
Perasaanku bercampur aduk, antara senang, kaget, dan canggung.
Teman SMP-ku, Hanji, datang ke Penthouse kami dan memperkenalkan diri sebagai orang yang ingin melamar menjadi personal assistantku.
Tadi pagi Jimin memang bilang kalau akan ada kandidat PA datang ke sini untuk diwawancarai olehku, tapi aku tidak menyangka kalau yang datang adalah Hanji.
Bayangkan saja, Hanji sudah lama sekali putus kontak denganku, kira-kira dari kelulusan SMP. Hanji dulu sempat pindah saat kelas 2 SMP dan melanjutkan sekolah di luar negeri, katanya ibunya sakit parah.
Sejak itu aku tidak pernah mendengar kabar apapun darinya, aku juga tidak terlalu lama merasa memikirkannya waktu itu karena aku langsung bermain dengan teman lain dikelas.
Kasarnya, aku bahkan sudah hampir melupakan keberadaan Hanji yang dulunya adalah teman baikku, sampai akhirnya dia berdiri disini.
Aku bingung harus menerjang memeluknya atau sekedar berjabat tangan, aku sendiri yakin Hanji mengenaliku, walaupun aku sudah sangat berubah dari bocah dekil malas mandi, menjadi nyonya Park yang elegant.
Hanji membungkuk memberi hormat padaku yang masih bingung. Aku lantas buru-buru menggapainya agar tidak membungkuk seperti itu padaku, sungguh tidak enak melihatnya.
"Hanji, apa yang kau lakukan." Teriakku sambil berusaha membuat badannya berdiri.
Hanji tertawa melihatku yang sewot, "aku memberi salam pada Nyonya Park, selamat siang Nyonya." Ia mengulangi adegan membungkuk tadi yang semakin membuatku kesal.
"Kau ini apa-apaan sih. Tidak lucu tahu." Dia makin tertawa ketika aku makin menggerutu melihat tingkah lakunya yang aneh.
"Aku kesini untuk wawancara, tolong wawancarai aku."
"Tentu saja kau diterima, kau tahu aku tidak akan mewawancaraimu." Ucapku.
Aku bersyukur sosok yang datang sebagai PA ku adalah teman masa kecilku sendiri, yang ada dibayanganku orang yang datang adalah wanita Tiongkok dengan setelan formal dan hak sepatu yang berbunyi-bunyi ketika berjalan.
Menemukan Hanji dengan baju kodok dan sendal crocs membuatku merasa kembali bebas seperti saat-saat aku masih di Seoul.
Aku mengatakan pada Hanji bahwa yang aku butuhkan sebenarnya adalah teman, bukan PA. Aku bilang padanya bahwa dia hanya akan membantu separuh dari perkerjaanku, tidak semuanya.
Cukup temani aku ketika tidak bersama Jimin agar aku tidak stress dinegara ini.
Hanji punya SIM internasional yang bisa membuatnya mengantarkan aku kemanapun aku mau,
dia bilang Jimin akan memberinya mobil dinas besok pagi, jadi aku mulai sekarang bisa ke supermarket sendiri ditemani oleh Hanji.
Kekhawatiranku tentang bahasa juga sirna karena Hanji bisa banyak bahasa termasuk bahasa mandarin, aku tidak tahu lagi harus berterimakasih dengan siapa. Jimin benar-benar memilih orang yang tepat untukku.
"Apa Jimin tahu kau adalah temanku saat kau melamar kerja?" Tanyaku pada Hanji yang sedang membantuku membersihkan buah-buahan didapur.
"Tentu saja, kalau tidak mana mungkin aku diperbolehkan datang kesini."
"Kau kenal Jimin darimana memangnya?" Aku penasaran juga, aku juga tidak tahu bagaimana Hanji menjalani hidupnya setelah berpisah denganku.
"Ayahku berkerja untuknya ketika di Amerika."
"Kenapa ayahmu kerja dengan Jimin?" Setahuku Hanji itu kaya, ayahnya punya bengkel mobil yang cukup besar di Seoul.
"Ekonomi kami sangat sulit saat baru-baru pindah. Aku bahkan sempat tidak sekolah dan kerja sebagai kasir disana." Aku kaget, tidak menyangka Hanji menjalani masa-masa yang sulit ketika pindah. Aku kira dia bersenang-senang menikmati suasana baru sebagai remaja di amerika.
"Ayah bertemu dengannya ketika donor darah rutin. Setiap donor ayah akan membawakanku satu plastik berisi snack. Ternyata pak Jimin yang jadi sponsornya, Lun." Lanjutnya santai sambil memakan apel yang sedang aku kupas didepanku.
"Lalu?"
Dia mengangkat bahunya dan berkata, "Aku tidak tahu bagaimana pak Jimin membuat ayah berkerja dengannya, yang aku tahu hanya dia membayar uang sekolahku sampai aku lulus SMA."
"Kau akan kuliah disini kan? Kita akan kuliah bersama. Pak Jimin bilang akan memasukkan kita di kampus yang sama." Kata Hanji sambil tersenyum lebar.
"Benarkah?!" Tanyaku antusias.
Dia mengangguk sambil tersenyum. Aku tidak menyangka kalau Hanji akan menemaniku sampai ke tempat kuliah nanti.
Membayangkannya saja sudah membuatku tidak sabar!
"Kau akan tidur disini ya?" Tanyaku pada Hanji, hari sudah mulai sore dan sebentar lagi adalah jadwal ku bersih-bersih untuk menyambut Jimin.
"Dan mengganggu pengantin baru bereproduksi?" Tanyanya terkekeh, "aku tinggal di apartment dekat sini, kapanpun kau ingin aku datang, aku akan sampai disini dalam 5 menit." Lanjutnya.
Aku memukulnya gemas, kenapa Hanji harus mengatakan itusih.
"Loh benarkan? Kalau aku disini nanti kalian tidak bisa bermesraan dengan bebas." Katanya tertawa.
Aku terdiam, haruskah aku jujur tentang keadaanku pada Hanji? Masalahnya dia adalah temanku satu-satunya disini. Pilihanku bukan cerita pada siapa, tapi cerita padanya atau tidak.
"Kenapa?" Hanji sepertinya menyadari gelagatku yang tidak biasa.
"Jimin orang yang sibuk." Jawabku sambil mencoba biasa saja dan kembali melanjutkan aktifitasku menyiapkan bahan untuk memasak makan malam Jimin.
"Benar, kau pasti kesepian." Ucap Hanji prihatin.
"Kami belum pernah melakukannya, aku jadi bingung."
"Setelah hampir dua bulan ini??" Tanyanya tak percaya.
Aku mengangguk sambil tersenyum pilu, "hampir 2 bulan menikah dan aku masih perawan."
Menghela nafas panjang, Hanji berkata, "Aku bahkan sudah aborsi 2 kali di Amerika Lun." Dia menggeleng-geleng tak habis pikir.
Hanji memang orang yang pemberani dan menonjol, rasanya bercerita tentang Jimin ke Hanji seperti mengingat masalalu, ketika aku mengadu ke Hanji kalau teman piketku tidak mau berkerja membantuku.
Hanji dulu selalu pasang badan ketika aku kena masalah, dia juga jadi tempatku bertanya pendapat ketika bertengkar dengan saudaraku. Mengadu tentang Jimin ke Hanji membuatku kembali menjadi anak kecil yang siap diomeli.
"Tidak bisa dibiarkan." Hanji berdiri dari tempat duduknya dan mengambil tanganku, "tunjukkan aku koleksi baju tidurmu."
"Tapi kita harus memasak makan malam Jimin." Ini sudah hampir jam 5 dan aku belum memutuskan akan masak apa, aku takut tidak terkejar.
"Lupakan makanan, akan aku pesankan dari restoran Jepang."
Aku terpaksa menunjukkan Hanji walk in closet ku kepadanya dan membuka bagian piyamaku.
"Piyama Sinchan ini yang kau pakai didepan suamimu?" Tanya Hanji sambil menggeser-geser dan memeriksa koleksi baju tidurku.
"Memangnya kenapa? Bahannya sutra loh, sangat lembut. Coba kau tempelkan pipimu ke kainnya." Aku sangat menyukai Jimin yang membelikanku piyama sutra berbagai warna dan motif, rasanya sangat berbeda dengan piyama kartun yang dibelikan ibuku dirumah.
Hanji tidak memperdulikanku yang mempraktekan cara menggosok pipi ke piyama sutra ku.
"Ini kotak apa?" Hanji berjongkok melihat bagian bawah tempat aku menyimpan pakaian tidur.
"Itu hadiah pernikahanku, dari ibunya Jimin dan teman-teman Jimin." Isinya adalah baju-baju yang tidak layak pakai, aku kumpulkan didalam kotak karna sebagian besar bajunya transparan, kurang bahan atau terdapat bolongan di bagian tidak semestinya.
Hanji mengeluarkan kotak itu dan langsung membukanya, "kenapa kau tidak memakai ini? Kau malah menyimpannya di kotak berdebu!"
Yang benar saja! Kalau aku memakainya mungkin aku akan mati beku ditengah-tengah tidurku.
"Kau harus mencobanya, astaga ini cantik-cantik sekali." Hanji membentangkan beberapa gaun malam yang rendanya cukup cantik, kalau atasnya tidak transparan dan roknya agak panjang, aku mau memakainya ketika Jimin tidak dirumah.
"Kau mempunyai seluruh isi toko victoria secret dilemarimu, dan kau memilih memakai piyama sinchan? Aku tidak mengerti dengan cara berpikirmu." Ucapnya sambil melipat tangan didada dan menatapku.
Aku tidak bisa berkata apa-apa ketika Hanji memilihkan ku baju tidur dari kotak itu, dan menyuruhku mandi dengan sabun paling harum dikamar mandi, dia juga membuatku mencukur semua rambut yang tumbuh selain di daerah wajahku.
Kegiatan menata rambut rasanya tidak pernah seerotis ini, melihat pantulanku dicermin dengan baju transparan ini membuatku ingin cepat-cepat menyelesaikan kegiatanku didepan kaca.
Setelah selesai menata rambut, aku menyusun curling iron ku kelaci meja rias, dan membersihkan kembali peralatan ke tempat semestinya. Aku juga memakai parfum yang dipilihkan Hanji sebelum ia meninggalkanku dikamar tadi, kalau tidak salah dia menyuruhku memakai yang warna biru.
Pintu kamar terbuka dan aku hampir pingsan mendapati Jimin berdiri di ambang pintu menatapku.
"K-kau sudah pulang?" Tanyaku memecah hening dengan canggung.
Aku buru-buru meraih luaran baju tidur sialan ini yang sialnya diletakkan sangat jauh oleh Hanji.
"Mana Hanji?" Tanyaku pada Jimin yang sudah memasuki kamar, membuka jam tangannya untuk diletakkan di nakas dekat meja riasku.
"Sudah tidak ada ketika aku masuk."
"Loh, katanya dia mau memesan makanan."
"Makanannya sudah terhidang diatas meja." Jimin mendekat ke arahku membuat bulu kudukku merinding. Ia melangkah dan duduk keatas kasur sembari meraih tanganku.
"Aku baru sekali melihat bajumu yang ini." Jari jimin mengelus punggung tanganku dengan lembut, gerakan kecil tapi membuat bulu kudukku berdiri merinding,
Aku berusaha mengingat pesan Hanji untuk tidak mengacaukan suasana dan mengikuti saja kemana arah Jimin menuntun.
"Tidak cocok ya?" Tanyaku malu-malu.
Jimin tersenyum manis sekali, aku bisa merasakan telingaku memerah hanya karena diberikan sebuah senyuman oleh Jimin.
"Manis sekali ditubuhmu," tangannya naik ke dekat siku ku, mengelusnya turun naik dengan lembut. "besarkan penghangat ruangan, kau tidak boleh kedinginan."
Setelah itu Jimin beranjak pergi ke kamar mandi.
Aku masih berharap setelah makan malam akan ada kegiatan menarik yang bisa kami lakukan, tetapi harapanku pupus ketika jam 11 malam Jimin mematikan lampu dan menyelimutiku sampai ke leher, lalu pergi membawa laptopnya keluar kamar.
Aku lebih suka apel daripada anggur mas, soalnya lebih enak di apelin daripada di anggurin hahahayyyyy
Bisa-bisanya enchim ngelewatin surga dunia depan mata ckckckckck
Gapapa tetep semangat, masih ada lain hari🥲
Ohya jangan lupa tinggalin jejak kalau kalian suka storynya ya. Feedback dari kalian berarti banget untuk aku.
Yang belum follow yuk di follow dulu biar ga ketinggalan jadwal update, follow juga ig aku di @anindyamin atau bisa klik link di bio.
Akhir kata, doain kuping aku cepet sehat🥲 mwah!