
Kehadiran mas Bambang di rumah orang tuanya hanya menambah beban pikiran bagi Kiran. Gadis itu menekuk wajahnya selama sarapan berlangsung.
Mas Bambang yang memperhatikan gelagat Kiran hanya tersenyum manis, dan Kiran benci melihatnya. Benci karena masih saja mengagumi sosok Bambang yang ternyata ganteng dan perhatian padanya.
Bukankah lucu kalau mas Bambang yang sudah beristri datang ke rumah membawakan sarapan khusus untuknya? Masakan istri tercintanya, yang mungkin sudah dibumbui dengan mantra untuk Kiran yang sedang gila karena cinta.
Kiran makan tanpa semangat, hanya sekedarnya untuk menyenangkan mas Bambang yang menatapnya intens.
“Gimana enak makanannya?”
“Enak, terima kasih!” jawab Kiran kalem. “Maaf nggak habis, aku kurang enak badan!”
“Kiran … kamu sakit karena semalam bepergian!”
Kiran terbatuk-batuk, kesal dengan maksud mas Bambang yang entah bagaimana bisa dicerna dengan mudah olehnya. “Aku tidur di kamar dan tidak kemana-mana!”
“Jangan membohongiku, Kiran! Pagar gaib yang aku buat untukmu ada yang merusaknya,” ujar mas Bambang santai.
Ayah Kiran menimpali, “Oh ya, kemarin ada juru kunci yang mengaku ayahnya memedi datang kemari. Apakah orang itu yang mas Bambang maksud?”
"Benar, Pak!" jawab mas Bambang tenang.
“Bisakah kita nggak terus-terusan membahas ini? Maaf aku mual … mau istirahat di kamar!” Kiran meninggalkan meja makan, pergi menuju kamar dengan raut kesal.
Di kamar, Kiran menutup kembali tirai jendela dan merebahkan tubuh. Dia juga menulis mimpinya dalam buku diary.
Kiran tidak menggubris Mas bambang yang mengobrol serius dengan kedua orang tuanya. Juga tak tak peduli ketika dukun itu menanam jimat di sekitar rumahnya.
Sepintas lalu, Kiran mendengar soal rajah dan pagar rumah yang berfungsi untuk menghalangi makhluk halus yang mungkin akan mendatangi Kiran di waktu malam. Jelas saja kalau yang dimaksud makhluk halus itu ya kekasih hantunya, Candra.
Kiran menaikkan kedua alisnya, tidak percaya karena mas Bambang sekarang sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Meminta izin untuk masuk, katanya ada sesuatu yang mau dilihat di dalam kamarnya. Tidak boleh!
Alih-alih menyuruh dukun muda itu masuk kamarnya, Kiran justru memilih keluar dan duduk di ruang tamu. "Maaf itu kamar pribadi cewek, tidak ada satu orang cowokpun boleh memasukinya!"
"Baiklah," ujar mas Bambang mengalah.
"Jadi, apa lagi yang harus aku lakukan hari ini? Mandi kembang tujuh rupa? Minum ramuan tolak demit?"
Mas Bambang tertawa, "Kamu lucu juga ya orangnya? Pantes aja Candra sampai tergila-gila sama kamu!"
"Aku tanya serius ini, bukan lagi ngelawak!" sindir Kiran ketus. "Aku udah ngantuk, mau tidur!"
"Dengar Kiran, kamu nggak boleh keluyuran di waktu malam! Kamu pasti paham maksudku, jangan memotivasi dirimu untuk terus terlibat dengan Candra. Aku yakin perjalananmu ke alam gaib tadi malam sudah menjelaskan semua, siapa Candra, apa pekerjaannya dan semua kekuasaannya. Kamu harus bisa menolaknya, Kiran!"
"Aku nggak paham!" Kiran melengos ke arah pintu keluar.
"Begini … obat paling mujarab dari gangguan setan prapayangan adalah kekuatan pikiran kita, Kiran! Kekuatan eksternal seperti yang aku perbantukan ini tidak akan bekerja sempurna jika kamu tidak berusaha lepas dari jeratan Candra. Jangan ikuti kekalutan pikiranmu," tutur mas Bambang bijak.
"Kamu punya keluarga di dunia ini, Kiran! Keluarga yang sangat sayang dan peduli dengan keadaanmu! Jangan sampai kamu hilang akal dan hilang kendali pikiran hanya karena cinta yang tidak bisa dibawa ke dunia nyata!" sambung mas Bambang meyakinkan.
"Lakukan apa saja yang menurut mas Bambang baik untuk Kiran!" sahut ibu Kiran cepat. "Saya juga sedang berusaha menjodohkan Kiran dengan putra pak lurah, semoga dengan adanya pernikahan, dengan status Kiran yang baru, demit gendeng itu tidak berminat lagi padanya."
Mas Bambang hanya mengangguk samar. Dukun itu lebih khawatir jika Kiran memelihara cintanya pada Candra hingga tingkat tak tertolong, Kiran justru akan pergi mengikuti kekasih hantunya itu dengan penuh kesadaran. Jika sudah begitu kesempatan untuk menukar Kiran dengan pusaka penganten bisa dipastikan akan hilang.
Bambang harus segera bernegosiasi dengan Candra! Raja memedi itu harus menyerahkan pusaka penganten kalau tidak ingin Kiran celaka!
Pertama, dia sudah berusaha membuat Kiran lupa dengan cintanya sebagai jalan aman. Kedua, berusaha membuat Candra kelabakan karena tidak bisa menemui Kiran. Ketiga, menguasai Kiran agar menurut pada perintahnya.
Namun, ketiga cara itu semakin tidak efektif dilakukan, memakan waktu, tenaga dan juga menguras pikiran, dengan keberhasilan yang masih dipertanyakan. Terlebih, Kiran terlihat santai saja menghadapi kenyataan cinta beda alamnya, membuat Bambang was-was dan sedikit kelimpungan. Tepatnya … takut kecolongan.
"Halah, nanti kalau udah nikah lama-lama juga cinta, buktinya nenekmu dulu .. bilangnya benci sama kakekmu, tapi hamil juga setelah tidur sekamar tiap malam, sampai tiga kali malahan," ujar ibu Kiran tenang.
Kiran semakin merengut, "Ih ibu ini kuno … udah bukan jaman Siti Nurbaya sekarang, Bu!"
"Pokoknya kamu harus mau nikah sama Firman, ini buat kebaikan kamu, Kiran! Masa depan kamu cerah kalau nikah sama dia, kamu mau kuliah sampai S3 juga ada biayanya nanti. Firman itu ternyata kaya, ibunya tadi cerita kalau bisnis kopinya sedang melejit!" jelas ibu Kiran dengan ekspresi mata duitan.
Ayah Kiran ikut angkat bicara untuk menengahi ribut kecil antara ibu dan anak. "Sudahlah, Bu! Kamu jangan keterlaluan sama Kiran, mau nikahkan Kiran sama Firman boleh saja, tapi waktunya kan bisa diatur nanti kalau Kiran sudah menyelesaikan kuliahnya!"
Ibu Kiran menukas ketus, "Keburu Kiran digondol demit, Pak! Kamu nggak lihat anakmu semakin nggak bisa diatur gara-gara keblinger sama pocong tampan? Cuih, mana ada pocong begitu, yang ada mata Kiran sudah 'diawoni' sama demitnya!"
(diawoni \= ditaburi abu bekas bakaran sehingga tidak bisa melihat kenyataan)
"Biar Kiran saya yang urus, Bu! Jangan khawatir," ucap mas Bambang menghentikan debat.
Kiran menghembus nafas berat, kalimat yang diucapkan mas Bambang serasa menyimpan maksud tertentu padanya. Apalagi dukun muda itu menatapnya dengan pandangan seperti seorang lelaki yang sedang bergairah.
Ingatan Kiran kembali ke obrolan semalam, Candra mengatakan kalau Bambang bisa melakukan apapun padanya. Kiran juga ingat ketika Candra menyampaikan kalau cincin merah delima pemberiannya adalah benda mistis bertuah yang bisa menangkal pelet dan santet yang ditujukan padanya.
Candra sengaja menghadiahi cincin itu untuk melindunginya dari mata gelap. Termasuk melindungi dirinya dari pengaruh sang paranormal, mas Bambang.
"Aku bisa mengurus diriku sendiri, nggak usah repot-repot!" ujar Kiran yakin. Kalimatnya sengaja memprovokasi mas dukun agar tidak terlalu ikut campur dengan urusan pribadinya lebih dalam.
"Hm … bener nih? Kamu bisa kobeng (tersesat/disesatkan) loh!" Mas Bambang bertanya penuh makna, sementara Kiran menyumpah dalam hati. Karisma dukun muda itu bahkan bisa membuat perempuan bertekuk lutut dengan sukarela.
"Jadi aku mau diapain lagi hari ini? Disuwuk apa disembur? Nanti aku keburu tidur kalau kelamaan!" Kiran terkikik sendiri setelah mengungkapkan pertanyaan konyolnya. Senang juga bisa menggoda dukun ganteng yang sedang menatapnya dengan penuh minat.
Kiran menguap lebar, kepalanya sudah terlalu tidak mampu untuk berpikir ala orang pintar. Selain menurut pada Bambang, memang tidak ada lagi yang bisa dilakukannya. Setidaknya, dengan bersikap tidak membangkang, dia melegakan niat orang tuanya yang mau bersusah payah mencarikan kesembuhan untuk jiwanya yang sedang sakit.
Mas Bambang ikut tertawa mendengar pertanyaan Kiran yang terkesan meledeknya. Gadis itu memang menggemaskan karena minim dengan rasa takut. Bambang sendiri tak percaya kalau sudut hatinya memiliki rasa kagum atas keberanian Kiran.
"Sore nanti aku akan mengajakmu ke suatu tempat, bawa baju ganti sekalian karena kita akan bermalam di sana!"
Kiran melebarkan mata tak setuju, "Hah, kemana? Kenapa pakai acara menginap segala? Aku nggak mau!"
"Kiran … kita nggak pergi berdua saja, ayahmu ikut! Jangan berpikir kita akan menginap di hotel atau pergi liburan. Ini penting, kamu memang harus diamankan nanti malam!"
"Kenapa harus? Bukankah rumah ini sudah dipagari? Aku mau diruwat lagi asalkan nggak harus pergi-pergi dari rumah ini, aku nggak bisa tidur kalau di rumah orang!" Kiran berkelit mengarang alasan. Dia tidak mau diajak pergi jauh-jauh, apalagi sampai keluar kota.
Lagipula wanita mana yang suka terpisah jarak ratusan kilometer dari kekasihnya, heh?
Kiran menggaruk kepalanya salah tingkah, dia lupa kalau kekasihnya itu hantu, dan mereka memang sudah terpisah jarak yang sangat jauh. Tapi, setidaknya jika mereka tetap tinggal di provinsi yang sama tidak akan terlalu membuat Kiran menderita. Ya ampun!
Ayah Kiran kembali menengahi, "Bapak ikut mendampingi, Kiran! Kamu nggak usah khawatir! Semua ini demi kesembuhanmu!"
Kiran menatap ayahnya dengan kepasrahan. "Iya deh! Tapi nggak sampai keluar pulau Jawa kan, Pak?"
Ayah Kiran menjawab dengan senyum menenangkan, lalu mengangguk pada sang dukun. "Kami akan siap sore nanti."
Selanjutnya, mas Bambang kembali mengatur rumah Kiran sedemikian rupa agar Candra tertipu saat datang nanti malam. Kiran juga menjalani beberapa ritual singkat sebelum pergi ke kamarnya untuk tidur siang. Tubuhnya lelah, terlebih otaknya, hanya tinggal menunggu waktu saja untuk gila total.
"Apa Kiran akan aman di sana, Mas? Saya takut dia didatangi lagi sama memedi itu saat malam!" tanya ayah Kiran sebelum dukun muda yang mengurus putrinya pulang.
"Saya akan usahakan untuk menyelesaikan semuanya nanti malam, ada guru dan rekan saya yang siap membantu!" Dengan menyembunyikan Kiran di padepokan milik gurunya yang bernama Ki Dalang, paranormal tampan itu berharap bisa segera menyelesaikan urusannya dengan Candra dalam waktu satu malam.
***