Brave Things

Brave Things
Part 7 Here We Go



Pagi itu aku terbangun dan mendapati diriku terbaring sendirian didalam kamar.


Keadaan kasur masih berantakan, tetapi sekelilingnya sudah bersih, baju-baju berserakan sudah tidak ada, jendela pun juga telah terbuka.


Aku termenung memproses apa yang terjadi padaku semalam, mencoba menggerakan kakiku yang kram,


aku telah mengangkang lama sekali dan membuat kakiku terasa tegang. Rasanya sekujur tubuhku sakit, terutama bagian kewanitaanku.


Untuk duduk saja rasanya sulit sekali, kepalaku berat, mungkin karena kebanyakan menangis dan berteriak.


Tak lama pintu kemudian terbuka menampakan sosok Jimin mengenakan baju rumahan, rambutnya setengah kering dan tampilannya segar sekali, sepertinya habis mandi.


Berbanding terbalik dengan aku yang tampak jelas seperti korban pemerkosaan.


"Minum air putih dulu." Jimin duduk di sebelahku, menyodorkan air putih dengan setengah memaksa langsung ke bibirku.


Aku meminumnya terpaksa, menatap wajahnya dengan sinis.


"Tolong panggilkan Hanji, aku mau mandi." Ujarku, masih sangat enggan berduaan saja dengan Jimin.


"Hanji tidak masuk." Jimin berdiri, mengulurkan tangannya padaku.


"Ayo, kubantu kau mandi."


Aku menepis tangannya, tidak mengertikah dia kalau aku butuh waktu sendiri, setelah ia perlakukan seperti binatang peliharaan semalam.


"Telfon Hanji." Suruhku, namun ia tak bergeming.


"Kemarikan ponselku, biar aku yang menelfonnya." Geram dengan reaksinya yang tidak merespons ketika aku suruh menelfon Hanji.


"Dia tidak akan berkerja untukmu lagi."


"Apa yang kau katakan?!" Aku semakin terpukul, mungkinkah Hanji juga terkena masalah karena ulahku?


Jimin tak menjawab, melainkan menyelipkan tangan ke belakang tubuhku yang masih polos, mengangkatku menuju kamar mandi.


Aku yang takut jatuh lantas refleks melingkarkan tanganku kelehernya, tidak perduli dengan selimut yang jatuh tertinggal diatas kasur menyisakan tubuhku yang polos tanpa sehelai benang.


Ia lalu meletakkanku di dalam bathub yang sudah berisi air hangat lalu mencelupkan tangannya untuk memeriksa suhu air.


"Hangatnya sudah pas kan?" Tanyanya padaku tanpa menghiraukan pertanyaan-pertanyaan yang ku lontarkan.


Masih kututup rapat mulutku mengacuhkannya, tidak habis pikir bagaimana dia bisa sesantai ini setelah apa yang ia lakukan kemarin.


Sejujurnya sangat banyak pertanyaan dikepalaku, seperti kenapa dia tidak jadi berangkat, lalu tentang apa yang dikatakan jackson, kemudian kenapa Hanji tak berkerja lagi untukku.


Ini bahkan belum genap 2 Minggu Hanji menjadi personal assistant ku dan dia telah kehilangan perkerjaannya.


"Pergilah, aku akan mandi sendiri." Ucapku pada Jimin yang masih keluar masuk mengurusiku mandi.


"Aku bantu mencuci rambut saja, setelah itu kau teruskan sendiri."


Ia memegang sisir yang tadi ia ambil di meja riasku, mencoba menyisir rambutku yang kusut masai dengan perlahan,


"Aw, perih!" Teriakku ketika Jimin mulai membasahi dan ingin memberi Shampoo pada rambutku.


"Sakit sekali ya?" Jimin berhenti bergerak, tampak seperti berfikir.


Rambutku dijambak berkali-kali dengan keras semalam, mungkin itu yang membuatnya khawatir dan mencoba membantuku memperbaiki rambut.


"Apa aku panggilkan pegawai salon saja ya?" Tanyanya berfikir.


Aku tidak perduli mau di bagaimanakan, jelas-jelas dia yang telah membuatku seperti ini, malah melimpahkan tanggung jawabnya pada orang lain. Gunduli saja sekalian.


Aku masih memerhatikannya ketika ia beranjak dari tempatnya duduk menyisiri rambutku tadi, mungkin untuk memesan layanan rumah perawatan salon.


Aku... terlalu takut dengan suasana ini. Aku juga tidak memiliki tempat cerita atau mengadu, sekelibat terlintas rekaman memori yang mengingatkan bagaimana aku mengadu pada ibuku ketika bertengkar dengan adik.


Disini tidak ada ibu, Hanji pun tidak ada, aku juga tidak menemukan ponselku dimanapun. Ketimbang rumah, ini lebih seperti penjara.


"Aku ingin pulang ke Seoul." Ucapku sebelum ia keluar melewati pintu kamar mandi.


Aku yakin suaraku cukup lantang untuk terdengar di telinga Jimin, namun ia seolah tak mendengar kata-kataku.


Tanpa sadar air mataku mengalir lagi, pertama kalinya untuk hari ini.


Aku frustasi tidak memiliki jalan keluar dari keadaanku sekarang, aku ingin pulang dan melayangkan surat perpisahan kepada Jimin rasanya.


Aku bahkan tidak kuat hanya sekedar membayangkan bagaimana aku bertahan ketika menghadapi Jimin mengamuk seperti tadi malam dan melampiaskan kemarahannya padaku.


Yang lebih membuatku takut adalah ia benar-benar berubah ketika pagi datang, memperlakukan ku seperti tidak ada apa-apa, tapi merampas ponsel dan personal assistant ku, seperti bentuk hukuman lanjutan.


Seusai mandi, sebuah gaun rumahan sudah terbentang rapi diatas tempat tidur, sepertinya Jimin menyiapkan pakaianku ketika keluar tadi.


Aku buru-buru berpakaian, rambutku sudah rapi aku sisir kuat-kuat menggunakan tangled brush, rontok banyak sekali.


Pertama kalinya aku melihat Jimin memasak dan hal itu terjadi disaat menyedihkan seperti ini.


Ia tampak sibuk didapur menyiapkan sarapan, baru sadar aku ada disana ketika menarik bangku dan menyiptakan bunyi berderit.


"Aku mencoba memasak nasi goreng untukmu, belajar dari internet, tidak tahu rasanya enak atau tidak." Ujar Jimin, menata nasi goreng yang ia buat kedalam piring dan menghiasnya dengan sayuran serta saus.


Aku masih diam melihat tingkahnya yang sangat berbeda dari biasanya. Alangkah bahagianya aku kalau ia bertingkah seperti ini saat hubungan kami masih seperti biasanya. Dari cuek berubah menjadi sangat perhatian.


Jimin seperti menggantikan tugasku dipagi hari, dia menghidangkan makanan dan minuman untukku yang duduk diatas meja. Setelah semua terhidang barulah ia duduk dan mulai menyantap makanannya.


"Aku berfikir untuk memelihara anak anjing disini, bagaimana kalau kita ke petshop selesai makan nanti?"


Air mataku menggenang, membayangkan akan semenyenangkan apa anak anjing yang bisa aku pelihara sendiri, seseru apa Jimin membawaku ke toko hewan kalau dia tidak berubah menjadi monster di hadapanku kemarin.


Sekarang semua sudah berbeda, dia bukan lagi Jimin yang kukenal, ia telah melepas topengnya. Ditambah dengan kalimat jackson yang terngiang-ngiang di pikiranku sepatah demi sepatah.


Dengan suara serak, aku menjawab


"Aku.... ingin pulang kerumah."


Jimin menatapku sebentar, hanya beberapa detik lalu melanjutkan makannya kembali sementara aku menatapnya dengan air mata menggenang di pelupuk mataku.


"Tolong, biarkan aku bertemu ibuku."


Aku memberanikan diri untuk mencondongkan badanku kedepan, berusaha mendapatkan perhatiannya yang menunduk memakan makanannya, seperti tidak terjadi apapun.


Berfikir keras, bagaimana caranya aku bisa kembali ke Seoul, hal apa yang harus kujanjikan pada Jimin agar dia mengizinkanku keluar dari sini.


"Hanya sebentar, aku ingin memeluk ibu. Kau berjanji padaku dulu akan mengizinkanku pulang kapanpun aku ingin."


"Sekarang tidak bisa." Jimin meletakkan sendoknya ke meja cukup keras, "Ibumu tidak berada di Seoul."


"Apa maksutmu? Dimana ibuku?" Tanyaku setengah histeris.


"Ada masalah dengan kedua adikmu, mereka terlibat jual-beli narkoba dan buron tidak lama setelah kita menikah. Aku memindahkan mereka ke Australi." Jimin menatapku santai namun penuh emosi, seolah menjelaskan kalau keluargaku sudah cukup menyusahkannya, jangan ditambah aku pula.


Masuk akal kenapa ibu selalu terdengar tergopoh-gopoh ketika aku telfon 2 bulan belakangan.


"Kenapa kau tak memberitahuku?"


"Memangnya apa yang bisa kau lakukan untuk mereka?!" Nada Jimin meninggi.


"Mereka keluargaku!!"


Aku tak menyangka kami saling meneriaki di depan makanan, hal yang tak bisa kupercaya kalau aku bayangkan pagi hari kemarin.


Namun dititik inilah kami, saling menegangkan urat leher berteriak adu menang sampai salah satu dari kami berdiri, meninggalkan perdebatan tidak berujung ini.


"BERIKAN AKU PONSELKU!" Teriakku pada Jimin yang pergi meninggalkan aku dan makanannya yang belum habis.


Inget ya, ini cuma fiktif🤌🏼


Enchim irl ga gitu, enchim di dunia nyata receh bin lawak inget.


Hari ini ak ga sempet update suga buat penawar vibes tegang ini, jadi kalian pinter2 aja dah nonton running man kek run bts kek apakek yang lucu-lucu.


Yang belom follow ******* aku yok di follow yok nungguin apalagi dah, nyesel nanti ga follow (dih?) wkwkwkwk


Yaudah akhir kata, bubye martabak spesial mwah💋