Brave Things

Brave Things
Part 8 Guilty



Aku menangis seharian, memikirkan keadaan keluargaku yang entah dimana dan bagaimana kondisinya.


Sedikit banyak merasa bersalah juga pada Jimin.


Fakta kalau ia melindungi keluargaku tanpa repot-repot membuatku khawatir semakin membuatku merasa tidak enak. Terlebih aku melanggar peraturannya yang melarangku untuk dekat-dekat dengan Jackson, tanpa Hanji pula.


Bukannya berterimakasih pada Jimin, yang sudah mengurusi keluargaku yang tidak tahu diri itu, malah aku membuatnya kesal, sekedar menuruti kemauannya agar tidak keluar rumah selagi dia pergi saja aku tidak bisa.


Rasanya aku bahkan tidak punya nyali untuk minta maaf padanya.


Aku masih menangis samar ketika dikejutkan dengan kedatangan Hanji. Ia berdiri di depan pintu kamar mandi, bersandar di kusen pintu menatapku lagi menangis sambil berendam.


"Hanji?! Bagaimana kau bisa masuk." Tidak menyangka akan menemukan keberadaan Hanji disini,


Aku memang sengaja tidak menutup pintu kamar mandi, aku berendam karena kepalaku pusing sekali dan ingin merendamnya di air dingin, sekalian mandi sore.


"Tentu saja lewat pintu." Jawab Hanji tak bergeming dari tempatnya.


Padahal setahuku tadi pintu itu telah berganti password, aku bahkan tak bisa membukanya dari dalam.


"Kau kenapa mandi dengan baju lengkap?" Ia menatapku aneh, melihat aku yang berendam lengkap dengan baju dan gelas wine ku.


"Hanji, akuu..." tak sanggup melanjutkan kalimatku sendiri, belum selesai bicara saja rasanya sudah mau kembali menangis.


"Sudahlah, apa lagi yang kau tangisi." Hanji berjalan dan berjongkok disebelahku, mengusap pundakku yang naik turun karena menangis tersedu-sedu.


"J-jimin... aku merasa bersalah pada Jimin."


"Yasudah, nanti minta maaf."


"Dia belum kembali, dari tadi pagi, dia meninggalkanku dalam keadaan marah.." aku terisak mengenang kejadian tadi pagi,


Harusnya Jimin bisa menyelesaikan makan paginya dengan tenang, tapi aku mengacaukan suasana dengan berteriak-teriak ingin pulang.


Padahal ini pertama kali Jimin sarapan dengan nasi, dia juga sempat berencana membawaku keluar dan mengadopsi anjing. Semua sirna karna kebodohanku.


"Dia pergi bermain golf, ada ayahku disana. Ayah bilang akan menasehatinya sedikit tentang rumah tangga. Tidak perlu khawatir." Ucap Hanji, sangat berhasil menenangkanku yang tadi masih menangis hebat.


Aku perlahan berhenti menangis dan mengelap air mataku, setidaknya aku tahu Jimin tidak menghabiskan waktunya sendirian dan bersama orang yang tepat.


"Dia sudah makan siang belum?" Tanyaku pada Hanji yang berdiri sedang mengambilkanku handuk bersih.


"Iya, aku bertemu dengannya saat makan siang tadi, dia bilang kau ingin bertemu denganku."


Disaat seperti inipun Jimin sempat memikirkan perasaanku dan mengirimkan Hanji agar aku ada teman.


"Ayo bangun, kau akan demam kalau terus berendam dengan air dingin seperti itu."


Aku menerima uluran tangan Hanji dan segera membalut tubuhku dengan Handuk.


Setakut apapun aku dengan keadaan, aku tetap akan menghadapinya. Aku hanya berharap Jimin tak mengabulkan keinginanku dan memulangkanku ke Seoul,


aku benar-benar merasa bersalah dan ingin menebusnya, kembali menjadi istri yang baik sebagai bentuk terimakasih dan permohonan maaf.


Terpancing oleh omongan Jackson membuatku berfikir Jimin takkan mau memulangkanku ke rumah orang tuaku walau sekejap, nyatanya keluargaku lah yang menjadi benalu, membuat Jimin harus turun tangan untuk menolong masalah mereka.


Jimin hanya melindungiku dari perasaan bersedih dan khawatir, ia tahu kalau masalah itu sampai ke telingaku, aku akan gelisah dan terus terusan kepikiran, mungkin karena itu Jimin memilih untuk menanganinya sendiri.


"Ini belanjaanmu." Hanji meletakkan kantong belanjaan pesananku di konter dapur, memandangiku yang mondar mandir untuk menyiapkan makan malam Jimin.


"Terimakasih, kau sudah telfon Jimin?"


Aku memang meminta tolong pada Hanji agar mengatakan pada Jimin untuk pulang dan makan malam dirumah, ponsel ku masih tidak ada jadi aku tak bisa menghubungi Jimin.


"Sudah, dia bilang akan pulang jam 7 setelah menandatangani berkas di kantor." Ucap Hanji sembari mendudukan bokongnya ke kursi, seperti biasa menontoni kegiatanku memasak.


"Baguslah, kau bergabung saja makan malam bersama kami." Ajakku.


"Ah, tidak terimakasih." Hanji bergidik, mungkin masih ngeri melihat kemarahan Jimin kemarin malam.


Jangankan aku yang lemah, Hanji yang tegar dan pemberani saja takut.


Aku berencana membuatkan Jimin karage dan tempura, makanan kesukaan Jimin. Bahan-bahannya sulit makanya aku suruh Hanji pergi.


Sebenarnya Hanji mengajakku untuk pergi memilih sendiri bahan makanannya ke supermarket, dan mengatakan akan mengurus akibatnya kalau Jimin marah.


Tetapi aku tidak mau. Aku tidak akan pergi melewati pintu itu lagi tanpa izin Jimin. Sudah cukup aku bertingkah tidak tahu terimakasih padanya. Jadi biarlah sementara ini aku minta tolong Hanji untuk menelfon dan membeli bahan makanan.


"Hanji, boleh aku pinjam ponselmu?"


Ia mengeluarkan ponselnya dengan sigap, mengulurkannya padaku tanpa pertanyaan.


"Aku harus mencari cara meredakan mata bengkakku." Ucapku sambil mengetik di situs pencarian.


"Memangnya terkejar ya?"


Aku dan Hanji berpandangan, lalu tertawa bersama.


"Sudah ah, aku mau pulang. Kau tunggu pak Jimin sendirian tidak apa-apa kan?"


Aku mengangguk dan mengembalikan ponselnya,


"Hanji, terimakasih ya." Aku sungguh berterimakasih Hanji bisa menemaniku menjalani hari ini, jujur ini adalah hari yang sangat berat, karena kulalui tanpa suamiku lengkap disertai dengan rasa bersalahku.


"Iya, sana pergi pakai lipstick. Kau pucat sekali." Kata Hanji ketika melihatku membuntutinya kearah pintu,


Aku fikir hanya akal-akalan saja agar aku tak mengintip password pintu yang baru, tapi aku sangat terkejut ketika menemukan mukaku seperti mayat hidup di cermin, ternyata Hanji tidak berbohong.


Yah wajarsaja, aku menangis seharian dan tidak ada makanan apapun masuk ke tubuhku kecuali alkohol. Kalau aku segar merona artinya aku habis spa, bukan habis menangis.


Terlanjur memakai lipstick, aku keterusan memakai riasan di seluruh muka untuk menutupi kekusutanku hari ini, sampai tidak sadar jam sudah menunjukan jam 7.30 malam.


Aku segera membereskan peralatanku dan pergi keluar kamar.


Disitulah aku bertemu Jimin, rambutnya sudah acak-acakan, duduk di sofa ruang tengah sambil bermain handphone, didepannya ada botol wine yang sudah terbuka tanpa gelas. Dia meminum nya langsung dari botol.


"Kau sudah sampai, kenapa tidak panggil aku." Ucapku mendekatinya.


Dia mendongak, memperhatikan langkah kecilku yang menuju kearahnya.


"Ayo makan, aku akan panaskan masakannya." Aku tetap bicara walau ia tak mengeluarkan sepatah katapun, padahal aku sudah berdiri di depannya.


Canggung sendiri karena dia hanya menatapku, meneliti dari atas sampai bawah seolah ingin memastikan keadaanku setelah ia tinggalkan.


Akhirnya aku pergi menuju dapur berinisiatif untuk menyiapkan makan malam.


"Kalau kau mau bicara omong kosong lagi, aku tak mau mendengarnya." Ujar Jimin, kalimat pertamanya sore ini.


Aku menghela nafas, sudah menduga ini akan terjadi. Jimin pasti menganggap ini adalah makan malam perpisahan karena aku bersikeras untuk pulang, padahal aku belum mengatakan apapun.


"Duduklah dulu, aku hanya ingin meminta maaf, aku tidak akan meminta dipulangkan lagi." Jawabku sabar, masih sambil menyiapkan makan malamnya.


Jimin kemudian melangkah dengan malas, mengacak rambutnya yang sudah berantakan dan duduk di meja makan.


Suasana hening beberapa saat, aku masih menyelesaikan makan malam untuk di hidangkan,


Sampai Jimin bersuara,


"Ini ponselmu, aku tidak mengambilnya, kau meninggalkan ponsel dan tasmu di mobil." Kata Jimin meletakan ponselku diatas meja makan.


Aku hampir menjatuhkan mangkok yang kubawa keatas meja sangking malunya. Aku mengira Jimin menyita ponselku, aku sampai meneriakinya tadi pagi karna mengira yang tidak-tidak.


Aku mengambil ponselku dengan cemberut karena malu.


"Kenapa kau tidak bilang sih."


Jimin masih cuek dan sibuk dengan ponselnya ketika menjawab, "kau yang tidak mau mendengarkan apapun kata-kata dariku tadi pagi."


Bersamaan dengan peralatan terakhir yang kubawah ke meja, aku mendudukan diriku di hadapan Jimin,


"Kau benar... aku minta maaf. Harusnya aku bicara dengan kepala dingin tadi pagi, aku sungguh menyesal." Aku menunduk, tidak sanggup menatap mata Jimin.


Aku mendengar helaan nafas Jimin, aku tahu dia lelah dengan topik ini karena kulihat sepertinya dia sudah melupakan kesalahanku,


"Jangan ulangi lagi, kau tahu aku melakukan semua nya untuk kebaikanmu." Ujarnya sembari mengambilkan nasi dan menaruhnya ke piringku.


"Kenapa kau merahasiakan semuanya dariku? Padahal sudah seharunya sepasang suami istri itu berbagi masalah dan cerita." Aku berusaha terdengar normal tapi nada yang keluar malah seperti rengekkan, aku bersyukur Jimin jadi tersenyum karenanya.


"Ibumu yang melarangku untuk memberitahumu."


"Hah? Kenapa?"


Jimin mengangkat bahunya cuek, "Aku akan membawamu kesana untuk ngobrol langsung dengan ibumu, sekaligus aku juga ingin memperlihatkanmu wanita yang Jackson bilang aku bikin jadi gila."


Aku terdiam, tidak menyangka Jimin akan segera menuntaskan masalah segampang ini.


Aku semakin yakin kalau selama ini dia hanya malas untuk mengatakannya padaku dan tidak sampai kepikiran akan jadi masalah, sehingga pas jadi masalah dia kaget, bermaksut ingin menjelaskannya dengan kepada dingin,


Namun sayangnya dia menikahi aku, anak kecil yang emosinya belum stabil, cengeng dan gampang tersinggung, tentu saja sia-sia....


TBC😎


Uwuuuu gasih chap ini, tapi yang tau2 aja pasti ngerti apa kesalahan dalam chapter ini, antara pihak Jimin dan Luna, smuanya redflags!!!


Tapi gapapa, kalo belum ketemu titik salahnya, nikmatin aja ke uwu annya, yang tau jangan rese, biarin yg belum tau menikmati kebahagiaan semu chapter ini🥰


Yaudah akhir kata, bubye kue sarang semut mwah💋