Candra Kirana

Candra Kirana
Bulan Untuk Semesta



“Kamu ngapain di situ?” tanya Kiran kesal.


Candra berdiri di luar jendela, menatap Kiran dengan seulas senyum menawannya. “Aku nunggu dipersilahkan masuk!”


Kiran menaikkan sebelah alis, cowok macho berpakaian petualang itu benar-benar menggoda kesabarannya. “Aku hitung sampai tiga kalau kamu masih tetap berdiri di situ, aku tutup jendelanya!”


Candra seketika melangkah lebar dan masuk ke kamar Kiran melalui jendela seperti pencuri. Hm, memedi satu itu memang selalu memberikan pemandangan kehidupan normal pada Kiran, dengan bertingkah layaknya manusia.


Kiran menghambur ke dalam pelukan Candra sedetik setelah kekasihnya berdiri tegap dan merentangkan tangan padanya. “Aku merindukanmu, Kiran!”


“Aku hampir mati karena kelamaan nunggu kamu!” ujar Kiran sarkastik dan hiperbola. Padahal Kiran hanya menunggu tak lebih dari sepuluh menit dari sejak menaburkan serbuk dupa.


"Masa? Aku nggak punya jam tangan jadi nggak tau waktu!" ujar Candra meledek Kiran yang sedang cemberut.


"Bikin kesel tau!" Seperti biasa, Kiran selalu saja tak bisa menahan rasa penasaran lebih lama lagi. “Ayo duduk, aku mau tanya sesuatu sama kamu!”


“Nggak kangen-kangenan dulu?” goda Candra sambil menjepit dagu kekasihnya.


Kiran mendongak dan berjinjit untuk mendapatkan satu kecupan. “Kamu jangan tinggi-tinggi kenapa sih? Bikin susah aja kalau mau nyuri ciuman!”


Candra terkekeh-kekeh seraya menunduk untuk mengecap bibir Kiran. “Aku beneran kangen kamu, Sayang!”


Kiran berniat memberondong Candra dengan banyak pertanyaan begitu mereka sudah duduk di tepi ranjang. Bukan bersisian, tapi Kiran duduk manis di pangkuan Candra, merangkul, bergelayut manja dan tentu saja mengangkangi pahanya.


Mereka berciuman lama, mesra, panas dan penuh dengan gairah. Mengikis rindu yang nyaris berkarat karena kondisi tidak memungkinkan untuk bisa berdua-dua seperti sebelumnya.


Kiran melenguh, melepas semua siksa yang bertahta di atas kama. Melegakan dahaga dan renjana karena sua yang tak kunjung tiba. Ah … cinta Kiran yang berbalut nestapa akhirnya berbalas dengan madu dunia.


"Candra … bisakah kamu memelukku lebih lama? Seperti ini selamanya?"


Candra mengecup hidung Kiran, "Aku menunggumu siap, Sayang!"


Kiran memeluk erat, "Aku ingin selalu bersamamu!"


"Lalu bagaimana dengan orang tuamu?"


Spontan Kiran ingat kalau dia memiliki banyak pertanyaan untuk Candra. "Apa kamu ketemu bapakku, tadi siang beliau ke rumahmu?!"


"Enggak ketemu … tapi aku tau beliau datang mengunjungi ayah."


"Boleh aku tau untuk apa bapakku pergi menemui ayahmu?"


Candra menjawab apa adanya tanpa ada yang disembunyikan.


"Benarkah?" Kiran tak berhenti terkejut mendengar jawaban-jawaban Candra. Masih tak mengerti dengan ulah ayahnya yang diam-diam sudah membuat perjanjian pesugihan dengan sang juru kunci.


Siapa sangka kalau serbuk yang diberikan pak Subarkah untuk merusak pagar gaib itu sebenarnya memiliki tujuan lain?


Serbuk itu bukan untuk memberikan pintu pada Candra, tapi ditujukan untuk memedi yang akan datang mengantarkan uang sekaligus mengambil ayahnya sebagai tumbal pesugihan.


"Jadi kamu yang akan membawa bapak pergi?" tanya Kiran deg-degan. Rasa tidak percaya, takut dan sakit melebur jadi satu dalam dirinya.


"Sebenarnya bukan tugasku, tapi aku bersedia mengambil pekerjaan ini karena berhubungan denganmu. Nantinya aku akan rutin datang, jadi kita bisa bertemu setiap malam Selasa Kliwon."


Kiran berpikir keras, gelisah dan sedih tak terkira dalam pelukan Candra, “Bisakah aku menggantikan bapak?”


“Tumbal tidak bisa digantikan oleh orang lain, Kiran! Hal seperti itu sudah tercatat dalam perjanjian! Juru kunci sudah mengesahkan kesepakatan yang diminta bapak!”


“Apakah perjanjian bisa dibatalkan?”


“Bagaimana jika direvisi saja? Pasti bisa, aku akan bicara pada ayahmu untuk mengatur ulang perjanjian. Kamu harus membantuku, tugasmu nanti menjelaskan keinginanku pada ayahmu!” pinta Kiran dengan nada paksaan yang kental.


Melihat wajah Candra yang tanpa ekspresi, Kiran merajuk kecewa. "Jadi kamu nggak mau bantu aku?"


Candra mengalah, memangnya apa yang tidak bisa dilakukan sing mbaurekso untuk kekasihnya, heh?


“Baiklah aku akan membantu! Aku akan bicara pada ayah setelah pulang dari sini!”


“Bagaimana caranya agar ayahmu mau mengabulkan permintaanku? Beri tahu aku triknya, kamu anaknya, pasti tau kelemahan beliau!” Kiran merayu dengan cara mengecup pipi Candra beberapa kali.


“Dengan mendaftar jadi menantunya mungkin!” jawab Candra sambil tergelak.


Kiran memukul lengan Candra saking kesalnya. “Aku serius, Can!”


Candra menangkap tangan Kiran, mencium telapaknya, lalu diletakkan di pipi, minta diusap-usap. “Aku juga serius, Kiran! Menikahlah denganku, maka semua masalah ini akan selesai!”


Kiran meresapi bibir dingin Candra yang kini menyentuh kulit pipi hingga telinganya. Getaran dan gelombang gairah menyerbu Kiran dari berbagai arah. Rasanya masih sama seperti dulu, saat pertama kali mereka bersentuhan. Dan Kiran selalu terbakar dengan kebutuhannya. Hormon tubuhnya serasa berlebih jika berdua dengan kekasih hantunya.


“Apakah kita memang bisa bersama dalam arti yang sebenarnya, seperti dua manusia biasa? Bukankah kita berbeda? Aku masih tidak bisa paham dengan semua ini, Can!”


Candra mengelus bahu Kiran, lalu tangannya naik ke leher dan wajah, membingkai rahang Kiran dengan sangat lembut. “Bisa sayang … kamu akan jadi ratuku di sana!”


“Bagaimana caranya?” tanya Kiran dengan suara bergetar. Seumur hidup belum pernah Kiran merasa seantusias ini terhadap laki-laki. Keinginannya untuk bisa bersama Candra sudah tidak tertahankan.


“Kamu tau … aku tidak memiliki raga manusia lagi, tidak seperti dulu ….” bisik Candra tepat di depan bibir Kiran. "Aku tidak bisa setiap saat ada di duniamu!"


Kiran menatap lorong gelap pada mata Candra, “Aku mencintaimu Candra sayang, sangat mencintaimu, aku ingin bersamamu jika semua itu memang mungkin. Haruskah aku yang pergi ke duniamu?”


Candra mengangguk, “Tapi kamu akan kehilangan semua yang ada di rumah ini, apa kamu mengerti maksudku? Apa kamu siap?”


“Aku mengerti,” jawab Kiran yakin. "Aku juga siap!"


Bagi Kiran, tidak ada yang lebih baik daripada memperjuangkan kebahagiaannya sendiri. Cintanya pada Candra tidak bisa dialihkan, jadi Kiran memutuskan untuk menerima takdirnya sekarang.


Selain alasan cinta, apa yang akan dilakukan Kiran juga demi menyelamatkan ayahnya. Kiran tidak ingin keluarganya terlibat bisnis klenik pesugihan pocong dengan tumbal nyawa.


Candra menanyakan sekali lagi keputusan Kiran, dan jawaban gadis itu sungguh membuatnya terharu. Kiran memilih dirinya sebagai pelabuhan terakhir. Cinta tulus membuat Kiran rela mengorbankan kehidupannya.


"Kamu adalah ratuku, Kiran! Kamu yang akan menjadi ibu dari anak-anakku, kamu satu-satunya wanitaku, sekarang, nanti, selamanya …!"


Kiran memeluk erat kekasihnya, meluapkan bahagia yang hampir terlupa. "Aku akan mencintaimu selalu, menemanimu hingga akhir zaman! Kamu adalah rajaku, pemilikku, segalanya untukku. Kita akan selalu bersama, menjadi bulan untuk semesta, menjadi Candra Kirana selamanya!"


Candra menghujani wajah Kiran dengan ciuman. Berjanji akan memperlakukan Kiran dengan baik, membayar pengorbanan Kiran dengan kebahagiaan, menaburi Kiran dengan cinta yang tak terukur dalamnya.


Sebelum semuanya berakhir, Kiran menulis satu kisah lagi di buku diarynya. Kiran juga menulis salam perpisahan dan beberapa pesan untuk kedua orang tuanya.


Selanjutnya Kiran mencabut kabel sambungan listrik yang ada di kamar dan mengikatnya kuat pada ventilasi di atas jendela.


Candra sengaja tidak membantu agar Kiran sepenuhnya memahami tindakannya. Tidak sedikitpun raja memedi itu berbicara atau bersikap memprovokasi Kiran yang sedang sibuk bekerja. Candra memang ingin Kiran memutuskan sendiri jalannya.


Dari awal, Candra sudah yakin kalau cinta tulus Kiran akan mampu menerima dirinya apa adanya. Bahkan Candra sudah menebak kalau kekasihnya itu akan mengikutinya, memutuskan hidup bersamanya suatu hari nanti. Hari ini.


Kiran membuat simpul jerat pada kabel yang berjuntai dengan sangat cekatan, lalu tanpa ragu mengalungkan kabel yang sudah berbentuk lingkaran itu, mengeratkan hingga menyentuh kulit leher … dan membebani dengan tubuhnya.


***