
Jimin menciumku kuat ketika kurasakan ia mulai mengejar puncaknya, ritme nya semakin kuat dan berantakan.
Aku salah tingkah sendiri ketika Jimin menjauhkan wajahnya dari wajahku, kemudian melihat kebawah kearah dimana bagian bawah kami saling bertaut.
Aku merasa diriku makin terdorong ke arah headboard ketika dorongan Jimin makin tak terkendali, aku tak ingin bangun dengan kepala benjol-benjol sehingga aku melingkarkan tanganku ke lehernya dan mengunci kakiku ke tubuh Jimin sebagai pegangan.
Namun ternyata gerakanku barusan menciptakan sensasi baru dan kami berdua sama-sama merasakannya. Jimin mendesis menatap wajahku seolah memergokiku berlaku curang.
Aku tak perduli, karena yang kurasakan hanyalah bagaimana puncakku yang kesekian kalinya akan datang, bersamaan dengan Jimin yang mendorong jauh menanamkan benihnya ke rahimku, pegangan tanganku pada leher Jimin terlepas.
Rasanya hangat sekali didalam sana, mengingat terakhir kali aku tak merasakan secara sadar bagaimana Jimin menumpahkan cairannya didalam tubuhku, kali ini rasanya aneh, apalagi ketika Jimin masih menggerakan tubuhnya dengan perlahan seolah ingin meratakan seluruh bagian yang belum terjamah cairannya.
"Sshhh, tidak apa-apa, aku akan memelukmu." Bisik Jimin ketika mataku sudah sayu terkelip-kelip, berusaha keras mencoba tetap membuka mata karna merasa Jimin belum usai, masih berada didalamku.
Aku tak tahu aku terlelap jam berapa malam itu, yang kutahu tidurku tidak pernah senyenyak ini setelah aku pindah ke Tiongkok.
Disaat seharusnya aku bersiap untuk menyambut kedatangan Jisung kesini, Jimin malah membuatku tak tidur sampai dini hari dan bangun kesiangan,
itupun aku terbangun karena suara berisik dari luar pintu kamar kami yang tertutup.
Sayup-sayup, aku mendengar suara orang ngobrol bersahutan di luar ruangan.
'Dimana Luna? Aku ingin bertemu dengannya!'
Yatuhan, suara Jisung!
Aku langsung membuka kelopak mataku ketika mendengar Jisung berbicara dengan nada ngeyelnya yang khas.
'Kau tak bisa masuk kesitu, ia sedang tidur.' Jawab Jimin, jelas sekali dari suaranya kalau ia mencoba sabar menghadapi si tengil yang ia wanti-wanti akan mengganggu kehidupan tenangnya.
Menyadari kalau aku belum mengenakan pakaian dan hanya bertutupkan selimut membuatku panik, terlebih aku tak menemukan bajuku dimanapun.
'Memangnya kenapa kalau dia tidur? Dia juga biasa tidur dikamarku sampai ileran!'
Bocah ini sok polos atau bagaimana sih.
'Apa katamu?!'
Jimin sudah naik pitam dan aku harus segera keluar. Aku meloncat bergegas ke kamar mandi, berusaha menemukan bathrobe Jimin yang panjang sehingga menutupi tubuhku seutuhnya, aku juga mencuci mukaku dan membalut rambutku dengan handuk kecil agar terlihat seperti orang habis mandi.
Tepat waktu ketika aku membuka pintu dan mataku terhalang oleh punggung telanjang Jimin yang menghadang pintu, tegak berhadapan dengan Jisung yang mencoba melewatinya untuk menerobos masuk.
"Ada apa ribut-ribut? Aku baru selesai mandi." Ucapku pada mereka yang bertegangan urat leher.
Jimin hanya mengenakan celana pendeknya sedangkan Jisung mengenakan baju lengkap dan koper yang ia letakan di dekat meja ruang tengah.
"Anak ini menolak pergi ke hotel dan menerobos masuk kesini." Tunjuk Jimin kearah Jisung.
Betapa aku rindu sibadung Jisung yang menyebalkan ini.
"Yaampun... sini Jisung-ku, astaga kasihan sekali, bagaimana kakakmu bisa berlaku sejahat itu padamu." Ucapku mengiba-iba berjalan mengulurkan tangan pada Jisung.
Jisung menyambut pelukanku dan bersandar di pundakku seperti anak kucing, aku mengelus kepalanya sembari diam-diam menoleh ke arah Jimin dan menjelitinya agar ia mengikuti cara mainku.
"Luna, aku sangat merindukanmu..." Jisung terisak di pelukanku.
"Bayi ku Jisung ku astaga aku juga merindukanmu, aku minta maaf belum sempat menjengukmu disana, maafkan aku." Aku menepuk-nepuk punggung Jisung agar ia segera berhenti menjadi super emosional dan kembali menjadi Jisung yang mukanya memancing untuk dipukul.
Kami masih saling berpelukan ketik Jimin berjalan mendekat,
"Ekhem!" Tak satupun dari kami yang menoleh ketika ia pura-pura batuk.
"Kau harus biasakan untuk memanggilnya dengan sebutan kakak sekarang. Dia itu istri kakakmu." Kata Jimin sambil menarik kerah baju Jisung dari belakang, memaksa kami melepaskan adegan haru biru penuh kerinduan itu.
"Kau urus saja dada montokmu itu, jangan mengatur ku!" Jawab Jisung savage, hampir membuatku menyemburkan tawa.
"Benar, setidaknya pakai baju agar tidak mengumbar badan sembarangan." Aku menimpali komentar Jisung.
Aku merasa puas bisa menjahili Jimin dengan cara bersekutu dengan Jisung, rasanya lucu sekali melihat ada orang yang berani membantah perintah Jimin dengan kurang ajar.
Kesabaran Jimin pasti sudah habis ketika dia merangkul Jisung dengan kuat dan membuatnya keluar dari pintu penthouse,
"Ayo olahraga di hari libur ini, aku ingin main basket dibawah. Kau duluan kesana." Ucap Jimin yangkemudian menutup pintu tepat di muka Jisung, tak perduli Jisung menggedor-gedor dengan kencang dari luar.
Jimin lalu berjalan dengan cepat kearah walk in closet sembari menoleh singkat kepadaku dan berkata,
"Kau cepatlah mandi dan berganti baju selagi aku mengalihkan perhatian Jisung, telfon aku kalau sarapan sudah selesai."
Aku tertawa kecil, menyaksikan Jimin berganti pakaian dalam waktu kurang dari satu menit kemudian bergegas keluar pintu dan mendapati Jisung masih duduk disana seperti anak terbuang.
"Kenapa kau masih disini, aku menyuruhmu pergi duluan kesana..."
Setelahnya aku tak mendengar apapun lagi ketika Jimin menutup pintu dan pergi bersama Jisung menuju lapangan basket dibawah.
Aku tahu Jimin lelah, kami sama-sama bergadang semalam, terlebih lagi dia yang banyak berkerja, aku saja yang kerjanya hanya menikmati terasa capek, apalagi dia.
Tapi sosok Jimin memang kakak yang baik, (terlepas dari dia mengusir Jisung ke hotel) Dia tahu Jisung suka olahraga, dan dia tahu benar Jisung merindukan kegiatan olahraga bersamanya.
Jujur saja aku bahkan tak kepikiran kalau cara menghibur Jisung itu adalah dengan mengajaknya olahraga bersama.
Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktuku untuk Jisung dan segera bergegas berbenah diri, kali ini aku akan memasak untuk 3 porsi. Satu untukku dan 2 untuk para laki-laki tampanku yang sedang olahraga dibawah...