Brave Things

Brave Things
Part 33 Her Beauty Soul



"Nanti mainnya, makan dulu."


Ah, karena sudah di sebut begitu, Luna baru sadar kalau dia menghirup aroma yang sangat lezat dari arah utara rumah ini.


Aroma roti yang baru di panggang, juga samar-samar tercium ada bau sup jagung dan bebauan manis lainnya.


"Masakannya harum sekali." Gumam Luna sebelum Jimin mempersilahkannya duduk, membukakan kursi untuk dia yang rasanya sudah tidak sabar menyantap makanan yang terhidang di meja.


Dengan telaten, Jimin mengurusinya sang istri  makan, dengan lembut penuh perhatian. Mengambilkannya dua lembar roti, dan semangkuk sup jagung manis dengan beberapa side dish lainnya.


"Bennedict koki yang lumayan bisa di andalkan. Bahannya juga segar dari kebun, diambil bersamaku tadi pagi, seharusnya makanan ini terasa cukup enak."


Luna mengernyit, apa maksut Jimin mengatakan 'seharusnya'? apa dia tidak mengkonsumsi makanan yang sama dengan ini saat makan tadi?


"Memangnya kau tidak cicip ini?"


"Tidak," jawab Jimin yang dengan asyik memperhatikan gadisnya memakan hidangan dengan lahap.


"Kenapa?"


"Aku tidak suka jagung dan Jamur."


Luna tertegun. Selama ini dia sering memberikan Jimin tambahan dua komposisi itu pada masakannya. Sama sekali tidak pernah menerima keluhan, semua masakannya selalu disantap habis.


"T-tapi, kau selalu makan itu dalam masakanku."


Bahkan untuk melanjutkan santapannya saja, Luna sampai lupa.


Begitu tenggelam dalam tatapan penuh cinta yang ikut dihidangkan oleh Park Jimin untuknya siang ini.


"Karna itu masakanmu."


"Huh?"


Kekehan kecil keluar dari bibirnya, tidak lagi berusaha menjelaskan banyak hal kecil dan menyia-nyiakan waktu mereka bersama. Jimin ingin semua hanya tentang Luna hari ini.


"Aku punya sepeda." Ucap Jimin bangga. Seolah dia tidak punya deretan property dan mobil mewah untuk diandalkan.


"Lalu?"


"Kau mau ku bonceng naik sepeda?"


Sungguh, apa yang Jimin sedang lakukan sekarang terlihat seperti anak sekolah dasar, yang barusaja berani duduk untuk mengajak perempuan teman sekelasnya berkencan.


Seperti baru memulai kisah cinta manis yang bisa dijadikan roman picisan.


Padahal kalau dilihat lagi, wujud pasangan ini tak lagi remaja.


Jelas terlihat bagaimana Luna, walaupun bermuka muda, adalah seorang ibu hamil dengan usia kandungan cukup tua. Sudah siap melahirkan.


Sedangkan si pria terlihat sudah berperawakan dewasa, sesuai umurnya.


Tapi kenapa semuanya terlihat begitu manis?


Seolah sama sekali tidak terlihat kalau mereka ini, sedang lari dari badai yang barusaja mengincar mereka.


"Naik sepeda kemana?" Tanya Luna ragu. Ia tak pernah lihat Jimin mengendarai kendaraan roda dua sebelumnya. Hidupnya terlalu berkecukupan untuk itu.


"Ada bukit kecil dengan danau buatan di balik kebun. Kukira kau akan menyukainya karna ada beberapa tumbuhan liar warna warni."


Penasaran. Tapi lagi-lagi, kalau bisa naik mobil maka Luna ingin naik mobil saja. Tidak mau naik sepeda dengan Jimin yang mengayuh.


"Apa tidak bisa diantar Ben naik mobil?"


"Tidak bisa, jalannya tidak ada. Memang kenapa?"


Ia menunduk mengusap perutnya, "Aku... gendut. Akan berat untukmu memboncengku naik sepeda."


Benarkah? Itu hal yang dikhawatirkan Luna dari sebanyak rintangan yang ia lewati?


Ia mengkhawatirkan Jimin yang kesulitan membawanya dengan keadaan hamil?


Apakah hanya sekedar penunjang kehidupan Jimin?


Atau hanya penyelamat keluarga bodohnya?


Pemikiran tersebut sangat sulit di mengerti untuk kaum laki-laki, tapi sebenarnya hal lumrah untuk para perempuan.


Walau sedang hamil, Luna masih sering stress kalau beberapa bagian tubuhnya terlihat bengkak(kecuali perut).


Luna tidak pernah punya tempat bertanya tentang kehamilan, bertemu dokter juga jarang. Kalau bertemu dokter selalu ditemani Jimin, dan membuatnya sedikit malu untuk bertanya hal-hal personal dihadapan suaminya.


Tidak ada pula sosok ibu atau ibu mertua yang bisa diajak sharing tentang kondisi yang ia alami, jadi Luna sering menganggap kalau beberapa hal yang terjadi padanya itu aneh.


Seperti bagaimana beberapa bra yang ia milikki tidak lagi muat ia kenakan. Baju yang sudah banyak tidak terpakai dan posisi tidur yang makin lama makin menyakitkan tulang belakangnya.


Semua terlalu berat untuk dihadapi seorang diri.


Belum fakta menyakitkan bahwa Jimin tidak pernah menawarkannya membeli baju hamil.


Mungkin tidak terpikir atau lupa, Luna juga tidak pernah mengeluh padanya, karna masih bisa meminjam beberapa baju dari closet milik Jimin.


Lemari mereka sama-sama memiliki banyak baju, kebanyakan baju Luna di beli saat awal mereka menikah dan pindah ke Beijing. Sejak hamil, tidak pernah terisi baju baru lagi.


Beberapa kali Luna sempat menelusuri baju hamil di situs online tempatnya biasa berbelanja, tapi selalu mengurungkan niat karna tidak mengerti cara belanja dari Korea untuk dikirim ke Jepang.


Juga dia tidak punya rekening ataupun uang. Harus minta dulu pada Jimin, tapi suaminya malah menjaga jarak saat ia mengandung.


Kalau perempuan lain jadi tuan putri saat sedang hamil, Luna malah semakin tidak berdaya.


Miris.


Tapi entah keajaiban darimana, Jimin akhirnya mengetahui semua pelik yang menimpa ibu dari calon anaknya itu.


Awalnya hanya kebingungan ketika membuka isi koper Luna, yang kebanyakan dipenuhi oleh kemeja kerjanya.


Hanya terisi dua gaun, satu telah dipakai ke pemakaman Anna, dan satu lagi masih terlipat rapi, tapi Jimin yakin gaun itu akan sempit di bagian panggul dan perut sang istri yang kandungannya hampir menginjak bulan kesembilan.


Sudah hampir terlambat untuk membelikan perlengkapan penunjang kehamilan.


Jimin menggeleng lagi, tidak ingin tenggelam dalam rasa bersalah dan berakhir menunjukan mood jeleknya di hadapan Luna hari ini.


Masih banyak agenda yang bisa mereka lakukan, ingin menciptakan kenangan indah sebanyak mungkin dengan gadis cantik ini, sebelum ia melahirkan.


"Kalau kau tidak nyaman, kita bisa menggunakan sepeda motor." Ucap Jimin, berusaha menawarkan opsi lain yang tidak membuat Luna khawatir.


"Apa kita punya?"


"Tidak, tapi aku bisa menyuruh Ben untuk membelinya ke pasar. Sekitar 4 jam perjalanan."


Gila.


Membeli sepeda motor seperti membeli makanan cepat saji. Belum lagi jarak yang harus ditempuh sang supir demi mewujudkan keinginan Luna untuk berkunjung ke bukit belakang.


Banyak harga yang mesti dibayarkan demi kesenangan sesaat, sama sekali bukan prinsipnya.


"Aku rasa aku tidak terlalu ingin mengunjungi bukit. Sebenarnya Jim, aku sedang tidak ingin kemana-mana." Dustanya lesu.


Walau sudah terbayang seperti apa bahagia dirinya, jika bisa menginjakan kaki di rerumputan liar, menari di antara pohon perkebunan, dan melihat danau dengan tanaman liar warna-warni seperti yang diceritakan Jimin.


Tapi kalau harus menyusahkan banyak orang seperti rencana sang suami, Luna tidak bersedia.


Lebih baik menemani Hanji melalukan sesuatu. Dia juga bisa membantu Ben beres-beres dan menyiapkan makan malam. Banyak yang bisa dilakukan selain jalan-jalan.


Bagi Luna, kesenangannya harus selalu dikesampingkan. Tidak boleh egois seperti yang selalu ibunya katakan setiap kali Luna mengacau.


Tidak pernah boleh egois.


Jadi kepentingan dan kebutuhannya selalu harus berada pada baris paling akhir dalam urutan, barulah Luna bisa merasa nyaman.