
Kepulanganku ke Beijing masih tidak merubah keadaan. Aku belum bisa bertemu dengan Jisung sama sekali, begitu pula dengan Hanji.
Jimin bilang, aku terpaksa harus pergi berbelanja ke supermarket sendiri, asal aku harus selalu membawa ponselku dalam keadaan aktif.
Sebenarnya sungguh sulit untukku melakukannya seorang diri, walau sudah mengerti beberapa frasa bahasa mandarin, aku masih belum bisa mengerti tulisannya yang membuatku sulit membaca keterangan dari produk yang akan aku beli.
Seandainya aku multilangual seperti Jimin...
Kalau kami memiliki anak nanti, aku harap dia akan mirip Jimin sepenuhnya. Wajahnya, kepintarannya, ketegasannya, kekayaannya,
tidak ada hal baik yang bisa ku turunkan pada anakku kelak, namun akan kubalas dengan memberikan cinta dan kasih sayangku kepadanya sepenuh hati.
Omong-omong tentang anak, aku merasa aku belum dapat tanda-tanda kehamilan. Aku sempat menjelajah internet tentang ini, dan dari yang aku pelajari adalah berhubungan suami istri terlalu sering justru membuat kesempatan membentuk janin menjadi lebih sulit.
Aku ingin mengatakan fakta ini pada Jimin, namun selalu dihalangi oleh suasana yang tidak tepat.
Keabsenannya dari kantor dalam waktu yang lama membuatnya sangat sibuk saat kembali, beberapa kali ia pulang setelah aku terlelap dan tak menyadari kepulangannya. Terbangun dengan Jimin yang mendekapku erat dari belakang.
Namun hari ini, setelah sekian lama, ia bilang ia akan pulang lebih awal.
Saat itu juga aku sangat bersemangat untuk menyiapkan makan malam untuknya, langsung meminta izin untuk pergi ke supermarket agar dapat membeli bahan masakan yang lengkap. Aku mau menyajikan full-course dinner untuk Jimin.
Ini pertama kalinya aku menginjakan kakiku disini tanpa Hanji, rasanya lumayan gugup, semua tulisan menggunakan tulisan mandarin. Aku cuma bisa menebak-nebak apa yang aku beli.
"Ji-min."
Aku menoleh, mencari suara yang mengalunkan nama suamiku dengan penasaran.
"Ya?" Tanyaku pada sesosok nona muda yang sama-sama berdiri memilih sayuran kemasan bersamaku.
"Namamu Jimin?" Tanyanya sambil menunjuk kearah leherku.
Ah, aku lupa. Kemarin saat baru saja kami sampai di penthouse, Jimin memberikanku seuntai kalung dengan pendant bertuliskan namanya, Jimin.
Ia langsung memakaikannya ke leherku saat itu juga, sangat manis dengan warna rosegold, berpadu dengan rantai tipis berwarna senada.
"Kau bisa bahasa Korea?" Aku lebih kaget dengannya yang terlihat percaya diri mengajakku berbicara dalam bahasa korea.
"Uhm, tulisannya pakai huruf hangul." Jawabnya, lagi-lagi menunjuk kalungku.
"Namamu bagus sekali," lanjutnya tersenyum kepadaku. Posisi kami yang sama-sama sedang memilih sayur, memudahkan kami untuk mengobrol dan berjalan beriringan.
Aku menggeleng, "Itu nama suamiku, namaku Luna."
"Oh! Ada apa dengannya? Apa dia sudah tiada?"
Aku tertawa melihatnya panik,
"Tidak, dia baik-baik saja. Dia yang membelikanku kalung ini."
"Syukurlah, aku takut menyinggungmu. Ah, perkenalkan, aku Meredith." Katanya sembari mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
"Kau tidak terlihat seperti orang Korea," aku meliriknya dari atas sampai kebawah.
Rambutnya pirang sepanjang pinggul, matanya hijau kebiruan dengan kelopak mata yang dalam. Sekali lewat saja aku tahu kalau dia caucasian.
"Aku sempat tinggal di Seoul dulu, beberapa tahun. Aku rindu jajanan pinggir jalan disana..."
Aku tidak sepenuhnya konsen dengan yang ia katakan karena aku dapat melihat dibelakangnya, kereta belanja meluncur bebas menuju ke arah Meredith.
"Oh hati-hati!" Hanya itu yang dapat kuteriakkan, karena aku berada di sisi lain dari meja sayuran ini, tak bisa menggapainya.
Belum sempat Meredith menoleh kebelakang untuk melihat apa yang aku maksut, 4 orang laki-laki bertubuh tegap telah berlari menggapai Meredith. 2 orang melindunginya dan 2 orang lagi menahan kereta belanja tersebut. Kemudian memberhentikannya dan memeriksa apa saja yang ada didalam kereta itu, seperti sedang patroli.
"I'm alright, step back!" Seru Meredith kepada para lelaki seram itu.
Mereka masih memandangi sekitar, mengembalikan kereta belanja tadi kepada petugas dan memelototi para petugasnya. Membuat Meredith menghentakkan kakinya.
"F*ck off! You're always ruining my day!"
Orang-orang sudah berkerumun melihat apa yang sedang terjadi, walau beberapa orang tadi sudah pergi, masih banyak pengunjung lain yang ingin tahu dan berbisik-bisik di sekitar kami.
"Luna, ayo segera bayar dan pergi. Aku benci jadi bahan omongan seperti ini."
Gila, belum 5 menit berbicara dia sudah merasa sangat akrab denganku dan mengajak pergi.
Kalaupun aku mau pergi, aku tentu harus bilang kepada Jimin terlebih dahulu. Tapi dia pasti tidak akan mengizinkanku. Jelas-jelas tadi pagi dia bilang aku harus langsung pulang ketika sudah selesai belanja.
Aku menahan tanganku yang sedang ditarik oleh Meredith, "A-aku tak tahu, masih ada beberapa bahan lagi yang harus aku beli."
Ia menatapku dengan pandangan penasaran, "Kau seorang chef ya? Atau sedang kuliah Tata boga?" Meredith memilih untuk lanjut berbelanja bersamaku menghiraukan ibu-ibu dan 4 orang pria seram tadi yang terus berkeliling diantara kami mencuri dengar.
"Ah tidak, aku hanya mau memasak untuk suamiku." Ucapku terkekeh, masih memperhatikan kerumunan tadi belum beranjak dan masih mengikuti kami, bahkan ketika aku dan Meredith telah pindah ke area lain.
"Hiraukan saja, mereka tidak mengerti apa yang kita bicarakan." Mungkin ia sadar ketika aku menoleh terus ke sekeliling. Tidak biasa menjadi pusat perhatian soalnya, berbeda dengan Meredith yang mungkin sudah lumrah dengan keadaan ini. Fisiknya saja seperti model Victoria Secret, dia pasti sudah terbiasa menjadi sorotan mata semua orang.
"Uhm, aku mengerti kenapa kau berbicara denganku. Aku juga sangat senang saat bertemu orang yang dapat bicara Korea disini selain suamiku." Aku tersenyum, mengingat saat itu adalah saat aku antusias sekali berbicara dengan Jackson.
"Iya, aku sangat rindu Korea. Kau sendiri kenapa pergi dari sana? disaat aku sangat ingin kembali kesitu." Meredith berkata lesu.
"Suamiku berkerja disini, mau pulang ke Korea juga tidak bisa, keluargaku semuanya sedang berada di luar negeri." Sedih juga mengatakannya, seperti merasa tak punya rumah untuk kembali dan hanya punya Jimin untuk tempat bernaung. Walau sebenarnya keluargaku hanya sementara menetap di luar negeri.
"Kau masih sangat muda, tolong jangan katakan kau kawin lari dengan pacarmu di sekolah."
Aku menoleh kepadanya dan tertawa, "Tentu saja tidak, suamiku sudah berumur tahu! Tahun ini sudah mau masuk 28."
"Berumur apanya?! Aku lebih tua darinya 3 tahun, umur suamiku bahkan 2x lipat umurnya!" Meredith memutar matanya jengah.
Aku menganga, yang benar saja!
"Kau bohong. Bagaimana bisa kau..." aku memperhatikannya sekali lagi, tampilannya benar-benar tidak menunjukan usianya 30 tahunan!