
Mata Septi membulat melihat penampakan yang sedang melompat-lompat menjauhi Kiran, keluar gang kos-kosan mereka. Jantungnya seperti berhenti mendadak saking terkejutnya, kesadarannya yang baru setengah terkumpul, dipaksa penuh dengan tiba-tiba.
Pocong! Ya, tidak salah lagi, Septi melihat buntalan putih berikat lima itu dari belakang. Dan syukurlah hanya dari belakang dan dari jauh. Meski sebelumnya hanya melihat muka pocong di film-film horor, tapi Septi yakin kalau aslinya memedi itu seratus kali lipat lebih seram dan menakutkan.
Septi langsung terduduk lemas, bulu tubuhnya tak berhenti berdiri, peluh membasahi dahi dan kakinya bergetar lagi seperti sore tadi. Septi memijat kepalanya yang mendadak sakit seperti dihantam godam.
Dia merasa perlu untuk mengingatkan sahabatnya agar segera masuk kamar, tapi sialnya untuk berdiri saja dia kesusahan.
"Kiran, cepat masuk!" gumam Septi dengan suara tak berdaya. Teriakan yang hanya bisa didengar sendiri karena terlalu pelan.
Candra pasti sudah pulang dari tadi karena Kiran mulai menggembok pagar. Dan kenapa cowok pendaki itu meninggalkan Kiran sebelum sahabatnya masuk ke dalam? Ah, semoga saja Kiran tidak melihat sosok gaib menyeramkan yang melintas di gang depan seperti dirinya.
Septi mengumpati pandangan dua alamnya dengan kesal, "Apes berkepanjangan ini namanya, kemarin lusa lihat, kemarin juga lihat, hari ini malah dua kali. Huh, bukannya lihat pacar Kiran yang tampan, malah lihat pocong berkeliaran tengah malam! Bisa gila aku kalau begini terus!"
Sedikit pun tak pernah ada dalam bayangan Septi kalau hidupnya yang jauh dari dunia tempat demit tinggal bakal berubah drastis. Namun, tetap saja gadis itu tak habis pikir penyebab matanya yang tiba-tiba bisa melihat makhluk halus. Dan kenapa harus dirinya yang dihantui para memedi iseng tersebut? Kenapa bukan Surya saja yang laki-laki dan lebih berani?
"Kayaknya aku harus ajak Kiran pindah kost, komplek ini ternyata banyak hantunya!" ujar Septi lirih sembari memeluk lutut karena menggigil ketakutan.
Tapi sebelum itu Septi ingin menanyakan kepada Bu Andini atau Mak Tri, apakah ada dari mereka sekeluarga yang pernah melihat penampakan di sekitar rumah?
Kuntilanak di lantai jemuran sudah jelas bakal membuatnya trauma untuk nongkrong di sana menikmati malam bercahaya bulan. Dia dan Kiran sebelumnya sering melakukan hal itu hingga tengah malam untuk mengusir jenuh, sekaligus tepe-tepe sama penghuni kos-kosan putra di sebelah yang ada di lantai dua.
Kebetulan kamar mereka menghadap jemuran dan penghuninya beberapa ada yang oke punya. Septi mengenal tiga dari penghuni kost sebelah, mengobrol keras dari lantai dua pun sesekali mereka lakukan.
"Kamu kenapa, Sep?" tanya Kiran khawatir. Tubuhnya merunduk dan membantu Septi yang masih memeluk lutut untuk berdiri dan kembali ke kasurnya.
"Selimut, Ran!" ucap Septi bergetar. Wajah pucatnya langsung disembunyikan di dalam selimut begitu Kiran mengulurkan kain tebal itu.
Kiran menyentuh lengan Septi yang menutup seluruh tubuhnya di bawah selimut. "Ada apa lagi? Kamu lihat sesuatu?"
"Kita pindah dari sini aja, Ran! Aku nggak kuat tinggal di sini lebih lama, kost kita ternyata banyak hantunya!"
"Kamu baru lihat penampakan lagi ya, dimana?" tanya Kiran lembut.
Tuh kan! Septi semakin frustasi mengetahui fakta kalau memang hanya dia yang bisa melihat hantu. "Kamu nggak lihat ada memedi loncat di luar pagar?"
"Nggak tuh," jawab Kiran tenang. "Apaan itu memedi loncat?"
"Dia itu lewat depan kamu, Ran! Jalan di sepanjang gang, eh bukan jalan dong, maksudku lompat-lompat."
"Hah maksudmu pocong? Kok kamu bisa tau?" Wajah Kiran ikut menegang. "Serius?"
"Aku tadi mau lihat pacar kamu, tapi malah udah pulang! Sialnya aku Ran … liat pocongan di sepanjang gang yang kita lewatin tiap hari. Gila aja dalam beberapa jam aku udah lihat demit dua kali, mana serem semua lagi!" Septi menurunkan selimut hingga leher. Matanya menatap ketakutan pada Kiran, "Kamu percaya aku, kan?"
"Iya, trus gimana solusinya?"
Septi menukas cepat, "Pindah kost!"
"Tapi masa sewa kita masih sisa tiga bulan, Sep! Sayang banget, aku nggak punya duit buat sewa tempat baru, minta sama ibuku kayaknya susah deh. Warungnya lagi sepi, bapakku … kamu tau sendiri baru aja pensiun."
"Trus aku gimana, Ran? Aku nggak mau tinggal di kost berhantu begini."
"Aku nggak punya saudara di sini, Sep! Jadi kalau mau pindah mungkin ya tiga bulan lagi aja ngepasin habis kontrak. Kamu sementara bisa nginep tempat budemu. Atau kita ke orang pintar aja besok? Sabtu aku cuma ada satu mata kuliah, jam sepuluh udah pulang."
"Oh iya deh, aku hubungin Surya aja dulu kalau gitu, biar dia besok juga mudik. Sekalian aku mau nyambangin calon mertua, masa ketemu kalau pas mereka datang mengunjungi Surya doang."
Kiran menyela kegiatan Septi setelah cukup lama nggak ada kelanjutan rencananya, "Ya udah ayo tidur, besok jam sebelasan kita berangkat!"
"Patungan rental mobil aja yuk! Biar nggak ribet cari kendaraan di perjalanan!" usul Septi masih dengan tangan yang sibuk di atas layar ponsel.
"Boleh deh!"
"Eh ngomong-ngomong kamu bau apa sih? Kayak bau asap tapi kok agak-agak bau bunga kenanga ya, itu parfum baru kamu?" tanya Septi tiba-tiba.
Kiran mengendus lengan dan juga ketiaknya, "Bau apa sih? Parfumku ya masih yang lama, aroma apel segar!'
"Kayak bau dupa tau, Ran! Tuh kan aku merinding lagi … ish serem amat sih!"
"Ya ampun, kamu kok jadi paranoid gini sih?" tanya Kiran seraya mengulum senyum.
Cih, Kiran boleh menertawakan ketakutan Septi karena pada dasarnya dia lupa kalau memiliki pengalaman buruk dengan matanya. Seandainya saja dia memiliki ingatan saat melihat keranda mayat yang mendatanginya ketika membongkar tenda, mungkin dia juga akan memiliki trauma untuk pergi mendaki gunung.
Septi membela diri dengan sedikit sewot, "Gimana nggak parno, ini beneran nggak sebanding dengan keberanian yang kita gembor-gemborkan! Aku tau kamu bukan penakut, tapi itu karena kamu nggak pernah ngelihat langsung, sama kayak aku dulu. Kalau kamu udah ngalamin, aku nggak yakin kamu berani nyepi di gunung sendiri."
"Iya, iya aku percaya sama kamu. Kita juga udah sepakat kalau besok mau ke tempat paranormal itu, kan?"
"Besok kamu bolos gitu nggak bisa, Ran? Surya bilang kalau bisa berangkat agak pagian!"
"Kenapa emangnya?"
"Katanya antriannya panjang, banyak orang dari luar kota juga."
Kiran menghembuskan nafas panjang, "Surya rumahnya nggak jauh dari orang pintar itu, kenapa dia nggak minta tolong saudaranya untuk ambil antrian? Jadi sampai sana kita nggak perlu nunggu lama!"
"Iya bener juga, ya udah aku ingetin dulu anak itu." Septi mengirim pesan sesuai arahan Kiran. Tak lama balasan dari Surya menyatakan setuju dengan ide Kiran.
"Aku gosok gigi bentar ya, abis makan martabak manis soalnya!"
"Kamu jadi tidur sini kan?"
"Iya nanti kesini, sekalian aku ambil bantal sama selimut!"
"Aku bareng deh ke kamar mandi, mau pipis!" Septi spontan turun dari ranjang dan mengejar Kiran yang hampir keluar pintu kamar.
"Astaga Septi …!"
"Udah nggak usah bawel, kamu mau lihat aku pingsan?"
"Ya nggak sih," jawab Kiran menahan tawa.
***
^^^Bab selanjutnya kita nostalgia ke rumah pakde Karman untuk bertemu mas Bambang ya teman-teman! Yang belum kenal sama pakde Karman bisa baca Santet 40 Hari, kalau kisah mas Bambang ada di Kidung Kegelapan.^^^
^^^Terima kasih untuk semua dukungan, Candra Kirana jelas bukan novel bagus karena ada saja yang kecewa dengan memberikan rate bintang 1. Kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan tulisan akan saya perhatikan! ^^^
^^^Cium jauh - Al^^^