Brave Things

Brave Things
Part 12 Cloudy Dream



Dia masih terdiam ketika Jimin melanjutkan kalimatnya,


"Anna, perkenalkan, ini istriku Luna, dia ingin tahu bagaimana keadaanmu."


Rasanya aku gugup sendiri ketika Anna menoleh dan menatapku, ia menelengkan kepalanya seolah berusaha membaca raut wajahku, hal yang menakjubkan mengingat dia adalah pasien dengan gangguan jiwa.


"Keadaanku... tidak baik." Dia tertawa, lalu terdiam, kemudian meraih tangan Jimin dengan cepat, membuatku terloncat karena terkejut.


"Mereka terus memberiku obat, aku lupa siapa diriku sendiri. Keluarkan aku dari sini!!" Dia merengek pada Jimin, membiarkan bonekanya terlepas dan memegang tangan Jimin dengan kedua tangannya.


"Kau akan segera sembuh, aku yakin kau bisa melewatinya." Jimin tersenyum padanya dan mengusap tangan Anna yang masih bertaut menggenggam telapak tangan Jimin.


Aku dapat melihat raut wajah Jimin yang tulus membantu dan menginginkan kesehatan Anna, bahkan ketika Anna membanting tangannya hingga mengenai besi penyangga tempat tidur, dia hanya tertawa kecil memaklumi.


Jujur, aku merasa iri. Bahkan dengan wanita malang ini aku merasa tidak seberuntung dirinya.


Dia mendapatkan perhatian Jimin dengan intens, dia pernah dicintai oleh Jimin, dia pernah membahagiakan Jimin.


Sedangkan aku? Tidak tahu. Aku rasa aku belum pernah membuat Jimin tersenyum bahagia. Aku juga tak tahu apakah Jimin mencintaiku, boro-boro berharap Jimin mencintaiku sedalam dia mencintai Anna.


Seperti telepati , Jimin menoleh kearahku dan berkata,


"Dia sudah tidak mengenaliku lagi."


Mungkin bermaksut untuk membuatku tidak khawatir pada hubungan mereka, menegaskan kalau tidak ada apa-apa lagi antara dirinya dan Anna, bahkan wanita itu tidak mengingatnya sosoknya lagi.


Dokter bilang Anna sudah masuk 2 tahun perawatan dan masih rentan untuk bertemu orang asing, kami bahkan sangat berhati-hati agar tidak memancing Anna mengamuk dan langsung meninggalkannya sendirian ketika dia mulai mengeluh mengatakan kami berisik.


Sedikit saja membuat Anna kesal maka perawat akan kembali siaga dengan obat penenang untuknya.


Prihatin sekali melihatnya, aku dan Jimin membahas bagaimana kondisi Anna yang tak kunjung membaik di perjalanan kami kembali menuju tempat adikku dirawat.


Jimin bilang, dia memasukkan adikku kesini selain agar perawatannya maksimal, dia juga jadi bisa memantau mereka sekaligus karena ditempatkan di rumah sakit yang sama dengan Anna.


Kami kemudian menemukan ibu di taman dekat Anna dirawat, ibu bahkan membagikan minuman berenergi sampai kesini? Memangsih tempat rawat adikku itu diujung, dan ibuku selalu melewati jalan tempat Anna dirawat setiap hari ketika kesini, mungkin dia kenal semua kerabat yang sering datang berkunjung.


"Kalian dari mana?" Tanya ibu ketika menghampiri kami yang menungguinya selesai membagikan minuman.


Sebelum Jimin menjawab aku buru-buru mengatakan, "Hanya melihat-lihat keadaan, ibu lama sekali sih."


Untungnya ibu tak curiga dan hanya menyengir tidak bersalah, kemudian bergegas mengajak kami untuk pergi ketempat dia biasa melihat Yeonjun dan Yeonseok.


Aku melihat mereka dari seberang kaca pembatas, menghadap langsung ke kamar tempat mereka berdua dirawat.


Yeonseok sedang tertidur sementara Yeonjin memakan buah yang telah dikupaskan oleh perawat. Bahkan hanya dengan melihat mereka dari balik kaca saja ibuku dapat tersenyum lebar.


Ibu menggandeng Jimin sepanjang perjalanan, tidak berhenti berterimakasih pada menantunya yang mau repot-repot membantunya disini.


Aku bersyukur telah memutuskan untuk menikahi Jimin walau mengorbankan seluruh hidupku, keadaan keluarga kami ternyata sedang sangat bergantung kepadanya.


Di titik ini Ibu sepertinya sudah tidak perduli dengan keadaannya sendiri, dia bahkan tidak sadar kalau sampai hampir sore seperti ini dia belum makan siang.


Dengan sedikit paksaan dariku, dan sedikit nasehat dari Jimin, kami berhasil membuatnya makan dengan benar dikantin rumah sakit.


Aku ingin pergi membeli perlengkapan ibu untuk diletakkan di rumah yang ia sewa, ibu bilang dia mencuci bajunya dengan tangan, dia juga tak punya selimut tebal. Aku berencana membelikannya mesin cuci, selimut, dan berbagai hal yang sekiranya dia butuhkan untuk hidup disana.


Selain itu aku merasa tidak enak melihat Jimin yang belum ada istirahat setelah mengemudi jauh sekali. Mengingat Ibu juga tidak akan mau kuajak pulang sebelum matahari terbenam, akhirnya kami pamit pada ibu untuk pulang duluan.


Perjalanan kami masih membahas bagaimana keadaan adikku, berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai mereka bisa keluar dari sini dan sebagainya,


sampai akhirnya kami mencapai daerah tempat ruang Anna dirawat.


"Pasien 506 episode!" Teriak perawat di stasiun jaga pada rekan-rekannya yang langsung berhamburan, pergi ke kamar tersebut.


506? Ruang Anna?


Aku melihat Jimin sudah berjalan maju meninggalkanku yang masih bingung dengan keadaan rumah sakit yang tiba-tiba rusuh ketika kami lewati.


Ia menuju ruang Anna, tampak sekali ia masih perduli dan khawatir pada gadis itu. Aku membuntutinya dengan perlahan, jauh dibelakang agar tidak menghalangi petugas kesehatan yang lalu lalang.


Sekelebat aku melihat, Anna mengamuk berteriak-teriak. Beberapa petugas bersiap mengambil alat injeksi darurat yang khusus digunakan ketika pasien mendadak mengamuk.


Perawat masih berusaha menahan amukannya dan mencoba memasangkan strap di kaki, tangan, badan dan dahi Anna agar tidak bisa bangun dari tempat tidur. Sementara menunggu obat penenangnya berkerja, semua perawat masih menahan tubuh Anna yang meronta-ronta dan meracau tidak karuan.


'KEMBALIKAN ANAKKU!!!'


Atau,


'SELAMATKAN AKU DARI PEMERKOSA ITU!'


Teriakkannya menggema di penjuru lorong ini. Terdengar begitu miris dan mengejutkan, karena jujur saja, aku tak tahu hal apa yang menimpa dirinya sampai ia terkena gangguan jiwa seperti ini.


Jimin hanya sekedar menunjukkan padaku bahwa Anna benar-benar gangguan jiwa, membuktikan ini bukan hanya akal-akalannya saja menjebloskan Anna kesini agar suaranya tidak di anggap sah di persidangan, bahwa dia benar-benar butuh perawatan.


Anna perlahan mulai melemah, tapi aku masih melihat dia berusaha melawan efek obat pada tubuhnya. Ia masih menggelengkan kepalanya dengan kuat, berusaha melepaskan strap yang menahan tubuhnya.


Petugas membiarkan saja karena mengetahui dia tidak akan ada cukup tenaga bahkan walau strapnya telah dilepaskan. Jumlah perawat diruangannya pun sudah berkurang, tinggal beberapa perawat yang bertugas mengobati luka di kepalanya saja.


Aku kemudian mendekati Jimin yang melangkah masuk, mendekati Anna yang terbaring lemah, cukup dekat sampai aku bisa mendengar dengusan kasar yang dikeluarkan oleh wanita itu.


Mata mereka saling bertemu, Anna akhirnya menyadari kehadiran Jimin dan mengenalinya.


Tatapan matanya seolah memancarkan pandangan kebencian penuh amarah, membuat Jimin berhenti melangkah menyisakan jarak sekitar 4 langkah dari kasur tempat wanita itu dibaringkan.


"Kau... pemerkosa bajingan...


aku harap kau tidak akan pernah jadi ayah!!!" Anna mendesis memaki Jimin yang terdiam mematung di dekatnya.


"Suster tolong aku... pria ini memperkosaku ketika aku hamil!! Dia kesetanan melihatku hamil dan memperkosaku kasar sekali... tolong aku dan anakku suster!!" Dia menangis tergugu sambil memegangi lengan perawat yang sedang mengobati lukanya.


Aku benar-benar tak percaya dengan semua kalimat yang aku dengar, masih terdiam memproses apa yang Anna teriakkan barusan sambil menunjuk-nunjuk sosok Jimin. Perawat perempuan mencoba memeluk dan menenangkan Anna yang sebenarnya masih histeris walau sudah tidak ada tenaga.


Setelah terdiam, aku berjalan mundur, keluar dari ruangan dan meninggalkan Jimin bersama mereka di tempat itu.


Aku ingin lari sejauh mungkin rasanya setelah mendengar apa masalah yang kemungkinan menimpa wanita malang itu, hal yang sama sekali tidak pernah Jimin ceritakan padaku, atau malah hal yang sebenarnya ia coba tutupi?


Aku tahu pemikiranku kacau sekali ketika aku bisa membayangkan diriku dalam posisi Anna... Depresi, kehilangan bayi, dan membenci Jimin yang menjadi dalang atas musibah mengerikan yang ia alami.


Mungkin apa yang dikatakan Jackson benar adanya, mungkin Jiminlah yang membuat wanita itu sakit seperti ini.


Kehilangan bayi sendiri saja pasti sudah terasa sangat menyakitkan, ditambah kenyataan bahwa dia tak bisa memperjuangkan keadilan bagi bayi dan dirinya sendiri di mata hukum.


Kalau aku menjadi Anna, mungkin aku tidak akan bisa bertahan sampai selama ini, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri... aku yang tidak punya kekuatan cukup berarti untuk melindungi diri dan bayiku.


Terlebih membayangkan melihat kekasihku baik-baik saja setelah apa yang terjadi padaku, kemudian melihatnya yang aku cinta dengan mudah menikah dan melanjutkan hidup dengan bahagia bersama wanita lain. Meninggalkan aku, sebatang kara, hancur lebur tidak mengenali dunia.


Dan aku tahu, keadaanku akan sama persis dengan Anna apabila hal itu terjadi padaku, mungkin lebih parah.


Keluargaku tidak ada uang dan kuasa, Jimin akan menang dengan mudah tanpa hukuman pidana sama sekali, dan aku akan berakhir di liang lahat karena membunuh diriku sendiri dengan menyedihkan.


Aku sungguh tidak ingin memikirkan hal sejauh itu, tapi otakku terus menerus memutarkan bayangan-bayangannya secara jelas, yang seolah memperingatkanku untuk bersiap menyambut musibah yang akan segera menimpaku di waktu mendatang.


Aku mencoba untuk melupakannya, menganggap semua itu hanya ilusi, sampai-sampai dengan tidak sadar aku meremas dan sedikit menarik rambutku dengan kencang, terduduk di balik rimbun taman tempat aku berhenti melangkah.


Sebuah tangan meraih pergelangan tanganku, Jimin sudah menyusulku kesini.


"Luna, dengarkan aku! Kau baik-baik saja?"


Jimin menepuk pipiku pelan, berusaha menyadarkanku dari serangan panik yang barusan aku alami.


"J-jimin..." aku menatapnya dengan air mata menggenang.


Aku tidak ingin mempercayai apapun yang aku dengar hari ini, aku ingin percaya bahwa Jimin bukanlah orang yang jahat, orang yang mampu membunuh anak tidak berdosa hanya dikarenakan nafsu semata. Jimin tidak seiblis itu.


"Tolong katakan padaku kalau semua itu tidak benar..." aku memohon padanya.


Dia tak tahu seberapa besar harapku untuk bisa mendengar kalimat kalau wanita itu berbohong, wanita itu meracau dan mengarang.


Duniaku rasanya berhenti berputar, ketika Jimin meraih tanganku untuk digenggam dan hanya berkata,


"Luna, maafkan aku."