Candra Kirana

Candra Kirana
Masa Lalu



Di masa lampau, leluhur pak Subarkah adalah pertapa gunung yang sangat terkenal karena kesaktiannya. Seorang jagoan yang konon tidak mati ditembus peluru saat perang berkobar di desanya. Mbah Jambrong nama bekennya.


Mbah Jambrong menjadi satu dari empat orang yang menggagas dibangunnya kampung demit. Saat itu, seluruh warga desa dikerahkan untuk membangun empat rumah besar berikut gudangnya.


Empat rumah tersebut dibangun bukan semata-mata untuk kesenangan empat orang sakti yang tidak bisa ditentang kemauannya, tapi memiliki tujuan mulia.


Rumah-rumah yang sudah dibangun dijadikan basis pertahanan dalam perang yang sedang berlangsung. Bukan hanya sebatas basis pertahanan, rumah dengan gudang besar itu juga digunakan untuk menyimpan hasil panen warga desa agar tidak diambil oleh penjajah. Menyembunyikan tokoh-tokoh penting menjadi fungsi tambahan dari empat rumah itu.


Pendidikan bela diri dan kesaktian, secara sembunyi-sembunyi juga diberikan kepada para pria di kampung tersebut. Mereka dididik langsung oleh empat orang sakti untuk membela negara. Empat orang yang menjadi cikal bakal juru kunci di generasi selanjutnya.


Kampung kecil itu dirajah agar tidak pernah ditemukan oleh tentara kolonial, penjagaan dilakukan oleh makhluk halus yang dikendalikan oleh empat pertapa gunung.


Angker dan berbahaya menjadi ciri khas kampung yang hanya terdiri dari empat rumah. Hingga kampung demit disematkan sebagai nama karena kondisinya yang selalu wingit.


Tidak sedikit orang yang tersesat dan tidak pernah kembali saat berusaha menjelajahi lereng selatan gunung untuk menemukan kampung demit. Bahkan sepasukan tentara penjajah dikabarkan hilang saat memburu tokoh penting yang disembunyikan di kampung tersebut.


Disebut hilang karena tidak pernah ditemukan jasadnya saat dilakukan penyisiran ke seluruh kawasan selatan gunung. Hingga akhirnya kasus ditutup dan kampung demit dilupakan agar tidak ada kejadian berulang. Kampung demit tetap tersembunyi hingga perang berakhir dan negeri mendapatkan kemerdekaan.


Empat pertapa gunung memilih moksa setelah situasi desa aman. Sejarah keberadaan mereka diabadikan dengan dibangunnya punden di sisi kanan rumah oleh anak keturunannya.


Dari generasi ke generasi fungsi punden yang sebelumnya hanya untuk mengenang keberadaan empat pertapa sakti, mulai bergeser menjadi tempat pemujaan.


Tempat yang awalnya didatangi hanya untuk 'ngalap berkah', berubah menjadi tempat meminta sesuatu di luar batas kewajaran. Mulai dari minta kekayaan dengan jalan pintas, mendapatkan jimat, memperoleh kesaktian hingga meminta anak dengan sistem pujan.


Pada akhirnya punden tersebut benar-benar berubah fungsi seperti makam yang dikeramatkan, dengan juru kunci sebagai perantaranya.


Pak Subarkah dan tiga kawannya adalah generasi pewaris punden yang sudah bergeser menjadi tempat untuk ritual pemujaan. Punden milik pak Subarkah sendiri awalnya digunakan khusus bagi pasangan yang ingin mendapatkan anak dengan cara istimewa.


Kedatangan Marcell dan Winda menjadi awal perubahan tatanan yang sudah dijalankan selama bertahun-tahun di punden tersebut. Marcell dan Winda melakukan pemujaan dengan perjanjian khusus, yaitu memberikan anak pujannya sebagai tumbal kekayaan.


Secara kebetulan, putra Marcell dan Winda lahir sebagai julung wangi, pun di hari yang orang Jawa kuno sebut sebagai hari kejayaan setan. Putra yang kelahirannya ditunggu oleh sing mbaurekso yang sudah waktunya lengser keprabon.


Ketika putra Marcell dan Winda yang mengusung nama rembulan itu berusia 25 tahun, dia akan menggantikan sing mbaurekso sebagai pemimpin baru yang bertahta dalam dunia gelap satu abad lamanya.


Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, Marcell dan Winda mencari orang sakti untuk menyelamatkan putranya yang bernama Candra dari perjanjian khususnya. Kalung dengan liontin bulan disematkan di leher Candra sebagai rumah jiwa anaknya, agar jiwa Candra tidak diambil alih oleh sing mbaurekso saat ajalnya tiba.


Namun, sing mbaurekso bukan makhluk kemarin sore yang bisa ditipu dengan mudah. Kesaktiannya bisa menemukan jiwa Candra yang tersekat dalam liontin pemberian kakeknya.


"Aku akan melepasmu jika liontin itu ditemukan oleh pemuda lain dengan wangi yang sama persis denganmu, anak yang hadir karena orang tuanya melakukan ritual pemujaan. Karena pengganti anak pujan haruslah anak pujan dalam tingkatan yang sama."


Candra masih tak memahami kalimat sing mbaurekso yang menyeretnya masuk gerbang dua alam dan menjadikannya pewaris dunia kegelapan. "Kamu akan bertahta menggantikanku selama satu abad di lereng gunung ini, atau sampai pada liontin milikmu ditemukan orang lain."


Satu abad itu berapa lama? Candra bahkan tidak bisa menghitung waktu di dunia barunya, pun tidak bisa menghindari takdirnya.


Candra akhirnya memimpin dan mengambil alih kuasa setelah dua tahun dibimbing sing mbaurekso. Kesaktian diberikan padanya untuk mengatur bumi gelap lereng selatan gunung. Juga membantu manusia yang sudah gelap mata dan rela memujanya.


Wujud Candra sebagai tumbal kekayaan anak pujan adalah pocong. Begitu juga dengan saudara-saudaranya yang tinggal satu rumah dengannya.


Namun, sebagai sing mbaurekso yang baru, Candra bisa menjelma dalam wujud asli dirinya dulu, saat berusia 22 tahun. Muda, tampan, gagah dan tentu saja menggairahkan bagi kaum wanita.


Dalam kiprahnya, Candra tidak menyukai anak pujan. Menurutnya, penciptaan yang seperti itu bukan kuasanya. Dia sama sekali tidak menikmati sajian ritual yang diberikan oleh pasangan yang menginginkan anak. Baik bentuk sesaji atau tubuh si perempuan yang akan mengandung anak pujan.


Candra tidak sudi ikut andil dalam pergumulan dua manusia dalam ritual pemujaan yang biasanya diatur oleh juru kunci. Hal seperti itu bertentangan dengan dirinya yang dulunya juga anak pujan.


Kuasanya sebagai pemegang tahta membuat Candra bisa menentukan arah pemujaan. Keputusannya bulat saat menolak permintaan anak pujan. Candra hanya akan melayani manusia yang meminta kekayaan cepat.


Sistem pesugihan pocong diberikan bagi mereka yang melakukan ritual di punden miliknya. Melalui tangan pak Subarkah, Candra menjelma sebagai anak yang akan mengabulkan semua hajat dunia manusia yang memujanya.


Dalam perhitungan waktu yang tidak sama dengan dunia manusia, Candra sudah banyak menerima tumbal sesembahan dari manusia serakah yang ingin hidup enak tanpa perlu berkarya.


Namun, Candra tidak lagi menikmati hidupnya sebagai sing mbaurekso seperti awalnya. Dia ingin lengser, ingin liontinnya segera ditemukan oleh penggantinya, karena faktanya dia seperti bertahta tanpa hitungan waktu. Bukan satu abad seperti yang dikatakan sing mbaurekso sebelumnya.


Liontin yang dulu dipakai sebagai rumah bagi jiwanya, diisi dengan mantra untuk menjerat pemuda dengan sebutan julung wangi seperti dirinya.


Alih-alih ditemukan seorang pemuda, liontin itu justru ditemukan julung wangi berjenis kelamin perempuan. Gadis manis pendaki gunung yang secara kebetulan memiliki nama rembulan seperti dirinya.


Sanggupkah Candra mengambil jiwa Kiran untuk diserahkan pada sing mbaurekso yang sudah turun tahta sebagai pengganti dirinya? Sementara dia merasa bahwa Kiran mulai memenuhi jiwanya yang sebelumnya sangat kesepian.


***