Brave Things

Brave Things
Part 18 Transitory (2)



"Yaah begitulah, aku banyak melakukan suntik botox, suamiku sangat kaya walau sudah tua. Aku selalu diawasi 4 bodyguard dan aku tidak pernah merasa sedepresi ini..." ia memandang sedih ke arah pria-pria berseragam bebas yang memang selalu berdiri tak jauh dari kami melangkah.


Dia persis seperti aku, tapi versi lebih menyedihkannya.


"Aku mengerti perasaanmu." Ucapku tulus.


Dia tersenyum, seolah bahagia ketika menemukan orang yang bisa diajak bertukar pikiran.


"Mari minum kopi seusai berbelanja!"


Dia antusias sekali, sungguh berat rasanya untuk menolak ajakkan itu, tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak cari gara-gara lagi dengan Jimin.


Hubungan kami baru membaik, aku memang butuh teman tapi aku lebih butuh Jimin di sisiku. Sehingga dengan berat hati aku terpaksa menolak ajakkan Meredith untuk pergi.


"Sepertinya tidak bisa, kau lihat aku harus memasak semua bahan ini." Aku beralasan, menunjuk kereta belanja ku dengan dramatis.


"Kau benar..." ia mengangguk setuju,


"Kalau begitu bergabunglah bersamaku kapanpun kau senggang, pilattes bersama setiap weekend di rooftop hotel xxxx." Ia memberikanku kartu namanya sebelum kami menyelesaikan kegiatan belanja kami.


Kami berpisah ketika aku mendapat telfon dari Jimin, ia bilang akan menjemputku di supermarket sekarang juga.


Aku tak tahu kalau dia benar-benar akan pulang secepat ini,


Darahku berdesir hebat menemukan Jimin duduk bersilang kaki di kursi penumpang belakang, full dengan setelan kerjanya, duduk memperhatikan ipad dan menggunakan kacamata baca.


Aku memang sering melihatnya melakukan itu, tapi aku tak pernah melihatnya melakukan segala hal tersebut berbarengan. Dia benar-benar seksi dan berkelas!


"Kau belanja banyak." Ia melirikku sekilas, membiarkan supirnya mengambil belanjaanku dan meletakkannya di bagasi belakang.


"Iya, biar tidak perlu sering-sering ke supermarket." Jawabku dengan senyum sumringah. Senang mendapati Jimin pulang cepat dengan mood yang bagus.


Ia mengusap kepalaku gemas, "anak pintar." Dia tertawa kecil.


Aku merasa kami sudah menjalani kehidupan seperti layaknya suami istri, terlebih kami sedang mengharapkan segera mendapat momongan.


Belanjaanku dipenuhi oleh kacang-kacangan seperti kedelai, tauge dan lain-lain. Aku dengar makanan itu dapat membantu mempermudah mendapatkan anak.


Aku masak sepenuh hati, agar Jimin mau ikut memakannya walau hanya jadi pelengkap di menunya malam ini. Berusaha tidak ketara meletakkan bahan makanan yang aneh dan agak kurang cocok di masakkannya. Tapi sepertinya ketahuan juga,


"Ada apa dengan salad ini? Menu baru?" Tanyanya ketika aku suguhkan satu mangkok salad yang dipenuhi taoge dan kacang-kacangan sebagai pelengkap steak.


Aku menyengir miring, "Dicoba saja, rasanya tidak seaneh penampilannya kok."


Ia menatapku ragu, tapi berakhir melakukannya juga. Ia terus memerhatikanku yang hilir mudik menyiapkan makanan terus menerus.


"Kenapa kau hanya makan sayurnya?"


Aku menoleh, bergegas membawakan lava cake yang aku bikin asal untuk dessert.


"Aku makan dagingnya kok, hanya sedikit. Aku harus makan banyak sayuran kalau mau cepat hamil." Ucapku sembari menyiapkan dessert, hanya untuknya. Aku tidak buat untukku.


Jimin menghela nafas, "Apa perlu sampai melakukan ini?" Tanyanya pelan.


"Ya tidak ada salahnya kan dicoba, kalau kau tidak mau makan tidak apa, aku saja yang makan." Aku hendak mengambil mangkok saladnya, namun ia menahan tanganku.


Kelihatan sekali kalau sebenarnya dia keberatan, tapi terpaksa memakan sayuran aneh itu. Di menuangkan seluruh isi mangkoknya kedalam piring, dan memakannya dengan malas-malasan.


"Awas saja kalau setelah semua usaha ini kau tetap kabur ketika mau ku eksekusi." Sungutnya kesal.


Dia merujuk ke momment dihari pertama kami sampai di Beijing dan aku menolaknya mati-matian, masih geli mengingatnya.


Malam ini, aku menunjukkan bagaimana caraku berterimakasih padanya, bagaimana dia menjaga suasana kami tetap hangat disela-sela kesibukannya berkerja, sungguh menyentuh hatiku.


Dia menunjukkan bagaimana umurnya yang lebih dewasa dariku, memaklumi emosiku yang sering naik turun.


Menunjukkan kasih sayang tidak selalu dengan kata cinta, kan? Dengan pelukan sebelum tidur pun menurutku juga sudah termasuk bentuk kasih sayang.


Apalagi sebelum menikah aku adalah orang yang tidak bisa tidur bersama orang lain, tapi sekarang sepertinya alam bawah sadarku sudah bisa menerima kehadiran Jimin. Buktinya aku tertidur lelap, dibawah satu selimut yang sama didalam dekapannya. Sama-sama lelah setelah menumpahkan kasih sayang cukup lama diatas ranjang ini.


Bahkan tidak menyadari ketika Jimin bangun lebih dulu daripada aku ketika pagi datang, sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya.


Rambutnya masih acak-acakan, hanya menggunakan bathrobe untuk membalut tubuhnya yang masih tidak berpakaian namun harus segera mengurusi kerjaan kantor.


Aku berjalan sembari mengusap mataku, menjatuhkan badanku di sofa tempat ia duduk berkerja.


"Kau sudah bangun..." ucapnya meraihku dengan sebelah tangan, membawaku bersandar di badannya dan membuat tubuh kami yang sama-sama hanya terbalut bathrobe, kembali berpelukan.


"Kau mandi duluan, kita akan pergi menjenguk Jisung. Kau lama sekali kalau bersiap." Katanya sambil mematikan laptop dan menyingkirkannya keatas meja.


Aku tersenyum sumringah, "Benarkah?"


Jimin mengangguk tersenyum, "Dengan syarat, tidak boleh berpelukan terlalu lama dengannya."


"Ish, kenapa!"


"Tidak boleh saja, aku tidak suka."


Aku memutar mataku malas, berlebihan sekali kalau menganggap Jisung ancaman pada hubungan kami. Anak kecil itu saja pipisnya mungkin belum lurus.


Ponselnya berdering di sisi meja, kami sama-sama memperhatikannya. Nomor asing yang menelfon.


"Pergilah mandi, aku mau mengangkat telfon ini dulu." Katanya melepaskan rangkulan dariku.


"Jangan kunci pintu kamar mandinya,"


Aku diam saja berjalan masuk kekamar, menghiraukan permintaanya. Yang penting aku bisa bertemu Jisung hari ini, akhirnya aku bisa memastikan keadaannya secara langsung.


Persetan dengan siapa dan apa yang menelfon Jimin, aku tidak akan mencari tahu hal-hal bodoh yang sering membuatku stress sendiri. Begini lebih baik, aku menikmati hidup tanpa beban seperti ini.


Terlalu naive memang, tapi untuk sebentar saja, aku ingin merasakan kebahagiaan dalam hidupku. Berjalan di padang bunga, dengan ksatria berkuda yang selalu melindungiku.


Tidak perduli kalau didepan banyak anak panah menghalangi kami, setidaknya aku menikmati dimana aku berpijak saat ini.


Asik ga? Asik ga? Asiklaaaahh.


Buat generasi overthink, tuh udah di ingetin luna, jangan khawatirin chapter selanjutnya. Fokus aja sama saat sekarang, jangan takut bahagia cuma karena tau bakalan ngadepin masalah nanti. Enjoy aja. You only live once🤟🏼


Masalah makanan hamil ngarang plis jangan di praktekin, w gatau apa2 males gugling.


Yng penting dapet pointya kan wkwkwk


Jangan lupa vote review, follow ya yang belum follow! Gausah sungkan deh, seru temenan sm aku mah👍🏼