
Sialnya, hal ini malah terlihat menarik dimata lelaki itu. Semakin ingin menggoda Luna, ingin membuatnya khawatir lebih dalam.
"Kenapa?" Tanya Jimin, tersenyum dihadapan wajahnya.
"Ugh, masa diluar sih?"
"Iya kenapa memangnya? Kan dimana saja bisa."
"Malu,"
Jimin semakin tertawa, mencium dahi Luna sekilas dan membawa perempuan itu dalam pelukannya.
"Iya tidak kok. Bisa-bisa Ben mati ditanganku kalau dia kepergok menonton kita."
Mustahil Bennedict bisa menonton. Karna hal yang harus dilakukan lelaki itu sudah sangat banyak. Penuh kesibukan.
Ditambah sikapnya yang tahu menempatkan diri. Sudah diperingatkan oleh tuannya untuk tidak menikmati memandang Luna lebih lama dari seharusnya.
Ben lebih suka menghabiskan waktu di kebun, dapur atau kamarnya.
Membiarkan Jimin dan Luna memiliki seluruh villa untuk diri mereka sendiri.
Sebenarnya Luna sadar hal ini. Luna sadar bagaimana Hanji selalu siaga di luar rumah, dengan senapan panjang yang tergeletak disekitarnya.
Sadar bagaimana Ben tidak pernah berlama-lama dan selalu meninggalkan Jimin berduaan dengan Luna.
Sadar pula bagaimana Jimin tidak pernah meninggalkannya barang sedetik. Bahkan disaat mengerjakan perkerjaan kantor, Luna tetap berada disana, dipangkuannya.
"Kau capek?"
Luna mengangguk. Tubuhnya sakit karna ia paksa meringkuk dalam pangkuang suami, yang terus mengerjakan diagram dan garis dalam bahasa yang Luna tidak mengerti.
"Perutku kram."
Tinggal menunggu hari. Kandungannya akan segera berkontraksi.
Seluruh sikap manja Luna benar-benar Jimin respon dengan tanggap. Takut terjadi apa-apa disaat mereka tidak punya fasilitas medis secanggih rumah sakit.
Tanpa tunggu lama lagi, Jimin mengangkat tubuh Luna untuk dibaringkan pada ranjang mereka, menyesal telah menuruti keinginan Luna yang ingin ikut duduk dipangkuannya, menemaninya berkerja.
"Besok-besok, aku tunggu kau tidur dulu baru berkerja." Omel Jimin pelan.
Tangannya meraih selimut untuk menutupi kaki Luna yang hanya terbalut celana satin pendek,
"Kakimu lebam-lebam lagi."
Sejak hamil tua, banyak keluhan tentang kaki yang Luna rasakan. Mungkin satu-satunya kesulitan yang Luna rasakan pada tubuhnya saat mengandung hanyalah sakit kaki. Sakit perut nya hanya sesekali.
"Ah benarkah?" Luna ingin mengangkat kepala, memeriksa apa yang Jimin beritakan barusan kepadanya.
"Aw!"
Luna berteriak memegang perut.
Gerakan mendadaknya saat mengangkat kepala, secara tidak sengaja merangsang kontraksi pada kandungan, yang memang sudah hampir menuju tanggal. Sejak tadi memang sudah terasa tidak enak. Ditambah dengan tekanan saat dia mengangkat perut, jadi terasa semakin mulas.
"Apa yang kau lakukan?!" Sembur Jimin marah.
Ia berdiri menatap Luna nyalang, menghakimi gerakan yang wanita itu perbuat hingga berdesis kesakitan.
"Kau hampir menyakiti anakku!"
Jarak kamar mereka yang tidak jauh dari kamar Hanji, membuat sang asistan masuk secepat kilat tanpa izin pasangan ini.
Teriakan kesakitan Luna—yang terdengar berbeda dari teriakan saat melakukan kegiatan ****, memaksa jiwa protektif Hanji keluar.
"Mundur." Matanya kaget bukan main, ketika Hanji menodongkan pistol berpeluru ke wajahnya.
Tidak menyangka, Hanji akan senekat ini. Seloyal ini pada sang istri.
"Hanji!" Tegur Luna agak keras.
Tanpa menoleh sedikitpun pada yang memanggil, Hanji berusaha berjalan menyamping, perlahan mendekati ranjang.
Pandangannya fokus menatap kedua bola mata Jimin, membuat pria itu berjalan mundur. Apalagi Hanji terus fokus menggapai lokasi Luna tanpa mengendurkan posisi siaga pistolnya dari sang target.
"Kau berkhianat."
Hanji menggeleng. "Kau yang berkhianat. Kau bilang tidak akan menyakitinya."
"Aku tidak menyakitinya. Dia menyakiti dirinya sendiri, sekaligus anakku."
Hanji terkekeh sinis, "Sejak kapan itu hanya jadi anakmu? Saat aku menarik pelatuk ini, dia tidak akan pernah kenal seorang Park Jimin. Akan kubesarkan dia dengan margaku."
"Turunkan pistolmu, aku sedang tidak ingin bercanda."
Dorr!
Hanji menembakkan pelurunya ke keramik besar yang ada dikamar ini. Membuat Luna berteriak ketakutan.
"Hanji!"
"Apa yang kau lakukan tolol!"
Pasangan itu berteriak serentak.
Jimin berjalan mundur, menuruti kemauan Hanji. Tidak ingin karyawan gilanya melakukan sesuatu lebih nekat daripada ini.
"Tunggu diluar kamar, biarkan aku dan istrimu bicara antara wanita dan wanita."
Meski dengan cara yang tidak baik, Jimin tahu kalau saat ini ia meninggalkan Luna pada tangan yang tepat.
Tangan yang mampu menghentikan Jimin dari ketidak sengajaannya menyakitin Luna, lagi dan lagi.
Entah harus berterima kasih, atau harus memarahinya. Jimin tetap merasa terbantu karna telah disadarkan dari kebodohan emosi yang sempat menguasai pikirannya.
Kalau saja Hanji menggunakan cara yang tepat, mungkin saat ini Jimin tidak akan membuka ponselnya, dan segera merencanakan kedatangan 'another staff', menggantikan Hanji yang besok akan segera ia pulangkan.
Pendek. Iya emang pendek. Nulisnya aja cuma dua jam, nyelipin waktu.
Semoga usaha aku kali ini dihargai yah, beneran review isi tulisannya bukan komen pendek pendek doang.
Wkwkwk sensi bener nih, apalagi ngeditnya setengah mejem. Tolong pas aku bangun biarin aku baca review yang indah2. Oke?
Love you martabak manies keju special❤️🧀