Brave Things

Brave Things
Part 25 Death



"Tahan suaramu," ucap Jimin santai memainkan puncak dadaku, "kau tak mau memberi tontonan dewasa pada Jisung, kan?"


Aku menutup mulutku erat dengan tangan, sementara Jimin terkekeh membiarkanku struggling menahan desahanku.


"Katakan kalau aku menyakiti bayinya, oke?" Ucap Jimin sebelum benar-benar memasukan penisnya kedalam kewanitaanku.


Aku mengangguk, sedikit mengernyitkan muka ketika mulai merasakan sakit saat Jimin mendorong masuk.


Teringat perkataannya beberapa saat lalu yang mengatakan ia tak punya waktu, dia kemudian langsung menghentakku tanpa membiarkanku menyesuaikan diri dengan ukurannya yang besar. Tanpa bisa menjerit pula, jariku sampai kugigit kuat untuk menahan *******.


"Pelan Jim, perutku tegang." Ucapku memberinya peringatan.


Kami sudah membahas ini, tidak apa melakukannya asal aku selalu cepat memberitahu jika dirasa ada sesuatu yang salah, harus diberitahu sedini mungkin tanpa menahan-nahan.


Dulu saat sebelum mengandung, aku memang selalu menahan apapun yang dilakukan Jimin padaku, tidak perduli sekuat atau sekasar apapun.


Sekarang aku dituntut jadi egois dalam menjalankan kewajibanku sebagai istri pada Jimin.


Jimin, dalam keadaan sekacau apapun akan mendengarkan perkataanku. Mau tak mau dia memelankan temponya, melepaskan tautan dibawah kami sementara untuk merubah posisi.


Dia meneguk kopinya sebentar, sebelum meletakkannya kembali dan menyingkirkan gelas nya agar tidak tumpah. Jimin dengan mudah mengangkatku keatas meja dapur, kembali memaksa pahaku terbuka menyediakan celah untuknya.


"Fuuuckk..." desahnya parau ketika senjatanya masuk kembali.


Jimin tampak frustasi, berusaha menahan gejolak untuk menggenjotku sekuat tenaga, berusaha bersikap lembut walau kurasakan cengkramannya di kedua pipiku akan menimbulkan bekas dengan tenaga sekuat ini.


"Aahhh Jim, ampunn aakkhh," aku tak kuat dengan semua serangan Jimin yang sangat intense, rasanya pikiranku kacau, tak sempat lagi menahan desahanku untuk menghindari Jisung mengetahui aktifitas kami.


"Tahan, Lun. Aku tak akan menghancurkanmu." Ujarnya dengan nafas terengah, "tidak untuk saat ini." Lanjutnya menyeringai.


Aku keluar, berkali-kali. Sampai Jimin mengangkatku kekamar dan membersihkan sisa pertarungan kami di dapur seorang diri.


Aku tak menyadari apapun kecuali dia yang mengecup keningku dan membaringkan tubuhku diatas kasur tanpa membersihkanku terlebih dahulu. Langsung meninggalkan kamar begitu saja.


Tidak heran bagaimana aku bangun dengan tubuh luar biasa lengket, dan bagian bawahku berdenyut nyeri yang entah kenapa selalu sensitif sejak awal aku mengandung.


Aku melangkah tertatih-tatih kekamar mandi, berusaha membersihkan tubuhku sebelum keluar dari kamar dan membuat Jisung bertanya-tanya.


Sayangnya sepertinya usahaku sia-sia, karena ketika keluar kamar, Jisung telah menatapku aneh sembari melanjutkan menyantap serealnya. Anak itu pasti dengar sesuatu.


"Selamat pagi." Sapaku pada Jimin dan Jisung yang duduk berhadapan.


Tak ada yang menjawab,


Aku mendekat menghampiri Jimin, dia sudah rapi. Dengan setelan hitam-hitam dan ipad ditangan.


"Ada apa, Jim?"


"Aku harus segera pergi. Kau dan Jisung menyusul saja ya?" Ucap Jimin berlalu begitu saja setelah mengecup pelan keningku, menambah kebingunganku saja.


Aku menatap Jisung yang masih santai memakan sarapannya, "Apa yang terjadi?"


"Loh bukannya dia berangkat siang?"


"Ini sudah siang."


Aku melirik jam, baru jam 10.30.


"Maksutku jam 2 siang,"


"Mantan kekasihnya yang dirumah sakit meninggal."


Tubuhku beku, menatap sekali lagi Jisung yang mengucapkan fakta itu dengan kelewat santai, tanpa perasaan.


"Kau bercanda?" Yakinku sekalilagi.


"Terserah, yang jelas kita disuruh untuk menyusul sore ini."


Benar, aku harus datang, ketimbang menangisi kepergian Anna disini ditemani bocah ingusan tak punya perasaan, lebih baik aku kesana, aku ingin memeluk Jimin, dia pasti sangat hancur.


Aku mengingat wajah gusarnya yang keluar rumah begitu saja tadi. Apa dia menungguku bangun? Tapi aku tak bangun-bangun.


Dengan waktu 1 jam, aku telah selesai menyiapkan keperluanku untuk berangkat, dongkol sekali melihat Jisung yang sangat lamban, banyak yang tercecer. Ingin membantunya tapi dia menjengkelkan sekali pagi ini.


Kami bahkan sampai ke bandara mepet waktu sekali. Padahal aku kesulitan untuk berlari dengan perut besarku, tapi kami harus berkejar-kejaran dengan waktu keberangkatan. Aku sangat ingin memukul kepalanya kali ini.


"Kau benar-benar menyulitkanku." Ucapku ketika sudah duduk tenang di kursi kelas bisnis yang dipesankan Jimin.


"Mereka akan menunggu kita, kita hanya akan terlambat 5 menit." Jawabnya cuek. Masih merasa tidak bersalah sama sekali.


"Seharusnya aku berangkat sendirian kesana." Aku membuang muka, ingin beralih saja tidak ingin melihat wajahnya.


Bukannya minta maaf, dia malah terkekeh sinis.


"Kau pikir hyung akan membiarkanmu? Bisa gila dia kalau mangsanya pergi tanpa pengawasan."


"Apa maksutmu? Hubungan kami sangat baik, Jimin bukan orang yang–"


"Sudahlah, Lun. Kau itu bodoh atau apa? Apa karena hidupmu terjamin dengan Jimin, maka kau rela dijadikan tumbal dalam permainan ini? Aku kira kau bukan wanita seperti ini dulu."


"Apa yang kau bicarakan!" Ucapku mulai kesal, tak satupun dari kalimatnya yang kumengerti, tapi aku tahu dia menilaiku rendah dari ucapannya barusan.


"Kau itu objek. Kehadiranmu hanya sebuah penyangga dalam permainan busuk hyung. Kau bodoh kalau mempercayai semua pernyataan cintanya," jelas Jisung gamblang.


"Aku fikir kau tulus mengajariku, menemaniku belajar dan jadi tutor les ku. Ternyata kau hanya menyerahkan diri karena tahu keluargamu sudah berbuat salah pada Jimin."


Dengan itu Jisung menaikkan pembatas antara kursi kami, memutus percakapan kami secara sepihak. Aku menggedor-gedor mencoba meminta nya menjelaskan lagi, tapi para flight attendant sudah berkeliling dan menjamu para penumpang.


Oh tuhan, barusaja hubunganku dengan Jimin membaik, harus menghadapi rumor tidak enak lagi....