikik, Candra selalu saja berlebihan jika bicara soal cinta. "Kamu bisa melamarku sebagai bukti."


"Ayah yang akan menemui orang tuamu secepatnya, melamarmu untukku!"


"Aku percaya padamu!" Senyum Kiran merekah, dia percaya kalau Candra pasti akan membawanya ke tingkat lebih tinggi dari sekedar pacaran. Penyatuan mereka sangat berkesan bagi Kiran, dan dari kemesraan itulah Kiran sungguh bisa menilai Candra mencintainya dengan sepenuh jiwa.


"Tidurlah kalau lelah! Masih sakit?" tanya Candra perhatian. Kiran membuka paha untuknya cukup lama, untuk melayani syahwat liarnya yang tidak berhenti memuja.


Kiran mengulum senyum, sakit yang dirasa sama sekali tak sebanding dengan nikmat yang didapat. "Sakit … tapi enak!"


"Mau lagi?" tanya Candra mengangkat dagu Kiran agar melihatnya. Memedi ganteng itu mulai mendominasi Kiran secara menyeluruh, bukan hanya soal berhubungan badan tapi juga masuk pada ilusi pikiran yang diciptakan khusus untuk kekasihnya.


"Entahlah!" Kiran menjawab dengan ekspresi menahan malu. Kiran jelas tidak sadar saat bercinta dengan Candra beberapa menit yang lalu, dia pergi melintasi dimensi, masuk ke dunia Candra yang memiliki waktu tak berujung. Waktu yang dirasa hanya berputar-putar dan berulang seolah tidak pernah maju ke depan seperti waktu di dunia manusia.


Pandangan dua alam yang sudah terbuka total akan membantu Kiran beradaptasi dan terbiasa dengan lingkungan barunya. Candra akan menemani Kiran keliling kampung demit sebagai langkah awal. Selanjutnya ke seluruh lereng selatan gunung. Dunia Candra yang berisi bermacam bentuk memedi akan menjadi saksi, bahwa sing mbaurekso datang membawa calon ratu untuk mereka.


Hanya butuh sedikit kesabaran, sedikit waktu lagi untuk Candra mendapatkan Kiran secara utuh. Candra akan tetap menunggu saat itu tiba, saat dimana Kiran menyerahkan seluruh cinta dan hidupnya. Candra yakin gadis itu tidak akan mau berpisah darinya setelah pergumulan panas mereka barusan.


Sebenarnya, Candra bisa saja memakai pengasihan memedi untuk mendapatkan Kiran dengan cara cepat, tapi sekali lagi Candra menepis idenya, kehadiran cinta palsu di antara mereka akan merusak hubungan yang sudah terjalin manis.


Yang jelas, Candra ingin Kiran mencintainya sebesar dunia, atau sama besarnya dengan cintanya pada gadis itu. Karena membawa Kiran masuk ke dunia memedi dan tinggal di sana butuh landasan yang sangat kuat.


Hanya cinta yang bisa menyatukan mereka, yang akan menjadi pondasi penting dalam kebersamaan mereka selanjutnya. Karena hanya demi cinta orang mau berkorban apa saja dengan rela, termasuk mengorbankan kehidupannya.


Dalam perwujudan buruk Candra, Kiran memang histeris karena belum terbiasa. Tapi seiring mata batinnya terbuka semua, Candra yakin Kiran akan menerimanya. Apalagi jika mereka sudah hidup dalam dunia yang sama.


Sebelumnya, Candra memang sangat kesal dengan ulah Bambang, tapi setelah dipikir-pikir Candra justru berterima kasih pada dukun muda asal Jombang yang berani kurang ajar padanya itu.


Candra sekarang merasa diuntungkan dengan 'mata demit' Kiran yang terbuka total. Mata yang bisa melihat seluruh isi kampungnya nanti, melihat kehidupan memedi yang sejatinya hampir sama dengan kehidupan manusia, lalu Kiran akan menjadi bagian penting di daerah kekuasaan Candra.


Yaitu menjadi ratu yang akan setia mendampingi Candra. Kedudukan yang juga biasa disebut sebagai ibu dari seluruh kehidupan di kawasan lereng selatan gunung. Ibunya para memedi.


Hm, Candra sungguh tak sabar disatukan dengan Kiran dalam cinta dan pernikahan, lalu mereka akan bertahta bersama sampai akhir zaman.


Bagi orang lain, cinta Kiran dan Candra mungkin tak lazim, tapi bagi mereka berdua yang terlibat hubungan tersebut, cinta jelas memiliki kelaziman dan kenormalan tanpa perlu dijelaskan.


Bukankah banyak hal yang memang tidak lazim ada di dunia ini? Perilaku sexual menyimpang, hubungan cinta sesama jenis, atau malah hubungan yang terjalin sedarah? Lalu bagaimana cinta dijelaskan dalam lingkaran tersebut?


Pastinya, cinta bisa mengikuti pola apa saja dalam kehidupan. Normal atau tidak, lazim atau tidak, semua tergantung masing-masing individu saat memandang kasus tersebut.


Pelanggaran norma agama dan masyarakat menjadi alasan utama ketidaklaziman cinta. Sementara bagi para terdakwa, cinta tidak lazim adalah sesuatu yang sah. Tidak ada cinta yang abnormal. Cinta ya cinta, ups!


Para pelaku amoral cinta akan berteriak 'kami adalah korban' dalam tiap kesempatan debat atau diskusi kenormalan, 'kami juga tidak ingin melenceng dari norma, tapi cinta hadir pada kami tanpa bisa diprediksi, jadi maklumi saja kami!.


Dan permasalahan tidak selesai karena perbedaan sudut pandang yang tidak bisa disamakan.


"Jam berapa sekarang?" tanya Kiran dengan nada malas-malasan.


Kiran sama sekali tidak mengantuk! Rasa lelah bergumul dengan Candra serasa ingin diulanginya sekali lagi. Bukan sekali, tapi berkali-kali hingga dia benar-benar lemas dan kehabisan tenaga. Birahinya sedang membludak minta dilepaskan lagi.


"Nggak ngantuk!" Kiran membelai dagu Candra hingga leher, mengagumi rahang tegas yang serasi dengan bahu lebar dan dada bidangnya. Ah, Candra memang tampan dan sangat mempesona.


Candra menggenggam jemari Kiran, mengecupnya lembut dan mengusap-usap telapak tangannya. "Kalau kamu belum ngantuk, aku punya permintaan!"


"Apa? Jangan yang aneh-aneh!"


"Ceritakan tentang calon mertuaku!"


Kiran tergelak, Candra benar-benar mencuri hatinya. Dengan masih senyum-senyum, Kiran mulai bicara, "Ibu punya warung sembako yang sedang tidak bagus penjualannya. Kalau bapak baru saja pensiun!"


"Apa kamu butuh uang?" tanya Candra langsung pada pokok bahasan.


"Kamu gimana sih, orang mau cerita malah ditanya uang! Lagian mana ada orang hidup nggak butuh uang?"


Candra ikut terkekeh-kekeh, "Iya bener banget, apa kamu mau terima kalau aku kasih uang?"


Kiran menolak, "Uangku masih cukup buat makan dua minggu lagi, aku sekalian pulang ambil jatah bulanan pas nganter Septi ke Jombang kemarin itu!"


"Bilang kalau kamu butuh bantuan ya, Sayang!"


"Hm, ngomong-ngomong aku masih nggak habis pikir dengan pekerjaan ayahmu!"


"Harusnya yang kamu pikirkan itu tamu-tamu ayahku! Juru kunci itu hanya penunjuk jalan, nggak ada bedanya dengan tour guide yang mengantar wisatawan sampai ke tujuan!"


Kiran tercenung memikirkan kalimat Candra. Ada benarnya kalau pak Subarkah hanyalah seorang perantara, penunjuk jalan bagi orang yang ingin mencapai tujuan. Baik menjadi kaya dengan cepat, sakti atau tujuan lainnya.


"Iya deh, kita bahas hal lain aja, otakku nggak mampu mencerna apa yang kamu sampaikan."


Candra memiringkan tubuh, mendekap Kiran dan membelai rambut tebal yang membuat kekasihnya tampak sangat manis. "Jangan pikirkan apapun selain aku, Kiran!"


"Hm," jawab Kiran singkat, menikmati sentuhan Candra yang rasanya jadi sangat menggoda.


Kiran membalas dengan menelusuri pipi Candra dengan jari tangan, menyentuh hidung mancung, bibir seksi dan bulu mata yang melentik seperti miliknya sebelum turun menjelajahi leher. Dan akhirnya Kiran mengusap-usap dada bidang hingga perut Candra dengan rasa penasaran yang masih membumbung.


"Jangan terlalu nakal, Sayang!"


"Aku hanya melakukan ini padamu!" sahut Kiran membela diri. Memang benar, sebelumnya Kiran bersentuhan dengan pacarnya hanya sebatas kissing dan sedikit necking.


"Iya aku percaya, tapi aku nggak bisa tahan kalau digoda begini."


Ah, Candra patut berbangga karena menjadi yang pertama bagi kekasihnya. Kiran dengan percaya dan sukarela melepas kegadisan dengannya.


Kiran terkikik kegelian, Candra mulai balas menyerang dengan cumbuan di leher dan rema-san nakal di dadanya. "Kok lagi sih, Can?"


Letupan-letupan birahi mulai menguasai Kiran dengan cepat, hingga suara-suara nikmat keluar tanpa malu dari bibirnya yang setengah terbuka.


"Iya aku mau lagi, boleh nggak?"


Kiran menjawab dengan lenguhan dan erotisme tubuh yang mendamba keperkasaan si pemuja, Candra.


***