
Ibarat pengantin baru yang tak punya rasa lelah, Kiran dan Candra terus saja mencari kenikmatan bercinta hingga pagi tiba. Candra bahkan tak menyangka kalau gaya pacarannya dulu yang lurus-lurus saja saat bersama Ayu Kumala sekarang justru berkebalikan.
Kiran yang manis sungguh nakal saat bersamanya, benar-benar tak semanis wajahnya yang terlihat polos dan tak tau apa-apa. Namun, Candra memang menyukai Kiran yang agresif dan penuh rasa penasaran dari pada Ayu Kumala yang santun.
Candra tergelak menatap wajah Kiran yang sudah seperti orang mabuk, "Capek ya?"
"Lemes!" Kiran tersenyum bahagia karena Candra tidak meninggalkan dirinya di waktu matahari terbit seperti sebelum-sebelumnya. Dia memeluk posesif kekasihnya sebelum mata terpejam karena rasa kantuk, "Kamu nggak kerja, Can?"
Candra menjawab dengan nada malas yang sama, "Mau tidur sebentar. Kamu mau sarapan dulu?"
"Nanti aja, mata udah berat, males mau keluar kamar!" Kiran menguap beberapa kali, tubuhnya serasa remuk dan lelah.
Candra terkekeh sembari mengusap pipi Kiran, "Ya udah tidur! Aku temani sampai siang!"
"Kok cuma sampai siang?"
"Ya udah sampai sore!"
"Jangan kemana-mana!"
"Iya, Sayang! Lagian mau kemana sih siang-siang?"
Kiran bergumam tak jelas saat menjawab, matanya juga sudah tertutup rapat, siap menjemput mimpi.
Sejauh itu, Kiran masih belum menyadari sedang berada di alam mana dirinya berada. Ruang yang dipakai bercinta di alam memedi memang tak jauh beda dengan kamar Candra yang ada di rumah pak Subarkah. Ruang pribadi itu memang disiapkan Candra agar Kiran tidak terkejut dengan perpindahan dimensi yang hanya memakan waktu sekedipan mata.
Rumah pak Subarkah dan tiga rumah di sebelahnya juga dibuat ada di kampung asli memedi, jadi Kiran tidak akan merasa berpindah ke dunia lain untuk hari-hari pertamanya. Bedanya, Kiran tidak lagi berjumpa dengan pak Subarkah dan pembantunya di rumah itu.
Karena sudah ada di alam yang sama juga yang menjadi alasan Candra tidak perlu menghilang di pagi hari. Dia bisa bersama Kiran baik siang atau malam, tak perlu merasa bersalah karena harus meninggalkan kekasihnya sendirian.
Ah, Candra sudah sangat ingin hari-hari seperti sekarang menjadi selamanya. Candra menggeliat lelah, dia juga butuh istirahat sejenak setelah olahraga semalaman bersama Kiran.
Candra membelai pipi, bibir dan rambut Kiran, tatapannya tak lepas dari sirat-sirat hasrat dan cinta setinggi angkasa. Kiran sungguh sudah menggeser kedudukan Ayu Kumala yang dulu sempat ada di ruang hatinya.
Candra mengatur posisi agar nyaman untuk Kiran yang berbantal lengannya. Dia juga memejamkan mata, berniat tidur sesaat sebelum menyiapkan segala sesuatu untuk kekasihnya yang baru saja menyeberang dunia.
Waktu berlalu terlalu cepat, matahari sudah tergelincir meninggalkan cakrawala dunia, tapi kamar tempat Kiran tidur masih senyap. Kiran masih tidur, dan tidurnya jauh lebih lama dari biasanya. Bayangkan saja, Kiran tergeletak di atas ranjang dari matahari terbit hingga matahari terbenam, sangat nyenyak tanpa mimpi sedikitpun!
Kiran membuka mata, menggeliat untuk menaikkan selimut yang turun hingga batas dada. Menutup kembali dua gundukan putihnya hingga tak terlihat menantang empunya kamar. Tubuhnya terasa segar bugar, tidak ada lagi rasa lelah yang tertinggal sedikit pun.
Satu-satunya hal yang membuat Kiran tak nyaman adalah perutnya yang keroncongan. Kiran mengulum senyum mengingat percintaannya semalam. Ruam merah di tubuhnya menjadi saksi kalau apa yang terjadi padanya adalah nyata.
Kiran ingin mandi walaupun udara terasa dingin di kulit. Bekas keringat dan cairan pergumulan mereka yang kering di bagian bawahnya harus dibersihkan. Mengingat itu, Kiran segera memakai baju untuk pergi ke tempat mandi yang letaknya di luar kamar.
"Wajahku udah sama kayak bantal belum gara-gara tidur seharian?"
"Kamu tetap cantik setiap saat," jawab Candra dengan senyum menggoda. "Mau makan sekarang? Pasti kamu udah kelaparan!"
Kiran merengut, pujian Candra terlalu mengada-ada. Mana ada perempuan rembes bau iler masih bisa dibilang cantik, heh?
"Aku mau mandi, gombalnya nanti aja kalau aku udah wangi." Kiran dengan cueknya membersihkan kotoran mata dengan ujung jari dan mengelap di baju.
"Oke, ayo aku antar ke kamar mandi! Jangan jorok-jorok anak manis, nanti banyak yang suka!" kata Candra terbahak.
Kiran mendelik lalu ngeloyor masuk ke kamar mandi, membuka baju dan membersihkan badan tanpa berlama-lama. Selain air lereng gunung yang terlalu dingin, hawa tidak enak tak terjelaskan serasa menggigit kulit. Bulu tubuhnya meremang hebat hingga dia menjadi tergesa saat keluar kamar mandi tersebut.
"Candra! Kamu ngagetin tau!" gerutu Kiran yang nyaris menabrak pacarnya. Sebelumnya dia tidak melihat Candra ada di sekitar kamar mandi, sehingga Kiran memutuskan untuk pergi ke kamar lagi untuk berganti baju.
"Maaf, pakai ini!" kata Candra sembari mengulurkan kain putih. "Jangan lama-lama gantinya, kita mau makan malam bersama keluarga!"
Kiran mengangguk samar dan pergi untuk menukar pakaian. Tak perlu waktu lama berdandan karena kamar Candra tidak memiliki cermin. Kiran hanya menyisir rambut dengan tangan lalu mengikatnya agar tidak terlihat berantakan.
Pakaian putih yang dipakai Kiran bukan milik Candra lagi, entah milik siapa di rumah ini, yang jelas baju dan celana yang diberikan Candra sangat pas melekat pada tubuhnya. Kain putih itu juga tampak baru dan bersih.
Kiran keluar kamar menuju meja makan. Siapa sangka semua anggota keluarga Candra sudah berkumpul. Mereka duduk tenang hanya untuk menunggu Kiran. Begitu Kiran bergabung, semua menatap Kiran sekilas, lalu menunduk tanpa bicara apapun.
Makanan yang tersedia cukup banyak dan tidak ada yang tidak enak, mulai dari lauk pauk hingga buah segar, semua menggugah selera makan Kiran. Meski harus menikmatinya dalam rasa canggung, Kiran tak peduli. Perutnya yang keroncongan harus diisi.
Meski memedi umumnya makan sesuatu yang kotor dan menjijikkan, tapi Candra lebih suka makan berjenis-jenis sajen yang disuguhkan manusia untuknya. Mungkin karena dulu dia memiliki sifat manusia, jadi makanan kesukaannya pun sedikit berbau manusia. Kiran juga hanya boleh menyantap makanan yang sama dengannya.
Kiran memicingkan mata saat mengamati gelas minum, dari semua anggota keluarga yang makan malam, hanya dia yang tidak dapat sajian minuman berwarna merah. Gelas Kiran berisi teh hangat biasa tanpa gula. Kiran menebak, mungkin karena dia perempuan sendiri sehingga tidak mendapatkan jatah wine atau minuman apalah itu.
Kiran melirik gelas Candra, sangat penasaran, tapi tidak iri sama sekali meski kelihatannya enak. "Itu jus apa, Can?"
"Buah naga!" jawab Candra asal-asalan. Melihat ekspresi penasaran Kiran, Candra memberikan minumannya pada saudaranya yang lain. Darah sesembahan yang berasal dari binatang bukan minuman favoritnya, dia lebih suka kopi pahit.
Setelah makan selesai, saudara-saudara Candra undur diri dengan hanya mengangguk. Kiran merasa kikuk, dia terlalu muda untuk mendapatkan penghormatan dari beberapa pemuda yang sepertinya lebih tua darinya.
Hm, empat saudara Candra semuanya laki-laki, satu sama lain tidak memiliki kemiripan, tapi tidak ada yang berwajah buruk. Mereka semua terlihat lumayan meski berkulit pucat dan berekspresi dingin.
Candra tersenyum pada Kiran setelah gadis itu selesai memperhatikan kepergian saudara-saudaranya. Penjelmaan mereka menjadi manusia tidak terlalu buruk, masih bisa diterima Kiran dengan otak warasnya.
***