Candra Kirana

Candra Kirana
Sepocong-pocongnya



Sama seperti hari kemarin, Kiran menghabiskan waktu siangnya untuk tidur. Dia baru terbangun sore hari menjelang magrib. Perutnya benar-benar lapar dan kantong kemihnya penuh.


Kiran menggeliat, mengerjap beberapa kali untuk memastikan kalau ruangan tempatnya berada adalah kamarnya. Kiran duduk sambil memijat pelipisnya, tiba-tiba kepalanya berdenyut nyeri, padahal hanya untuk duduk.


Dengan langkah terhuyung, Kiran menyalakan lampu kamar. Dia butuh obat pereda nyeri untuk meredakan sakit kepala mendadaknya. Sialnya semua obat daruratnya ada dalam daypack, dan tasnya itu … ada di kamar Candra?


Kiran mengeluh, bagaimana bisa dia pulang tanpa membawa tasnya. Masih dengan langkah terhuyung, Kiran menggapai handle pintu kamar, tak berhasil dibuka, terkunci.


“Astaga … kunci mana kunci?” Kiran nyaris menendang pintu yang membuat emosinya tersulut. Masih tidak paham kalau dia terkunci dari luar oleh dirinya sendiri. Dan tentu saja kunci utama ada di dalam tasnya.


Masih dalam mode menggerutu, Kiran mengambil kunci cadangan yang diletakkannya di wadah bolpoin. Lalu sesegera mungkin membuka pintu dan berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya. Mual hebat melanda.


Tidak ada yang keluar meskipun tenaga Kiran hampir habis untuk membuang mual dengan cara muntah. Dia baru ingat, terakhir makan 24 jam lalu di rumah Candra, wajar kalau sekarang tidak ada sisa apa-apa di dalam lambungnya.


Septi yang baru sampai kost langsung berlari ke arah kamar mandi karena mendengar suara Kiran memaki. Septi menggedor pintu agar Kiran membukanya. “Ran, buka! Kamu kenapa?”


Wajah pucat Kiran muncul di balik pintu, “Pusing kepalaku, mual juga. Ada obat sakit kepala nggak, Sep? Kamu baru pulang kuliah?”


“Ada, ayo aku kerokin sekalian, masuk angin kali kamu itu abis keluyuran nggak bilang-bilang!” Septi menjawab kesal sekaligus khawatir.


Kiran membuntuti Septi masuk kamar, “Iya maaf, nggak sampai sehari aku pergi kamu udah panik setengah mati!”


“Sehari? Nggak lucu banget candaan kamu, Ran! Udah makan belum kamu?”


“Belum,” jawab Kiran lemas. “Obatnya mana, Sep!”


Septi mengambilkan obat dan memberikan Kiran air minum, juga dua lembar roti isi yang biasa dimakan saat sarapan. “Sini buka baju, aku kerokin!”


Kiran membuka baju dan menghadapkan punggungnya ke arah Septi yang sudah siap dengan minyak kayu putih dan juga koin. “Jangan keras-keras!”


“Ish bawel! Bau kamu aneh amat sih, Ran! Badan kamu juga kenapa bisa dingin begini?” Septi mengendus baju yang baru dilepas Kiran dan mengernyit heran, “Bau wangi apa ini baju? Kayak bolu pandan … eh bunga kenanga!”


“Pertanyaan kamu banyak bener, Sep!” protes Kiran. "Bingung aku mau jawab apa."


Septi memperhatikan ruam merah di leher dan bahu Kiran, kemudian dengan tak sabar mengintip ke bagian dada Kiran yang masih tertutup bra, “Kamu abis ngapain aja sama Candra sampai masuk angin begini? Ini merah-merah bekasnya dia? Banyak bener, jangan-jangan sampai bawah juga ada!"


"Duh, berisik!"


"Kamu pucet banget, Ran! Kayak orang kehabisan darah! Gimana nggak loyo kalau habis cari bahan tugas langsung kuliah lapangan empat hari, pulang nyambung lagi berangkat kencan? Sampai nggak sempet kasih kabar sama teman! Kayaknya kamu sakit karena durhaka sama aku … maksudnya kehabisan darah karena kebanyakan dihisap sama Candra," ujar Septi berkelakar.


"Astaga … ribut banget sih kamu, baru ditinggal beberapa jam juga!" Kiran memijat pangkal hidungnya, bingung. Bagaimana bisa dia melewatkan jadwal kuliah lapangan?


Ingatan Kiran kembali sewaktu pulang dari Jombang. Dia ngotot ikut pulang Septi sama Surya meski ibunya melarang karena kondisinya sedang demam. Kiran diminta untuk istirahat beberapa hari di rumahnya, Mojokerto. Tapi Kiran beralasan kuat dengan banyaknya agenda kuliah. Dia bahkan meminta Septi untuk meyakinkan ibunya soal mata kuliah lapangan yang tidak bisa ditinggalkan.


Minggu sore harusnya Kiran menyelesaikan tugas di rumah Lia, Senin sampai Kamis kuliah lapangan, Jumat buat laporan lalu Sabtu dan Minggu niatnya akan dihabiskan dengan malas-malasan.


Lalu bagaimana ceritanya semua rencana yang disampaikan Kiran pada Septi saat di Mojokerto itu dilupakan begitu saja?


Dan baru saja Septi bilang sekarang hari Minggu? Jadi, Kiran memang pergi selama tujuh hari? Yang benar saja!


Kiran tak sanggup mencerna situasi yang sedang melandanya. Dia merasa pergi tak sampai sehari. Otaknya mendadak beku, blank layaknya orang tolol yang tidak bisa berpikir jernih.


"Kesel aku sama kamu tau nggak? Diajak ngomong nggak nyambung!" ungkap Septi sambil mengurut punggung Kiran. "Dah beres, nggak usah mandi, bersihin badan kamu pake air anget aja abis gitu makan! Aku masak, habisin aja lauknya, aku mau makan di luar sama Surya!"


"Hm, ngomong-ngomong tanggal berapa sekarang, Sep?" tanya Kiran dengan ekspresi bodoh.


Kiran melongo mendapati fakta kalau dia memang seminggu tidak ada di kost. "Kamu serius, Sep!"


"Kamu pikir dari tadi aku bercanda? Dah ah aku mau keluar sebentar, Surya udah di depan nih!" Septi pamit pergi setelah ponselnya berdering, memunculkan nama Surya di layarnya. "Tidur, Ran! Sumpah kamu pucet kayak mayat hidup!"


“Kamu berangkat sekarang?”


“Hm, titip apa?”


“Salam aja sama Surya!”


“Ya udah aku jalan dulu, jangan lupa masakanku dimakan!” Septi keluar setelah Kiran mengangguk.


Walaupun mual karena tak enak badan, tapi Kiran tetap pergi ke dapur untuk mengambil makan. Hanya beberapa suap dan juga segelas teh hangat.


Tubuhnya yang bau minyak kayu putih dibersihkan seperlunya. Menatap cermin di dalam kamar, Kiran baru percaya kalau wajahnya pucat dan ada lingkar hitam di sekitar mata.


"Aku kayak zombie!" gumam Kiran sambil memulas bedak dan lipgloss agar wajahnya tidak terlalu kuyu.


Setidaknya saat Candra datang nanti dia tampil tidak terlalu buruk. Kiran berencana menolak ikut ke rumah Candra dulu, dia butuh pergi ke dokter untuk mengurangi rasa sakit di seluruh tubuhnya.


Sambil menunggu Candra, Kiran membaca berita-berita terbaru di internet lewat laptopnya. Beberapa berita petualangan juga tak lupa Kiran singgahi. Pendaki yang hilang di lereng selatan beberapa waktu lalu ternyata sudah ditemukan, tapi dalam kondisi tak bernyawa.


Kiran mengamati foto wajah pendaki yang hilang itu, cukup lama hingga dia mendapatkan gambaran samar di ingatannya. Salah satu saudara Candra ada yang mirip dengan pendaki itu.


Ya, pemuda yang ikut makan malam bersama, yang menerima gelas isi jus merah pemberian Candra memiliki bentuk wajah yang sangat serupa dengan pendaki yang hilang itu.


Kiran lebih banyak membaca dan mengumpulkan informasi, cukup lama, rasa penasarannya memang tidak pernah bisa ditunda walaupun sejenak. Pertanyaannya untuk Candra juga sudah disusun cukup banyak.


Tak lama, bel berbunyi. Kiran beranjak karena merasa yang datang adalah tamunya. Entah bagaimana dia seperti mendengar suara duk duk duk dalam kepalanya.


Dan memang benar, Candra datang dengan senyum sumringah tepat jam sebelas malam. Kiran juga ikut ceria, tertular oleh garis lengkung bibir Candra yang sangat menawan.


“Aku kurang enak badan, Can!” keluh Kiran manja sembari menarik tangan Candra untuk duduk di sebelahnya.


Candra tersenyum memahami, perjalanan gaib menjadi penyebab kekasihnya itu sakit. “Mau aku anter berobat, ada tabib bagus di desa!”


Kiran menyurukkan kepala, bersandar lengan Candra. “Bukan dokter?”


“Itu tabib terbaik yang dimiliki desa, bisa mengobati sakit apapun, baik medis atau non medis!” terang Candra sambil merangkul Kiran.


Tak disangka Septi datang, masuk lewat pintu samping bersama Surya yang membawa dua kantong belanja. Sepertinya mereka baru saja membeli kebutuhan bulanan Septi.


“Kiran ada tamu?” tanya Surya. Dia hanya melirik sekilas, melihat Kiran yang bersandar di kursi panjang ruang tamu. Surya tidak melihat tamu Kiran karena mengira mereka duduk berhadapan, sementara sudut pandang Surya tidak bisa menjangkau kursi seberang Kiran.


Septi membiarkan Surya menuju kamarnya untuk meletakkan barang belanjaan, dia dengan rasa ingin tau langsung melangkah ke ruang tamu. Septi ingin berkenalan dengan pacar Kiran, sekalian meminta tolong untuk mengantar sahabatnya itu pergi ke dokter.


Belum sampai masuk ruangan, kaki Septi tidak mampu melangkah lebih dekat lagi. Matanya terpaku tak berkedip, sama dengan kakinya yang membatu tak bergerak. Septi bahkan tak bisa memanggil sahabatnya yang sedang duduk mesra berhimpitan dengan … pocong?


Ya, Septi melihat pocong, sepocong pocongnya.


“Ki-ran!” desis Septi tercekik. Seluruh tubuhnya lemas hingga dia jatuh terduduk di lantai.


***