Brave Things

Brave Things
Part 28 Wish It was Dream



Akhirnya rasa penasaranku selama ini terjawab sudah, bahkan saat aku tidak mencari tahu dan tidak ingin tahu kebenarannya.


Ada rasa sedikit menyesal kenapa aku membiarkan diriku sadar sejauh ini.


Kalau bisa, aku akan memilih untuk tidak mengetahui semuanya daripada membiarkan hatiku hancur lebur. Atau, mungkin keadaanku akan jauh lebih baik bila ternyata kenyataanya Jimin yang menyakiti Anna, atau Jimin ternyata bukan orang baik. Mungkin aku akan jauh lebih bisa menerima kenyataan yang seperti itu.


Namun fakta Jimin yang terlalu mencintai Anna, dan hanya menjadikanku sekedar media pembalasan dendam, rasanya kelewat sadis.


Maksutku, lihat aku,


Aku benar-benar mencintainya dengan seluruh hidupku. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku menggantungkan hidupku sedalam ini, sampai bertemu dengannya.


Kenapa ya?


Apa aku berbuat sesuatu kesalahan di hidupku yang sebelumnya sampai Tuhan menghukumku separah ini?


Menurutku aku pantas mendapatkan takdir yang lebih baik dari ini, tapi kenapa Tuhan malah memberiku penderitaan yang tak berujung?


Aku, seumur hidup ulang tahunku tak pernah dirayakan, hanya karna aku punya orang tua yang masih menganggap anak lelaki lebih superior daripada anak perempuan. Adik lelakiku yang terdidik dengan cara yang salah, menjadi sampah masyarakat dan kriminal bejat tidak tahu diri.


Aku pintar, tapi tak pernah dapat satupun pujian dari kedua orang-tuaku. Saat aku menang olimpiade matematika dan akan dikirim keluar negeri, orang tuaku melarang, dengan alasan aku harus membantu dirumah untuk mengurus adik-adik saat mereka berkerja.


Hidup ini tidak pernah tentangku. Selalu tentang adik, adik dan adik.


Saat aku menikah dengan Jimin pun, masih harus mengurusnya di pusat rehabilitasi dengan uang suamiku.


Dan sekarang kutemukan kenyataan kalau aku menikahi pria, yang mempunyai dendam dengan mereka, bertindak sangat jauh sampai menyeretku kedalam semua ini.


Aku tahu bukan posisiku untuk mengatakan semua ini berlebihan, ketika perbuatan adikku memang bengis, bahkan sampai menghilangkan nyawa perempuan yang Jimin cintai.


Maksutku, tindakannya agak keliru untuk menyertakanku dalam misi balas dendamnya.


Untuk apa menikahiku? apa dia pikir adik-adikku akan ketakutan kalau dia menyiksaku selama menjalani pernikahan?


Apa dia pikir orang tuaku akan takut aku disakiti? sementara selama ini aku di pelihara dirumah hanya untuk menjadi pengurus anak laki-laki mereka?


Park Jimin,


Kau menyakiti wanita yang salah,


Kau harusnya sadar dengan kesungguhanku, ceritakan kelakuan busuk adikku, dan aku akan dengan senang hati menembak kepala keduanya dengan tanganku sendiri, demi menjaga tanganmu tetap bersih.


Katakan padaku, nyawa mana yang ingin kau ambil dari keluarga tak bermoral ini, dan aku akan percaya kata-katamu,


Kenapa repot-repot merahasiakannya, dan menghabiskan uangmu hanya untuk membiarkan dua anak tolol menikmati hari di rumah sakit? saat seharusnya mereka meringkuk di ruang bawah tanah markas orang suruhanmu, babak belur dipukuli sampai sekarat.


Park Jimin, aku memang merasa bersalah, namun aku juga merasa tersakiti.


Aku kira pagi dan malam yang telah kita lewati, berarti sesuatu untukmu.


Aku tidak tahu kalau kau pembunuh berdarah dingin, membiarkanku jatuh bertekuk lutut dihadapanmu, untuk kemudian kau hancurkan satu keluarga.


Park Jimin, cinta pertamaku, ayah dari janinku, kebahagiaanku,


Kalau memang ini yang kau inginkan, tentu kau akan mendapatkannya.


Lagipula tidak ada alasan untuk aku menjauh darimu, ketika satu-satunya alasanku untuk bertahan hidup saat ini adalah untuk bersamamu.


Juga aku tak yakin bisa melarikan diri darimu dengan mulus tanpa kau ketahui, aku tidak sekeren dan sehebat dirimu.


Jadi, aku hanya akan terus hadir disisimu, sampai kau memutuskan untuk mengakhiri semuanya.


Dan saat hari itu tiba, aku akan berterimakasih sudah di perbolehkan menjadi orang yang pernah mengisi hari-harimu.


Pria dengan setelan serba hitam itu berlari seperti orang kerasukan, membuka pintu rumah kecil yang ia beli untuk mertuanya sendiri selama berada disini.


Jantungnya berdegup cepat memindai sosok yang ia cari, hanya untuk menemukan perempuan itu menyambutnya dengan senyuman, disela kegiatannya melipati baju milik ibunya yang menggunung diatas kursi.


"Kenapa lari-lari seperti itu? pemakamannya sudah selesai?" Tanya Luna selembut beludru, suaranya tak berubah, tak menunjukkan tanda bahwa telah terjadi apapun seperti apa yang Jimin cemaskan.


Luna memandangi dengan bingung sosok tegap yang tadi tercekat di pintu masuk, sekarang berjalan pelan mendekatinya dengan tatapan kosong.


"Kenapa, Jim?" Nadanya begitu khawatir, memindai raut pucat Jimin dengan empati. Ia sempat menyingkirkan beberapa helai pakaian disampingnya yang belum sempat ia rapihkan, memberi ruang untuk Jimin duduk.


Tidak ada satupun kata yang keluar dari bibir suaminya,


Ia sekedar menuruti Luna yang menepuk sisi kirinya, mengisyaratkan untuk duduk disana. Alih-alih duduk, ia justru mendekap Luna erat, menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher wanita yang selalu setia menunggunya pulang dengan sabar.


"Anna akan ikut bersedih melihatmu begini, Jim. Ikhlaskan kepergiannya, ya?" Tangan Luna menepuk punggung Jimin pelan.


Sayangnya dia terlalu berlarut, hingga tak menyadari Jimin menggeleng pilu, menyesali Luna yang tak mengerti hal yang membuatnya gelisah, sebenarnya bukanlah itu.


"Kau disini..."


"Tentu saja, memangnya aku kemana?"


Sulit untuk memercayai bagaimana senyuman itu tidak pernah luntur dari raut istrinya ketika mereka berpandangan. Senyum itu seolah ingin menyalurkan kekuatan pada perasaan Jimin yang kacau.


Kalau dipikir lagi, Jimin sadar bahwa dia tidak pernah pantas mendapat senyum setulus ini, tidak setelah ia memulai semua ini dengan niat berbeda.


Jimin merasa begitu egois menempatkan istrinya dalam posisi berbahaya, bahkan membiarkan wanita itu hamil dengan anaknya.


Harusnya tidak perlu sejauh ini, harusnya dia konsisten dengan rencana awal.


"Kau sudah kerumah sakit tadi." Terdengar nada gelisah dalam kalimatnya.


Namun segera terbantahkan ketika Luna memandanginya dengan bingung, "Iya, kan aku kirim pesan kepadamu. Aku bertengkar dengan ibu."


"Kenapa?"


"Geunyang, ibu minta uang dan aku tidak punya. Dia bilang ingin membawaku bertemu adik-adik tapi aku menolak, jadi dia merampas tas baru yang kau belikan untukku."


Ini memang bukan posisinya untuk bernafas lega, tapi tetap, sedikit membuat kecemasan Jimin mereda.


"Kau belum bertemu adikmu?"


Luna mengangguk,


"Apa kau marah karena aku kehilangan tas nya?"


Rasanya konyol sekali mendengar hal apa yang Luna cemaskan, dibanding dengan masalah sebenarnya yang ia hadapi. Jimin sampai tak kuasa menahan seringai sinis tak ketara, segera dia gantikan dengan sebuah senyum palsu nan manis.


"Tidak sayang, lagipula warnanya tidak cocok untuk kulit pucatmu. Akan kubelikan yang baru nanti." Tatapannya begitu memanjakan, tatapan yang hanya ia beri kepada Luna.


Ia sungguh tak siap, menghadapi terjangan istrinya yang tiba-tiba kembali memeluknya erat.


Keduanya terjatuh diatas sofa kecil itu, sempat khawatir dengan perut Luna, takut terhimpit, namun istrinya sudah siaga bertumpu dengan lutut sebelum menjatuhkan diri sepenuhnya pada dekapan Jimin.


Lagi, perasaan bersalah itu datang lagi setelah melihat Luna terlihat begitu lega, hanya karena  sebuah tas. Saat harusnya wanita itu mengkhawatirkan nyawa ketimbang mengkhawatirkan tas tak berguna itu.


Tangan Jimin tergerak pelan, mengelus puncak kepala perempuan yang hampir satu tahun menemaninya, walau dalam kesunyian, dan dalam kegelapan.


Perempuan yang rela mendengarkan omong kosongnya, rela mengandung benihnya, bahkan rela menghabiskan hari-hari dalam kurungannya.


Luna tidak akan lolos semudah itu.