Brave Things

Brave Things
Part 11 Cloudy Dream



Butuh waktu kurang lebih 6 jam perjalanan darat dari Canberra untuk menuju pusat rehabilitasi tempat kedua adikku dirawat.


Hal itulah yang menyebabkan kami tidak langsung menemui ibuku ketika mendarat di Australi 3 hari yang lalu,


Jimin bilang, ibu menyewa rumah kecil di daerah Victoria agar bisa terus memantau keadaan adikku di rumah sakit, bolak-balik menjenguk mereka walau sampai sekarang belum ada perubahan signifikan setelah hampir 3 bulan dirawat.


Ibu meninggalkan barang-barang tersier nya di salah satu villa keluarga Jimin di Melbourne, dan hidup sederhana di rumah kontrakannya yang sederhana pula. Rumahnya di Victoria sangat kecil, tidak memungkinkan untuk kami tumpangi.


Yah, tentu ada alasan lain, dia bilang ingin sedikit menghabiskan waktu denganku disini, seperti bulan madu, walaupun kenyataannya kami disini untuk hal lain.


Aku sendiri menolak untuk menganggap ini bulan madu, karena ini perjalanan paling tidak menenangkan yang aku pernah alami seumur hidupku.


Yang pertama, kami meninggalkan Jisung dengan Hanji, walaupun Jimin sudah berkali-kali menenangkanku dan mengatakan kalau Jisung akan baik-baik saja, entah kenapa aku masih mengkhawatirkannya.


Kemudian aku juga gelisah karena akan menemui ibuku secara mendadak, ia tidak tahu aku akan ikut, mungkin ia mengira hanya Jimin sendirian yang akan datang berkunjung. Aku tak tahu bagaimana reaksinya apabila menyadari aku ikut kesana. Ibu mendidikku cukup keras, makanya walaupun aku sudah menikah, aku tetap sedikit waspada takut dimarahi ibu.


Yang terakhir, aku akan bertemu dengan mantan kekasih Jimin.


Aku sebenarnya tidak pernah membahas tentang ini pada Jimin, walaupun Jackson memberitahuku setitik kabar tentangnya padaku.


Kurasa Jimin sendiri yang mencaritahu tentang apa saja yang diceritakan Jackson denganku saat dia memergoki kami di bar milik Jackson tempo hari.


Jujur, aku agak tertekan dan gelisah. Ingin segera mengakhiri tujuan perjalanan ini dan kembali ke Beijing dengan tentram. Tapi Jimin tampaknya tidak ada masalah, ia terlihat menikmati keadaan ini, dia bahkan ingin menambah hari di hotel yang kami tempati di Canberra.


"1 atau 2 hari lagi tidak masalah Luna-yah, mereka tidak akan kemana-mana. Tidakkah kau suka berada disini bersamaku hm? Tanpa gangguan..."


Aku memutar mata mendengar ucapannya. Aku tahu, dia menikmati hubungan suami istri kami disini yang sangat intim, tanpa gangguan Jisung, tanpa ia yang harus berkerja, tanpa aku yang harus memasak atau bersih-bersih rumah.


Bahkan dihari ketiga pun kami tidak keluar kamar sama sekali kecuali untuk turun sarapan dan membiarkan kamar kami di bersihkan oleh petugas hotel. Makan siang sampai makan malam kami lakukan dikamar, sampai rasanya mungkin kewanitaanku lecet karena digempur tanpa henti.


"Aku hanya tidak ingin gelisah berlama-lama, kalau segera bertemu mereka, kita bebas mau berlama-lama dimanapun dinegara ini." Jawabku padanya.


Toh di Beijing pun aku selalu melayaninya kapanpun dia mau, dia bersikap seolah-olah ini kesempatan terakhir kami untuk bercinta.


Namun akhirnya, walau dengan berdecak tak suka, Jimin tetap menurutiku dan bersiap memesan mobil untuk kami kendarai menuju Victoria.


6 jam perjalanan kami lalui dengan Jimin yang menyetir seorang diri, aku merasa bersalah karena tidak bisa membantunya untuk bergantian menyetir, jadinya tidak bisa membawa diriku untuk terlelap barang sedetik. Padahal Jimin sudah berkali-kali menyuruhku untuk memejamkan mata kalau aku merasa ngantuk.


Aku tentu saja mengantuk, aku tertidur jam 1 pagi setelah Jimin selesai menyudahi kegiatannya menjamahku malam tadi,


Kalau aku anemia, mungkin aku sudah masuk rumah sakit karena kurang istirahat demi melayani kebutuhan biologis suamiku sendiri disini.


Aku tidak mengerti kenapa Jimin tampak segar-segar saja, dia malah terlihat menikmati pemandangan sepanjang perjalanan asri yang kami lewati. Sementara aku minum kopi botol keduaku agar bisa menahan kantuk dan menemani Jimin mengobrol sepanjang perjalanan.


Kami langsung menuju ke rumah ibuku di Victoria sekalian menjemputnya untuk ke rumah sakit bersama.


Ibu bilang, dia hanya bisa memantau kedua adikku dari balik kaca pembatas, bahkan setelah tertangkap polisi dia tidak sempat berbicara dengan adikku sama sekali.


Yeon Jin dan Yeon Seok langsung dijemput oleh pihak rumah sakit suruhan Jimin dengan perawatan intensif sebagai korban candu narkoba, yang tujuan awalnya hanya agar terhindar dari hukuman berat sebagai pengedar narkoba.


Namun ternyata setelah diperiksa, kedua adikku benar-benar kecanduan hebat dan membutuhkan perawatan rehabilitasi intensif sungguhan, membuat ibu ikut pindah kesini untuk terus memantau mereka, sesekali ibu memasak untuk mereka makan agar tidak bosan dengan makanan rumah sakit.


Jimin mendanai semua kegiatan itu dalam diam, aku saja baru tahu setelah ibu ceritakan dengan lengkap padaku. Sedikit malu juga pada Jimin, dia telah benar-benar berjasa pada keluargaku dan aku malah bermain dengan kesabarannya tempo hari.


Ketika sampai di pusat rehabilitasi dan perawatan jiwa terbesar di Asia ini, Ibu meminta kami untuk duluan pergi melihat adikku karena ia harus pergi membagikan makanan yang telah ia siapkan pada petugas kesehatan yang berjaga di bangsal adikku hari itu. Membuat kami berpikir, ada baiknya kami pergi duluan untuk menjenguk mantan kekasih Jimin yang kemarin ia ceritakan.


Jaraknya cukup jauh memutar kembali dari tempat adikku, sekitar 4 blok dipisahkan berbagai tangga dan taman.


Putar balik sejauh itu hanya untuk membuktikan bahwa Mantan kekasihnya, Anna, benar-benar gila sungguhan, tidak di rekayasa perawatannya hanya agar Jimin lolos di meja sidang.


Padahal aku sudah tidak mempersalahkan hal ini lagi, tapi dia benar-benar membawaku masuk kedalam kamar Anna, melihat bagaimana gadis itu menatap kedatangan kami dengan tatapan kosong, tangan kanannya menggendong boneka seperi menggendong bayi, sedangkan tangan kirinya terinfus dan dililit perban di bagian lengan atas.


Gadis ini babak belur.


Kami masuk ditemani dengan dokter yang menjelaskan bagaimana keadaan Anna, Jimin mengobrol dengan serius karena dia juga yang bertanggung jawab dengan keadaan Anna di rumah sakit ini.


Dokter menjelaskan bagaimana pihak rumah sakit harus semakin menambahkan dosis pada obat yang diberikkan pada Anna agar ia tidak terus berusaha melukai dirinya sendiri.


Wanita secantik ini, melukai wajahnya yang sempurna karena membenci tampilannya di kaca.


Aku masih bisa melihat dengan jelas, walau dibalik lebam dan tidak terawat wajah itu, perempuan ini pernah menjadi sangat cantik.


Pipinya tirus dengan tulang pipi yang tinggi, hidungnya mancung, garis alis yang tinggi, bibir mungil dengan mata yang tajam. Jauh berbeda dibandingkan struktur wajahku yang sedikit gembul.


Jimin membawaku mendekat dengan Anna,


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Jimin pada Anna, tidak melepaskan rangkulannya pada pinggangku.