Brave Things

Brave Things
Part 32 Her Beauty Soul



Silau cahaya mentari membangunkan sang tuan putri, yang telah tidur hampir 18 jam sejak terakhir diberi cairan khusus lewat selang khusus, masuk ke pembuluh darahnya.


Netranya berpendar kosong, meneliti keadaan sekitar yang terasa asing dan sulit dijelaskan. Bahkan aroma ruangan inipun begitu aneh, Linen. Tidak pernah ia hirup sebelumnya.


Kalau diingat lagi, hal terakhir yang menguncang emosinya adalah keputusan Hanji—asistannya, untuk mengangkat janin yang telah ia perjuangkan berkorban tenaga, sampai hati.


Itulah sebabnya hal yang pertama ia lakukan ketika bangun adalah memeluk area perut, yang untungnya masih disana, utuh. Buncit dengan rasa tegang dibeberapa bagian.


Mungkin perasaannya sudah kebal.


Menghadapi situasi mencekam seperti ini, sudah biasa ia hadapi tanpa mengeluh.


Sudah tertempa.


Walau agak cemas juga. Apalagi bangun dengan tubuh lemas, terasa agak tegang di beberapa bagian otot seperti leher, pundak dan panggul bawah. Tipikal kram otot saat lama tidak menggerakan badan.


Kalau seperti ini, bagaimana dia bisa membawa tubuhnya berjalan keluar?


Padahal pikirannya sudah tidak bisa terbendung. Ingin melihat apa yang ada dibalik pintu besar dan tinggi, yang memisahkan dirinya dalam ruangan ini.


"Bagaimana perasaanmu?"


Jimin.


Dia bersama Jimin disini. Artinya tidak akan ada yang bisa menyakitinya—kecuali Jimin sendiri.


Saat pria ini bertanya tentang perasaannya, Luna malah berfikir kata apa yang kira-kira ingin Jimin dengar. Bukan benar-benar mencari tahu apa yang dia rasakan.


Park Jimin still her number one priority!


Padahal, kemarin suaminya ini telah berhasil membuat tubuhnya jatuh, hilang kesadaran karena tidak kuat menerima banyak tekanan dari segala arah.


"Aku haus." Luna membawa diri untuk memberanikan diri menatapi sosok rupawan tersebut.


Sosok yang berjalan mendekat, dengan setelan santai rumahan. Kakinya dibalut slipper tipis berbahan bludru, alas kaki lembut karena berjalan di lantai tanpa penghangat.


Walau dalam hening, kedua pikiran dari dua manusia tersebut saling berkecamuk. Meminta keluar dari raga yang tidak bergeming, ataupun sekedar berniat membuka suara untuk menyuarakan segala pertanyaan yang bergema didalam pikiran masing-masing.


Hening pagi itu, sebenarnya ramai yang tidak disuarakan.


"Minum sedikit-sedikit dulu." Jimin menggantungkan gelas dengan sedotan didepan mulut istrinya.


Jimin bukan tidak mau, menghambur memeluk sosok yang terbaring lemah diranjang itu. Dia mau, sangat ingin malah.


Tapi menahan diri adalah pilihan paling tepat untuknya saat ini.


Wanita ini melalui banyak sekali rintangan, terutama setelah menyandang status sebagai istrinya.


Padahal ia menikahi Luna , agar gadis tak berdosa ini sulit tersentuh.


Andi Wang bahkan sudah mengancamnya. Menyenggol sisi protektif Jimin sedikit dengan mengirimkan istrinya, Meredith, ke tempat yang sama dengan tempat Luna belanja di Beijing.


Wanita seperti Meredith saja bisa dijadikan senjata di tangan pria tua penuh ambisi itu.


Mengerikan.


Jimin beralih menggerakan telapak tangannya, meraih surai Luna yang terhampar indah di bantal satin tempatnya berbaring.


"Kita dimana?"


Sama sekali tak pernah luput dengan senyuman, Jimin berusaha keras membangun ulang suasana hangat antara dirinya dan istri, yang sudah lama tidak terasa menenangkan lagi.


"Liburan."


"Liburan dimana? Australi?"


Jimin mengangkat kedua belah bahunya, enggan menjawab, malah kemudian beranjak dan membuka jendela besar diruangan mewah tempatnya tidur ini.


"Anggap saja kita sedang di Beijing. Anggap kita melalui musim panas lebih awal." jawabannya malah makin membuat Luna merasa jauh dari rumah. Sampai-sampai membuat Luna memaksa tubuhnya yang masih lemas untuk bangun. Memerhatikan Jimin yang sedang berdiri didepan jendela sembari menikmati hamparan pohon Maple di perkarangan belakang.


"Hanji dimana?"


"Hanji ada. Aku juga ada didepanmu, kenapa malah mencari Hanji." Ucap Jimin lembut.


Tiap Jimin menggunakan nada dan intonasi seperti itu, Luna langsung merasakan perasaan bersalah dengan instan.


Langsung merasa kalau dia telah melukai perasaan Jimin. Tidak sadar kalau sebenarnya, dialah yang telah berkali-kali dilukai.


"B-bukan begitu, aku hanya—"


"Ha! Gotcha! aku hanya bercanda." tertawanya indah sekali.


Seandainya laki-laki ini tidak penuh misteri, dan tidak dipenuhi ambisi... Seandainya laki-laki ini hanya sekedar tetangga dekat rumahnya, atau teman masa kecilnya, pasti, seratus persen Jimin akan jadi cinta masa kecil Luna.


"Kita sedang di villa ibuku, istirahat disini. Kau sendiri yang mengajakku berlibur karna ingin menghiburku setelah kepergian Anna, kan?"


Bohong.


Entah kenapa Jimin menjejalkan seluruh omong kosong itu pada istrinya. Semua jadi terdengar indah dan masuk akal. Jauh dengan kenyataan yang mereka alami.


Mereka ini sedang lari dari kenyataan atau apa?


"Aku yang mengajak?"


Jimin mengangguk pasti, "Iya. Kau juga yang menghubungi Hanji dan Jisung, tapi yang bisa ikut cuma Hanji. Kau lupa?"


Bukan lupa. Tapi hal itu memang tidak pernah terjadi.


Jelas-jelas tubuhnya dipindahkan dari negara satu ke negara lain dalam keadaan tidak sadar. Bagaimana pula dia bisa menghubungi orang-orang.


Yang ia ingat terakhir adalah, ia mengantarkan kepergian Ibu dan kedua adiknya dari rumah sakit.


Membiarkan mereka pergi dan meyakinkan mereka, kalau untuk kali inipun, tidak apa-apa dia yang mengorbankan diri lagi.


Asal keluarganya bisa selamat. Luna akan membayar kesalahan yang adiknya perbuat tanpa berusaha kabur. Sesakit apapun, akan ia tebus dengan lapang dada.


"Iya, aku lupa." jawab Luna apa adanya.


Sungguh, ia sampai merinding karna berfikir ada sesuatu yang salah dengan otaknya.


Dia berfikir bagaimana kalau ia yang diceritakan menghubungi Hanji dan Jisung itu, adalah dirinya yang sedang meminta pertolongan?


Kalau sampai Jimin menyadari semuanya, maka tidur Luna tidak akan nyenyak lagi mulai malam ini.


"Tidak apa. Kau mungkin kelelahan, aku mengerti." Jimin memakluminya dengan mudah. "Apa yang ingin kau lakukan hari ini?"


Luna makin termangu. Makin merasa ada yang tidak beres ketika Jimin seperti menempatkan Luna pada prioritas utamanya.


Jadi selama disini, Jimin akan membiarkannya melakukan apapun, sesuai keinginannya sendiri?


"Kita bisa melakukan apapun? kau tidak berkerja?"


Suaminya tersenyum dan mengangguk, "Disini ada banyak sekali tanaman. Tadi pagi aku sarapan dengan buah dari perkebunan belakang." jawabnya seolah tahu, apa hal yang paling disukai wanita itu.


Binar mata dan raut semangat dari perempuan itu, tidak pernah bisa berbohong. Dia suka tanaman, seperti wanita lain suka belanja. Bisa menghabiskan berjam-jam sendiri mengurus tanaman yang ia pelihara di penthouse.


"Bawa aku kesana sekarang." Luna segera menurunkan kakinya dari kasur, tidak perduli kalau kakinya sedikit goyah ketika dilangkahkan, sampai Jimin harus berlari menangkapnya yang limbung berpegangan pada kusen pintu.


Luna sempat berpikir, Jimin akan marah karna lagi-lagi memergoki dirinya bertindak ceroboh.


Tapi kali ini tidak. Wajah Jimin memang sempat mengeras ketika menangkap lengannya, tapi seketika raut itu sirna saat mendapati Luna meliriknya dengan tatapan takut-takut.


Seperti langsung menyesal.


"Pelan-pelan saja, kebunnya tidak akan kemana-mana."


Jimin membawa Luna keluar ruangan, meski kali ini harus ada tangan yang melingkar di pinggangnya, Luna tetap tersenyum bahagia karna mendapati Hanji yang terlihat sedang mengerjakan sesuatu di pekarangan belakang.


Sempat ingin berjalan kearah sana, namun tangan Jimin yang kokoh berada di pinggang wanita itu, mengarahkannya pada tujuan lain,