Brave Things

Brave Things
Part 1 How Its Started



"Kau suka yang mana?"


"Mana saja."


"Bagaimana kalau yang ini?"


"Iya aku setuju." Jawab Jimin tanpa menoleh dari ponselnya. Dia memang sangat sibuk karena baru pulang dari China dan langsung menemaniku fitting baju pernikahan.


Sebenarnya aku sudah bilang kalau aku akan pergi berdua dengan ibuku saja, tapi Jimin bersikeras ingin hadir, mungkin dia masih merasa bersalah karena sudah menyeretku sampai sejauh ini.


H-10 pernikahan ku dan Jimin, semua urusan sudah ditangani oleh vendor terkemuka. Kerjaanku hanya bersolek, mengikuti rangkaian perawatan kecantikan, memilih baju dan perhiasan, tapi tetap saja aku sulit tidur.


Apakah ini keputusan yang tepat?


.


.


.


Hari itu, hari yang merubah takdir ku secara besar-besaran. Ketika aku bertemu Jimin pertama kali di meja makan keluarga ini.


Aku memang di perkerjakan oleh ibu Jimin untuk mengajar kalkulus adiknya.


Selama 4 bulan mengajar tak sekalipun aku melihat Jimin, kecuali dari bingkai foto keluarga di ruang tengah, yang menunjukan foto Jimin menggunakan baju wisuda dari Universitas Stanford.


Aku dengar dari ibunya, sekarang dia sedang mengembangkan bisnis di China, pulangnya bisa setahun 2-3x saja.


Adik jimin laki-laki, sangat manja kepadaku. Jisung anak yang cukup pintar, tapi sering tidak mood untuk belajar. Ibu Jimin sulit mencari guru les untuk Jisung karena kebanyakan guru les profesional tidak mau menghadapi attitude bocah puber yang moodswing, maunya mengajar anak yang sudah pintar dari awal. Kalau aku sih sudah terbiasa. Aku punya 2 adik yang sedang masa puber juga. Aku sering dipukuli malah.


Sore itu Jisung sedang tidak mau belajar sama sekali, tapi aku sudah jauh-jauh sampai ke mansion mereka yang terletak di pinggiran kota ini. Setidaknya aku menghabiskan waktu 3 jam disini untuk mengajarnya.


Jisung membuatku menemaninya main basket, catur, sampai badminton.


Di dalam rumahnya sedang agak heboh karna katanya Jimin akan pulang setelah setengah tahun belum pulang, ibunya memasak banyak makanan dan menahanku pulang agar ikut makan malam bersama.


Sambil mengeringkan keringat, aku dan Jisung mengobrol kecil, Jisung bilang dia mau belajar asalkan nanti sehabis makan malam.


Mau tidak mau aku akan pulang jam 10 malam lagi.


Kami sedang beres-beres bola dan net ketika ibu Jimin memanggil untuk masuk dan berbersih, aku disuruh mandi karena dari sore bermain diluar ruangan bersama Jisung.


Ibu Jimin ramping sekali, beliau meminjamkan aku baju selepas aku mandi dan baju terusan itu jadi ketat di badanku. 4 bulan bersama Jisung membuat aku ikut makan seperti bocah puber, kurasa aku naik sekitar 5 kilo.


Jimin sepertinya telat dari perkiraan datang, kurasa macet perjalanan di tengah kota menuju sini. Ibunya jadi sempat menata bunga, memvakum karpet sampai menata rambutku. Rambutku ditata dengan cantik sampai ditusuk bunga-bunga, aku jadi seperti bocah sd yang bermain jadi bidadari bidadarian. Efek tidak punya anak perempuan membuat ibu Jimin sangat hangat kepadaku, apalagi aku bisa menghandle anak bungsunya yang badung ini.


Tak berapa lama alarm mobil dikunci terdengar dan ibu Jimin berhambur keluar,


Aku melihat jimin datang dengan celana pendek krem dan kemeja putih lengan panjang yang digulung, lebih cocok dia menjadi idol daripada pengusaha, dia menyianyiakan wajah tampannya untuk belajar keras sampai kuliah ke Standford.


Ibu Jimin menuntun anak kesayangannya itu ke meja makan, menggandengnya dari depan pintu sampai kemeja makan, aku dan Jisung berpandangan seolah mengerti isyarat 'kau lihat kan bagaimana overactingnya ibuku'


Jimin menyapa Jisung ketika ibunya sudah melepaskannya dan beralih menyiapkan makanan, "Aku membelikanmu bass listrik, harusnya sampai besok pagi."


"Kau yang terbaik." Jawab Jisung santai. Mereka tampak dekat dan saling menyayangi walaupun cuek dan tidak terlalu banyak ngobrol, mereka tipe orang yang tidak canggung kalau suasana hening ketika duduk berdua.


"Siapa gadis yang menemanimu ini?" Tanyanya sambil tersenyum kearahku, jisung? Tak sedikitpun beralih dari psp nya.


Akhirnya aku mengenalkan diri sendiri, menunggu Jisung aku bisa lumutan dan berjamur karena tidak ada gerak gerik dia akan mengenalkankunpada kakaknya, aku mengulurkan tangan untuk berjabat,


"Saya Luna, guru les Jisung."


"Kamu sekolah dimana?" Tanyanya.


Yang benar saja? Badanku bongsor seperti ini dan dia menganggap aku masih sekolah?


"Aku sudah kuliah, lagi skripsi malah." Jawabku, dia tampak terkejut.


"Ah, maaf, kukira kau hanya beda beberapa tahun dari Jisung, wajahmu cukup muda." Mungkin karena aku sangat dekat dengan adiknya jadi dia merasa aku bocah juga.


"Kuliah dimana?" Lanjutnya.


"Yonsei." Baru kali ini aku merasa rendah diri ketika menyebut nama kampusku, itu karena aku berhadapan dengan alumni stanford, kampus ivy league dunia yang sesungguhnya.


"Menurutmu Jisung bisa masuk Yonsei?" Tanyanya penuh harap, Jisung bocah yang beruntung. Kakak, ayah dan ibunya sesungguhnya sangat perhatian dengannya, dianya saja yang sering keras kepala, kalau tidak pasti dia akan banjir kasih sayang di keluarga ini.


Dengan kemampuan Jisung sebenarnya aku percaya dia bisa masuk universitas bagus, tapi dengan kemalasannya aku ragu dia bisa mempelajari soal sat nya, "aku akan berusaha sebaik mungkin." Jawaban paling aman yang bisa kulontarkan pada sosok kakak yang ingin adiknya masuk universitas bagus, setidaknya di Korea.


Usai makan malam, aku mengajari Jisung matematika diawasi oleh Jimin di ruang tv. Dia duduk disana bermain laptop, tapi telinganya dengar semua yang kami katakan.


Sesekali dia mengetes ingatan Jisung tentang teori rumus yang kuajarkan dengan cara tiba-tiba menanyakan pertanyaan terkait yang kuajarkan ke Jisung.


Aku yang malah harap-harap cemas, berharap Jisung bisa menjawab pertanyaan Jimin secara lugas. Posisi Jisung yang membelakangi Jimin, dan aku menghadap Jimin membuatku dapat melihat ekspresi tersenyumnya ketika Jisung dapat menjawab pertanyaanya, walaupun sambil tetap fokus pada laptop.


Malam itu mengajari Jisung tidak pernah sesemangat malam sebelumnya.


Selesai mengajar, Jimin mengatakan akan mengantarku ke rumah sekalian dia akan menemui temannya di kota.


Memang sudah jam 10.30, kasihan adikku jika kusuruh jemput tengah malam begini.


Jimin berganti pakaian dari pakaian rumahan, menjadi pakaian idol rockstar. Aku terpesona melihatnya menggunakan celana robek-robek dan jaket kulitnya. Aku tidak membayangkan manusia setampan ini sangat sempurna.


Dia mapan, perkerja keras, family-oriented, sopan dan lemah lembut. Siapapun yang menikahinya benar-benar menang lotre.


Dan wanita itu adalah aku.


Jimin memintaku datang sebagai pasangannya ke acara galang dana dan memperkenalkan aku sebagai tunangannya.


Sebagai anak laki-laki pertama, keluarga besar Jimin khawatir dengan dia yang lama menetap di China. Mereka khawatir Jimin menikah bukan dengan orang Korea melainkan orang China,


Hal itu memang sudah jadi aturan tak tertulis kalau anak laki-laki pertama tidak boleh menikah dengan perempuan yang bukan orang korea, keluarga Jimin sendiri adalah salah satu yang masih mempertahankan tradisi tersebut.


Kukira itu hanya sandiwara sementara agar aku berakting menjadi tunangan Jimin, sampai akhirnya Jimin berlutut dihadapanku, memintaku jadi istrinya sesegera mungkin dan menginginkanku ikut pindah ke China.


Masih ingat jelas di ingatanku bagaimana ibu Jimin memohon dengan rendah hati di ruang tempat aku biasa mengajar Jisung untuk menjadi istri Jimin dan menemaninya di China.


Aku memang sempat menolak permintaan Jimin yang super gila itu, Jimin mungkin menceritakan kepada ibunya kalau lamarannya aku tolak. Aku bahkan masih kuliah saat itu. Tapi ikhtiar orang tua tetap saja ingin anaknya mendapatkan apa yang diinginkan.


Entah apa yang menggoyahkan hatiku ketika Jisung bilang, 'aku tak pernah lihat Jimin seperti itu, aku turut prihatin cintanya bertepuk sebelah tangan' ekspresinya cuek sekali tapi secara tidak sadar Jisung lah yang membuatku menerima lamaran ini.


Jisung lah yang membuatku cuti kuliah, ikut kelas memasak, menata bunga dan lainnya. Aku benar-benar menjadi tunangan Jimin dalam waktu singkat.


Aku tersadar dari lamunanku ketika Jimin mencoba tuxedo nya dan langsung setuju di percobaan pertama. Ya memangsih setelan apapun di tubuhnya yang atletis akan tampak bagus.


Tapi aku merasa Jimin hanya ingin cepat-cepat menikah, lalu berangkat ke China tanpa pusing mendengar rongrongan keluarga besarnya lagi.


Mau mundur pun sudah terlambat, undangan sudah tercetak siap disebarkan, aku juga tidak punya nyali untuk membatalkan ini semua, tidak bisa membayangkan berapa orang yang marah padaku kalau aku batalkan pernikahan ini.


Satu-satunya harapanku adalah aku harus bisa membuat Jimin jatuh cinta padaku, setidaknya memandangku dan menghargaiku.


Aku tidak akan meninggalkan seluruh duniaku di korea untuk diperlakukan seperti orang asing dengan suamiku sendiri kelak.