
Di padepokan Ki Dalang, Kiran ditempatkan di kamar tamu khusus perempuan. Sementara ayahnya ada di depan, berjaga bersama mas Bambang dan beberapa murid padepokan. Ki Dalang juga ada di sana sebagai guru spiritual dan juga sebagai orang yang dituakan.
Kiran sebenarnya tidak mengerti apa maksud dukun muda yang mengurusi masalahnya sampai harus membawanya keluar rumah. Sedikit banyak Kiran menaruh curiga pada mas Bambang. Entah karena pengaruh ucapan Candra yang memperingatkan dirinya untuk waspada, atau karena Kiran tidak sepenuhnya percaya kalau dukun itu tulus membantu orang tuanya.
Sejak mata demitnya terbuka, Kiran jadi lebih sensitif dengan gerakan makhluk halus di sekitarnya. Juga lebih memahami gelagat seseorang dari aura yang dipancarkannya.
Hm, Kiran merasa mas Bambang membawanya ke padepokan dengan alasan agar mereka bisa berhubungan tanpa ada batasan sungkan dengan orang tua Kiran. Atau dukun muda itu membawanya pergi dari rumah karena tidak diperbolehkan memeriksa kamarnya tadi pagi?
Kalau dipikir-pikir, tindakan pria beristri yang mau masuk kamar anak gadis memang tidak sopan, kan? Selain itu Kiran tidak ingin cincin merah delima miliknya ditemukan dan diambil oleh mas Bambang. Sebagai orang pintar, mas Bambang pasti mengerti fungsi cincin merah delima milik Kiran. Bisa dipastikan benda mistis itu sudah diketahui keberadaannya oleh radar sang paranormal.
Kiran terpaksa meninggalkan cincin itu di kamar agar tidak hilang. Tepatnya agar cincin itu aman dan tidak diminta paksa oleh orang-orang yang sekarang sedang rapat membahas dirinya dan Candra.
Kiran duduk di tepi ranjang dengan rasa tak nyaman, hawa lelembut sangat kental di area padepokan. Siluman buaya perewangan sang dukun muda disiagakan seolah akan terjadi perang besar.
Kiran berpikir lebih jauh lagi, menebak kemungkinan kalau padepokan milik guru mas Bambang adalah lokasi jebakan untuk mencelakai Candra, dengan dirinya sebagai umpan! Kiran menghembuskan nafas berat, kakinya melangkah mondar-mandir di dalam ruangan yang tak begitu luas itu.
Malam semakin larut, Kiran sama sekali tidak ingin tidur, dia ingin menyaksikan apapun yang mungkin terjadi di padepokan. Kiran ingin memastikan kekasih hantunya tidak terluka saat berusaha menemuinya. Astaga!
Bagaimana bisa setelah diruwat dan dinasehati untuk melupakan Candra, Kiran justru semakin penasaran dengan kisah cintanya yang unik dan luar biasa itu?!
Cinta memang aneh, seaneh tingkah Kiran yang tidak mau dibilang aneh karena mencintai makhluk hidup yang bukan dari jenisnya.
Kiran menggeleng berat, hati dan pikirannya menolak keras untuk melupakan Candra. Kenangan manis bersama kekasih hantunya yang hanya seujung kuku itu ingin diingatnya setiap hari. Cintanya yang gila ingin diabadikan dalam kepala, dalam memori terliarnya.
Toh Candra tidak pernah melakukan hal buruk padanya, tidak menyakiti apalagi menduakan dirinya, pun tidak memprovokasi Kiran untuk pindah alam agar mereka bisa bersama selamanya. Lalu salah Candra dimana sampai harus disergap saat ingin menemuinya?
Ah, mas dukun ganteng itu memang jahat, pasti dia punya niat terselubung dibalik pertolongannya.
Kiran membenturkan ponselnya ke kepala saking pusingnya. Perkiraan kalau Candra bakal mencarinya ke padepokan semakin tak tergoyahkan. Bahkan, jika dia disembunyikan di lubang cacing sekalipun oleh sang paranormal, Kiran sangat yakin kalau Candra pasti akan tetap menemukannya.
Tak lama, hawa sirep berhembus kental di kamarnya. Kiran menolak untuk larut, dia sungguh ingin membuka mata sepanjang malam. Kiran tidak ingin melewatkan kejadian penting malam itu sehingga Kiran berusaha sekuat tenaga melawan rasa kantuknya.
Tapi sayang, Kiran bukan orang sakti yang bisa menahan laju mantra yang menyerang dirinya. Kiran tak berkutik, dia cuma bisa memastikan pintu kamarnya terkunci sebelum merebahkan badan di atas tempat tidur.
Tak lama Kiran menguap, lalu menepuk-nepuk bantal dan tertidur dengan sangat lelap.
Beberapa saat sebelum masuk ke alam tak sadarnya, Kiran masih sempat mendengar suara ledakan-ledakan kecil di atas atap. Sesekali disusul dengan letusan besar dan sinar terang menyilaukan mata. Hanya saja Kiran tidak mampu mempertahankan kesadarannya di tengah perang gaib yang sedang berlangsung.
Bukan hanya Kiran, ayahnya yang notabene orang biasa juga sudah tergeletak lelap di ruang pertemuan. Hanya orang-orang padepokan saja yang masih membuka mata dan tetap siaga. Menyaksikan dua kubu makhluk halus mulai saling baku hantam.
Candra dan pasukannya menyerbu padepokan karena tidak menemukan Kiran di rumahnya. Bambang sengaja mengatur rumah Kiran dengan pagar gaib, menahan cincin Kiran agar tidak bisa keluar saat dipanggil Candra.
"Aku ingin membuat penawaran denganmu, aku tau kau datang mencari kekasihmu!" kata Bambang lantang.
Candra menyeringai, "Aku tidak butuh penawaran apapun. Kiran bukan barang dagangan!"
"Dia akan ternoda dan celaka jika kau tidak menyerahkan pusaka yang aku inginkan!"
"Kau mengancam dengan menyandera wanita? Kau bahkan lebih memalukan dibanding paranormal sakti lainnya!"
"Aku tidak butuh pidatomu, kawan! Serahkan saja pusakanya agar kekasihmu aman. Anggap semua masalah kita selesai setelah pertukaran ini. Aku tidak akan mengganggu lagi hubungan kalian! Aku janji …!"
Candra terbahak-bahak mendengar penuturan Bambang, "Aku sudah bilang kekasihku bukan barang yang bisa ditukar tanpa aturan! Jika ingin melakukan pertukaran, kau harus bersimpuh merendahkan dirimu untuk memujaku di punden kampung demit! Begitulah syarat dan ketentuannya, Bambang! Kau tau sekali kalau aku menerima sesembahan berupa nyawa manusia. Tapi dalam kasus satu ini aku mau Kiran diserahkan padaku oleh orang tuanya sendiri. Aku akan memberikan pusaka penganten itu pada orang tua Kiran sebagai gantinya. Dan kau bisa membelinya dari mereka sebagai mahar pertukaran!"
Sebagai dukun perewangan, Bambang memahami kinerja para demit yang penuh dengan syarat dan aturan. "Bagaimana jika aku tidak bersedia melakukan pemujaan?"
"Terserah, yang jelas kau tidak akan mendapatkan pusakanya!"
"Kekasihmu ada padaku, kau tidak akan punya kesempatan untuk memilikinya jika aku menikahinya!"
Candra tersenyum sinis, "Jangan terlalu jemawa, anak muda!"
Cih, memedi berwujud pemuda tampan itu malah menyebutnya sebagai anak muda! Benar-benar sebuah penghinaan.
Bambang menggeleng keras, menolak untuk mengikuti kehendak Candra dengan melakukan pemujaan bersama orang tua Kiran. Jelas sangat mustahil mengatakan kepentingan terselubungnya pada orang tua Kiran. Tidak ada orang tua yang mau mengorbankan anaknya demi pusaka yang tidak berguna bagi mereka!
Bahkan, jika Bambang bersedia membeli pusaka tersebut dengan harga mahal sekalipun, dukun itu yakin orang tua Kiran tetap tidak akan bersedia. Lagi pula akan sangat kelihatan kalau motifnya membantu Kiran hanya untuk kepentingan pribadi. Untuk memenuhi ambisi dan keserakahannya sebagai paranormal muda yang ingin duduk di puncak kekuasaan tertinggi.
Bambang bisa saja menikahi Kiran, menjadikan gadis itu miliknya, lalu mengorbankannya sebagai tumbal saat Kiran sudah menjadi istrinya. Hal seperti itu bisa diterima sing mbaurekso lama karena termasuk syarat sah sebuah penumbalan, bahwa sesembahan nyawa diberikan sendiri oleh keluarganya.
Namun, Bambang tidak yakin Candra mau menerima tumbal dengan pengaturan yang ditawarkannya. Candra adalah salah satu memedi licik dan juga penuh intrik. Dan lagi, Candra terkenal sebagai lelembut arogan! Terbukti, dia mengubah fungsi punden yang semula dipakai untuk anak pujan menjadi pesugihan dengan seenak jidatnya. Benar-benar memedi ruwet!
"Biar aku yang menghadapinya!" ujar Ki Dalang yang sudah berdiri tepat di samping Bambang. "Urus saja gadis itu, kalau kita tidak bisa mendapatkan pusaka penganten, pastikan juga memedi sialan ini tidak bisa mendapatkan kekasihnya. Kau bisa memiliki gadis istimewa itu untuk kepentingan lain."
Candra menatap sinis, giginya bergemeretak menahan emosi. "Kau akan sangat menyesal jika berani menyentuh kekasihku, anak muda! Satu helai saja rambut Kiran jatuh karena ulahmu, aku akan menuntut balas padamu dengan sangat kejam!"
Bambang tidak menggubris ancaman Candra! Dia pergi meninggalkan raja memedi itu bersama gurunya. Sudah jadi watak makhluk halus dunia hitam untuk selalu menyombongkan diri dengan mengancam. Bambang sama sekali tidak takut, kekesalannya karena tidak mendapatkan kesepakatan dengan Candra jauh lebih besar, dan itu harus dilampiaskan.
Dukun muda itu masuk ke dalam kamar pribadinya di padepokan. Dia duduk menenangkan diri sebelum mulai merapal mantra pelet birahi. Ajian Sinduka Sunkalantaka menjadi pilihan untuk menggarap Kiran yang sedang tidur lelap.
***