
Aku tak tahu,
Rasanya aneh melihat Jimin terlihat begitu terhanyut dalam kesibukannya memakamkan jasad Anna. Dia sampai tak begitu menghiraukanku yang berjalan terseok memangku perut besarku sendirian. Seperti tidak perduli.
Aku tak cemburu. Hanya saja, apakah ia berfikir bahwa dunia nya ikut berhenti ketika mengetahui Anna telah meninggalkan dunia ini? Apa dia sebegitu menyalahkan diri sendiri sampai dia menganggap aku tidak ada disampingnya?
Niat awalku datang kesini jadi percuma, padahal aku ingin menguatkannya, mengatakan kalau hidupnya harus terus berjalan walau Anna telah tiada. Tapi apa daya, kalau kenyataannya adalah aku bahkan tak sempat berbicara dengannya sejak kedatanganku kesini.
Belum lagi percakapanku dengan Jisung saat di pesawat. Semua seolah sedang menyudutkanku ketempat paling gelap. Membuatku tak tahu dimana aku berdiri. Seolah-olah yang dikubur didalam makam itu seharusnya aku, bukan Anna.
Tentang Anna, aku sungguh menyesal mendengar kepergiannya. Wanita cantik itu harusnya punya segalanya didalam hidup, tapi ia harus sengsara menjemput kematian. Aku tak tahu, apakah perkataanya kala itu—tentang Jimin benar adanya, ataukah cerita versi Jimin adalah kisah asli yang harus kupercaya.
Anna telah pergi, misteri itu selamanya tidak akan terungkap, meninggalkanku semakin buta arah dalam mengenali siapa suamiku sebenarnya. Sosok asli seorang Jimin Park.
Memang tak banyak yang bisa kulakukan kalaupun Jimin ternyata seorang yang 'tidak baik'. Aku telah menyandang namanya, selamanya mengikat janji didepan tuhan untuk menjadi Luna Park yang terhormat.
Andai aku mengenalnya lebih lama, lebih dahulu sebelum semua kejadian kejam ini, mungkin aku akan sangat bersyukur dapat mengenal Jimin dengan cara yang lebih menyenangkan. Bukan dari kumpulan kesimpulan yang orang-orang lemparkan kepadaku, orang-orang yang mengenal Jimin lebih dulu.
'Sreeshh'
"Luna! Sssttt, Lun!"
Aku menoleh, ibu memanggilku berbisik di tengah seremonial pemakaman yang kami lakukan di area rumah sakit.
Aku dan Jimin sudah berdampingan, ia memeluk pinggangku erat, agak sulit untukku menghampiri ibu yang terus melambai menyuruhku mendekatinya.
"Ibu memanggilku." Gumamku pelan, berniat memberi tahu Jimin agar setidaknya aku bisa ia lepaskan sejenak.
"Nanti saja." Tatapannya kosong kedepan. Ucapan Jimin begitu mutlak seperti tidak mau dibantah lagi. Membungkamku.
Sebuah pilihan yang sulit sebenarnya, aku ingin menjadi istri yang baik atau anak yang berbakti. Jimin tidak seharusnya membuatku berada dalam posisi ini.
Aku kemudian menatapnya lekat dari samping.
Dia begitu berbeda. Entah efek aku yang kelewat memikirkan ucapan Jisung, atau memang ada sesuatu yang berbeda dari Jimin.
Ia jadi lebih... dingin?
Dengan gerakan pelan, aku meraih jemarinya yang menahan pinggulku untuk menempel pada tubuhnya. Mencoba menurunkan pegangan erat tersebut.
"Apa yang kau lakukan?" Lirik Jimin enggan menuruti, yang ada tangannya semakin memanjang melingkari pinggang sampai ke perut buncitku.
"Aku mau ketempat ibu."
"Sudahku bilang, nanti."
"Bagaimana kalau itu hal penting?"
"Maka kau akan mendengarnya bersamaku." Jawab Jimin final.
Tak hanya pinggang dan perutku, sekarang tangannya yang lain telah menahan tanganku yang berada diantara tubuh kami. Aku ditahan disegala sisi.
Posisi kami yang berada dibarisan paling depan, membuat seluruh mata dapat langsung melihat bagaimana aku seperti kerbau dicucuk hidung, tidak bisa pergi kemanapun bahkan ketempat ibunya walau sudah dipanggil.
Sekedar dihadapan jasad Anna saja aku dilemahkan.
Aku tidak masalah dilarang ini dan itu, dikurung, dilarang ini dan disuruh itu. Aku ikhlas.
Hanya saja, aku tidak ingin hal ini juga diketahui oleh orang luar. Aku ingin semuanya tahu kalau aku baik-baik saja bersama Jimin, aku bukan tahanannya seperti apa yang Jisung katakan.
Alunan kata pendeta yang damai, ternodai dengan perasaan malu dan gelisahku. Jimin mungkin menyadari bahwa aku sudah mulai risih, tidak suka dipertontonkan kepasrahanku didepan orang ramai.
Hingga kurasakan cengkramannya mulai mengendur dan dia kembali hikmat mendengarkan khotbah yang sedang berlangsung.
Entah dapat keberanian dari mana, aku memutuskan untuk membalikkan badanku dan berjalan cepat keluar memecah kerumunan untuk menghampiri ibu, kulihat beliau sudah menyerah mencoba memanggilku dan berjalan menjauh.
Dengan susah payah aku berjalan cepat, menghiraukan kesulitanku bergerak dengan badan gendut ibu hamil ini.
Aku tak berani menoleh kebelakang sama sekali. Punggung tanganku tergores, bekas kuku tangan Jimin yang mencoba menahan kepergianku dalam diam tadi. Kalau Jimin bukan pihak yang harus berbicara setelah pendeta, aku yakin dia akan mengejarku dan mengembalikan kehadiranku disisinya.
"Ibu! Tunggu aku."
Suaraku akhirnya sampai untuk memanggil ibu dan menghentikan langkahnya. Hanya untuk mendapati wajah ibu yang cemas, berlari kearahku dan merangkulku pergi.
"Ibu kita mau kemana?" Tanyaku cemas, dia membawaku untuk berjalan cepat sekali, padahal aku sudah berjalan jauh tapi nampaknya aku akan dibawa pergi keluar area pemakaman.
"Ibu akan jelaskan nanti, kita harus segera pergi dari sini." Jawabnya berusaha tenang.
"Kenapa? Aku harus bilang Jimin dulu, aku—"
"Tutup mulutmu dan jangan bertingkah bodoh selama aku menyelamatkanmu." Tegas Ibu tak dapat dibantah.
Seluruh kejadian ini sungguh membuatku bingung. Aku yang terbiasa hanya menghadapi perangai Jimin sehari-hari, ketika kembali keluar kandang begini jadi heran dengan beragam masalah dan drama yang kutemui. Seperti bertubi-tubi menimpaku.
Aku jadi rindu suasana rumah, dimana satu-satunya masalahku hanya bingung mau memasak makanan apa untuk Jimin, bukan dihadapkan dengan pelik permasalahan seperti ini.
"Ibu, perutku kram."
Ibu berdecak, "Ck, sabar. Kau harus bayar dulu tagihan rumah sakit adikmu."
Aku bingung dengan permintaanya. Ia terus membawaku berjalan. Jauh sekali. Meninggalkan Jimin yang masih disibukan dengan prosesi penguburan jenazah.
"Aku akan mati jika Jimin tahu sudah berjalan sejauh ini..." gumamku sesak.
Bagaimana tidak. Ibu sama sekali tidak memelankan langkahnya. Sedangkan aku terseret dan terseok harus menyamakan langkahnya yang gesit menuju rumah sakit.
Kalau ingin kerumah sakit, harusnya aku bisa menunggu Jimin saja daripada jalan kaki jauh begini. Aku menyesal tidak mendengar perintahnya tadi.
"Kau punya uang, tidak?"
Aku menggeleng.
"Sudah kuduga. Bajingan picik itu tidak akan memberimu uang, dia takut kau pergi dengan mudah." Dongkol ibu saat kami sudah hampir masuk ke rumah sakit.
Perutku sudah tidak karuan rasanya, tegang, sakit, sulit bernafas dan keringatan. Aku yakin tatanan rambutku sudah berantakan akibat keringat yang membasahi. Untuk mengerti cacimaki ibu terhadap Jimin pun sudah tidak bisa lagi.
"Kau punya ponsel mahal kan?" Ibu merampas clutch kecil yang aku kenakan, isinya hanya lipstick, tissue, ponsel dan cermin kecil.
"Luna, dimana ID-mu?!"
Aku yang masih memulihkan tenaga, ditepuk kecil oleh ibu demi bisa menjawab pertanyaannya.
"Aku tak punya," dari awal, Jimin selalu memegang seluruh kartu pengenalku. Jika ada Hanji, maka akan diberi pada Hanji. Kalau tadi aku ditemani Jisung, maka Jisung yang akan memegang kemudian segera dikembalikan pada Jimin.
"Suamimu yang pegang? Sial. Bagaimana dengan credit card? Mustahil kau tidak diberi satupun untuk berbelanja. Setelanmu saja mahal sekali." Ibu melirik seolah menilai harga fantastis pakaian yang kukenakan.