Brave Things

Brave Things
Part 5 Strange



Aku sedang memegangi 2 pilihan dasi, menunggui Jimin memakai baju kerja yang telah aku siapkan semalam.


Pagi ini kami makan sandwich, jadi Jimin memilih untuk makan dulu baru berpakaian, dia harus menyikat giginya setelah makan jadi pakai baju di akhir akan membuat bajunya tetap rapi.


"Aku mau yang biru." Katanya sambil memasukkan bajunya yang longgar di bagian pinggang.


"Ini." Aku menyodorkan tangan kananku yang memegang dasi pilihan Jimin, bermaksut menyuruhnya untuk mengenakannya sendiri.


"Tolong pakaikan."


Aku maju mendekat dengan ragu-ragu. Biasanya Jimin tidak pernah kesulitan memakai dasi sendiri, dia selalu memasang dasi sembari menungguku menyiapkan sarapan untuknya.


Mungkin karena pagi ini aku menungguinya berganti atasan, jadi dia berfikir untuk memberiku kerjaan ringan selagi menunggunya. Contohnya seperti tadi aku disuruh membantu memilih jam tangan, dasi, lalu sekarang memakaikannya dasi.


Agak mendongak karena Jimin memang 10cm lebih tinggi dariku, padahal aku sudah termasuk tinggi untuk ukuran wanita, tinggiku 164cm tapi Jimin lebih tinggi lagi.


"Kau jadi pergi ke supermarket bersama temanmu hari ini?" Tanyanya ketika aku selesai memasangkan dasi.


"Harusnya sih iya. Kau sudah meminjamkannya mobil?" Aku sambil merapihkan kembali susunan baju yang agak kusut karna Jimin ambil sembarangan, memasukkan kembali dasi yang tidak terpakai dan mengambilkannya jam tangan untuk dipakai hari ini.


"Semalam sudah dia ambil ke kantor ketika pulang dari sini." Ucapnya sembari memakai jam tangan, aku sangat suka pemandangan Jimin memakai atau membuka jam nya, menurutku sangat seksi.


Ia merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sesuatu dari dompet "Ini, beli keperluanmu." Kata Jimin menyodorkan aku salah satu dari kartu kreditnya.


Seingatku ini adalah pertama kalinya Jimin memberikanku uang atau kartu untuk membeli sesuatu sendiri, biasanya aku hanya mengatakan aku perlu benda ini/itu dan Jimin akan membelikannya hanya dengan satu klik dari ponsel.


Aku mengambilnya dengan mata berbinar, tidak sabar lagi rasanya untuk pergi pertama kali berkeliling Beijing tanpa suamiku.


Yah tidak bisa dibilang berkeliling juga sih, hanya ke supermarket. Tapi rencananya aku akan mengajak Hanji untuk pergi ke restaurant  Jepang yang kemarin ia pesankan makanannya untukku, rasanya sungguh lezat. Aku penasaran bagaimana bentuk tempatnya jika makanannya seenak itu.


"Jangan jauh-jauh dari PA-mu." Ucapnya sebelum berjalan keluar pintu untuk berkerja.


Aku mengangguk membuntutinya berjalan ke arah lift, "Aku akan berhati-hati."


Jimin mengusap kepalaku dan menghela nafas, aku heran kenapa dia terlihat sangat khawatir padahal aku hanya akan pergi ke supermarket.


Padahal aku yang harusnya grogi, aku sudah lama tidak keluar rumah dan bersosialisasi, pergi ke supermarket yang biasanya aku lakukan hanya karna bosan dan ingin beli eskrim, sekarang menjadi agenda yang seolah sangat spesial untukku.


Aku bahkan belum selesai bersiap-siap ketika Hanji sudah sampai kesini,


"Kau mau kemana sih? Kenapa heboh sekali." Tanya Hanji yang melihatku buru-buru menyatok rambutku dan menjepitnya kebelakang.


Aku masih mondar-mandir mengelilingi kamar, mengumpulkan hal-hal yang harus aku bawa dan memasukannya ke dalam tas.


"Aku ingin mampir ke restaurant tempat kau memesankan aku makanan kemarin."


Hanji berfikir sejenak, lalu menjawab "Ah restaurant Jackson?"


"Jackson? Teman kerja Jimin?"


Hanji mengangguk, "Jackson dan Jimin membangun restaurant itu bersama, jatuhnya itu restaurant milikmu juga loh."


Aku tidak tahu, sama sekali buta kayu tentang aset apa saja yang Jimin miliki, aku tidak tahu setinggi apa tempat aku berpijak sekarang.


Yang aku tahu hanya Jimin mempunyai tempat tinggal yang mewah dan mampu membelikanku apapun yang aku pinta.


Aku tidak punya cukup uang, uang negara ini aku bahkan tidak punya sama sekali. Jimin membuatku tidak mandiri secara finansial, aku saja baru tadi pagi dipinjami kartu kredit karna akan pergi berbelanja.


Jimin memang selalu mengirimi keluargaku uang di Seoul tapi aku tak tahu berapa jumlahnya, setiap aku bertanya pada ibuku dia selalu terlalu sibuk untuk mengangkat telfonku berlama-lama. Padahal awal-awal aku pindah dia menangisi kepergianku berhari-hari.


"Luna, jangan berlarian." Teriak Hanji dari belakangku, kewalahan mendorong kereta belanja berusaha mengimbangiku yang berlarian di pelataran supermarket.


Aku membeli sangat banyak peralatan, aku beli frying pan anti lengket, aku beli spaghetti warna-warni, aku bahkan beli kemoceng padahal di penthouse Jimin ada vacum cleaner yang harganya puluhan juta.


"Hey Hanji, apa menurutmu mall ini juga punyaku?" Tanyaku pada Hanji, kami sedang membeli salmon segar dan menunggu salmonnya dipotong jadi seperti sashimi.


"Ini lotte mall, mertuamu yang punya saham besar disini." Jawab Hanji santai.


"Woah benarkah?"


Hanji mengangguk, aku tidak tahu kalau keluarga Jimin memang sekeren itu di dunia bisnis. Padahal aku melihat ibu dan ayah Jimin lebih sering dirumah dan masak-masak ketimbang kerja dan rapat, tidak seperti Jimin.


Tapi yang aku lebih heran kenapa Hanji tahu semua hal? Seperti bukan dari orang biasa. Aku orang biasa dan aku tidak tahu apapun dan siapapun orang dibalik tempat aku berbelanja tuh. Tahunya cuma belanja lalu bayar, tidak memikirkan itu punya siapa atau siapa yang mengelola.


"Kau tahu dari mana sih?" Tanyaku pada Hanji.


"Dari ayahku, kan ayahku berkerja untuk Jimin."


Sepertinya mustahil seorang ayah Hanji yang hebat hanya diperkerjakan sebagai karyawan biasa oleh Jimin, juga semakin janggal untukku kalau Hanji yang cerdas cekatan dan kompeten ini hanya berkerja sebagai personal assistant ku. Maksutku, Hanji ini dari dulu sangat pintar loh, dia bahkan ikut kongres politik sejak kecil.


Aku hanya diam dan tidak menyuarakan pikiranku, selama Hanji baik dan orang utusan Jimin maka aku akan percaya padanya.


"Kau jadi mau makan di Nishimura restonya si Jackson?" Tanya Hanji seusai menata tas belanjaan kami di kursi belakang mobil.


"Iya, apakah disana kita bisa minum wine?"


Hanji terkekeh, "Kau benar-benar sudah jadi istri orang. Siang terik begini ingin minum wine?"


"Aku akan telfon Jackson dan menyuruhnya menyiapkan wine terbaik yang sudah terendam di mangkok es batu." Lanjutnya mengeluarkan ponsel.


"...iya aku akan sampai disana dalam 10 menit. Kenapa? Oh aku bersama nyonya Park. Baik." Aku menguping percakapan Jackson dan Hanji yang terdengar akrab sekali, seperti teman sepermainan. Berbanding terbalik dengan sikap Hanji kepada Jimin yang sangat formal dan hormat.


Dipikir-pikir lagi, sikap Hanji padaku juga sebenarnya sangat hormat, walaupun dia terkadang makan dan minum seenaknya, tapi dia sangat protektif padaku.


Contohnya saat tadi dikasir, orang didepanku berusaha mengajakku bicara menggunakan bahasa Inggris. Aku bisa berbahasa inggris dan hampir menjawabnya, tapi hanji mememotongku dan berbicara dengan tegas kalau aku tidak berbahasa mandarin dan inggris.


Ada juga kejadian ia menahan orang yang ingin melewatiku saat antri buah dengan kakinya, orang itu hampir jatuh terguling.


Hanji ini dibandingkan personal assistant, lebih cocok di bilang bodyguardku.


"Hanji, aku mau pipis sebentar."


Kami baru sampai di hotel tempat resto Jackson, sedang menunggu disajikan utensils dan di tawarkan buku menu.


"Ayo." Katanya berdiri lebih dulu dariku.


"Loh aku bisa sendiri, kau tunggu disini saja."


"Aku juga ingin pipis." Katanya dengan muka sewot, akhirnya aku pipis ditunggui oleh Hanji di depan pintu wc tanpa dia ikut buang air juga, padahal dia bilang dia ingin buang air.


Saat kami kembali ke meja, aku melihat Jackson sedang berbicara pada staff yang menghidangkan makanan pembuka di meja kami.


"Kau tidak boleh bergabung dengan kami." Kata Hanji yang berdiri didepanku dan menghalangi aksesku untuk melihat kearah Jackson.


"Aku tidak akan macam-macam, aku hanya ingin menemani wanita cantik makan siang." Jawab Jackson sambil mengintip kebalik punggung Hanji dan melihat kepadaku.


"Selamat siang nyonya Park." Ucapnya padaku.


"Siang." Jawabku pelan.


Aku terkejut ketika Hanji menoleh kebelakang dan menatapku dengan muka kesal.


"Kau harus pergi atau kami akan pindah tempat makan."


Jackson tertawa, seolah tidak habis pikir dengan attitude Hanji yang sangat kasar kepadanya,


"Baiklah baiklah, aku akan meninggalkan tuan putri dan panglimanya makan dengan tenang."


Jackson berjalan mundur dengan tengil dan melambai kearahku tersenyum.


"Gosh, aku menyesal menelfonnya sebelum kesini." Omel Hanji, Jackson sudah pergi dan kekesalan Hanji tampaknya belum reda. Kami duduk melihat menu dengan Hanji yang masih mengomel tentang kehadiran Jackson.


"Lalu kenapa kau menelfonnya?"


"Aku takut kita tidak punya tempat privasi seperti ini. Kau lihat diluar penuh kan."


Benarsih, saat kami datang saja meja ini dibersihkan oleh beberapa orang yang tampaknya dikejar waktu dengan kedatangan kami, seperti mereka akan mati kalau kami datang dan meja belum beres.


Terlepas dari itu, aku sangat menyukai pelayanan disini. Wine ku sangat segar dan makanan kami datang dalam kedipan mata.


Tidak ada yang berbicara satupun dari staff mereka, sekedar menghidangkan dan langsung pergi menjauh dari meja ini. Mereka bahkan hanya mengangguk ketika aku mengucapkan terimakasih ketika mereka selesai meletakkan makanan.


"Omong-omong, bagaimana semalam? Pak Jimin tergoda tidak?"


Aku menghela nafas dengan lesu,


"Kenapa? Belum berhasil ya?" Ucapnya lembut.


Aku menggeleng, "Sepertinya dia belum menyukaiku sedalam itu." Ucapku pada Hanji.


Dia melotot ketika mendengar kalimatku barusan, "OMONG KOSONG MACAM APA ITU?!" teriaknya dengan marah.


Untung disekeliling kami tidak ada orang, Hanji terdengar seperti ingin melabrakku dan mencaci makiku.


"Kau... tidak tahu apa yang sudah Jimin lakukan untukmu." Ucap Hanji pelan sambil menunduk, menatap ke makanannya yang tadi ia makan dengan lahap, sekarang ia sepertinya tidak menganggap makanan itu menarik lagi.


AADH alias ada apa dengan Hanji??????


Aku kok rasanya tenggelam dalam konflik bikinanku sendiri ya tentang stories luna jimin jackson dan hanji ini. Rasanya disini aku juga deg-degan gitulo. Ngerti gasih wkwkwk


Pokoknya lemme know kalo kalian juga ngerasa karakter2 nya mencurigakan atau ada redflags wkwkwk soalnya aku membuat banyak sekali redflags disini.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalau kalian suka ceritanya ya, sekedar follow vote and review sangat berarti untuk semangatin aku nulis🙂


Akhirkata, bubyee gaus muah