Brave Things

Brave Things
Part 29 Wish It was a Dream



Dia belum berencana melepaskan Luna, Luna akan tetap disisinya, Jimin sendiri yang akan memastikan dengan kedua tangannya sendiri.


"Itu hanya sebuah tas, keselamatanmu yang paling penting bagiku." Gumam Jimin ditelinga wanitanya. Walau tak menjawab, dia tahu kalimat itu mampu membuat Luna sedikit tenang.


"Ada lagi yang kau alami? ada kejadian ganjil?" Jimin bertanya untuk memastikan sekali lagi. Ia tak ingin terlewat sedikitpun cela, yang dapat membuatnya slip.


"Umm, Layar ponselku retak sedikit saat ibu merampas tasnya." Jawab Luna pelan di ceruk lehernya.


Ingin sekali ia mengumpat, ingin mengatakan kalau dia sama sekali tak perduli dengan ponsel sialan tersebut. Dia bahkan mampu membeli toko berserta sahamnya untuk gadis ini.


Namun justru yang keluar dari mulutnya, "Tak apa, bisa diperbaiki." Seolah kehidupan ini sesederhana itu bagi Park Jimin.


Keduanya terdiam, hening.


Luna tak kunjung mengangkat wajah dari cela lehernya, tepat ketika ia merasakan sesuatu mengalir di bahunya, Jimin memutuskan untuk mengangkat wajah Luna secara paksa.


Hanya membutuhkan sedikit tenaga bagi Jimin dapat membuat istrinya menunjukan wajah bercucur air mata itu, bola matanya memerah, bibirnya bergetar menahan tangis.


"Kenapa menangis? Aku kan sudah bilang tidak apa-apa..."


"Hiksh,"


Tidak tahu, apa yang harus ia lakukan untuk menghadapi ibu hamil yang mudah menangis seperti ini, dia tak pernah mengalami posisi ini sebelumnya.


Selama ini, ia cenderung tak terlalu ambil pusing tentang apa yang dirasakan Luna.


Ia hanya membuat peraturan, Luna wajib mematuhi, dan semua beres.


Jimin bahkan tidak pernah repot untuk menanyakan keinginan-keinginan aneh istrinya selama hamil, ia justru tahu dari Hanji, kalau selama mengandung, Luna jadi suka minuman rasa Talas.


Dia tak tahu kalau Luna jadi gampang lelah, tapi tetap memaksakan diri untuk membersihkan rumah secara berangsur.


Dia tak tahu kalau yang sedang berada dalam perut istrinya, adalah seorang anak perempuan.


Luna tidak pernah merengek, tidak pernah meminta perhatiannya, namun mencurahkan seluruh waktunya untuk memerhatikan segala kebutuhan Jimin.


Wanita ini bahkan tak pernah menghabiskan uangnya, padahal ia menikahi seorang bilyuner. Luna hanya punya beberapa tas desainer, itupun asisten Jimin yang membelikan.


Wanitanya terlalu mudah di injak-injak. Terlalu gampang jadi target orang-orang jahat.


Jimin kembali memerhatikan sosok yang menangis dihadapnya ini.


Gaun putihnya yang ringan, bertebaran mengelilingi Luna yang duduk diatas perutnya.


Terus ia perhatikan bagaimana tangan kurus itu, menyeka berkali-kali bagian pipinya dengan kasar, seperti tidak mengizinkan Jimin menyaksikan air mata itu turun.


"Jangan kasar, biar aku."


Jimin menarik kedua tangan Luna, menahannya dibawah sementara ia mengusap tangis wanita itu dengan lembut.


"Kau kurus sekali...


Anakku membuatmu kesulitan, ya?"


Entah apa yang salah dari pertanyaannya, sampai Luna kembali menitikan air mata dengan deras walau tanpa isakan.


Padahal ia hanya menyuarakan kekhawatiran terhadap tubuh Luna, istrinya tampak terlalu kurus untuk membawa beban sebesar itu diperutnya.


Luna selalu makan begitu sedikit, dan akhir-akhir ini dia mulai makan di jam-jam malam.


Tapi sejak melihat perubahan pada pipinya yang agak membesar, Luna kembali makan sehat dan berhenti makan camilan manis.


Jimin mulai sadar kalau Luna kehilangan banyak berat badan sejak menikah dengannya.


Ia juga sadar, kalau dahulu Luna adalah anak yang ceria, bertubuh sehat dan cerdas.


"Jimin, hiksh, aku minta maaf. Aku janji akan mengganti semuanya suatu hari nanti, hiksh."


'Perempuan bodoh ini melantur.' Benak Jimin mulai tersulut.


"Luna," panggil Jimin pelan, "kau tidak dengar ucapanku tadi? Aku bilang keselamatanmu yang paling penting! Aku tidak butuh diganti apapun." jelasnya tegas.


Lagipula, hanya karena dia tak pernah membiarkan Luna memegang cukup uang, bukan berarti dia miskin.


Apa Luna berfikir dia miskin?


Teorinya bisa saja terjadi, mengingat Luna tidak pernah tahu apa yang terjadi disekitar Jimin. Luna hanya kenal Jimin yang terlihat sederhana ketika dirumah,


Luna tidak mengenal taringnya didunia luar, tidak tahu kalau sebagian besar gedung di dunia ini, ada sentuhan tangan perusahaanya.


Dengan itu, Jimin tak bisa menyalahkan Luna untuk terus meminta maaf atas kehilangan tas yang harganya tidak sampai beberapa menit networth-nya.


Perempuan ini tidak tahu kalau dia kaya raya.


"Berhenti menangis, kau melukaiku."


Lihat bagaimana Luna begitu mematuhi ucapannya, yang sialnya tidak sengaja ia keluarkan dengan begitu dingin.


Kenapa ia begitu egois, merasa terlukai hanya karena Luna menangis? Luna-lah yang harusnya berkata merasa terlukai sekarang, bukan?


"M-maaf, a-aku hanya takut mengecewakanmu." Jawab Luna masih tersedu.


Ia menghela nafas lelah,


"Luna, kau tidak pernah mengecewakanku. Kau itu istri terbaik didunia. Jangan berfikir yang bisa membuatmu sedih, dong."


Ia menggapai wajah Luna, membiarkan telapak tangannya menempel pada pipi cembung yang sudah memerah itu.


"Lagipula, kenapa kita tidak membahas bagaimana bayi cantik kita hari ini? Apa dia membuatmu kesulitan selama penerbangan?"


Luna menggeleng pelan,


"Dia hanya membuatku sedikit tidak ingin makan, tapi aku paksa untuk makan saja." Jawab istrinya polos.


Belum lahir saja, Luna telah menunjukan kecakapannya untuk menjadi seorang ibu. Bagaimana Jimin tidak gila?


Membuatnya ingin memiliki Luna untuknya sendiri, tidak akan berbagi walau dengan adik kandungnya sendiri.


Atau bahkan keluarga istrinya yang tidak tahu diri itu.


"Benarkah? Kenapa dia membuatmu tidak ingin makan?"


Luna hanya menaikkan kedua bahunya, tidak menyangka kalau gerakan Jimin selanjutnya adalah mendekatkan wajah ke bawahnya, mendekat kearah perut.


"Cantik, kenapa buat ibu tidak mau makan? Ayah tidak mau kalian berdua kelaparan," bisik Jimin di perut istrinya.


Ini pertama kali, Jimin menunjukan afeksi pada Janin yang Luna kandung secara intens, selain saat melakukan ****.


Pertama kali Jimin tampak begitu dekat dengan calon anaknya.


Ingin menitikan air mata lagi, tapi segera sadar kalau Jimin tidak menyukai ia yang menangis, sehingga Luna seperti menelan lagi tangis yang akan jatuh.


Memilih menikmati saja bagaimana tangan Jimin menyentuh perutnya, bergerak memutar seolah sedang berinteraksi dengan bayi perempuannya, mengajak bermain.


Semuanya terlalu indah, Luna tidak ingin momment indah ini berakhir.


Ia harap ia bisa membekukan waktu.