Brave Things

Brave Things
Part 19 Comeback



Hari ini adalah hari kepulangan Jisung ke penthouse kami.


Sejak aku menjenguknya 2 minggu yang lalu bersama Jimin, tak ada tanda-tanda kalau ia tersiksa atau tidak terurus oleh Hanji.


Ia tampak sehat, bersih, dan makan dengan baik.


Dan seharusnya itu semua membuatku tak perlu mengkhawatirkan pertemuanku dengannya sore ini.


Jimin juga melarangku untuk menyiapkan apapun, dan menyuruhku beraktifitas seperti biasa saja.


.


.


"Kau terlalu banyak beraktifitas di luar ruangan." Seru Jimin, masih berkutat dengan sarapan paginya yang sekarang tak pernah absen ia santap.


Aku memang sempat mengeluh sakit kepala dan sedikit tidak enak badan, puncaknya saat bangun tidur tadi pagi. Aku bahkan sampai jatuh terduduk ketika berusaha beranjak dari tempat tidur.


"Aku tidak pernah keluar rumah, Jim..."


"Iya, tapi kau berjemur di balcony setiap siang untuk mengurus tanamanmu."


Ia mendesah gusar, meregangkan dasi yang mungkin terasa mencekik tiba-tiba.


"Bagaimana kau mau memulai kembali pendidikanmu kalau kau seceroboh ini? Tidak bisa menjaga kesehatanmu sendiri." Lanjutnya semakin garang.


Mungkin ia juga kesal karena aku menolak untuk didatangkan dokter kemari, berfikir hal tersebut terlalu berlebihan untukku yang hanya sedikit demam


"Aku tidak perlu kembali kuliah kalau memang hal itu dapat mengusikmu." Aku masih berusaha mempertahankan intonasi lembutku, takmau memancing kemarahannya. Walau aku sebenarnya sama sekali tidak punya kesalahan berarti untuk dihakimi sekeras ini.


"Dan kau akan merasa terkekang, kemudian menyalahkanku ketika ada kesempatan!" Cercanya kasar.


Hatiku berdenyut nyeri.


Aku tahu saat hari ini akan datang, hari dimana honeymoon-phase kami telah berakhir.


Jimin dan aku telah melewati hari demi hari dalam situasi intim yang mendalam, sulit untuk diungkapkan namun ia berhasil membuatku merasa sangat dicintai.


Hanya saja, aku tak menyangka kalau kesakitan kecilku ini bisa membuatnya mengakhiri momment itu seketika. Seperti khawatir berlebihan yang diluapkan dalam bentuk kemarahan.


"Aku tidak akan seperti itu. Kalau kau tidak ingin aku kembali kuliah, maka aku tidak akan kuliah." Ucapku pelan, menunduk dihadapannya yang menatapku dengan tajam.


Tidak kudengar bantahan lagi darinya, hingga kuasumsikan bahwa dia benar-benar tidak setuju dengan ide yang ia usulkan sendiri saat kami baru menikah dulu.


Sebenarnya aku mengerti kegelisahan Jimin, progres ku dalam bahasa mandarin masih mandat. Sangat sulit untukku bahkan untuk sekedar bergaul tanpa menguasai bahasa yang digunakan disini.


Alasan lainnya adalah, ia yang masih trauma meninggalkan wanitanya tanpa pengawasan.


Topik itu sangat tabu hingga aku sebisa mungkin tidak menyebutnya. Aku tak ingin membuat Jimin menjadi muram seperti saat ia menjelaskan kenangan buruk itu di Australi, tidak untuk yang kedua kali.


Mungkin aku juga telah dipengaruhi oleh sifat Jimin yang dewasa, sehingga lama kelamaan akupun mencoba menjadi sosok yang dewasa dan pengertian pula untuknya.


Berat memang, tapi setidaknya hal itulah yang bisa kuberikan untuknya, sekedar untuk membalas jasa-jasanya pada keluargaku yang berantakan. Yang bisa kulakukan hanya mematuhinya dan memenuhi kebutuhannya.


Selepas kepergian Jimin kekantorpun, aku tak banyak melakukan aktifitas. Hanya berbaring, duduk termenung, dan sesekali memindahkan acara yang aku tonton di netflix. Benar-benar tidak bergairah melakukan apapun.


Padahal semalam aku berniat untuk meminta izin agar diperbolehkan kesupermarket lagi, tapi suasana tadi pagi tidak memungkinkan untukku menyuarakan permintaan itu.


Sebenarnya aku bisa saja minum obat sakit kepala atau obat demam biasa yang ada disini, namun tidak kulakukan karena aku mengkhawatirkan sesuatu.


Maka dari itu aku berniat untuk pergi ke supermarket sekaligus mampir ke apotek, aku ingin beli alat test kehamilan, serta beberapa obat yang bisa kuminum kalau-kalau hasil test nya masih negatif.


Terpaksa rencana tersebut aku tunda, setidaknya sampai suasana hati Jimin membaik.


Aku hanya merasa risih, tidak melakukan apapun ternyata malah membuatku merasa semakin sakit. Kemudian memutuskan untuk mengerjakan beberapa perkerjaan rumah ringan untuk mengalihkan kegelisahanku.


Hal yang pertama aku lakukan adalah membereskan kamar utama.


Kegiatan yang tidak pernah aku lewatkan kalau lagi sesi bersih-bersih. Aku mengganti alas kasurnya dan pelindung bedcover setiap hari bukan tanpa alasan,


Aku dan Jimin masih sangat aktif dalam kegiatan ranjang. Aktif dalam artian, tidak pernah hanya sekali dalam satu malam, selalu berkali-kali melakukannya.


Sehingga aku merasa kalau aku harus mengganti sprei setiap hari karena kegiatan kami yang berpeluh-peluh diatasnya, belum lagi cairanku dan Jimin--


Memikirkannya saja membuatku bergidik ngeri. Bagaimana aku mampu melayaninya setiap hari masih menjadi misteri bagiku. Mungkin terbawa suasana atau... ah sudahlah.


Memikirkannya hanya membuat asam lambungku semakin naik.


Sakit kepalaku juga makin menjadi ketika aku berusaha membawa kain kotor bekas alas tidur itu ke tempat mencuci. Kali ini lebih sakit dari sebelumnya, perutku juga mual seperti ingin memuntahkan sesuatu.


Aku mencampakkan kain-kain yang kubawa dan memilih untuk berpegangan pada dinding.


Sepertinya aku benar-benar kehilangan tenagaku.


Perlahan tubuhku mulai merosot, duduk kemudian terbaring. Tidak sanggup untuk bangkit walau hanya sekedar untuk meraih telfon rumah yang terletak tak jauh dariku.


Hari juga masih siang, mustahil aku harus terbaring disini menunggu kepulangan Jimin tanpa melakukan apapun. Aku mencoba merangkak untuk berpindah keatas karpet, setidaknya aku tidak berbaring di atas lantai yang dingin pikirku, namun tetap tidak bisa.


Kepalaku berdengung dan perutku semakin mual ketika aku mencoba mengangkat tubuh, malah pandanganku semakin kabur dan berujung memasrahkan diriku untuk melemaskan badan, tergeletak diatas lantai.


Mungkin aku memang sempat tak sadarkan diri, bisa dibilang pingsan.


Namun aku yakin bahwa aku sadar sepenuhnya saat aku melihat Jisung berdiri menatapku yang masih terbaring dilantai. Rambutnya dicukur botak, ada tas selempang di bahunya dan pandangannya sulit kuartikan.


Aku berkedip berkali-kali, mencoba memastikan kalau ini bukan halusinasiku. Sedikit banyak merasa bersyukur, karna aku memang benar-benar sedang butuh bantuan.


"Jisung..." lafalku ragu, memanggilnya yang berdiri tak bergeming menatapku.


Tak ada jawaban darinya, kulihat dia berkedip menatapku tanpa berniat menanggapi panggilanku.


"T-tolong ak-aku."


Namun ia justru berbalik, berjalan meninggalkanku, masih merintih meminta pertolongannya.


Aku tak sempat memikirkan apapun, karena ternyata setelah kejadian itu aku kembali tak sadarkan diri.


Bahkan setelah itupun kepalaku masih terasa berat, juga masih sulit untukku membuka kedua kelopak mata bagai ditimpa suatu objek yang besar. Samar-samar aku mencium bau khas antiseptik yang biasa aku cium di rumah sakit.


"...Luna, Lun!"


Aku mengenali suara ini, suara dari orang yang sama yang memarahiku hanya karna aku tidak enak badan pagi ini.


"Apa yang kalian lakukan?! Cepat panggilkan dokternya!" Teriaknya murka, tidak menyadari kalau aku perlahan telah berhasil membuka kelopak mataku.


Aku mencoba meraih jarinya, bermaksut memberi tahu kalau aku sudah sadar dan ia tidak perlu lagi merasa khawatir.