
Kiran menyelinap keluar kost ketika Septi tidur siang, tanpa pamit. Setelah minum obat, panas tubuhnya menurun sehingga Kiran nekat untuk mencari kebenaran akan mimpinya. Untuk memenuhi rasa penasarannya, Kiran segera pergi mencari kendaraan yang akan membawanya ke lereng gunung.
Seingat Kiran, rumah Candra bisa diakses dengan kendaraan bermotor. Kiran akan mencari ojek lokal setelah mendapatkan informasi di sekitar pos pendakian.
Terakhir, Mbah Wiro yang mengajaknya bicara merupakan salah satu orang yang tau lokasi desa tempat Candra tinggal. Pria tua itu juga rasa-rasanya kenal dengan pak Subarkah.
Kiran tidak membawa perlengkapan mendaki, dia hanya memakai baju keluar santai dilapisi jaket, niatnya hanya berkunjung sebentar ke rumah Candra untuk memastikan kesamaan punden di sebelah rumah Candra dengan yang dilihatnya dalam mimpi.
Tercipta sebagai anak manusia penuh rasa penasaran sebenarnya tidak disukai Kiran, tapi apalah daya? Pengendalian dirinya untuk mencari jawaban kadang tidak bisa ditunda sebentar saja.
Bukan hanya punden, Kiran merasa laki-laki beristri yang dilihat dalam mimpinya itu agak mirip dengan Candra. Postur jangkung dan rahang tegas mereka tampak sama, pun dengan rambut dan hidungnya.
Kiran tidak berani membuat tebakan bahwa pria dalam mimpinya itu memiliki keterkaitan dengan Candra, hal itu dikarena Candra mengatakan ayahnya adalah pak Subarkah, sedangkan ibunya sudah tidak ada sejak lama.
Perjalanan Kiran ke pos pendakian tidak sampai dua jam. Pos pantau para pendaki kini sudah ada di depan mata. Lumayan ramai di hari minggu siang menjelang sore.
Kiran tidak melapor karena tujuannya kesana bukan untuk mendaki gunung. Kiran memilih mendatangi rumah warga yang paling dekat dengan pos pendakian. Rumah dengan warung kecil di pinggir jalan raya. Kiran membeli satu botol air mineral dan dua bungkus roti, berbasa basi sebentar pada pemilik warung sebelum mengobrol lebih lanjut.
"Mas, rumah pak Subarkah jauh nggak kalau dari sini?" tanya Kiran antusias. Penjaga warung masih muda dan cukup ramah, sehingga Kiran tidak terlalu sungkan untuk banyak bertanya.
"Pak Subarkah yang mana, Mbak?"
"Ehm, yang juru kunci itu loh!" jawab Kiran dengan senyum manisnya.
Pemuda penjaga warung menatap Kiran tanpa berkedip untuk waktu yang lama, menelisik dari atas ke bawah hingga membuat Kiran merasa risih. "Oh mbak ini mau ke rumah pak Subar kuncen?"
"Bisa dibilang begitu, tapi jauh nggak ya mas dari sini? Kalau cari ojek dimana, Mas?"
Ekspresi pemuda di dalam warung mendadak berubah dan Kiran menyadarinya. Hanya saja Kiran pura-pura tidak peka, tujuannya datang ke warung itu memang untuk mencari informasi.
"Mbak serius mau kesana? Sama siapa?" Pemuda itu mengulurkan tangan, memberikan sejumlah uang kembalian pada Kiran.
"Iya saya mau kesana, cari ojeknya dimana ya? Tumben depan pos pantau nggak ada warga yang mangkal!" Kiran celingukan mencari satu dua orang yang biasanya menawarkan jasa ojek untuk para pendaki yang baru turun gunung.
"Saya juga narik ojek, Mbak! Saya bisa anter mbak ke sana, tapi kalau nanti nggak jodoh sama kuncennya jangan kecewa ya! Mbak sendirian?"
Kiran mengernyitkan dahi, "Maksudnya gimana, Mas? Saya sendirian."
"Hanya orang tertentu dengan kepentingan tertentu yang bisa bertamu ke rumah pak Subar. Kalau nggak ada jodoh biasanya rumah beliau susah ditemukan, tapi kalau jodoh … satu kali jalan langsung sampai kampungnya nggak pake acara nyasar!" jelas pemuda itu dengan wajah penuh misteri.
Kiran tidak bisa dibohongi dengan alasan aneh dan tidak logis seperti itu. "Loh mas kan warga sini, sudah hafal jalan ke rumah itu, masih mungkin bisa nyasar juga?"
"Terserah mbak percaya apa nggak, saya nggak cuma satu kali nyasar. Tapi saya juga nggak cuma satu kali bisa masuk kampung itu, ada tabir mistis yang tidak bisa dilewati sembarang orang, Mbak!"
Kiran semakin pusing dengan penjelasan mas penjaga warung. “Trus kalau misal saya nggak berjodoh jadi tamunya pak Subarkah gimana?"
"Oke saya setuju, syarat untuk berkunjung ke rumah kuncen, Mas?" tanya Kiran tak paham.
"Iya," jawab penjaga warung sambil lalu meninggalkan Kiran yang masih belum puas bertanya.
Udara lereng tidak terlalu dingin, kabut tipis berhembus seperti asap yang diarak angin. Kiran menunggu sambil berpikir mengenai mimpinya dan juga Candra.
Kalau saja rumah pacarnya tidak berada di pelosok desa, mungkin Kiran bisa lebih mudah untuk menemukannya tanpa perlu repot begini. Sialnya lagi, Kiran lupa jalan mana yang mereka lewati jika melalui sisi selatan gunung.
"Kamu benar-benar pacar yang merepotkan, Can!" gumam Kiran sambil mengenakan sarung tangan dan kupluk penutup kepala sebagai antisipasi perubahan suhu udara.
"Mbak bawa jas hujan?" tanya penjaga warung yang muncul dari pintu. Sudah lengkap dengan jaket, sepatu, sarung tangan dan juga kupluk gunung. "Kita nggak tau akan berapa lama di kampung demit itu, jadi sebaiknya mbak punya cadangan makanan juga."
"Bawa." Raincoat petualang merupakan salah satu kelengkapan yang selalu dibawa Kiran di dalam daypack. Roti dan air yang baru saja dibeli Kiran di warung rasanya cukup sebagai tambahan, toh di ransel juga masih ada biskuit dan susu dua kotak.
Kiran yakin perjalanannya tidak akan serumit yang pemuda itu katakan. Kiran pernah bertemu pak Subarkah, tidak mungkin juru kunci yang juga ayah Candra itu menolak kehadirannya dengan cara menyesatkannya di jalan.
"Ya udah berangkat sekarang aja biar nggak kemaleman, saya nggak mau ketemu memedi di jalan!"
"Mas dari tadi ngomongin hantu terus!" protes Kiran. Kalau niat pemuda itu khusus untuk menakutinya, jelas salah alamat. "Kampung demitlah … memedilah!"
"Pak Subar dan tiga kuncen lainnya memang tinggal di kampung demit, Mbak! Begitu kami menyebutnya, mereka misterius karena tidak menerima tamu sembarangan. Lagian mbak mau ngapain sih ke sana? Eh maaf kalau saya lancang banyak tanya!" Pemuda itu memperhatikan Kiran sekali lagi sebelum memberikan satu tangkai bunga kenanga.
"Anak pak Subarkah itu teman saya!" Kiran menerima bunga itu dengan mata menyipit, "Apa nih?"
"Kantongin aja, Mbak! Bau bunga itu nanti yang akan tercium sama kuncen, saya udah bilang kan kalau mereka yang tinggal di sana memilih tamunya sendiri? Semoga mbak beruntung! Ngomong-ngomong pak Subar punya anak ya? Namanya siapa, Mbak? Saya malah nggak tau!"
Astaga, serumit itukah jika Kiran ingin bertamu ke rumah pacarnya? Tidak disangka apa yang pernah Candra katakan kalau rumahnya sulit ditemukan itu nyata adanya.
Kiran mendengus kesal, tukang ojek itu dirasa terlalu ingin tau urusan pribadinya. "Kita berangkat sekarang aja, Mas!"
Dengan senyum rumit, pemuda penjaga warung yang merangkap tukang ojek mengangguk. Dia memang tidak memiliki hak untuk mencegah penumpangnya pergi ke kampung demit. Kampung tempat orang melakukan pemujaan untuk mencari kekayaan, atau hajat lain yang berhubungan dengan setan.
Pemuda itu menyayangkan jika cewek semanis Kiran harus terlibat dengan sesuatu yang berbau pesugihan. Karena jika dilihat secara penampilan, Kiran tidak seperti perempuan yang kekurangan uang.
Mungkin benar Kiran adalah teman dari putra pak Subar. Tapi sejak kapan kuncen itu memiliki anak lagi? Atau anaknya yang dikabarkan hilang sepuluh tahun lalu itu sudah kembali dari bekerja sebagai TKI?
Sementara desas desus yang beredar kalau bujang tampan di rumah kuncen itu bukanlah manusia, bukan anak pak Subar, melainkan pocong penunggu punden yang menyerupakan diri sebagai seorang pemuda.
Sayangnya, hingga kini belum ada yang bisa membuktikan kebenaran berita mistis tersebut.
***