
"Keberatan sih nggak, takutnya malah bikin kamu nggak bisa istirahat semalaman!"
Kiran menimpali dengan penuh keisengan, "Baguslah, setidaknya ada kegiatan yang membuatku lupa dengan penampakan yang barusan aku lihat."
"Jangan nyesel loh ya!" Candra tertawa kecil menanggapi pacarnya yang berani nakal menggoda secara terang-terangan. "Bukan cuma lupa sama penampakan, aku bisa bikin kamu lupa segalanya!"
"Oke, aku bersedia dibuat lupa! Tapi aku nggak mau pakai kelambu!"
Candra memicingkan mata, "Kenapa lagi?"
"Rasanya aneh, kayak di sekap di dalam peti putih, sesak nafas," jawab Kiran dengan ekspresi memelas.
"Banyak nyamuk!" Candra tidak menggubris keluhan Kiran, mereka tetap memakai kelambu, sehingga lampu yang temaram membuat suasana semakin suram. "Tidurlah!"
Candra melakukan itu karena terlalu sayang Kiran! Siapa sih yang mau kulit mulus gadisnya berbekas gigitan serangga hutan?
Kiran menguap, "Bisa kita ngobrol dulu?"
"Tidur!" perintah Candra. "Kamu ngantuk itu!"
"Nop! Aku udah kebanyakan tidur tadi, maksudku semaput!" sahut Kiran cepat sambil memeluk Candra, mengendus leher berbau wangi aneh yang sepintas diingatnya sebelum pingsan.
Selanjutnya Kiran bergerak tak nyaman, sesekali hidungnya kembang kempis memastikan sesuatu, sesekali matanya memperhatikan wajah Candra yang sudah terpejam.
"Ada apa?" tanya Candra dengan suara beratnya. Kiran yang berbantal lengannya seperti sedang gelisah.
"Can, sebelum pingsan tadi … ada pocong yang nubruk aku, baunya kok persis banget sama bau kamu ya?"
"Jadi kamu pikir aku pocong?" tanya Candra tanpa membuka mata.
Candra memutuskan kalau Kiran akan dibiarkan memiliki pandangan dua alam seperti keinginan Bambang, tujuannya agar Kiran terbiasa melihat penampakan.
Sementara Candra hanya perlu menggunakan ilmu sihir untuk menjelma dalam wujud machonya, sesekali mungkin dia akan menampakkan diri sebagai memedi. Dan Kiran akan mengenalinya setelah terbiasa dengan pandangan dua alamnya.
"Entahlah, aku hanya merasa baunya familiar!"
Candra membuka mata, menghadap wajah Kiran yang hanya berjarak satu jengkal dengannya, "Kalau aku beneran pocong yang nubruk kamu, gimana? Kamu takut?"
"Ya nggak mungkinlah, eh kalau memang iya … berarti kamu pocong paling tampan di dunia ini!" jawab Kiran penuh canda dan logika. Candra bisa disentuh dan bicara layaknya manusia, entah itu hanya perasaannya atau apa, tapi Kiran bisa melihat kalau Candra sangat nyata untuknya sebagai manusia. Tidak seperti memedi menyeramkan yang menubruknya.
"Apa kamu akan tetap cinta sama aku kalau aku bukan manusia?"
Kiran menatap lurus ke mata Candra, mencari kejujuran dan kebenaran. Kiran mengusap pipi Candra sambil berbicara pelan, "Aku harus jawab apa, Can? Kamu bukan pocong itu, kan? Kenapa pembicaraan kita semakin aneh?"
Butuh beberapa waktu bagi mereka untuk tetap saling pandang, berbicara dengan mata dan hati. Candra masih tak percaya pada pendengarannya, sementara Kiran sangsi dengan penglihatannya.
Namun, keduanya sepakat untuk mencari kedalaman cinta mereka lewat sebuah tindakan. Kiran menutup mata dan membuka bibir saat Candra menatapnya lebih dalam. Dan akhirnya, satu kecupan ringan mampir di bibir Kiran. Sangat ringan dan singkat hingga Kiran tak sabar untuk memperdalamnya.
Kiran membuka mata, menyingkirkan selimut, lalu merangkul dan membalas ciuman Candra yang penuh keragu-raguan dengan lebih ganas.
"Kiran …." Candra melepas bibirnya, menjaga jarak dengan wajah Kiran hingga sejengkal.
"Kenapa, Can?"
Candra menggeleng ringan, "Jangan Kiran … jangan begini!"
"Kenapa kamu nggak pernah serius kalau ciuman sama aku? Kamu sebenarnya cinta apa nggak sih sama aku?" tanya Kiran penuh selidik. Kesal karena Candra menghindari momen romantis yang baru saja terjadi.
"Kamu nggak perlu tanya kalau soal cinta, Kiran!"
"Jadi apa alasannya?" Kiran setengah menindih dada Candra untuk mendapatkan kontak mata lebih dekat. "Jelaskan sekarang sebelum aku marah!"
"Kamu bisa nyesel kalau aku kebablasan!"
"Jangan menantang pacarmu ini, Kiran!"
"Kamu nggak suka ciuman sama aku? Aku tersinggung kamu menolakku!"
"Astaga Kiran …!"
"Kamu nggak mau jujur ngasih alasan atau memang takut kita terlibat hubungan lebih dalam setelah ciuman? Tinggal jawab aja muter-muter terus dari tadi!" Kiran memindahkan seluruh berat tubuhnya ke atas badan Candra.
Candra memeluk Kiran, mengusap punggungnya, "Apanya yang muter-muter?"
"Aku pikir kamu serius mau hibur aku setelah insiden pingsan karena ketakutan, ternyata cuma aku yang kege-eran! Jangan-jangan yang cinta dalam hubungan ini juga cuma aku, kamu terima aku atas dasar kasihan aja!"
"Kiran?" Candra berdecak, kesabarannya selalu saja diuji Kiran.
"Apa? Mau membela diri?"
"Baiklah, kalau begitu … mari kita lakukan semua keinginanmu, biar kamu nggak salah paham dan terus saja penasaran sama aku." Candra membalik posisi dengan cepat, menghimpit Kiran di bawah tubuhnya. "Hentikan aku kalau kamu merasa nggak nyaman nanti."
Candra menatap mata Kiran hingga gadis itu mengalah, tak lama bibir mereka bersentuhan. Candra tidak lagi berniat memberikan kecupan ringan, dia memulai langsung dengan sesapan basah dan sangat nakal. Menuruti Kiran yang membalasnya tak kalah liar dan sepenuh hati.
Berbekal pengalaman beberapa kali pacaran, Kiran tak mau kalah saat lidah Candra menginvasi keseluruhan rongga mulutnya. Kiran terbakar dan kepanasan lebih cepat, tapi sama sekali tidak ingin berhenti.
Ketakutan dan ketegangan terhadap kengerian di dekat punden tadi perlahan-lahan menghilang dari pikirannya. Berganti dengan sosok Candra yang mulai memenuhi otaknya dan tubuhnya yang sarat akan gairah.
Kebutuhan untuk dimanja dan dilindungi diluapkan Kiran dengan desa-h halus yang keluar dari sela-sela bibirnya. Kiran terlalu fokus pada hasratnya yang terpercik, pada birahi yang melompat keluar, hingga tak menyadari keganjilan pada nafas Candra yang sama sekali tidak memburu seperti dirinya.
Candra meragu untuk menyentuh Kiran lebih jauh, tapi tak bisa menghentikan Kiran yang terus menuntut untuk melanjutkan aksi mereka. Kiran memeluknya hangat dan penuh penyerahan diri. Penuh penerimaan pada Candra yang banyak kekurangan.
Kiran membuka mata sedikit, meresapi bibir dingin Candra yang menyapu lembut permukaan kulit wajahnya, lalu turun ke arah leher dengan kecupan dan gigitan.
Lalu dengan konyolnya Kiran merasa bercumbu dengan Edward Cullen lagi. Bagaimana tidak? Bibir Candra dingin, begitu juga dengan kulit wajah yang menempel di permukaan kulitnya.
Tak ingin berhenti sampai leher, Kiran mengarahkan kepala Candra lebih ke bawah. Ke arah dadanya yang tidak seberapa membusung.
Entah siapa yang lebih nakal diantara mereka, yang jelas keduanya tidak butuh waktu lama untuk saling bantu melepas pakaian pasangannya.
"Can …!" Kiran bergumam dengan suara rendah, bercampur dengan nafas yang tidak beraturan. Di atasnya, Candra bergerilya menjelajahi kulitnya dengan hasrat yang meletup-letup. Ruam merah ditinggalkan merata, mulai dari leher, dada hingga paha.
Kiran menyerah pada naf-su yang menggelegak di setiap sel tubuhnya. Memasrahkan diri pada Candra yang bersiap mengambil kegadisannya.
"Candra!" Pekik kecil menjadi penanda kalau Candra sudah merobek selaput dara yang selama ini belum pernah terjamah siapapun.
"Apa aku menyakitimu?" tanya Candra dengan suara serak yang sangat menggemaskan.
"Sedikit," jawab Kiran terengah. Kedua tangannya mengusap punggung Candra sebagai isyarat untuk melanjutkan kegilaan mereka.
Candra menggigit lembut bahu Kiran sebelum bergerak erotis di atas tubuh mulus gadisnya, yang sekarang sudah diubah olehnya menjadi wanita.
"Candra …." Suara-suara rintihan Kiran menjadi melodi utama dalam kesenyapan kamar. Berbalas dengan suara berat Candra yang menggerung penuh damba dan gairah akan kekasihnya.
"Kirana …."
***
^^^Hai kak,^^^
^^^Jangan lupa sajen menyan, kembang setaman n' kopi pahit kalau mau ngundang Can-can ya! Eh nggak bisa ding, do'i masih sibuk maljum-an sama anak perawan. ^^^
^^^Btw, happy 1 December yasss … semoga bulan ini rezeki kita lebih lancar dari bulan kemarin - Al^^^