
Kiran membuka mata, mengerjap beberapa kali untuk mencari fokus dan beradaptasi dengan cahaya suram dari lampu badai yang menggantung di sudut ruangan.
Begitu menemukan kesadaran penuh dan teringat apa yang terakhir dilihatnya, spontan Kiran panik. Kepalanya menengok ke kiri dan kanan dengan cepat, mencari penglihatan yang mungkin akan membuatnya menjerit histeris lagi.
Namun, ruang itu sepi menyayat. Tidak ada kehidupan selain dirinya. Dia berada di kamar Candra, dan sialnya kelambu putih transparan menutupi pandangannya yang mulai sempurna.
Kiran duduk dan siap turun dari ranjang untuk mencari Candra, tapi mendadak kepalanya berdenyut, pusing sangat hingga matanya kembali berkunang-kunang. Kiran lalu menyandarkan tubuhnya di headbed dan mengganjal punggungnya dengan bantal agar lebih nyaman.
Bau dupa menyapa hidung Kiran. Bukan wangi yang seperti biasanya, tapi lebih lembut seperti aroma terapi yang bisa menurunkan ketegangannya. Kiran menghirup udara dalam-dalam lalu menggosok hidungnya.
"Candra!" panggil Kiran lirih. Rasa kesal menghampiri, bisa-bisanya kekasihnya itu meninggalkannya sendiri di dalam kamar.
Lebih mengesalkan lagi saat Kiran melihat ponsel yang tergeletak di atas bantal sebelahnya. Bukan hanya tidak ada signal, tapi ponselnya tidak bisa hidup saat berusaha dinyalakan.
Padahal seingat Kiran, ponselnya ada di tempat aman saat hujan mengguyurnya di perjalanan. Tukang ojek yang mengingatkan untuk mematikan dan menyimpannya di dalam plastik agar tidak basah.
Sekarang ponselnya malah tidak mau menyala sama sekali. Kiran butuh melihat jam, juga butuh mengisi sepi dengan alunan musik. Kiran meletakkan kembali ponselnya dengan sedikit membanting. "Can … Candra!"
Kiran tak yakin kalau Candra mendengar panggilannya barusan, terlalu pelan. Tapi pintu kamar seketika terbuka dan satu sosok tampan mendatanginya dengan segelas teh hangat. Kiran hafal bau rempah yang menguar dari asap tipis di atas gelas.
"Kamu udah bangun? Nyenyak banget tidurnya sampai nggak tega mau ganggu!" Candra membuka kelambu dan menyerahkan gelas yang dibawanya.
Kiran meneguk teh rempah pemberian Candra sembari berpikir keras. Benarkah dia baru saja tidur? Lalu yang tadi itu berarti cuma mimpi? Yang benar saja!
"Aku kan nggak tidur, Can!" protes Kiran dengan akal setengah sehatnya.
Candra nyengir tanpa merasa bersalah, "Oh iya kamu tadi pingsan, aku lupa!"
"Gimana nggak pingsan kalau … ehm bener nggak sih yang aku lihat tadi di dekat punden?" tanya Kiran tak yakin.
Ingatan tentang kuntilanak yang berdiri tepat di belakang dan hampir menyentuhnya membuat Kiran bergidik. Tumpang tindih dengan ingatan mengenai beberapa pocong yang melompat-lompat di sekitar punden yang sedang diamatinya.
Lalu, di saat terakhir, salah satu memedi putih itu melompat ke arahnya, memeluknya, hingga jeritannya menggema dan gelap langsung menyapa mata. Sebatas itu memorinya bekerja.
Namun, sesaat sebelum kesadaran Kiran hilang semua, sesuatu telah meninggalkan memori penting dalam otaknya, yaitu pocong yang menubruk dan mendekapnya erat berbau wangi khas Candra.
"Kamu lihat apa memangnya?" tanya Candra masih dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Menutupi rasa jengkel yang mendera dari sejak Kiran pingsan di pelukannya.
Tapi kekesalannya pada dukun muda sakti asal Jombang memang harus diabaikan sementara demi Kiran. Gadisnya butuh dihibur agar tidak trauma.
Kalau saja Kiran sedang tidak di rumahnya, rasanya Candra ingin menghajar dukun sialan itu sekarang juga. Bambang sudah berani menantangnya! Menyalahi aturannya sendiri dengan mengulurkan bantuan tanpa diminta Kiran. Tanpa rasa takut sengaja mencampuri urusannya.
Candra menyeringai penuh ejekan. Barangkali sang dukun muda mulai lupa diri, terlalu congkak dan menganggap dirinya hebat sendiri. Lupa kalau bangsa Candra juga sama dengan manusia, memiliki banyak penyihir dan dukun sakti. Sing mbaurekso adalah salah satu yang paling sulit ditandingi.
Bambang menganggap dirinya terlalu tinggi. Terlena dan pongah hanya karena materi dan kejayaan yang didapat dari usaha perdukunan, mengandalkan perewangan yang notabene masih satu bangsa dengannya.
Ya, Bambang juga mungkin mulai pikun, kalau yang diajak bermain olehnya adalah Candra, sing mbaurekso yang sudah bertahta lebih dari satu abad lamanya.
Percaya diri karena merasa sakti boleh saja, tapi jangan pernah lengah, karena Candra bisa lebih tengil dan licik jika diusili. Istri cantik dan bayi Bambang bisa jadi sasaran bulan-bulanan Candra dan anak buahnya sebelum menggarap si dukun muda.
Entah sadar atau tidak, Bambang dengan bodohnya memantik peperangan antara pasukan siluman buaya perewangannya dengan seluruh memedi kawasan selatan gunung di bawah kepemimpinan Candra.
Bambang belum tau saja kalau sing mbaurekso yang lama usianya jauh lebih tua dan lebih sakti dibandingkan para siluman buaya peliharaannya. Sayang, Bambang memang belum lahir saat pemimpin utama kerajaan buaya siluman miliknya itu dihabisi oleh seorang wanita, Dinara.
Sungguh tidak sulit bagi Candra untuk mengunjungi Bambang bersama seluruh bawahannya.
Candra duduk di tepi ranjang, menghadap Kiran yang memperhatikannya tanpa berkedip. Ah, sebenarnya mudah saja bagi Candra membelokkan ingatan Kiran akan dirinya yang berwujud pocong saat mendekapnya. Dia salah satu memedi yang ahli menggunakan sihir ilusi.
Tapi Candra tidak melakukannya, dia ingin Kiran tau kebenaran wujudnya secara perlahan. Jadi, Candra tidak menghapus memori Kiran sebelum pingsan.
"Kok diem, kamu lihat apa tadi di punden?" Candra mengulangi pertanyaannya.
Kiran menutup wajahnya dengan kedua tangan, mengusap dengan frustasi sebelum menjawab. "Kuntilanak … anak kecil berwajah pucat, dan juga beberapa pocong!"
Kiran menyesal, seharusnya dia tidak meremehkan ungkapan ketakutan Septi saat melihat dua makhluk halus paling menyeramkan. Septi sama sekali tidak berbohong kalau dua memedi itu benar-benar horor penampakannya.
Bukan penakut! Dua kata itu serasa tidak ada artinya sekarang. Kiran bergidik ngeri dan ciut nyali saat melihat langsung keberadaan mereka yang seharusnya tak kasat. Kiran yakin kalau punden samping rumah yang diamatinya tadi memang dikeramatkan, mengingat ayah Candra adalah seorang juru kunci.
Dalam ingatan samarnya, Kiran juga seperti mendengar ulang pembicaraan tamu pak Subar yang datang meminta kekayaan dengan sistem pesugihan. Gadis itu terus saja memijat pangkal hidungnya untuk mencari rekaman penglihatan dan pendengaran yang patah-patah.
Namun, kesimpulan sudah ada di benaknya sekarang. Rumah Candra berhantu karena ada punden yang digunakan sebagai tempat pemujaan.
"Kamu takut sama demit?"
Kiran mengulas senyum kecut saat menjawab, "Ternyata mereka jauh lebih serem aslinya daripada yang ada di film. Kamu nggak takut ya, Can? Rumah kamu ini banyak memedinya, kan?"
Candra tertawa ringan, tuduhan Kiran memang tidak salah, jadi dia mengangguk sebagai jawaban. "Udah biasa lihat, nggak ada yang aneh atau menakutkan lagi di mataku!"
"Kamu hidup berdampingan dengan mereka?"
"Ya bisa dibilang begitu. Sama saja dengan kamu hidup berdampingan dengan kucing, kamu nggak takut karena biasa melihat dan juga berinteraksi, karena suka, mungkin juga karena cinta! Tapi bagi orang yang nggak suka makhluk berbulu, kucing bisa sama menakutkannya dengan memedi!"
“Jadi aku harus sering-sering lihat memedi biar nggak takut?”
Candra mengedikkan bahu, "Kamu harus berani mengalahkan ketakutanmu! Kalau biasa lihat, seburuk apapun wujud mereka nggak bakal bikin nyali kamu ciut!"
"Aku nggak yakin … tapi kalau mereka menampakkan diri tanpa bermaksud mengganggu, aku rasa bisa menerima kehadiran mereka tanpa perlu merasa khawatir."
"Hm, aku beritahu sesuatu, memedi tidak akan menampakkan diri pada orang pemberani. Mereka suka iseng pada para penakut! Pepatah bilang tak kenal maka tak sayang itu menurutku benar adanya!"
"Faktanya aku penakut, Can! sama sekali jauh dari kata berani yang selalu aku banggakan," sahut Kiran. Tangannya terulur mengembalikan gelas yang sudah kosong. "Thanks tehnya!"
“Tidurlah, nanti sebelum subuh aku bangunin!” Candra meletakkan gelas di atas meja.
"Jam berapa sekarang?"
"Tengah malam, Sayang!"
Kiran menghembuskan nafas berat, juga menoleh kiri kanan memastikan ruangan itu steril dari penampakan setan. “Tapi aku nggak berani tidur sendiri, Can!"
Candra menaikkan sebelah alisnya penuh godaan, "Butuh teman ngobrol atau teman tidur?"
"Dua-duanya," jawab Kiran, mengulas senyum dan menggeser tubuhnya agar tidak memenuhi ranjang. "Kalau kamu nggak keberatan."
***