
"Saat itu Anna memutuskan hubungan kami dengan alasan dia benci menjadi bayang-bayangku. Dia ingin bebas, bersamaku membuatnya jalan ditempat dan merasa kerdil katanya."
"Dia bahkan melaporkanku ke kantor polisi dengan tuduhan macam-macam, laporannya tidak di naikkan karena tak cukup bukti."
Sejauh ini, ceritanya cocok dengan apa yang dulu pernah jackson ceritakan sedikit padaku. Aku terus menaruh atensi penuh kepadanya yang sedang menarik nafas, seolah mengumpulkan kepingan memori untuk disampaikan kepadaku.
"Aku meninggalkannya, aku pindah ke Beijing karena kupikir dengan itu Anna akan bahagia. Namun kabar selanjutnya yang kudengar adalah Anna hamil. Dia juga berkerja serabutan untuk menutupi kebutuhannya,"
Kulihat raut Jimin yang terlihat jujur merasakan pedih, seolah ia ikut kembali ke masa itu saat menceritakan kejadiannya.
"Aku menelfonnya, aku bilang padanya bahwa aku akan bertanggung jawab, Dari situ aku sudah merasa ada yang salah dengannya, ketika ia malah menjawab dengan umpatan, mengatakan bahwa anak yang ia kandung bukanlah anakku,"
Aku segera meraih tangan Jimin, menggenggamnya untuk memperlihatkan kepercayaanku padanya, untuknya agar tidak ragu melanjutkan cerita itu tanpa perduli seberapa sadis cerita itu berakhir.
"Kau tahu siapa ayah sesungguhnya dari anak yang ia kandung?" Tanyaku lembut.
"Itu tidak penting bagiku..." Jimin menelan ludah sebelum melanjutkan ceritanya.
"Yang membuatku merasa begitu bersalah padanya adalah, seandainya saat itu aku tidak menghiraukan firasat burukku tentangnya, mungkin ia masih bisa tersenyum dengan normal."
"...Anna ditemukan di lorong gelap didekat tong sampah, korban pemerkosaan. Membuatnya..." Jimin mengambil jeda, sungguh sulit kelihatannya menceritakan kejadian mengerikan yang mungkin menghantuinya selama bertahun-tahun.
"Membuatnya kehilangan janin sekaligus rahimnya. Dia tak akan bisa punya anak lagi." Ia menatapku pilu, membuatku merasa bersalah telah membuatnya terpaksa menceritakan cerita kelamnya di masalalu.
"J-jimin..." ucapku terbata, rasanya mengetahui hal ini tidak sebanding dengan bayaranku melihat raut kesedihan di wajah Jimin, lelaki yang mengaku mencintaiku beberapa waktu lalu itu, yang beberapa saat lalu masih aku ragukan omongannya.
"Aku berusaha menghiburnya, aku bahkan meninggalkan kantor hampir sebulan, membuatku dengan gegabah menunjuk Jackson sebagai penggantiku di Beijing, dan si brengsek cekatan itu sudah memiliki jumlah saham yang cukup besar di perusahaan yang aku bangun."
"...Anna tetap tak tertolong, ia mogok makan dan aku selalu mendapatinya berusaha membunuh dirinya sendiri. Hingga aku putuskan bahwa aku menyerah padanya, mengirimnya ke rumah sakit paling bagus untuk mengobati rasa bersalahku. Membiarkan dia mengamuk dan mengatakan aku pemerkosa, persis seperti tadi sore.
Aku... sungguh minta maaf, seharusnya aku menceritakan hal ini padamu sejak dulu, aku..."
Kalimatnya terputus ketika aku mencium bibirnya dengan tiba-tiba, tidak sanggup mendengar kejadian perih yang Jimin lewati sebelum bersamaku.
Jimin membalas ciumanku sama kuat, melampiaskan segala emosinya pada ciuman kami.
Tangannya menahan kepalaku, mengarahkannya berlawanan dengan arah ia memiringkan kepala. Ciuman paling intens yang pernah kami lalui.
"L-luna..." ucapnya ketika kami sama-sama menarik nafas, melepaskan sementara tautan bibir kami yang tadi beradu.
Aku memajukan kembali wajahku, membiarkan bibirku berjarak sekian senti dari bibirnya, sampai ia kembali memutuskan untuk menciumku kembali.
Kali ini lebih menuntut, tangannya mencengkram leherku kemudian mengusapnya perlahan. Membuat sesuatu di pangkal pahaku bereaksi.
Ia menarik tanganku, masih dalam kondisi berciuman Jimin ingin membuatku berbaring dibawahnya.
"K-kau terluka..." ucapku setelah berhasil melepaskan ciuman kami, menolak untuk ia baringkan dikasur dan mempertahankan posisi dudukku.
"Tidak apa, sedikitpun tidak terasa." Jawab Jimin, mulutnya tidak ia biarkan menganggur barang sebentar, sekarang malah menelusuri leherku, mengigit-gigit kecil titik yang ia lewati dengan bibirnya.
"Sshhh ahh" desahku ketika tangannya mulai naik, menangkup salah satu dari payudaraku yang masih terbungkus pakaian.
"Kau tidak boleh banyak bergerak, biar aku saja." Aku mengatakannya dengan malu-malu, sungguh aku tak ingin sesuatu terjadi padanya. Lukanya harus kering dahulu.
Maka dengan itu aku mendorong pundak Jimin pelan, mengarahkan agar ia bersender pada kepala ranjang dengan berhati-hati, memastikan lukanya aman.
Ia tampaknya menikmati saja permainanku, membiarkan aku mempraktekkan apa yang biasanya ia lakukan padaku saat sesi pemanasan.
Rautnya sedikit terkejut ketika aku mulai bermain dengan miliknya lewat mulutku, sebentar saja dan aku dapat membuatnya menengadah keatas, menikmati aku yang tersedak karena berusaha memasukan seluruh miliknya kedalam tenggorokanku.
Jimin meraih kepalaku, kali ini tidak menarik rambutku tapi menekan kepalaku berkali-kali. Sesekali ia menahan kepalaku dengan miliknya yang tertanam dalam, mendiamkannya cukup lama sampai aku harus menepuk pahanya, memberitahu kalau nafasku sudah hampir habis.
Miliknya sudah menegang sempurna oleh hisapanku, aku tak tahu bagaimana hari kami yang melelahkan penuh konflik ini tetap berakhir dengan hubungan suami istri di penghujung hari.
"Sshh, masukan kedalam milikmu." Ia menarik tanganku dan membuat tubuhku hampir duduk sejajar dengan kejantanannya.
"A-apa tidak enak? Maaf, aku baru sekali melakukannya..." ucapku, menahan ******* disela-sela kegiatan Jimin yang berbaring sambil menggesekan kepala penisnya di mulut kewanitaanku. Lutut yang menopang tubuhku diatas Jimin sedikit melemas.
"Tidak, kau sungguh hebat. Aku hanya tak mau keluar di mulutmu,"
Aku merasakan bagaimana Jimin sudah masuk dengan perlahan, memaksa lubangku terbuka lebar, mengetat menjepit miliknya. Padahal ini sudah tak terhitung berapa kali kami melakukannya tetapi selalu saja sakit untukku diawal.
"Aku tidak akan membuang-buang spermaku," tangan Jimin mendarat pada perutku bagian bawah dan mengusapnya, "mulai sekarang aku hanya akan keluar disini, di rahim calon ibu dari anakku."
Terjerumus dalam lubang dosa bersama.