Candra Kirana

Candra Kirana
Sangat Rindu



Kepala Kiran seketika penuh dengan banyak pertanyaan. Mulai dari bagaimana bisa pak Subarkah sampai ke rumahnya sampai kenapa beliau hanya datang sendirian.


Memangnya juru kunci gunung itu harusnya datang dengan siapa?


Kiran memijit pelipisnya, dia sungguh lupa apakah pak Subarkah memiliki hubungan khusus dengannya sampai harus datang ke rumahnya. Dia ingat pria tua itu, tapi tidak ingat bagaimana mereka bisa kenal.


Lalu untuk apa pak Subarkah melamarnya? Kiran tidak merasa mengenal keluarga pak Subarkah selain Mak Sinah. Atau jangan-jangan yang disampaikan tukang ojek itu benar, kalau putra beliau baru pulang dari luar negara? Tapi Kiran tidak kenal dengan putra pak Subarkah.


“Nak Kiran …!” sapa pak Subarkah dengan keramahan yang khas.


Kiran mendekat untuk bersalaman karena pak Subarkah mengulurkan tangan padanya. Kiran tidak tahu harus berkata atau bertanya apa. Dia hanya mengangguk dan tersenyum kikuk. Memori Kiran seolah ada yang menghilang dari kepalanya, sehingga Kiran tidak paham kenapa dia merasa senang!


Pak Subarkah memahami kebingungan Kiran, sehingga langsung memberi penjelasan. “Bapak datang untuk mengantarkan tas ini, kamu meninggalkannya di kamar Candra!”


"Oh …." Kepala Kiran seolah dihantam godam, sakit alang kepalang. Sesuatu menghempas isi otaknya bagai badai gunung. Genggaman tangan pak Subarkah mengalirkan hawa dingin menggidikkan yang menjalar cepat ke seluruh tubuh.


Kiran menatap tangannya yang masih belum dilepaskan oleh pak Subarkah, lalu Kiran sedikit mendongak untuk menatap wajah tua yang sedang tersenyum padanya. "Nak Kiran sehat?"


Kiran mengumpulkan ingatannya yang hilang sedikit demi sedikit, kebingungannya mulai terjawab seiring hawa dingin di seluruh tubuhnya hilang tak berbekas. “Gimana kabar Candra, Pak? Kenapa dia tidak ikut kesini?”


Ayah Kiran spontan memijat tengkuknya, putrinya yang baru saja diruwat dan lupa dengan kekasih hantunya tiba-tiba kembali ingat karena kedatangan pria tua yang mengaku juru kunci gunung yang didaki Kiran beberapa waktu lalu. Pria yang juga mengaku sebagai ayah Candra.


Meski menggelikan, ayah Kiran berusaha memahami pak Subarkah yang bercerita kalau kerjanya mengelola tempat pemujaan. Nama Candra disebutkan sebagai anak luar biasa karena hidup di alam yang berbeda dengannya.


“Candra baik-baik saja, dia sedang ada kesibukan jadi belum bisa mengunjungimu!” ujar pak Subarkah tak ingin melihat Kiran kecewa. Bagaimana bisa dia berperan seperti seorang ayah yang sesungguhnya dengan memanusiakan Candra, sang raja memedi yang mengatur pemujaan di punden miliknya?


Kenangan pahit mengenai putra tunggal yang pergi meninggalkannya yang menjadi alasan, hingga membuat pak Subarkah akhirnya menganggap Candra sebagai anak.


Candra begitu hidup dan bisa diajak berkomunikasi, bahkan sesekali mau tinggal di rumahnya yang selalu sepi. Sedikit banyak, memedi yang selalu menjelma sebagai pemuda tampan itu akhirnya mengisi ruang hati pak Subarkah yang kosong karena kehilangan seorang putra.


Hubungan tak lazim antara anak dan ayah itu dinikmati pak Subarkah sebagai bagian dari pekerjaan, juga bagian dari kehidupannya.


Pak Subarkah mengeluarkan kantung kecil kain putih dari sakunya, lalu mengulurkan benda itu pada Kiran. “Ini dari Candra, terimalah!”


Kiran menerima pemberian pak Subarkah dengan hati riang. Kiran nembuka kantong kain yang cukup bagus itu lalu berbinar-binar saat melihat isinya. “Cincin?”


"Candra ingin nak Kiran memakainya!" Pak Subarkah mengangguk, meski lamarannya ditolak mentah-mentah oleh ibu Kiran, juga tidak disetujui oleh ayah Kiran, tapi cincin itu tetap diberikan sebagai kenang-kenangan untuk Kiran.


Tak lama, wajah ceria Kiran yang baru menyelipkan cincin di jari manisnya meredup. Ayahnya menatap dengan mimik tidak setuju Kiran memakai benda itu di jarinya. Kiran memang sudah mendengar kalau ibunya menolak tegas niat baik pak Subarkah, tapi kalau jawaban tidak mau menerima lamaran Candra dari ayahnya, Kiran tidak mendengarnya.


Namun, ayahnya sudah pasti tidak akan menentang keputusan ibunya. Kiran paham sekali kalau posisi ayahnya selalu kalah dalam pengambilan keputusan di rumah mereka.


Kiran melepas kembali cincin emas bertahta batu merah delima yang sangat cantik itu. Dengan wajah sedih dan senyum datar, Kiran memasukkan kembali cincin pemberian Candra ke dalam kantong kain, lalu menyerahkannya pada pak Subarkah.


Pak Subarkah mengangguk memahami, “Baiklah jika nak Kiran maunya begitu. Bapak juga sudah mau pulang, sudah malam!”


"Kalau masih ada kesempatan saya ingin sekali berjumpa dengan Candra satu kali lagi, Pak!" Kiran mengangguk samar dan meninggalkan pak Subarkah yang melanjutkan basa-basi dengan ayahnya di ruang tamu.


Kiran mengusap air mata yang menetes dengan punggung tangan sembari berjalan masuk kamar, mengunci diri di dalam. Dukun muda sialan itu pasti sudah memasang pagar gaib untuknya agar tidak bisa bertemu Candra. Kalau saja pak Subarkah tidak datang dan menyalaminya, barangkali Kiran sudah lupa dengan hubungan cintanya dengan Candra.


Teringat dengan kotak bedak, Kiran membukanya untuk mengambil liontin bulat yang tadi pagi disimpannya di sana agar tidak ditanyakan oleh mas Bambang. Kiran mencium liontin itu dengan air mata berderai-derai dan isak yang memilukan.


Perlahan, Kiran memakai kembali kalung prusik beserta liontin itu agar menggantung di lehernya. Dengan demikian dia jadi lebih dekat dengan Candra, kekasih hantunya.


Kiran memeluk lutut ketika suara pak Subarkah menghilang. Pria tua itu sudah pamit dan pergi dari rumahnya. Membawa serta sebagian jiwa Kiran yang mendadak sepi. Sesuatu ikut hilang dari dirinya, berganti dengan rindu yang sepertinya tidak akan pernah terobati.


Kiran sungguh ingin marah pada kedua orang tuanya karena tidak menjamu ayah Candra dengan baik. Padahal, pak Subarkah memperlakukan Kiran dengan sangat istimewa ketika dia berada di rumahnya. Rasanya tidak adil memperlakukan pak Subarkah seperti itu, apalagi ibunya berbicara ketus dan tidak menyediakan air minum sama sekali.


Suara ketukan di pintu dari ayahnya diabaikan, Kiran sungguh tidak ingin diganggu, tidak ingin bertemu siapapun untuk saat itu. Kiran ingin di kamar melampiaskan rasa sedihnya dengan mengenang Candra. Karena dia tau, esok saat mas Bambang mengunjungi rumahnya, semua memorinya tentang Candra pasti akan kembali dihilangkan.


Kiran mengambil buku diary miliknya sewaktu masih SMA, menuliskan kisah cintanya bersama Candra dengan air mata yang tak berhenti mengalir. Kesedihannya larut hingga beberapa jam, hingga tanpa sadar ada hawa sirep datang dan Kiran tidur berbantal buku diarynya.


Detik berikutnya, tubuh Kiran menggigil kedinginan tanpa sebab, tangan kecilnya meraba sekitar untuk mencari selimut. Nihil.


Kiran terpaksa membuka mata karena selimut tidak ada di dekat tubuhnya. Mulutnya seketika ternganga karena mendapati dirinya berada di kamar yang berbeda.


Mata Kiran mengerjap beberapa kali untuk beradaptasi dengan ruangan luas, indah dan mewah. Ranjang besar yang menampung dirinya sangat empuk, jauh berbeda dengan tempat tidurnya. Pencahayaan kamar kuning temaram, selaras dengan warna dinding kamar yang berwarna gelap.


Terakhir, bau wangi dupa ekstrak kenanga khas Candra menjadi gangguan manis di indera penciuman Kiran.


Kiran melihat seseorang berdiri di depan jendela besar bertirai hitam dengan bordir benang emas. Baju putih yang dikenakan sangat bagus, indah seperti jubah raja, melambai di belakang punggung karena tertiup angin gunung dari luar jendela. Rupanya kondisi itu yang membuat Kiran kedinginan.


"Kamu sudah bangun?" tanya sosok itu tanpa sedikitpun menoleh pada Kiran yang masih linglung dengan keadaannya.


"Candra?" Kiran menatap lekat punggung lebar dan postur gagah yang baru saja dirindukannya.


"Ya, ini aku!" jawab Candra dengan nada sedih. "Aku merindukanmu, Kiran, sangat merindukanmu!"


Kiran turun dari ranjang secepat yang dia bisa, berlari ke arah sosok yang masih belum mau melihatnya.


"Candra!" Kiran memeluk punggung kekasihnya dengan luapan rindu yang amat besar, dengan air mata yang menetes karena haru. "Aku juga sangat merindukanmu!"


***