
(THIS CHAPTER CONTAINT ABUSIVE NON-CONSENT *** SCENEโ ๏ธ)
Hanji sudah 3 hari tidak masuk, ada urusan mendadak di Amerika katanya, jadilah aku kembali jadi tahanan rumah.
Sebenarnya dia izin sampai 7 hari, tapi karena besok Jimin harus berangkat ke Australia, dia akan segera pulang dan menemaniku di penthouse.
"Kau mau bawa baju yang mana?" Tanyaku bersiap untuk mengemas pakaiannya kedalam koper.
"Mana saja, aku bisa beli disana kalau bajuku habis."
"Itu buang-buang uang namanya."
Jimin yang sedang berkerja diatas kasur memangku laptop menatapku, tiba-tiba serius.
"Kau mau oleh-oleh apa?" Tanya Jimin sambil membuka kacamata bacanya.
"Hmmm," aku berfikir sejenak, menimbang-nimbang apa yang harus kupinta dari suami kaya raya ku ini.
"Anting?" Ucapku.
"Akan aku belikan satu set perhiasan kalau begitu." Katanya sambil membereskan peralatannya berkerja.
Jimin mendekatiku dan memegang kedua pundakku secara serius.
"Aku tidak ingin kau terlalu sering berpergian ketika aku tidak ada." Ucapnya lembut tapi tegas.
"Tentu saja." Jawabku sambil akting tersenyum, aku akan pergi makan diluar setiap jam makan, dia sudah tidak mengajakku malah berniat membuatku tidak pergi kemana-mana.
"Aku ingin membawamu, tapi ini perjalanan yang membosankan. Juga kita tak bisa mendadak membawa Hanji untuk menemanimu."
"Aku tak apa, mungkin akan ke supermarket dan toko bunga. Selebihnya tidak akan kemana-mana kok."
Aku berdusta, akan kubawa Hanji kemanapun di sudut kota beijing yang seru-seru. Jimin tak pernah meminta kembali kartu kreditnya, aku pun juga tak ada niat mengembalikan.
Aku punya uang dan aku punya Hanji, perjalananku akan lengkap.
Karena rasa tidak sabarku rasanya malam ini sangat panjang, hanya karena bisa pergi keluar penthouse aku merasa akan pergi menjelajahi dunia. Aku tidur dengan gelisah malam itu.
Penerbangan Hanji akan menghabiskan waktu hampir 20 jam, sedangkan Jimin berangkat jam 6 sore setelah pulang kantor.
Akan ada jarak sekitar 4 Jam sebelum Hanji sampai dan setelah Jimin pergi untukku.
Kakiku bergoyang-goyang, tak sabar menunggu Jimin selesai bersiap dan pergi bersama supirnya ke bandara sore ini.
"Kau tidak mau ikut ke bandara?" Jimin memasukan semua gadget nya kedalam tas tenteng yang ia bawa.
"Tidak, aku menunggu Hanji saja disini." Jawabku sambil tersenyum.
"Baiklah aku pergi dulu."
Secepat itu Jimin pergi, secepat itu pula aku lari kedalam kamarku dan menghubungi Jackson.
Tadi siang aku mengajaknya bertemu, ada beberapa hal yang ingin kutanyakan. Terutama tentang mengapa Jimin dan Hanji melarang keras aku untuk berhubungan dengan Jackson.
Kalau masalah selingkuh, aku ini wanita dewasa. Aku tidak akan berpaling dengan cepat, aku sudah menikah dan tahu dimana batasanku, mencaritahu titik permasalahannya akan membuatku mengerti keadaan, dan aku tak akan berusaha bertemu Jackson lagi setelah itu terjadi.
Jackson bilang temui dia di bar hotel tempat restonya berada,
Agak deg-degan sejujurnya, karena bahasa Mandarinku belum membaik. Kehadiran Hanji membuatku berhenti dari kelas Mandarin, rencananya belajar dari Hanji, tapi sepertinya dia tidak punya bakat mengajar. Dia bingung mengajariku dari mana kapanpun kami mulai duduk serius untuk belajar.
Bermodalkan dengan aplikasi penerjemah dari ponselku, aku nekat memesan taksi dan pergi ke hotel megah dipusat kota itu.
Perjalanannya hanya memakan waktu 10 menit, tempatnya memang dekat dengan penthouse kami, malah sepertinya lebih jauh supermarket daripada hotel ini dari rumahku.
Aku tidak memiliki masalah sampai aku masuk kedalam lobi, dan ketimbang bertanya dengan staff nya menggunakan bahasa mandarin, aku lebih memilih menelfon Jackson.
Aku harus bergegas karena hari sudah menunjukan pukul 9 malam, satu jam lagi Hanji akan mendarat di Beijing.
Sosok Jackson muncul dari balik lift, mengenakan setelan santai dan rambut tidak seklimis biasanya.
"Sudah lama menunggu?" Katanya santai seperti biasa,
Aku menjabat uluran tangannya, "Tidak kok, baru saja sampai."
Cukup kaget karena setelahnya Jackson tidak melepaskan jabatan tangan kami, malah memutarnya dan membuat kami jadi berpegangan tangan memasuki lift.
Aku tidak terlalu berupaya untuk dilepaskan sih, menurutku Jackson memang orang yang secara fisik terbiasa dengan sentuhan. Aku punya teman sepertinya dan tidak tahan kalau tidak memegang lawan bicaranya ketika berbicara.
"Mana panglimamu?" Tanyanya mengejek.
"Hanji? Belum sampai."
"Nanti akan kutelfon untuk menyusul kesini." Katanya sambil melangkah keluar lift bertepatan dengan sampainya kami di lantai tujuan.
Ini seperti club mewah di film-film yang kutonton, hanya saja masih sepi. Lampu masih hidup walaupun tidak terlalu terang, pencahayaan kuning remang-remang saja.
"Ini masih terlalu sore, musik belum dimulai, cocok untukmu yang ingin bertanya, kemudian baru kita minum-minum."
"Sepertinya kau tidak perlu telfon Hanji, aku sebentar saja. Aku tidak jadi minum." Entah kenapa aku jadi merasa bersalah pada Jimin setelah melihat tempat ini yang ternyata club malam.
Walaupun aku berfikir Jimin belum mencintaiku, setidaknya aku harus menjaga hubungan kami baik dimata orang lain. Aku ingin menghargainya.
"Loh kenapa? Toh Jimin keluar kota."
Jackson berdiri menjauh untuk menelfon Hanji, aku sendiri sudah keringat dingin, mengingat Hanji melarangku keluar lebih keras daripada Jimin. Dia itu seperti Jimin series 2.0
"Apa katanya?" Ketika ia kembali kemeja dengan senyuman.
"Dia bilang akan datang dengan pistol dan membunuhku." Ia tertawa, tampak menikmati kekesalan Hanji.
"Kenapasih orang-orang ini? Padahal kita hanya berteman tapi segitunya ingin memisahkan kita." Jackson membuat muka sedih dibuat-buat.
"Itu yang ingin aku tanyakan kesini denganmu." Berusaha terdengar santai dan tidak menuntut aku mulai memberikan pertanyaanku.
"Kau ingat kita ngobrol di gala dinner waktu itu?" Tanyaku memastikan.
Ia mengangguk pasti, "kau meminta nomorku."
"Tidak! Aku ini teman yang pengertian tahu." Jackson sedikit terkekeh.
"Bagus jangan katakan," Mendengar itu Jackson membuat gerakan mengunci pada bibirnya.
"Kau mengatakan padaku kalau Jimin takkan membiarkanku kuliah, apa maksutnya?" Lanjutku.
"Suamimu pernah di laporkan ke polisi, karena bertingkah seperti itu pada mantan pacarnya," jawab Jackson santai sambil meneguk minumannya, berbanding terbalik dengan aku yang hampir copot jantung.
"Teruskan." Kataku dengan nyawa yang separuh sudah melayang.
"Ya tidak ada terusannya, dia menang pengadilan dengan mudah, mantan pacarnya tidak punya power, persis sepertimu." Jackson menunjukku dari atas sampai bawah bolak balik.
"Dia bilang pergi ke Austrailia bukan? Itu tempat Jimin mengasingkan mantan kekasihnya dan memasukan wanita malang itu kedalam panti rehabilitasi. Dia memenangkan pengadilan itu dengan cara membuat wanita itu gila. Bukan hanya didepan hakim dan jaksa, dia buat wanita itu gila sungguhan dengan memasukannya kedalam rumah sakit jiwa."
Senyum sinis Jackson membuatku mempercayai hal yang ia katakan, hampir menjatuhkan sendok yang kuremas sedari tadi ketika gugup.
"D-dia dilaporkan karena bertingkah seperti apa?"
"Kau, kapan terakhir kali dibolehkan kembali ke rumah orang tuamu?"
Aku menggeleng, "belum ada, tapi aku juga belum meminta."
"Kapan terakhir kali kau keluar sendirian... tanpa Hanji?"
Aku terdiam, aku belum ada keluar sendirian, bahkan sejak aku menerima lamarannya, dia selalu mengirimkan orang untuk menemaniku.
Otakku masih memproses ketika Jimin datang dan menendang meja dibelakang Jackson, menyebabkan semua peralatan pecah belahnya hancur berjatuhan kelantai.
"KAU... tidak tahu diri." Jimin menunjuk muka Jackson dengan urat kepala yang menonjol menahan amarah.
"Kau melewati batasanmu..." Jimin menarik Jackson untuk berdiri dan melemparkan Jackson ke beling-beling bekas pecahan kaca yang jatuh.
Aku menoleh dan mendapati Jackson masih tertawa menghadapi Jimin yang sudah seperti orang kesetanan.
"Bukannya kau sedang menjenguk korbanmu? Kenapa kau, aaaghh..." Jimin tidak membiarkan Jackson melanjutkan bualannya dan menginjak perutnya dengan sangat keras.
"Jimin!" Ucapku dengan anda tinggi, tidak menyangka ia bisa bertindak seperti itu pada orang lain.
Jimin menepis tanganku, melemparkanku pada Hanji yang baru saja datang dari lift dengan tergopoh-gopoh.
"Bawa dia kemobil." Kata Jimin kepada Hanji, benar-benar mengacuhkan kehadiranku disitu.
Aku meronta sepanjang perjalanan menuju mobil, tapi tak sedikitpun gerakanku yang sekuat tenaga itu mengganggu Hanji. Dia tetap menyeretku masuk kemobil tanpa perasaan. Aku memanggil namanya berkali-kali dan tetap diacuhkan.
Aku ditunggui didalam mobil seperti tahanan, tak ada satupun dari Hanji ataupun supir Jimin yang mengajakku bicara atau menanyakan keadaanku. Aku menangis sebatang kara tanpa ada yang memperdulikan.
Ketika Jimin kembali kemobil, Hanji pindah ke mobil lain, kemudian Jimin menggantikan tempatnya duduk disebelahku.
Jimin hanya melirik sebentar lalu menghela nafas melihat aku yang masih sesengukan menangis sambil melihat keluar jendela.
"Kau berbohong padaku." Kata Jimin ketika kami sudah sampai ke penthouse.
Kami masuk lewat lift belakang tempat staff lalulalang, Jimin tak bisa membuatku berhenti menangis, karena aku tahu dia akan memarahiku ketika kami tinggal berdua. Mungkin dia takut membuat kehebohan di lobi gedung.
"K-kenapa kau disini? Kau harusnya sudah berangkat." Jawabku balik bertanya.
Aku sungguh kaget dengan kedatangannya yang mengamuk, lebih kaget lagi ketika dia membuka jas dan jam tangannya seolah menunjukan tidak akan pergi lagi ke bandara.
"Jangan mendekat, aku takut padamu." Ucapku makin membuat muka Jimin memerah menahan emosi.
"Kau melarangku mendekat?" Tanyanya tertawa sinis.
"Bukankah selama ini kau usaha mati-matian menggodaku? Kenapa kau melarangku mendekat." Jimin terus maju, mengikuti gerak-gerikku yang berjalan mundur seperti tikus ketakutan.
"Kau tahu apa? Ayo kabulkan keinginanmu. Kau ingin aku menyentuhmu kan?" Tanyanya yang sudah mendapatiku mentok di pinggiran kasur.
"Aku akan menyentuhmu, sampai orang lain tidak bisa menyentuhmu lagi." Ucapnya menunduk, makin mendekatkan wajahnya padaku yang pembuluh darahnya hampir pecah karena ketakutan.
Jimin mencengkram pergelangan tanganku, menariknya membuat tubuhku terangkat dan meletakkan tubuhku ke tengah-tengah kasur.
Malam itu Jimin menyetubuhiku tanpa belas kasih, aku meronta-ronta, berteriak memohon ampun.
Kegiatan yang sudah lama aku inginkan sebenarnya, tapi dengan skenario berbeda. Aku fikir akan terlaksana dengan romantis, lilin aroma therapy, musik klasik berbunyi sebagai latar dan sebagainya.
Aku tidak menyangka hal ini akan menjadi mimpi buruk untukku.
Aku sudah setengah sadar ketika Jimin menggeram dan menghentakkan dirinya semakin cepat di pusat tubuhku.
"Kau... hhhggg... wanita pembangkang." Geramnya sambil menjambak rambutku dari atas.
Dia melakukannya dengan kasar, tanpa hal manis sama sekali.
Ketika aku menangis saat ditembusnya, dia malah menutup mulutku dan tetap menekannya dengan cepat dan dalam.
Aku sepertinya sudah pingsan sepenuhnya ketika Jimin selesai menumpahkan dirinya didalam milikku.
Rasanya aku sudah tidak berada di dunia lagi, tapi berada di akhirat bersama dengan kebahagiaanku menjadi istri Jimin.
๐ญ๐ญ๐ญ๐ญ๐๐๐๐๐
Gatau lagi dah mo ngomong apaan.
Enchim.... enchiim....
Jan ngadi-ngadi yah๐
Seperti biasa, yang merasa belum follow yok di follow, aku orangnya rajin update loh๐
Nanti ketinggalan kalo gak follow.
Tinggalkan jejak jugak jan lupa berupa vote and review biar kita makin cepet nih eksekusi enchim๐คฃ
Akhirkata, bubyeee bubblesss mwah๐