
"Aku... juga tidak punya."
Kegelisahan mulaimelanda ku, sampai ingin menelfon Jimin dan minta segera untuk dijemput. Perilaku ibu sangat aneh, aku agak sedikit takut menghadapinya.
Ibu masih melihat barang-barangku, membuka lipstick ku bahkan tas kecil yang kubawa.
"Kita akan dapat ratusan juta hanya dengan menjual tas dan lipstick mu. Buka ponselnya."
Aku menerima ponsel yang disodorkan oleh ibu, bertepatan dengan itu, benda itu bergetar menampilkan nama suamiku sebagai penanda panggilan telfon.
"Halo Jim—"
Sraaak!
"Apa yang ibu lakukan!" Aku kaget ketika ibu menangkis ponsel yang berada di telingaku sampai benda itu jatuh dan retak.
"Kenapa kau angkat telfonnya? Kau harus pergi dari sini. Aku sedang berusaha membantumu, nak."
Melihat kegusaran ibu membuatku semakin bertanya-tanya. "Ibu, apa yang terjadi? Aku tidak mengerti dengan semua yang ibu lakukan."
"Kita harus keluarkan kedua adikmu terlebih dahulu. Kau akan mendengar dari mereka langsung tentang apa yang terjadi." Ibu membantuku berdiri, berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang lengang.
"Jimin sengaja memasukan mereka kesini dan membuat kedua adikmu tak bisa berkomunikasi dengan kita, sampai dia berhasil menikahimu, Lun." Lanjutnya dengan suara bergetar.
Omong kosong macam apalagi ini...
Kenapa terlalu banyak teka-teki tentangnya yang tak bisa aku pecahkan. Kenapa harus sekarang? Disaat aku sudah mengandung benihnya? Kenapa harus sekarang setelah aku telah berhasil mencintainya?
"Ibu, aku tidak mengerti."
"Adikmu... adikmu adalah salah satu dari kumpulan bandit yang memperkosa mantan kekasihnya sampai gila dan meninggal."
What the...
"T-tidak,"
Ibu mengangguk, menatapku simpatik, "Adik-adikmu juga yang merekam kejadiannya dan menjual videonya pada situs gelap. Video itu berdurasi 5 jam, isinya sangat tidak bermoral menunjukkan mereka yang bergiliran memperkosa gadis itu sampai keguguran bersimbah darah."
Oh tuhan, sekedar mendengarnya saja membuat perutku ngilu setengah mati.
Bagaimana bisa adik kecilku yang polos menjadi kriminal tidak bermoral seperti ini?
Rasanya sungguh menyesakkan melihat kedua wajah mereka dan selalu terbayang wajah malang Anna, sungguh aku tidak sudi mengakui mereka sebagai saudara sedarahku setelah mendengar semua ini.
"...kami hanya terjebak. Ampuni kami, kak."
Kubiarkan saja mereka memohon ampunanku, pandanganku kosong melihat sosok mereka yang kurus pucat. Kalau aku punya tenaga, kalau aku adalah aku yang dulu, mereka sudah aku hajar sampai berdengik.
"Kalian tidak pantas disini," ucapku sinis dari balik nafasku, "tempat kalian dipenjara, bukan dirumah sakit."
"Kenapa Jimin menyisakan kalian untuk tidak dimasukan kedalam penjara, huh?"
"Dibawah umur..." ucap ibuku dari samping.
"Ah, benar. Dibawah umur dan bertingkah seolah kalian punya tanggung jawab pada diri kalian sendiri!"
Dan mereka tentu menerima buah tanganku yang mendarat kencang dipipinya.
"Pertama, aku sekarang juga sudah menyandang nama Park. Kedua, yang brengsek itu kalian, aku bahkan harus cuci tangan lagi seusai menamparmu, aku tidak ingin menyentuh sampah!" Mukaku merah padam menahan amarah.
Ibu terus mengusap bahu dan lenganku, berusaha meredam kemarahan ini.
"Lagi pula, kalian pikir kita siapa hingga bisa melarikan diri dari Jimin? Jimin menggenggam dunia ini ditelapak tangannya. Aku tak akan bisa kemana-mana tanpa ditemukan olehnya walau aku punya uang sekalipun." Ucapku terengah.
Kesal sekali, mereka berbuat tanpa memikirkan dampaknya, dan tiba-tiba aku terlibat dalam benang kusur ini.
Aku tak bisa berfikir lagi, bagaimana hal ini bisa terjadi padahal aku tak berbuat kesalahan apapun. Dari semua orang didunia, kenapa harus aku?
Ibu terus membuntutiku saat aku pergi meninggalkan dua berandal kecil menyedihkan itu, tidak mau melihat wajah mereka.
Ibu mengerti dan mengusap perutku pelan. Entah emosiku yang terlalu memuncak, entah kondisiku yang terlewat lelah, menyebabkan janinnya menendang hebat menyakitiku sedari tadi sejak aku berargumen didalam ruang jenguk.
"Jadi... aku objek balas dendam, ya?" Aku tersenyum lirih kepada ibu yang masih rajin mengusap perutku dan mencoba menenangkannya.
"Ibu khawatir begitu."
"Lucu sekali, padahal Jimin terlihat begitu mencintaiku." Aku memegang tangannya, menyuruhnya menyudahi kegiatannya yang tak berguna.
"Ini salahku, tidak seharusnya membiarkan anak perempuanku berkerja mencari uang dan terjebak didalam rumah penguasa sepertinya."
Aku teringat, bagaimana ibu memberitahuku kalau adik-adik kemungkinan tak bisa melanjutkan pendidikan. Terhalang biaya.
Sampai aku sebagai anak tertua, memutuskan untuk mencari perkerjaan, dan mendapat tawaran dari teman kuliahku, berakhir menjadi guru les Jisung.
Seharusnya aku curiga dengan bayaran mahal dengan tugas mudah seperti itu, aku hanya mengira bayaran mahal itu karena aku akan menghadapi anak nakal, bukan karena aku jadi bidik sasaran Jimin.
Air mataku menetes, tidak, aku tidak takut atau bersedih. Hanya kelewat terharu, memikirkan kalau Jimin dapat bertindak sejauh ini demi orang yang ia cintai. Anna sungguh gadis yang beruntung.
Dan selamanya aku takkan bisa mengganti posisi spesial Anna dari hati Jimin.
Wajar saja ia tak lagi repot-repot bermanis muka dihadapanku hari ini, penyemangat hidupnya telah pergi. Dan mungkin sudah giliranku untuk menebus perasaan bersalah Jimin pada Anna, sudah waktunya aku dikorbankan.
Seharusnya ibu membiarkan Jimin melakukan apapun yang dia inginkan terhadapku, biarkan aku mati ditangannya.
Untuk kesalahan sebesar yang adikku dan teman-temannya perbuat, menebusnya dengan nyawaku pun rasanya tak cukup.
Kalau dia ingin membuatku sengsara, keguguran atau apapun yang Anna lalui sebelum menjemput ajalnya, aku terima.
Aku rasa aku orang yang paling pantas mendapatkannya.
Ternyata doa di awal sambutan gak terkabul🙂
Ini akibat kalo sering baca fakechat juki di twitter, dikasih cobaan mulu dari yang diatas. Disuruh ngeliat cobaan yang Luna terima bermacam-macam. Dari kelas ringan sampe kelas berat🥲
Sucikan pikiran, ulang berdoa semoga Luna dapat yang terbaik. Karena semuanya bukan salah Luna.
Eh, emang yakin, Luna gak bersalah?😌
Vote and review, ramein. Lemme know apa yang kalian pikirkan setelah baca chapter ini, oke? Muah😘