
"Jangan berpikir terlalu jauh. Aku tidak membiarkanmu mengasuhnya karena kau terlalu lembek padanya. Dia itu anak laki-laki, harus dididik dengan cara laki-laki." Ia menatapku tegas, entah hilang kemana sifatnya yang lembut merayuku barusan, digantikan dengan sosok Jimin yang ororiter seperti biasanya.
"Hanji perempuan tuh," gantian, kali ini nadaku yang kubuat memanja, tak mau membuat diskusi ini berubah jadi perang sengit.
"Dia bukan perempuan dimataku, hidupnya keras dan diapun tak berniat untuk melembut pada orang lain."
"Tapi dia lembut padaku."
"Ya, atas permintaanku. Dia pun tak sanggup sebenarnya, sudah mengundurkan diri berkali-kali." Jawab Jimin memberitahukan fakta dibalik sifat Hanji.
Aku tak tahu sama sekali, kupikir tugasnya malah ringan karena aku tak banyak menuntut.
"Kenapa? Apa sesulit itu berkerja denganku?" Tanyaku tak terima.
"Aku tak tahu, tapi aku akan terus menahannya untuk berkerja untukmu."
Iya, aku tahu Jimin adalah orang yang seperti itu. Tentu dia akan mendapatkan apapun yang dia inginkan, tak perlu meragukan kemampuannya tersebut.
Lihat saja bagaimana aku sudah mulai terbuai dalam ciumannya diwaktu sepagi ini.
Rasanya sungguh kewalahan, belum bisa terbiasa dengan serangan Jimin yang selalu tiba-tiba serta teknik-tekniknya yang juara.
Aku baru ingat kalau tadi ia menjanjikanku untuk pergi berkeliling, kenapa malah jadi bergelut di atas ranjang lagi?
"K-kau berjanji ssshh mengajakku berbelanja..." Ucapku di sela-sela kegiatan Jimin meloloskan pakaian yang kukenakan.
"Iya, besok ya. Hari ini dirumah saja ok?"
Aku harusnya tau kalau itu hanya akal-akalannya saja, mengiming-imingiku untuk keluar rumah agar aku mau berbicara padanya.
"Kau bo-hhong nnghh," ucapanku terputus, terguncang karena merasakan lidah Jimin bermain dengan luwes pada bagian bawahku.
"Ka-au mengurungku d-disini bersamamu." Lanjutku susah payah mengumpulkan kalimat.
Jimin tak perduli, ia lebih memilih fokus pada kegiatannya memainkan tubuhku. Dia mewujudkan keinginannya yang tadi sempat ia katakan, ingin memakanku.
Membuatku datang berkali-kali.
Setelah puas dia beranjak naik, mensejajarkan wajahnya kami. Aku dapat merasakan bagaimana dia menyiapkan senjatanya yang telah bertransformasi sempurna untuk dimasukan kedalam milikku.
"Kali ini aku sungguh-sungguh akan membawamu belanja, aku juga akan perlihatkan foto Jisung makan dengan baik kalau kau mendesahkan namaku dengan indah, menikmati permainanku, bagaimana?"
Walau ditengah kekacauan tubuhku, aku dapat mendengar kalimatnya dengan jelas, caranya menenangkanku sungguh unik walau harus disertai dengan hubungan **** seperti ini.
Lututnya yang sedikit menindih pahaku agar terbuka lebar, dan bagaimana dia menatapku tersenyum sembari menggerakan tubuhnya naik turun, membuat kenjantanannya menggesek gesek di area bawahku yang sudah sangat basah.
Aku mengangguk pasrah.
Namun Jimin menggeleng, "jelaskan dengan kata-katamu... sambil tersenyum." Ujarnya memerintah.
Bagaimana dia bisa menyuruhku untuk tersenyum ketika aku bahkan mengerenyit menahan desahanku untuk tak keluar, enggan terlihat seperti pecandu **** disaat ia memasukan miliknya saja belum.
"Aku tidak akan mulai sebelum kau turuti..." aku menangkap bagaimana raut wajah Jimin tersenyum mengejekku.
Ia tahu ia selalu berhasil memutar balik keadaan di tengah permainan, membuatku seolah jadi pihak yang paling menginginkan disentuh walau diawal sering sungkar untuk diajak.
Kurasa sepadan dengan yang kudapatkan, Jimin tersenyum penuh kemenangan, puas denganku yang rela bertekuk lutut padanya.
Yah, beginilah keseharianku di sini. Boro-boro jalan keluar, untuk berhenti makan 1 atau 2 jam saja susah. Jimin sering minta untuk cuddling di kasur walau tak melakukan hubungan intim, jadi memang sulit untukku melakukan aktifitas lain.
Kami yang telah terjaga sepanjang hati, tertidur cukup cepat malam itu. Mungkin Jimin sudah puas melakukannya, jadinya memutuskan untuk tidur lebih awal.
"Jangan ingkari janjimu besok!" Ucapku sebelum kami benar-benar memejamkan mata.
"Iyaa."
"Juga aku ingin video, bukan foto Jisung. Suruh ia menyanyikan lagu kebangsaan Korea, agar aku tahu itu bukan video lama." Kataku sengit.
Menghadapi Jimin yang penuh akal ini tentu harus pintar, kalau tidak kau akan di kelabui habis-habisan.
"Hm, akan kukatakan pada Hanji besok." Matanya sudah terpejam, tapi masih berusaha meladeni omonganku yang tajam.
"Kirim pesan saja, jangan di telfon!" Suruhku padanya.
"Iyaaa sayangku." Jawabnya manis. Sudah kelewat ngantuk jadi hanya bisa mengiyakan mauku.
Kubiarkan saja dia mengeratkan dekapannya padaku, tangannya menangkup salah satu dadaku dari belakang, sedangkan salah satu kakinya ia selipkan diantara kedua kakiku, kulit pahanya benar-benar bersentuhan dengan kewanitaanku di dalam selimut.
Posisi tidur yang sangat tidak sopan. Yang lebih anehnya adalah aku bisa tidur walau dalam keadaan begini, sepertinya aku sudah terbiasa.
Malah rasanya jadi gampang terbangun kalau sudah dia lepaskan, seperti pagi ini, rasanya aneh tidak merasakan beban berat pada perutku, aneh merasakan lapang dan leluasa untuk bergerak ketika biasanya aku bangun dalam kondisi terjepit badan Jimin.
Ia bangun pagi sekali, kutemukan ia sedang berbicara di telfon, berdiri di balkon kamar dengan pintu kaca yang terkunci dari sisinya.
"Jim, buka pintunya!" Aku menggedor-gedor pintu sliding yang terbuat dari kaca tembus pandang itu.
Ia tampak kaget melihatku sudah bangun tidur dan menghampirinya, ia segera mematikan sambungan telfon dan membuka pintu sedikit untuknya masuk kedalam.
"Kenapa kau bangun sepagi ini? Ayo kembali ke tempat tidur bersamaku." Ia merangkul dan membawaku berjalan pelan ke kasur. Tidak memperdulikan aku yang menatapnya curiga.
"Siapa yang kau telfon sepagi ini?" Mataku menyipit menatapnya penuh selidik.
"Bukan wanita manapun, sudah pejamkan matamu lagi, masih terlalu pagi, belum ada toko yang buka." Jawabnya ketika kami sudah kembali berbaring.
Sepertinya dia memang masih mengantuk, ia bahkan tak lanjut memelukku, melainkan benar-benar lanjut tidur dengan tangan yang menutupi dahinya.
Aku tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini aku sangat cemburuan pada suamiku, benar-benar tak seperti aku yang biasanya.
Kok orang2 pada punya pasangan sihh😠
Jangan sampe ya lun jiwa iri dengki aku timbul gegara ngeliat keuwuan kalian. Liat noh lapak sebelah, bubaran kan w bikin🙃
Jan maenmaen🐍
Klik follow vote dan komen 'anin cantik' untuk dapetin kelanjutan kisah ini, yang gasuka dengan rules ini berarti PKI.
Wasalam.