
Bambang sebenarnya enggan berurusan dengan Candra, memedi yang menjadi penguasa lereng selatan gunung. Bukan tanpa alasan, sosok yang dilihat Kiran selalu menjelma menjadi pemuda tampan itu adalah sing mbaurekso, penguasa wilayah yang memiliki kesaktian pilih tanding.
Bukan hanya soal sakti dan digdaya, Candra juga menguasai banyak ilmu sihir. Bambang sebagai seorang paranormal sadar betul mengenai siapa Candra, karena praktek perdukunannya juga tak lepas dari ilmu-ilmu sihir, kesaktian dan campur tangan lelembut perewangan sebangsa Candra.
Menundukkan memedi itu bukan perkara mudah, mengajak Candra bekerja sama juga tidak segampang yang Bambang kira. Candra bukan hanya meminta tumbal nyawa sebagai syarat, tapi juga meminta lahan kekuasaan yang cukup luas jika Bambang ingin menggunakan jasanya dalam praktek perdukunan.
Beberapa waktu lalu, Bambang pernah diajak gurunya masuk ke dalam kampung demit untuk melacak pusaka bertuah. Di sanalah awal mula Bambang bertemu Candra, sang penguasa yang tidak suka dengan kehadiran manusia di atas tanah miliknya.
Padahal, Bambang dan gurunya sudah 'nyuguh' dengan memberikan sesajen paling istimewa sebagai bentuk permintaan izin sebelum masuk wilayah angker tersebut.
Begitu masuk area pusat kegiatan kampung demit, guru dan murid itu menyadari kalau pusaka yang sedang mereka cari benar ada di wilayah kekuasaan Candra. Tapi mereka tidak bisa menarik pusaka yang mereka buru dengan mudah. Candra menjaga dan memantrai pusaka bertuah itu agar tidak keluar dari alam memedi.
Candra yang menyambut kedatangan dua manusia di keratonnya dengan gampangnya mencium bau keserakahan dari sosok Bambang dan gurunya. Permintaan kerjasama menjadi diskusi panjang yang tidak ada hasilnya karena Bambang tidak bisa memenuhi persyaratan yang diajukan Candra.
Bambang memang mengatur strategi dengan mengajak Candra bergabung dalam sebuah perjanjian kerjasama, dengan harapan bisa memanipulasinya suatu hari nanti. Sayang sekali, Candra terlalu cepat membaca ambisinya untuk mendapatkan pusaka, sehingga perjalanan gaibnya bersama sang guru ke kampung demit tak menghasilkan apa-apa.
Pertempuran besar pasti akan terjadi jika Bambang berkeras untuk merebut pusaka legendaris yang tanpa sengaja jatuh ke tangan Candra. Untuk itulah, Bambang harus menahan diri, pasukan siluman buayanya tidak mungkin dikorbankan tanpa perhitungan. Bambang tidak mau gegabah, dia lebih baik menunggu kesempatan untuk melumpuhkan Candra di lain hari.
Jika tidak bisa dengan kerjasama, Bambang pasti menemukan jalan lain untuk mendapatkan pusaka bertuah tersebut. Bambang hanya perlu mengatur waktu, rencana dan strategi adu kesaktian sebagai jalan akhir.
Raja memedi bernama Candra ternyata tidak cukup bodoh untuk memberikan pusaka sihir buatan Mpu Sapta yang didapatnya tanpa pertukaran yang setara. Karena, bukan hanya Bambang yang berminat dengan pusaka tersebut. Sebelumnya, sudah ada beberapa dukun sakti yang memburunya hingga berani masuk kampung demit tanpa permisi. Sayang, mereka semua juga harus pulang dengan tangan hampa.
Kini, keberuntungan sepertinya sedang berada di tangan Bambang. Secara kebetulan dia mendapatkan pasien wanita yang bermasalah dengan kopi yang berasal dari kampung demit. Septi datang ke ruang prakteknya bersama pacar dan sahabatnya. Bau magis penguasa lereng selatan gunung bahkan lekat dengan gadis yang ada di sebelah Septi.
Bambang serasa kejatuhan bulan saat melihat ada hubungan cinta antara salah satu tamunya dengan raja memedi tersebut. Bambang seolah melihat kelemahan Candra ada pada Kirana.
Keusilannya mengganggu hubungan Candra dan Kirana bukan tanpa alasan, karena akhirnya Bambang menemukan harga paling setara dan sangat mahal untuk ditukar dengan pusaka yang diinginkannya.
Sudah lama dukun muda asal Jombang itu mendambakan sepasang pusaka penganten yang sebelumnya dipegang orang sakti bergelar 'lanjaran 21'. Lebih menjengkelkan lagi karena pusaka penganten itu malah tunduk dan mengabdi pada putra sang lanjaran, bocah tengil yang usianya masih belasan tahun bernama Pandji.
Jadi, menjadi berita menyenangkan ketika akhirnya pusaka itu terlepas dari genggaman Pandji. Konon, pusaka penganten Pandji hilang terhisap portal dimensi saat dia melintasi gerbang dua alam setelah menyelesaikan sebuah misi.
Kabar gembira beredar luas di seluruh penjuru negeri. Perburuan pun dimulai secara diam-diam. Para dukun sakti mulai melacak keberadaan sepasang pusaka itu untuk dimiliki secara pribadi. Hingga berita terakhir mengatakan kalau pusaka penganten jatuh ke alam memedi yang terletak di lereng selatan gunung.
Sebagai orang sakti, Bambang menjadi salah satu pemburu pusaka tersebut untuk menambah nilai dirinya di dunia perdukunan. Bukan hanya sepasang pusaka penganten, tapi Bambang juga ingin memiliki lima pusaka lainnya agar bisa bertahta mengatur dunia dan isinya.
Bambang tersenyum senang karena Kiran datang padanya sepagi ini. Gadis itu adalah tamu agung yang akan mengantarkan dirinya pada pusaka penganten yang sekarang ada dalam kekuasaan kekasih hantunya, Candra.
Setelah berbasa-basi sebentar, mas Bambang bertanya pada orang tua Kiran. "Jadi, ada apa bapak dan ibu datang kemari?"
"Mas Bambang pasti sudah mendengar inti permasalahan dari teman Kiran yang namanya Septi. Apa benar anak itu telepon mas Bambang kemarin malam?"
"Begitulah, dia hanya bercerita singkat mengenai penglihatannya yang masih terbuka! Kebetulan yang dilihat malah pacar sahabatnya yang ternyata sangat tak biasa …!" jelas mas Bambang sambil mengawasi Kiran yang dilanda resah.
"Kami datang sepagi ini karena butuh bantuan mas Bambang untuk menolong Kiran!" ucap ayah Kiran antusias. "Saya sangat khawatir …."
Mas Bambang menanggapi dengan bijak, "Saya akan berusaha membebaskan Kiran, hanya saja butuh ekstra tenaga karena yang kita hadapi ini bukan lelembut biasa!"
"Saya percaya mas Bambang bisa mengurus semua ini dengan baik! Kami ikut dengan semua aturan dan saran dari mas Bambang nantinya. Saya yakin semua yang dilakukan mas Bambang hanya untuk kebaikan Kiran."
Ibu Kiran membenarkan dengan anggukan dan senyum pasrah. "Yang penting Kiran sembuh dan tidak diganggu lagi oleh demit gunung!"
Kiran mendengarkan percakapan kedua orangtuanya dengan hati panas. Kesal karena dianggap seperti orang sakit jiwa. Mata Kiran menatap dukun muda di seberang meja dengan sirat benci.
“Kiran apa kabar?” tanya mas Bambang tiba-tiba. Sial, suaranya yang berat tetap terdengar ramah dan enak di telinga Kiran.
Dengan acuh, Kiran mengedikkan bahu sebagai jawaban. Jujur, dia malas berbasa basi dengan dukun muda bermata juling itu. Meski begitu, Kiran tetap mengakui kalau mas Bambang memang ganteng dan kharismatik.
Pembicaraan mengenai pernikahan dengan mas Bambang di mobil tadi membuat Kiran mengulum senyum diam-diam. Selain ganteng, postur tubuh dukun muda itu terbilang gagah, tingginya memadai dan senyumnya menawan. Serasi dengan istrinya yang cantik dan masih muda.
Kiran juga manis dan masih muda … uhuk!
Dengan wajah memerah, Kiran melihat ke arah lain. Dia segera menyudahi pikiran yang melantur entah kemana gara-gara mendapatkan sapaan ramah, tatapan teduh dan senyum memikat dari mas Bambang.
Merasa Kiran tidak ingin bicara dengannya, mas Bambang memancing dengan cara lain. “Gimana kabar Candra?”
***