Brave Things

Brave Things
Part 23 Looking for Something



"Jiminnhh..."


Ia tersenyum, persis didepan wajahku ketika aku menyebut namanya dan sengaja melepaskan ciuman kami.


Aku merasa begitu terbakar, tidak bisa lagi menahan lebih lama untuk dimainkan jemari Jimin dibawah sana. Sementara dia seperti menikmati waktunya bermain-main dengan bagian tubuhku yang dia sukai.


Tak ada niatan untuknya menjauhkan jarak wajah kami, walau aku telah berpaling dari tatapannya dan memilih untuk mendongak keatas terpejam. Dia masih setia memandangiku dari samping, tangannya masih merangkulku, sama sekali tak terganggu walau tangan kirinya kembali jadi bantal untuk kepalaku.


"Kau akan jadi ibu terseksi di dunia ini..." bisiknya di telingaku.


Ada sesuatu dalam suaranya, yang makin membuatku merasa tenggelam dalam permainannya.


"Kau suka kan? Kau rindu aku sentuh begini hm?" Bibirnya menggelitik pipiku yang hampir menempel dengannya, mengucapkan kata-kata erotis dengan nada lembut nan sensual.


Jimin memang penguasa ranjang.


Lagi-lagi tubuhku menggeliat karenanya. Nikmat dan ngilu jadi satu ketika tangan kirinya yang jadi bantalanku, tanpa kesulitan meraih puncak dadaku dan memelintirnya gemas.


"Eengghhh... Jim..."


Jika desahanku ini dapat memberi makan egonya, maka aku akan terus mendesahkan namanya dengan senang hati malam ini.


"Enak, Lun?" Tanyanya sedikit mengangkat wajah dan kembali menciptakan kontak mata denganku.


Aku mengangguk, tidak bohong. Rasanya kehausanku selama beberapa minggu ini, telah menemukan mata airnya.


Jimin berhasil membuatku melupakan seluruh bebanku, merasa seperti muda-mudi dimabuk asmara saja. Padahal kalau dilihat kebawah sedikit, kelihatan sekali bagaimana perutku membuncit hamil 4 bulan.


"Jimmm, aku juga mau memanjakanmu..." pintaku ketika Jimin sudah beranjak dari sisiku.


Dia memposisikan wajahnya dibawah sana, masih sedikit mengangkat kepala melihatku yang masih rewel.


"Tidak boleh, jangan ganggu aku bersenang-senang disini." Mukanya tengil sekali.


"Aahhh, Jim..." aku tak tahu kapan aku menerima perlakuan spesial ini dari Jimin terakhir kali, sepertinya saat aku mematuhinya ketika disuruh tidur lebih cepat saat weekend.


Lidahnya begitu luar biasa, bergerak menyentuh titik sensitifku dengan sensual. Hingga rasanya perutku pun ikut tegang menghadapi serangan-serangan ini.


Ia langsung melepaskanku ketika melihat aku menggeliat memegangi perutku. Rautnya panik, seperti menyesal telah melakukan semua ini padaku.


"Kenapa? Perutmu kenapa?" Ia merangkak naik dan membantuku mengelus perutku.


Aduh, bagaimana mengatakannya ya?


Malu sekali kalau aku bilang perutku menegang karena terlalu semangat dalam kegiatan ranjang ini.


"Uh, bisakah lanjut saja? Aku tidak apa-apa kok." Jawabku malu-malu. Tak sanggup menatapnya malah, berusaha sembunyi dan menempelkan kepalaku pada dada telanjangnya.


Namun sepertinya Jimin tidak terima dengan jawaban ambigu tersebut. Dia segera memegang kedua pundakku dan menjauhkannya,


"Hey! Park Luna!" Jimin menatapku serius, "Lihat mataku kalau aku sedang bicara!"


Hilang sudah sosok Jimin yang flirty dan menyenangkan tadi, tinggal tersisa Jimin yang otoriter dan tak suka di bantah.


"Aku tidak apa-apa, Jim." Jawabku jengah.


Rasanya tidak nyaman saja, berhenti di tengah jalan dan harus di introgasi seperti sekarang. Kesal juga dengannya yang terlalu berlebihan menghadapi ini.


Beberapa detik, aku tak mendengar lagi jawaban Jimin. Hingga akhirnya aku menoleh padanya, dan menyadari sedang ada yang tidak beres.


Aku bingung kenapa dia seperti terpukul sekali, dan baru menyadari apa yang ia lihat ketika mengikuti pandangannya ke perutku.


Lenganku ternyata kembali memeluk perut, jujur aku pun tak sadar melakukannya ketika dia membentakku tadi, seperti insting saja dan langsung memeluk perutku sendiri.


Kami sama-sama terdiam setelah sama-sama sadar bahwa aku melindungi perutku dari kemarahan Jimin barusan,


Aku mengacaukan suasananya.


Mustahil dilanjutkan lagi.


Sudah bisa ditebak yang terjadi selanjutnya, Jimin mengacak rambutnya pelan dan beranjak dari tempat tidur kami. Dia meraih celananya dilantai dan memakainya.


Jimin bahkan keluar melewati pintu tanpa menoleh kembali padaku.


Oh tuhan.


Aku melupakan fakta bahwa suamiku trauma berat, apa dia sedang memposisikan diriku menjadi Anna yang berusaha melindungi janinnya?


Tapi kan posisiku berbeda, dia suamiku. Dia takkan menyakitiku. Aku hanya bergerak berdasarkan alam bawah sadar ketika Jimin meninggikan suaranya padaku tadi. Aku tak tahu akan jadi seperti ini.


Aku menimbang-nimbang. Haruskah permasalahan ini aku selesaikan sekarang juga? Aku hanya tak ingin Jimin tidur dengan beban di pundaknya, harus kujelaskan kalau sungguhan tak terjadi apapun denganku ataupun janinku. Aku juga tidak merasa terancam, hanya insting saja karena aku tadi sempat kesal padanya.


Akhirnya aku mengambil jubah tidurku dan berjalan keluar kamar untuk mencari Jimin.


Udara dingin menyapaku ketika sampai di ruang tengah, ternyata Jimin berada di balkon dan Sliding door-nya terbuka lebar, wajar saja terasa sekali angin malam berhembus di ruang ini.


"Kenapa disini? Nanti perutmu kembung." Ucapku lembut.


Aku masih belum berani menyentuhnya, takut Jimin masih emosional dan berakhir menepisku. Tidak terbayangkan bagaimana remuk hati kalau sampai hal itu terjadi.


"Jimin, masuk yuk? Dingin sekali disini."


Akhirnya aku mendapat perhatiannya, kalau aku sudah mengeluh pasti dia akan sangat perduli, bahkan kadang terlalu perduli dan berakhir menyebalkan seperti yang barusan terjadi.


"Kau saja yang masuk, aku tidak menyuruhmu kesini." Tatapannya begitu dingin.


Aku tak tahu apa yang ada dalam pikirannya saat ini, tapi aku tahu dia terluka. Pasti berat sekali hidup dengan penyesalan dan trauma seperti Jimin.


"Kau tak perlu seperti ini, aku percaya padamu kok. Tadi itu aku refleks saja memeluk perutku karena kau menyebalkan."


Aku menghela nafas, sulit sekali mengembalikan mood Jimin kalau sudah seperti ini.


"Aku yang tak percaya pada diriku sendiri." Jawabnya setelah sekian detik mendiamkan kalimatku.


"Aku harus menghentikan semuanya, tak boleh ada lagi hidup yang hancur karenaku." Lanjutnya gamang, tatapannya pun kosong dan jauh memandang keluar sana.


"Tidak ada hidup yang hancur karena kau, semua itu takdir!" Pilu rasanya melihat Jimin terus menyalahkan dirinya pada sesuatu hal yang terjadi diluar kuasanya.


"...aku tak mau menghancurkan hidupmu juga, aku akan menjagamu, menjaga bayinya..." Ia terus bicara seolah tak bisa mendengar apapun yang kukatakan.


Pria ini adalah yang paling butuh bantuan, tapi membiarkan dirinya hidup tanpa pertolongan.


Tidak ada yang lebih menyesakkan selain unresolved trauma. Dan Jimin masih terjebak dalam situasi itu.


Aku tak mau itu berkelanjutan, aku ingin anakku lahir dan melihat ayah ibunya adalah pasangan yang bahagia, luar dan dalam, tanpa dibatasi garis hitam mematikan seperti ini.


"Kau butuh bantuan profesional, Jim." Ujarku pelan, tak yakin juga dia akan mendengarku karena dari tadi dia seperti tuli dan menganggapku tak ada.


Dengan nekat, aku menariknya masuk kedalam. Tidak menyangka kalau Jimin membiarkan saja tubuhnya kuseret masuk dan membiarkanku mengunci pintunya dan menutup gorden rapat-rapat.


"Kau bisa tidur satu ruangan denganku atau tidak?" Tanyaku tegas, berusaha terlihat besar dan bernyali ketika kulihat kondisi Jimin yang goyah.


"Kemudian aku akan menakutimu, lalu menyakitimu." Jawabnya kacau.


"Tidak, kau tak akan melakukannya. Tapi kalau kau memang tak ingin berada satu ruangan denganku, maka aku akan tidur disofa."


"Apa?! Tidak!" Sergahnya tak terima.


"Aku tak bisa terus-terusan membiarkanmu tidur di ruang kerja. Kau itu pergi kekantor pagi pulang sore, kau harus tidur maksimal." Jelasku sabar, takmau dia berpikir aneh-aneh lagi.


"... maafkan aku."


Aku memeluknya, kali ini sunguh penuh kasih sayang tanpa terselip nafsu sedikitpun.


Jimin ternyata tidak sekuat yang aku kira, dia sangat hancur. Hancur dalam artian, dia tak lagi sama setelah musibah yang menimpa dirinya dan mantan kekasihnya Anna.


Melihat kelemahannya yang dahulu aku pikir tak ada, malah membuatku semakin jatuh cinta. Semakin tak ingin meninggalkannya karena kupikir kami sama sama butuh satu sama lain.


"Kau sungguh tidak apa-apa?" Tanyanya sembari mengusap punggungku lembut.


"Iya, aku hanya tegang karena rasanya sangat intense tadi..."


Kudengar Jimin sudah bisa kembali tertawa kecil, "Apa bayinya marah?" Jimin berucap dengan bodoh.


"Bisa jadi dia terlalu rindu padamu, kau tak pernah menyapanya selama ini." Jawabku pura-pura kesal.


Jimin terlalu berhati-hati, inilah alasannya. Aku baru mengerti , dia menjaga jarak tak semata untuk melindungi aku dan bayiku, tapi dia juga melindungi perasaannya. Dia tak mau khawatir dan panik seperti tadi yang menyebabkan pikirannya melayang terlalu jauh.


Dia kemudian melepaskan pelukan kami dan menatap wajahku dengan serius.


"Sesungguhnya ada satu yang mengganjal pikiranku selama ini, sejak kau pingsan dan masuk rumah sakit."


Sungguh? Ada alasan lain? Oh tuhan...


"Apa?" Tanyaku hati-hati.


"Aku tak tahu, aku merasa kalau perbuatanku terhadap Jisung sedikit berlebihan."


Apa dia baru menyadari ini sekarang? Setelah Jisung tak lagi menggelayut manja di lengannya atau lenganku? Aku bahkan tak tahu nomor ponselnya yang baru sekarang.


"Kenapa bisa berfikiran seperti itu?" Aku mencoba menjadi penengah, tidak mau menyalahkannya secara berlebihan.


"Aku melihatnya, di rekaman CCTV saat kau pingsan. Dia ada disini..."


Mimpi burukku jadi kenyataan, aku tak ingin mendengar ini kalau memang ini nyata, lebih baik aku pura-pura tidak tahu.


Jimin meraih pipiku yang masih terdiam membisu, "Aku mengganti semua password rumah ini. Dia berdiri didepan pintu setiap hari saat aku berkerja dan kau sendirian dirumah."


"Aku tak mengerti apa yang dia lakukan, tapi aku selalu memantaunya. Bahkan saat malam pun aku tak lengah memantau seluruh kamera disini."


"Itu sebabnya kau tidak tidur dikamar?"


"Ya. Aku ingin tahu kenapa setiap pagi dan sore, dijam pergi dan pulang sekolahnya dia selalu berdiri didepan pintu rumah ini tanpa mencoba masuk. Dia juga selalu kabur dari Hanji."


"Kau harusnya tahu apa yang terjadi padanya! Kan kau yang menitipkannya pada Hanji saat kita pergi ke Australi!" Aku tak bisa menahan amarahku sehingga aku sedikit menyudutkan Jimin.


"Mungkin mereka membiarkan Jisung mencuri dengar sesuatu yang tak seharusnya dia dengar..."