
Sang paranormal muda mengerang gelisah, salah tingkah, sekaligus merasa tidak mudah mengendalikan perasaannya. Entah bagaimana otaknya selalu saja tidak stabil jika berhadapan dengan Kiran.
Uh, Bambang sekarang sibuk menyalahkan Kiran yang berwajah manis dan selalu terlihat menggemaskan, pun memiliki pribadi yang menyenangkan hingga membuatnya kelimpungan.
Sifat dan gaya Kiran yang tidak feminim diam-diam mencuri ruang kecil hati Bambang. Dukun muda itu serasa kembali ke beberapa waktu lalu saat dirinya menggilai pesona Tyas, wanita yang sekarang sudah resmi menjadi istrinya.
Hm, mungkin jika Kiran dijadikan istri kedua akan lebih baik! Toh Kiran adalah gadis berjulung wangi, yang tidak memiliki rasa takut dengan memedi. Seandainya tidak bisa ditukar dengan pusaka pun, Bambang bisa memanfaatkan Kiran untuk membantunya di dunia perdukunan nanti.
Sungguh tidak ada yang tidak berguna dari gadis istimewa seperti Kiran.
Namun, untuk memulai hubungan dengan Kiran di dunia nyata secara langsung hampir tidak mungkin bagi Bambang. Kiran tidak menyukainya dari sejak awal bertemu. Statusnya yang sudah beristri juga semakin tidak layak untuk menggoda Kiran secara terang-terangan. Kiran bukan jenis perempuan yang bisa tertarik dengan pria yang sudah berkeluarga.
Satu-satunya yang mungkin bisa membuat Kiran terkesan padanya adalah berkenalan lewat jalur bawah sadar yaitu dengan mendatangi Kiran lewat mimpi. Setelah Kiran terbiasa dengan sentuhan erotisnya di bawah alam kesadaran, Bambang yakin gadis itu akan menyerah dan bertekuk lutut padanya.
Di kamar lain, Kiran tidur hingga lelap terdalam, terdampar ke dunia mimpi yang tidak semestinya. Mimpi yang dikendalikan oleh orang yang berada di ruang lain. Dalam mimpi, Kiran merasa tidak sedang sendiri, tapi ada seseorang yang baru saja masuk kamar dan mengawasinya dengan sorot mata penuh cinta dan gairah.
“Kiran ….” Bukan hanya suara berat seorang pria yang mampir di telinga Kiran. Tapi juga beberapa kali elusan sayang di pipi dan rambutnya.
Kiran membuka mata, mengerjap beberapa kali dengan ekspresi tak percaya. Bagaimana bisa dukun muda itu ada di kamarnya? Kiran ingat betul kalau sudah mengunci pintu kamar sebelum tidur.
Dengan sekuat tenaga Kiran berusaha bangun dari tidurnya, berusaha sadar kalau yang sedang terjadi itu hanya mimpi.
Meski mas Bambang ganteng, berkharisma dan juga sangat menggoda, tapi Kiran tidak mau mereka memiliki hubungan yang sifatnya pribadi. Pria yang sedang menyentuh pipinya itu sudah memiliki istri! Kiran tidak mau disentuh walaupun hanya dalam mimpi.
Sayang sekali Kiran tidak bisa menghindari atau mengendalikan mimpinya. Jangankan untuk bangun dan sadar, untuk menolak pesona mas Bambang saja Kiran kesulitan.
“Bangun, Kiran!” perintah dukun muda itu lembut.
Perlahan, Kiran duduk bersandar headbed. Menatap Bambang dengan wajah penuh tanda tanya. Sisi hatinya menolak untuk mengakui jika dukun muda itu sangat menggairahkan. Sisi hatinya yang lain bersorak penuh suka dengan situasi mereka berdua.
Ada di ruang tertutup bersama pria dewasa itu membuat jantung Kiran berdetak abnormal. Kiran meremang, deg-degan sekaligus terpana dengan senyum mas dukun yang seakan lebih menawan dari sebelumnya.
Ah, Kiran tidak mempercayai dirinya yang mendadak binal hanya karena tatap mata mas Bambang yang mendamba dirinya. Kiran bahkan membalas dengan senyum penuh godaan pada pria tampan dan karismatik itu.
“Kok mas Bambang bisa kesini?” tanya Kiran malu-malu. Wajahnya yang pucat merona merah muda.
Kiran rasanya ingin menyingkirkan tangan mas Bambang yang kini menggenggam erat telapak tangannya. Mengusap lembut dengan ibu jari, lalu mengecup punggung tangannya dengan mesra. Kiran bergidik, wajahnya panas terbakar di bawah tatapan sayu Bambang.
“Aku kesini karena ingin bersamamu, Kiran!”
“Tapi … ini nggak bener!” kata Kiran berusaha menguasai dirinya yang mulai terjebak dalam bara gairah yang disalurkan tangan Bambang.
“Dunia ini memang penuh dengan ketidakbenaran, Sayang! Tapi aku bertanggung jawab penuh atas semua yang akan terjadi di tempat ini, kamu nggak perlu khawatir.” Bambang mengecup punggung tangan Kiran sekali lagi. Mengantarkan hasrat dan getaran tubuhnya dengan penuh perasaan. “Aku menginginkanmu, Kiran!”
“Tidak boleh!” jawab Kiran ragu, linglung dengan pilihan kata yang harus diungkapkan.
Pikirannya kacau antara mau dan tidak mau disentuh Bambang. Kiran memaki dalam hati, menyumpahi ketidakberdayaannya menghadapi pesona mistis sang paranormal.
“Kenapa tidak boleh? Aku jatuh cinta padamu, anak manis! Dan kamu tidak bisa menolakku!”
“Jangan memantraiku!” desis Kiran tak terdengar. Suaranya tenggelam oleh degup jantung yang menggila karena tidak tahan dengan sentuhan Bambang.
"Aku sungguh menyukaimu, Kiran! Kita akan menikah secepatnya!"
Kiran menggeleng ringan, "A-apa?"
Sial bagi Kiran, otaknya mendadak beku dan tubuhnya menjadi sangat sulit dikendalikan. Kiran hanya mengerjap bodoh ketika Bambang mendekatkan wajahnya.
"Aku menyukaimu … apa masih kurang jelas?"
"Hah, apa yang kurang jelas?" tanya Kiran bingung.
Bambang mengikis jarak yang hanya satu jengkal itu menjadi satu inci di depan Kiran. Menatap mata Kiran hingga menembus pikirannya. Tak ayal lagi, Kiran gelagapan dan salah tingkah menghadapi kelakuan Bambang, rasanya persis seperti saat pertama kali akan mendapatkan ciuman dari pacarnya dulu.
"Aku lebih suka menjelaskan perasaanku dengan tindakan, bukan dengan rayuan!"
Fiuh, Kiran langsung lupa dengan kekasih hantunya! Sihir Bambang bekerja maksimal menyentuh ambang batas pikirannya. Kiran sungguh ingin berkata 'jangan' pada pria yang sudah memiringkan kepala agar bisa mengecup bibirnya dengan tepat. Tapi tidak mampu.
Kiran terkesiap, dadanya hampir meledak karena terlalu berdebar. Mas Bambang perlahan menekan lembut bibirnya yang sedang bergetar, menghisap dan bergerak sensual untuk merangsang kebutuhan primitif Kiran.
Demi apapun, Kiran tidak pernah segemetar ini saat berciuman dengan pacar-pacarnya dulu. Mungkin karena semua pacarnya berstatus lajang, sehingga tidak memiliki tantangan? Atau mungkin karena mas Bambang memainkan bibirnya dengan penuh perasaan, jauh dari keliaran apalagi kebrutalan?
Meski Kiran tidak begitu menyukai kelembutan, tapi bibirnya sama sekali tidak menolak kenikmatan dari tiap sesapan dan gigitan ringan mas Bambang. Kiran melenguh gelisah, tangannya yang semula hanya diam entah sejak kapan sudah melingkar di leher mas dukun.
Meminta tindakan yang bisa memperjelas lagi hubungan mereka, ups!
Dengan hati-hati mas Bambang menarik Kiran ke dalam pelukan, lalu mengungkungnya hingga terhimpit di bawah kuasanya. Ciuman yang semula hanya berputar-putar di area mulut Kiran mulai turun menjajaki bagian leher dengan basah.
Kiran mengerang berkali-kali merasakan geli dan horny dalam satu waktu. Pikirannya yang kacau balau karena ingatan yang tumpang tindih akhirnya menyerah pada birahi yang menggelegak di sekujur tubuhnya.
"Candra …." desis Kiran diantara ketidaksadarannya. Meski gadis itu sama sekali tidak mengingat kekasih hantunya, tapi entah bagaimana mulutnya menyebut namanya di situasi erotis yang sedang melanda.
"Kiran …." Bambang menggeram kesal hingga menggigit leher Kiran dengan gemas.
Bisa-bisanya gadis manis yang sudah ada di bawah pengaruh mantranya malah menyebutkan nama pria lain saat dicumbu olehnya! Bambang merutuki Cinta Kiran yang luar biasa pada Candra. Rasa itu bukan hanya memenuhi kalbu, tapi sudah merasuk sampai ke sumsum tulang Kiran hingga segala sesuatu tentang Candra terbawa ke alam tak sadarnya.
Kiran menggeleng ringan, protes karena mas Bambang mendadak menghentikan cumbuannya. "Jangan berhenti!"
Kekesalan Bambang semakin menjadi, penyebabnya bukan Kiran, tapi karena ada gangguan lain. Pintu kamarnya diketuk sangat keras dan berulang-ulang hingga menimbulkan suara berisik.
"Mas … tolong buka pintu sebentar! Mas Bambang … urgent!"
Bambang seketika keluar dari mimpi Kiran dan beranjak membuka pintu kamarnya. "Ada apa?"
"Ada telepon dari mbak Tyas, katanya penting sekali … maksudnya darurat! Ponsel mas Bambang kenapa tidak bisa dihubungi?" tanya orang kepercayaan Bambang, gusar karena harus menyampaikan kabar buruk.
Bambang menyalakan ponselnya yang tadi sengaja dimatikan, panggilan istrinya langsung tersambung sesaat setelah ponsel siap digunakan. Tyas mengabarkan kalau anak mereka tiba-tiba menangis, menjerit-jerit histeris, lalu kejang tanpa sebab jelas.
***