Brave Things

Brave Things
Part 9 Brothers



Hampir 1 Minggu berlalu sejak kejadian itu dan tidak banyak yang berubah antara aku dan Jimin. Kami seperti mencoba melupakan kesalahan kami saat itu yang berlandaskan emosi semata.


Aku selalu berusaha untuk menghindari hal-hal yang sekiranya memancing amarah Jimin, berpatokan dengan kegiatanku saat dulu awal-awal pindah ke Tiongkok.


Masa itu, rasanya Jimin bahkan tak akan berani menaikan nada suaranya padaku. Dia selalu terlihat merasa bersalah dan menjaga perkataannya agar tak menyinggung perasaanku yang sensitif.


Seperti awal-awal aku pindah dulu, aku kembali tidak keluar rumah. Tugas Hanji juga hanya datang dan menemaniku mengobrol didalam Penthouse, aku juga memilih mengutus Hanji saja untuk pergi keluar dan membeli barang-barang yang aku butuhkan.


Jimin tidak bertanya apapun tentang tingkah lakuku, seolah dia merasa ini adalah sikap yang tepat untuk kutempuh,


Namun sisi baiknya, Jimin sekarang lebih banyak menghabiskan waktu bersamaku dirumah. Kami melakukan banyak kegiatan manis bersama seperti menanam tanaman di hari Minggu, menonton series horor, memasak hasil kebun dan banyak lagi.


Ia juga jadi lebih banyak cerita padaku tentang apa yang ia lalui dalam hal perkerjaan, aku yang tak mengerti apapun tetap berusaha mendengarkan ceritanya dan sesekali merespon aktif, ingin mengurangi bebannya walau sekedar jadi bagian mendengarkan dari rumah.


"Kau masih lama?" Ucap Jimin, memperhatikanku yang berdiri mencuci piring dari seberang counter dapur.


Kami baru saja selesai makan malam, aku juga sudah menghidangkan buah potong di meja depan televisi. Jimin biasanya akan nonton berita usai makan malam, tapi entah kenapa sore ini ia tak beranjak dan lebih memilih menungguiku berberes di meja makan.


"Lumayan." Aku menoleh ke arahnya,


Aku tak mengerti apa yang salah dengannya ketika ia mendengus dan beranjak langsung menuju kamar. Aku tetap saja melanjutkan kegiatanku berberes dapur, melanjutkan menyusun pakaiannya yang baru aku setrika dan membuat persiapan memasak untuk besok pagi.


Hari ini lumayan melelahkan karena seharian ini kuhabiskan untuk memindahkan beberapa tumbuhanku yang telah besar dari potnya yang kekecilan. Hanji tak mau membantuku karena menurutnya tanah kompos itu kotor dan dia telah turut handil membawanya dari toko sampai ke balkon penthouse ini, menurutnya perannya sudah cukup besar.


Tidak bisa menyalahkannya juga sih, inikan hobiku, Jimin juga biasanya membantu kalau tidak kerja.


Tapi rasanya sungguh senang melihat hasil kerja kerasku sendiri memindahkan tanaman-tanaman sebanyak itu dan menyusunnya rapi, walaupun capek tapi menyenangkan.


Rencananya aku ingin langsung sikat gigi dan tidur.


Tak menemukan kehadiran Jimin di ruang tengah membuatku berfikir dia sedang mengurung diri didalam ruang kerjanya, namun ternyata aku salah.


Dia duduk dengan kepala bersandar pada lengannya sendiri, menonton tv yang terpasang di kamar kami dengan muka cemberut.


Mungkin ada masalah tentang perkerjaannya, aku terlalu letih untuk pura-pura mengerti dan menanyakan apa masalah yang ia lalui sehingga memutuskan untuk pura-pura tidak tahu.


"Aku mau bicara sesuatu."


Aku hampir merebahkan badanku dan kembali duduk ketika mendengar Jimin bersuara dengan suasana hati yang kurang baik,


"Ada apa?" Kujaga nadaku untuk selembut mungkin, tidak ingin menyiram bensin di atas api.


"Jisung akan dipindahkan untuk sekolah disini," ia menggantung kalimatnya, menerka reaksiku setelah ia mengatakan hal itu.


"Ah benarkah? Tapi tidak ada kamar disini." Penthouse Jimin hanya ada 2 kamar besar dan 1 ruang kerja. 1 kamar adalah kamar kami dan satulagi adalah ruang penyimpaian pakaian.


"Kita akan memberikan penthouse ini untuknya. Aku memiliki rumah dipinggiran kota, tapi butuh waktu satu bulan lebih untuk memperbaikinya hingga layak ditempati kembali."


Aku sekedar mengangguk, menunggu apakah ada hal lain yang Jimin ingin katakan sebelum mataku terpejam karena kelewat mengantuk.


"Selama rumahku masih diperbaiki...." Jimin menahan nafasnya dan memejamkan mata, benar-benar menahan emosi ketika ingin melanjutkan kalimat, "Dia akan tinggal bersama kita."


Kenapa dia terlihat begitu kesal? Sepengetahuanku dia adalah Kakak yang menyayangi adik semata wayangnya itu. Apakah mungkin karena vibes canggung yang tercipta antara mereka yang membuat Jimin tidak nyaman? Tapi akupun masih merasa canggung dengan Jimin, terlebih mengingat 'kejadian waktu itu'.


"Kenapa begitu kesal? Jisung itu adikmu dan adikku. Aku akan mengurusnya dengan benar, dia takkan merepotkanmu."


"Aku hanya tidak habis pikir, kenapa ibu mengirimkan bocah itu kerumah pasangan yang baru menikah!" Ucapnya kesal.


Disatu sisi aku merasa hal itu lucu dan menggemaskan, disisi lain ada kejanggalan yang aku tangkap dari kalimat Jimin, aku memutuskan untuk menahan respon ku dan lanjut mendengarkan keluhan Jimin. Aku suka dia yang sekarang sudah sangat terbuka padaku.


"Padahal dia selalu menyebut 'ingin cucu' padaku, tapi dia juga yang mengirim bocah tengil itu kesini, bagaimana aku bisa membuatkan cucu untuk mereka kalau Jisung ada disini!"


"Ibu... minta cucu?" Tanyaku ragu, antara kaget dan sedih.


Jimin seolah baru sadar dengan perkataannya sendiri dan langsung menatapku khawatir, dia meraih lututku untuk dipegang ketika menjelaskan lagi perkataannya.


"Maksutku, kita belum berusaha, tentu saja kita belum bisa memberinya."


Entah mengapa pembahasan tentang topik ini agak menyesakkan untukku, buru-buru aku mengganti topik pembicaraan dan menanyakan hal lain.


"Jadi Jisung kapan kesini?" Tanyaku penasaran.


Jimin melihat jam di ponselnya dan berkata, "seharusnya dia sudah sampai jam 10 pagi besok." Ujarnya santai.


Aku melotot kaget mendengarnya, "kenapa mendadak sekali?! Kita belum menyiapkan kamarnya!!"


Seketika aku berdiri dan bersiap ingin merapihkan tempat tinggal kami, kantukku hilang sepenuhnya mengetahui kami akan didatangi tamu. Belum lagi kalau Jisung datang bersama ibu dan ayahnya, aku akan sangat malu kalau tidak bisa menjamu mereka dengan maksimal.


"Luna..." Jimin meraih tanganku yang ingin beranjak, membuatku kembali jatuh terduduk di tempat tidur kami.


"Itu hanya Jisung, kita bahkan bisa menaruhnya di kolong jembatan." Jimin terkekeh, membalik suasana menjadi dia yang menenangkanku setelah barusan aku yang menenangkannya.


Mendengar leluconnya aku jadi kesal dan memukul pundaknya kencang, tapi ternyata tak sekencang itu karna dia masih enjoy dengan senyum tipisnya ketika melihatku frustasi.


"Aku sudah memesankannya hotel, hanya butuh 1 hari bagi pihak design interior untuk merakit kamarnya di walk in closet kita dan memindahkan barang kita sementara ke ruang kerjaku."


Aku bernafas lega, sedikit mensyukuri juga sifat Jimin yang selalu satu langkah didepan ketika memutuskan sesuatu, gesit.


Belum sempat aku berkata lagi, aku telah merasakan bagaimana tangan Jimin mengelus dengkulku, memutar-mutar tangannya kemudian naik dan turun di sekitar pahaku.


"Daripada itu... kita baiknya lebih memprioritaskan keinginan ibu, hmm?" Ucap Jimin sembari melihatku dengan tatapan mata aneh.


Aku tak tahu apakah Jimin merencanakan situasi ini ataukah ini murni terbawa suasana, tapi kami benar-benar berusaha mewujudkan keinginan ibu malam itu.


Kami, maksutku Jimin, berusaha sangat keras sampai kupikir aku akan pingsan lagi.


Ia pun sepertinya merasa kalau aku bisa hancur kapan saja kalau dia tidak mengontrol diri, sehingga setiap saat ia memeriksa keadaanku dan bertanya 'apa kau baik-baik saja?' Atau 'bisa kita lanjutkan lagi?' sebagai antisipasi, tidak mau aku drop lagi.


Aku fikir, dulu Jimin memperlakukan ku kasar dan buas dikarekana ia sedang emosi, tapi nyatanya saat ini kami memulainya dengan suasana yang baik dan tetap saja Jimin melakukannya dengan kasar dan brutal, ternyata memang begitu cara mainnya.