
Aku mendesah frustasi, ini sudah percobaanku yang kesembilan kali untuk menghubungi ponsel Jisung pagi ini. Masih tak bisa di hubungi.
Akibat kaki Jimin yang terluka, kami sepakat untuk menunda kepulangan kami ke Beijing, setidaknya sampai lukanya cukup kering setelah diobati dengan racikan obat paling mahal yang pernah aku ketahui. Lukanya memang jadi sembuh dengan cepat.
Jimin? Santai saja, menggoyang-goyangkan kakinya sambil bersiul membaca koran. Dia benar-benar mendapatkan bulan madu yang ia inginkan.
Disela-sela kesibukanku merawat Jimin yang terluka, aku selalu mencoba menghubungi Jisung. 4 hari berturut-turut dan masih tidak mendapat jawaban apapun.
Aku sungguh khawatir padanya, bahkan sejak hari pertama aku menginap di villa ini, aku telah memohon pada Jimin untuk membiarkanku menghubungi Jisung.
Bahkan aku tak percaya pada apa yang aku bayarkan pada Jimin untuk dibarter dengan sinyal ponsel, semua hanya untuk mengetahui keadaannya!
"Kenapa aku masih tidak bisa menghubunginya?!" Geramku sembari men-dial kembali nomornya.
Lagi-lagi suara otomatis operator yang kudapatkan menjawab panggilanku, membuatku melempar ponsel mahal pemberian Jimin itu kekasur dengan dongkol.
Lihat saudara kandungnya yang tidak ada hati nurani itu, dia bersiul-siul duduk di dekat jendela, menikmati pancaran sinar matahari pagi sembari menyeruput kopi hitamnya.
Tentu saja hidupnya tentram sejahtera... kebutuhan **** nya terpenuhi, perutnya penuh terisi, lukanya pun sudah hampir sembuh. Meninggalkan aku yang lembur 24/7 untuk meladeni kebutuhannya.
Rasanya aku rindu hari-hari ku saat baru menikah dengan Jimin, dengan dia yang gila dengan perkerjaan, aku memiliki banyak waktu luang untuk diriku sendiri. Bertemu dengannya paling hanya beberapa jam, saat ia pulang pun waktu terbanyak dihabiskan untuk tidur tanpa interaksi berarti.
Hal yang mustahil untuk aku rasakan lagi sekarang. Jimin tidak akan tertidur sebelum melakukan kegiatan rutinnya setiap malam, yaitu menggagahiku.
Aku berjalan mendekatinya, mataku menatapnya sinis ketika aku telah duduk di kursi kosong yang tersedia di meja itu.
"Jangan tekuk mukamu sepagi ini, kakiku nanti makin lama sembuh melihatnya." Lagi-lagi dia mengeluarkan jurus 'kaki terluka'nya untuk entah yang keberapa kali.
Dia tahu betapa spektakuler jurus itu, dapat membuatnya mendapatkan apapun yang dia inginkan dalam sekejap, membuatku menuruti maunya apapun itu.
"Kau benar-benar tidak mengkhawatirkan adikmu?" Tanyaku sinis, kesal mengingat hanya aku yang gelisah sedangkan dia tenang menikmati libur panjangnya.
"Dia baik-baik saja. Tidak ada yang harus kau khawatirkan..." dia meletakkan korannya dan beralih mengusap pergelangan tanganku.
Aku masih cemberut, tidak goyah akan sentuhannya di tanganku.
"Kau harus belajar untuk percaya pada suamimu, hm?"
Aku memutar mata mendengar omongan manisnya di pagi buta begini.
"Kalau begitu aku ingin dengar suaranya! Biarkan aku bicara padanya maka aku akan berhenti khawatir." Tegasku memberi persyaratan.
"Hmm bagaimana ya, kau akan mengacaukan progresnya hanya dengan suaramu. Dia memang tak menggunakan ponselnya dulu sejak kita pergi." Jelas Jimin padaku.
"Hah? Lalu kenapa aku repot-repot duduk dilantai berjam-jam menyembahmu cuma demi mendapatkan sinyal?!"
Geram sekali melihat rautnya yang polos seperti tidak berdosa.
"Kau bilang hanya ingin sinyal, kau sendiri juga yang mengajukan penawaran itu kan?" Jawabnya tertawa kecil.
Iya memangsih aku yang mengajukan penawarannya, habis aku geram karena sulit sekali meminta sinyal ponsel padanya. Dia bersikeras agar kami sama-sama menjauhkan ponsel agar bisa quality time disini, nyatanya bukan quality time, hanya tidak turun-turun dari kasur.
Aku tahu, sejak aku memanjakan miliknya dengan mulutku satu kali saat itu, ia selalu ingin merasakannya lagi. Mudah saja bagiku untuk menggunakan kesempatan tersebut agar Jimin memenuhi permintaanku. Salahnya, aku tidak spesifik dalam meminta. Harusnya aku minta untuk bisa bicara dengan Jisung, bukan minta di beri sinyal.
"Aku benaran memberimu sinyal loh. Aku ini tak pernah ingkar janji!"
Ingin ku maki-maki saja rasanya melihat dia yang bangga karena menepati janjinya padaku.
"Sudahlah, cepat katakan saja, Jisung itu dimana? Apa yang kau lakukan padanya?" Aku tidak mau disesatkan Jimin ke topik lain, aku tahu dia sengaja membahas hal ringan agar dia tak perlu menjawab pertanyaanku.
Jimin menghela nafas lelah, menyenderkan dirinya ke kursi setelah mendapati usahanya untuk mengalihkan perhatianku gagal.
"Aku tak tahu, aku hanya menyuruh Hanji mendidiknya. Tingkah laku Jisung kelewatan sekali padamu..." jawabnya lesu.
"Bagaimana kau bisa sepercaya itu pada orang lain?! Kalau Hanji tidak becus menjaganya bagaimana?" Aku panik, tidak mengerti kenapa Jimin tak ragu menyerahkan adiknya kepada Hanji, yang jelas tidak ada background kompeten dalam mengasuh anak.
Harusnya aku biasa saja, tapi rasa perih menjalar di hatiku ketika tahu kalau Jimin lebih percaya pada karyawannya untuk mendidik Jisung ketimbang aku. Aku merasa tersinggung.
"Hanji hanji hanji... kenapa kau tidak menikahinya saja sekalian kalau kau sepercaya itu padanya." Aku beranjak pergi meninggalkannya.
Dia bahkan tidak membiarkanku bicara sedikitpun pada Jisung, boro-boro mau mengikut sertakan aku dalam rencana apapun yang ia buat.
Apa akan begini kalau nanti kami punya anak? Apa aku hanya akan jadi mesin cetak anak sementara Jimin memperkerjakan orang untuk mendidik anakku, sesuai dengan standarnya?
Terkadang, tak perduli telah sedekat apapun aku dengan Jimin, aku masih merasa dianggap orang asing dalam hidupnya.
Aku tahu dia sudah terlalu lama hidup sendiri, membuatnya biasa melakukan hal tanpa berdiskusi dahulu bersama orang lain. Biasa memutuskan keputusan sendiri.
Sekarangkan posisinya sudah berbeda, setidaknya dalam urusan keluarga dia bisa sedikit bertukar pendapat denganku kan? Apa sulitnya? Toh selama ini aku tidak pernah tak setuju dengan usulannya, aku selalu menghormati keputusannya.
Dengan membuatku tak tahu apa-apa tentang Jisung ini bukannya membuatku lega malah membuatku khawatir. Memperburuk suasana.
Aku masih meringkuk di pinggir kasur ketika merasakan kehadiran sosoknya merangkak naik mendekatiku, meletakkan dagunya di di atas lenganku yang bertumpu satu sama lain.
"Luna..." panggilnya lembut sambil menciumi pipiku.
"Kenapa kau sensitif sekali pagi ini? Padahal aku mau mengajakmu berbelanja keliling Melbourne." Tangannya mengusap sisi pinggangku ketika ia membisikkan rayuannya.
Agak tertarik sejujurnya, tapi aku berusaha mempertahankan egoku. Masih kesal dengannya yang kurang mengapresiasi kerja kerasku selama beberapa hari disini. Malah memutuskan kontakku dengan adiknya.
"Kau tidak bosan terkurung disini? Ayo jalan-jalan, kita kan sebentar lagi akan pulang, 3 hari lagi." Lanjutnya tak menyerah merayuku agar segera buka suara.
"3 hari? Kenapa jadi lama sekali?" Aku protes.
Menghabiskan waktu bersama Jimin di penthouse sangat berbeda dengan menghabiskan waktu bersamanya disini. Kalau di penthouse, aku bisa istirahat dan me time ketika ia berangkat kerja. Kalau disini benar-benar 24 jam bersamanya, salah posisi duduk sedikit maka aku akan berakhir tidak berpakaian, tak perduli siang atau pun malam hari.
"Iya, aku sudah lama tidak healing seperti ini. Tak apa sesekali bolos kerja seminggu lebih."
"Kau sih iya healing, aku yang training kau buat!" Ketusku sembari mendorong tubuhnya yang bersender di lenganku.
Jimin kembali mendekat, menarik tanganku dan membuatku terdekap dalam rengkuhannya,
"Kau itu kalau marah-marah bukannya menyeramkan, malah menggemaskan, membuatku ingin memakanmu."
Aku segera memalingkan wajah ketika Jimin membuka mulutnya dan mendekatkan wajahnya padaku, pura-pura ingin memakanku.
"Hmm, apa aku sudah kehilangan privilege ku sebagai orang sakit?" Tanyanya heran ketika aku sudah tak lagi pasrah menerima serangannya, menghindar, tak membiarkan dia membangun suasana bahkan.
Ia menghela nafas lelah ketika mendapati reaksiku yang cuek, tidak menghiraukan nya sama sekali.
"Katakan padaku apa yang membuatmu kesal."
Padahal dia harusnya tahu apa yang membuatku jengkel pagi ini, jelas aku keluhkan dihadapannya. Tapi tak apa, aku menghargai dia yang mau bertanya dan meluruskan situasi menyebalkan ini.
"Aku sedih, kau tidak mengikut sertakan aku dalam rencana apapun yang kau buat. Sedih juga aku tidak diiikutkan ambil bagian dalam mendidik Jisung," jawabku murung.
"Kau jelas-jelas jadi bagian terpenting dalam tumbuh kembangnya, kau itu tempatnya mengadu..." jelas Jimin dengan lembut.
"Saat ini aku sedang merampas zona nyamannya. Aku ingin lihat bagaimana dia beradaptasi dengan itu, Hanji akan membuatnya tangguh."
Aku menunduk, memainkan ujung jari ketika menimbang-nimbang, haruskah aku menyampaikan kecemburuanku pada Hanji? Maksutku itu hal yang sepele tapi cukup menggangguku.
"Kau tampak yakin sekali dengan Hanji," begitulah caraku memancing topik yang ingin aku bahas secara tidak langsung.
"Hmm, tidak seyakin aku padamu. Jauh." Tangannya masih mengusap-usap pipi dan daguku bergantian.
"Jadi sekarang aku bersaing dengannya? Untuk mempertahankan kesungguhanmu?" Retorik, kalimat perempuan untuk memutar balikkan omongan.