Candra Kirana

Candra Kirana
Mengunjungi Paranormal



Obrolan demi obrolan orang tua hanya didengarkan Kiran sekedarnya saja. Bisa diambil kesimpulan kalau orang tua Kiran sedang mencari jalan agar putrinya itu tidak lagi berhubungan dengan pacar hantunya.


Kiran melengos sedih, cinta yang baru saja dibangun dan belum kokoh sudah berusaha diruntuhkan dengan berbagai cara oleh orang-orang yang sangat disayanginya.


Ibunya yang pengertian bahkan tidak bertanya bagaimana perasaan Kiran sekarang! Tidakkah ibunya melihat kesedihan dan rasa sakit di wajah anaknya?


Semua solusi yang Kiran dengar berujung perpisahan, padahal kedua orang tuanya belum melihat dan berkenalan dengan Candra. Harapan Kiran jadi semakin tipis untuk mendapatkan restu dari kedua orangtuanya.


Kecuali Candra datang melamar didampingi pak Subarkah ke rumahnya. Itu baru bisa dibilang pencerahan.


Namun, hal itu adalah kemungkinan yang menurut Kiran sangat kecil peluangnya. Candra tidak tahu alamat rumahnya. Septi juga tidak mungkin mau membantu karena sudah terlanjur menuduh kalau pacarnya itu adalah memedi menyeramkan.


"Pak, aku pernah denger dari orang kuno penyelesaian masalah Kiran sebenarnya gampang saja!" Ibu Kiran mulai mencari opsi lagi untuk pengobatan Kiran setelah membahas beberapa cara yang lazim digunakan. Salah satu yang sudah dibahas mereka adalah pergi ke Jombang tempat mas Bambang!


"Gimana caranya, Bu?" tanya ayah Kiran penasaran.


"Kata nenekku dulu kalau ada anak perawan disukai lelembut, anak gadis itu harus segera dinikahkan biar luntur wanginya!" jelas ibu Kiran bersemangat.


"Menurutku cara itu sih terlalu mengada-ada aja, Bu! Apa hubungannya balung wangi sama perawan ting-ting?"


Ibu Kiran cemberut, "Namanya juga orang kuno, solusi masalahnya kadang memang nyeleneh. Tapi faktanya, anak gadis di kampung nenek itu setelah dinikahkan sudah nggak pernah diganggu makhluk halus lagi."


Ayah Kiran yang memegang kemudi langsung menoleh, "Trus kamu rencananya mau nikahkan Kiran sebagai percobaan pengobatan? Sama siapa?"


"Kalau memang harus dinikahkan ya nggak apa-apa toh demi keselamatan! Kiran juga sudah cukup umurnya, sudah 21 tahun!" jawab ibu Kiran sembari berpikir. "Gimana kalau sama putra bungsu pak lurah? Anaknya ganteng, baru selesai pendidikan S2 si Firman itu, Pak!"


"Apaan sih ibu ini?" seru Kiran, protes dengan ide konyol dari wanita yang melahirkannya. "Kiran nggak mau nikah cepet-cepet!"


Ayah Kiran tertawa, "Trus kamu mau datang ke rumah pak lurah nawarkan anakmu?"


"Ya nanti aku tak pendekatan dengan bu lurah, mumpung Kiran di rumah, bisa sekalian kenalan!"


Kiran kembali bersuara, "Bu … aku nggak mau kenalan sama Firman, lagaknya aja udah bikin mual orang lain!"


"Firman mapan, Kiran!" sahut ibu Kiran yakin. "Kamu belum kenal aja makanya sok mual!"


"Kayak nggak ada solusi yang lain aja!" Kiran menggerutu sebal. "Kita mau kemana ini, Pak? Kok nggak keluar tol Mojokerto?"


Ibu Kiran menjawab, "Ya ke mas Bambang, mau kemana lagi memangnya?"


"Nah pas betul waktunya! Kenapa Kiran nggak dinikahkan sama dukun muda Jombang ini aja, Bu? Kabarnya masih muda, ganteng, sakti, populer dan jelas kaya raya!" kelakar ayah Kiran pada istrinya.


"Bapak?!" sahut istrinya kesal, bersamaan dengan seruan jengkel dari mulut Kiran.


"Bambang itu sudah punya anak istri, Pak! Bapak tega aku jadi istri mudanya Bambang?" tanya Kiran mengiba. Kelucuan bapaknya sama sekali tidak menghibur hatinya.


Ayah Kiran menukas gamblang, "Kalau dia bisa adil nggak masalah, kan?"


"Bapak niat bener punya mantu paranormal!" timpal Kiran melengos, menatap jalan yang mulai terang oleh matahari.


Suasana sedikit cair karena suara tawa ayah Kiran. "Ya bapak kan udah pensiun, Ran! Nanti bapak ikut kerja mempromosikan Bambang aja kalau kamu jadi istrinya!"


Kiran tersenyum tipis mengingat pertemuan pertamanya dengan Candra. Mengingat bagaimana dia langsung jatuh cinta pada pemuda macho yang menyapanya di tengah malam, di bawah bulan purnama yang bersinar remang-remang.


"Lebih nggak lucu lagi kalau menantu bapakmu itu hantu gentayangan!" ujar ibu Kiran datar. Kalimat yang langsung membuat Kiran merasa sakit di dadanya.


"Ibu kok ngomongnya gitu sih!" kata Kiran lirih.


Ibu Kiran menjawab dengan antusias, "Kamu nanti ibu kenalin sama Firman kalau udah sampai rumah, dia sering nganter ibunya ke warung buat beli keperluan. Ibu lihat anaknya baik, cocok juga kalau bersanding sama kamu!"


Kiran diam, tak bicara sedikitpun sampai mobil keluar tol. Ayahnya yang menimpali rencana ibunya pun hanya sekedarnya saja. Terlihat tidak terlalu tertarik untuk menikahkan Kiran dengan pria yang disebut istrinya lulusan S2 universitas ternama di Yogyakarta.


Ayah Kiran ingin putrinya bahagia dengan pilihannya. Urusan hati bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan. Ayah Kiran menikahi istrinya itu juga atas dasar saling cinta, tanpa ada unsur paksaan dari orang tua. Jadi kenapa mereka harus memaksa Kiran untuk menikah dengan pemuda yang belum tentu disukainya?


Kalau soal pengobatan, sebagai ayah tentu saja akan mengusahakannya semaksimal mungkin. Memisahkan Kiran dari kekasih hantunya saja sudah pasti menyakiti putrinya, tidak perlu ditambah dengan menikahkannya dengan pemuda lain.


Hanya saja, menentang istrinya di saat sedang kalut tidak akan membuahkan hasil. Mending dia membicarakannya dengan sang dukun mengenai langkah-langkah yang harus diambil untuk kebaikan Kiran nanti.


"Gimana kalau kita sarapan dulu, Bu?" Ayah Kiran menghentikan mobil di warung tak jauh dari pasar. "Paling mas Bambang ya belum buka prakteknya!"


Kiran menanggapi, "Tapi sebaiknya memang datang pagi kalau nggak mau terlalu antri, Pak. Makin siang makin ramai, orang dari luar-luar kota yang menginap di hotel sini pasti jam sepuluhan sudah sampai rumah dukun itu."


"Makan sebentar biar nggak masuk angin, bapak juga mau ngopi buat buang kantuk!"


Kiran ikut memesan kopi setelah duduk di warung. Kopi pahit. Alasannya biar tidak mengantuk, menirukan kalimat ayahnya beberapa saat lalu. Padahal, Kiran mulai menyukai kopi hitam tanpa gula sejak terkontaminasi oleh kopi dari dunia memedi.


Tidak lebih dari tiga puluh menit Kiran dan kedua orang tuanya istirahat di warung makan tersebut. Ayah Kiran langsung masuk ke jalan pinggir sungai yang ditunjuk Kiran.


"Aku nanti nunggu di mobil aja ya, Bu!" usul Kiran dengan ekspresi malas bertemu Bambang. Rumah dukun kondang itu ada di ujung jalan, sebentar lagi mereka sampai.


"Gimana toh kamu ini? Yang nanti dilihat mas Bambang itu ya kamu, yang mau disembuhkan itu juga kamu, kok malah nggak mau ketemu paranormalnya!" omel ibu Kiran, gemas melihat putrinya yang sedang memasang wajah melas.


"Aku nggak sakit, Bu!"


"Kamu diganggu lelembut tapi kamu nggak sadar, Kiran! Itu masalahnya."


"Ibu ini nggak percaya bener sama anak sendiri!" Kiran benar-benar jengkel pada ibunya yang terus saja menyinggung kekasih hantunya.


"Sudah nggak usah berdebat, ayo ikut masuk semua biar tau masalah sebenarnya!" Ayah Kiran menyudahi ribut kecil antara istri dan anaknya. Mobilnya sudah parkir sesuai arahan penjaga rumah sang paranormal.


Masih sepi, belum ada antrian karena praktek belum buka. Kiran berjalan lebih dulu, masuk ke halaman rumah besar yang gerbangnya sudah terbuka lebar.


Tak disangka, mas Bambang membuka pintu ruang tamu dengan senyum ramah. Sepertinya kedatangan Kiran dan keluarganya sudah ditunggu sang paranormal.


"Silakan masuk, Kiran!" sambut mas Bambang sembari menyalami kedua orang tua Kiran. Mereka dipersilahkan untuk masuk ruang tamu, bukan ruang praktek.


Dengan senyum kesal, Kiran menolak bersalaman dengan orang sakti itu. Kiran membiarkan tangan mas Bambang menggantung di hadapannya.


Kiran tidak butuh bantuan Bambang untuk sembuh, karena dia merasa tidak sakit. Dia hanya sedang jatuh cinta pada seorang pemuda, lalu dimana letak kesalahannya?


***