Candra Kirana

Candra Kirana
Mimpi Manis



Kiran tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersedu-sedu dalam pelukan Candra. Air mata cinta tumpah begitu rupa hanya karena pertemuan yang menurutnya tidak mungkin akan terulang lagi.


Candra membiarkan dadanya basah oleh lelehan rindu yang mengalir lewat mata sembab kekasihnya, dia pun ingin bisa ikut menopang kesedihan Kiran yang mengharu biru.


“Kiran … kamu nggak capek dari tadi nangis terus?” Candra membelai rambut Kiran yang sebagian tertiup angin dari jendela.


“Aku memang mau puas-puasin nangis biar lega,” jawab Kiran sebal karena Candra mengganggu konsentrasinya yang sedang merasa mendapatkan perhatian dan perlindungan.


Candra menaikkan dagu Kiran dengan ujung jarinya, “Kamu nggak ingin lihat pemandangan di luar sana?”


“Aku cuma mau lihat kamu, pemandangan di luar sama sekali nggak penting!” kata Kiran masih kekeuh memeluk Candra.


“Aku di sini Kiran, selalu di sini untukmu!” Dengan segaris senyum menawan, Candra memperhatikan mata Kiran yang masih basah. Candra lalu mengusap pipi Kiran dengan ibu jarinya, menyingkirkan bekas air mata yang sudah membuat basah wajah Kiran.


Candra menunduk, mengecup bibir Kiran yang rasanya jadi asin karena air mata. Satu ciuman mesra yang mengungkapkan cinta Candra dibalas Kiran dengan tak kalah mesra. Mereka larut dalam suasana rindu yang mendayu.


Kiran sungguh ingin meresapi apa yang sedang terjadi dengan mata terpejam. Ingin menyimpan setiap sentuhan manis dari kekasihnya hingga hati terdalam. Kiran benar-benar tidak mau melepaskan Candra yang berniat menyudahi ciumannya.


“Kenapa lagi, Can?” tanya Kiran sedih, matanya kembali melihat Candra yang menatapnya dalam-dalam.


“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu!” Candra menarik Kiran ke dalam rangkulan, lalu mengajaknya menikmati pemandangan malam yang tidak terlalu gelap. Melihat kehidupan seluruh memedi yang berada di bawah bangunan tempatnya berdiri.


Kiran baru sadar kalau mereka berada di tempat tertinggi, dimana semua warga kampung memedi terlihat memenuhi lereng gunung. Dan bangunan tempatnya berada adalah satu-satunya yang termegah, yang memiliki sudut pandang terluas untuk mengawasi seluruh penjuru negeri tersebut.


“Kamu mengawasi mereka dari sini?” tanya Kiran hati-hati.


“Mereka rakyatku, Kiran!”


“Jadi benar kamu itu ….”


Candra menatap Kiran dengan ekspresi yang tidak bisa Kiran artikan. “Kamu takut?”


Kiran menggeleng, dia sudah paham dengan pertanyaan balik dari Candra. Pemuda itu sudah menjawab pertanyaannya meski secara tidak langsung. “Ketakutanku sudah menguap entah kemana!”


Satu-satunya yang membuat Kiran takut sekarang adalah kalau dia tidak akan pernah lagi melihat Candra.


“Seharusnya kita memang tidak boleh saling kenal, Kiran! Kita hidup di alam yang berbeda.”


Kiran tertegun, pengakuan Candra sebenarnya sering sekali diucapkan walaupun dengan nada bercanda. Hanya saja, Kiran tidak mau mendengarkan karena dia percaya dengan logikanya sendiri. Candra nyata untuknya sebagai manusia yang bisa disentuh dan dicintai.


“Alasan yang membuat semua orang ingin memisahkan kita! Benar begitu?” Rasanya Kiran ingin menangis lagi, meratap kepada takdirnya yang serasa aneh dan tak masuk akal. Dari sekian banyak manusia tampan di sekelilingnya, kenapa dia justru jatuh cinta pada Candra?


Bukan hanya jatuh cinta seperti sebelumnya, Kiran lebih merasa jika dunianya ada pada kekasih hantunya itu. Cinta kiran jauh dari yang namanya kelogisan seperti yang selama ini dijunjungnya, jauh dari harapan orang tuanya yang mungkin sekarang mulai menganggapnya gila.


“Bukankah itu solusi paling masuk akal untuk kita, Kiran?” Candra bertanya dengan seulas senyum pedih.


Ujian terberat untuk kekasihnya sedang ada di depan mata. Kiran pasti sangat bingung memilih jalan hidupnya, dan terluka karena belum mampu membuat keputusan sesuai kata hatinya.


“Kata-katamu terdengar seperti hakim,” ucap Kiran lirih dan sedih. Ah, Kiran merasa Candra sedang berpamitan dan memang akan pergi dari hidupnya.


“Aku mencintaimu, Kiran … sangat mencintaimu,” ujar Candra merapatkan pelukan. Dia tidak mungkin menjadi hakim dalam hubungan mereka karena keputusan sepenuhnya ada di tangan Kiran. Gadisnya itu yang akan menentukan pilihan nantinya.


“Kenapa kamu membohongiku? Cinta selalu bicara jujur pada pasangannya, Can! Kamu menipuku dengan penampakanmu ini! Seharusnya kamu adalah memedi menyeramkan seperti yang dilihat Septi,” pekik Kiran frontal.


Dia perlu meluapkan amarahnya pada Candra yang sudah membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama, pada sosok pemuda pendaki gunung yang gagah rupawan.


“Aku sama sekali tidak menipu siapapun, Kiran! Ini memang diriku di masa lalu.” Candra meregangkan pelukan dan melepas kalung Kiran untuk mengambil liontinnya.


Candra menunjukkan gambar hitam putih yang ada di dalam liontin, dengan tulisan aksara jawa kecil-kecil di bagian bawahnya. Gambar itu adalah foto seorang pemuda berumur 20 tahun yang tak lain adalah dirinya. “Baca tulisan ini, Kiran!”


Meski sudah sedikit lupa dengan tulisan aksara carakan Jawa, tapi Kiran tetap berusaha membaca nama yang tertera di foto buram itu. “Candra?”


“Ya, itu namaku!” jawab Candra menutup liontinnya dan memasang kembali ke leher Kiran. “Kamu masih mau memakai ini sebagai kenang-kenangan?”


“Tentu saja, tapi aku ingin tau bagaimana kisahmu sampai bisa berakhir di sini!”


“Akan aku ceritakan kalau kamu sudah tinggal disini.”


“Tapi itu tidak mungkin, Can!”


“Kalau begitu biarlah kisahku tetap menjadi misteri untukmu.”


“Tapi aku penasaran!”


“Aku suka karena kamu selalu penasaran, suatu saat kamu pasti akan mencari jawaban dari rasa penasaran itu!”


Kiran menelan ludah kasar, kenyataan yang dihadapi memang sakit. Tapi tak sesakit membayangkan terpisah dengan Candra selamanya. “Aku akan lupa dengan rasa penasaran itu, Can! Mas Bambang akan menghapus memoriku tentangmu!”


“Ya, kamu benar! Banyak hal yang bisa dilakukan Bambang padamu, Sayang! Kamu sangat berharga untuk dukun itu sekarang, setara dengan pusaka sihir yang melegenda di tanah Jawa ini,” ujar Candra tenang.


Kiran menarik Candra untuk duduk di tepi ranjang, “Maksudnya gimana, Can? Dia tidak bermaksud menjadikan aku sebagai istri mudanya, kan? Pusaka apa? Jelaskan padaku!”


Candra terkekeh-kekeh mendengar pertanyaan beruntun dari kekasihnya. “Istri muda? Aku rasa tidak, tapi dia bisa mengalihkan perasaanmu yang semula padaku menjadi padanya!”


“Apa? Bagaimana bisa?” kejar Kiran semakin penasaran.


“Jika kamu tidak bisa dibuat lupa denganku, maka dia akan membuat kamu sibuk memikirkan kehadirannya. Bukankah Bambang tampan, menawan dan juga mapan, Sayang?”


Sial, Kiran mengumpat dalam hati. Bagaimana Candra tau kalau Kiran sempat memikirkan dukun muda itu? Apa artinya dia baru saja terkena pengasihan? Jujur saja, perasaan kagum itu belum pernah ada sebelumnya.


“Ba-bagaimana caranya agar aku tidak bisa lupa denganmu, Can? Aku tidak suka memoriku dihapus, aku ingin menikmati rasa sakit perpisahan kita nantinya! Meski sebenarnya aku sama sekali tidak ingin berpisah, aku bingung harus bagaimana … kedua orang tuaku tidak setuju dengan hubungan kita. Mereka semua menganggap aku gila karena guna-guna makhluk halus,” keluh Kiran dengan raut sedih dan tertekan.


“Kita sama-sama gila karena cinta, Kiran! Bukan karena hal lain. Sudahlah, jangan bersedih, cinta akan menemukan jalan sendiri tanpa perlu diragukan.”


Candra merengkuh Kiran dalam pelukan, menciumnya lembut, lama, penuh cinta dan gairah. Dia senang karena Kiran tidak berubah sikap meskipun tau kalau mereka berbeda. Candra sangat yakin bahwa Kiran tidak menginginkan perpisahan, gadis itu hanya masih dalam tahap bingung dalam mengambil keputusan.


Kiran membalas ciuman Candra sepenuh hati, seolah esok tidak akan ada untuk mereka melepas rindu kembali. Sesapan dan gigitan di bibir Kiran menjadi bumbu penyedap bagi hasratnya yang hampir padam karena perbedaan.


Cih, Kiran malah lupa soal pusaka legendaris yang tadi sempat membuatnya penasaran! Juga lupa segala hal, yang ada di kepalanya sekarang hanya Candra, Candra dan Candra.


Candra tidak akan membiarkan Kiran berpikir aneh-aneh dalam dunia nyata, karena dia bisa memberikan kelogisan hubungan cinta mereka seperti normalnya manusia. Candra bisa menyentuh Kiran seperti pria lain di luar sana, bisa bercinta dan juga memberikan Kiran kepuasan.


Kiran pasrah pada keadaan mereka, Candra mungkin sosok non-human seperti yang dikatakan semua orang. Tapi Kiran tetap saja merasa pemuda itu sangat nyata sebagai manusia. Candra sungguh bisa membuatnya berdebar dan bergetar di setiap kesempatan.


Selain itu, Kiran juga menyukai sentuhan Candra pada dirinya. Lembut dan penuh sikap memuja. Kiran bahkan sangat menikmati apa yang sedang mereka lakukan sekarang. Berciuman sangat lama dan dalam, lalu saling mencumbu dan melepaskan pakaian, hingga akhirnya menyatukan badan untuk mengejar pelepasan.


"Can … apa ini mimpi? Aku tidak ingin bangun," desis Kiran di sela-sela badai nikmatnya.


"Ini nyata, Sayang! Kamu akan mengingat setiap detailnya saat bangun tidur nanti."


***