
Aku sudah mandi, sudah selesai menyiapkan sup dan lauk untuk Jimin makan malam, tinggal menunggu kepulangannya.
Kalau dulu, sebelum hamil, aku biasanya juga menyiapkan hot tub untuk Jimin berendam. Malah terkadang, aku juga ditarik paksa untuk ikut berendam bersamanya walau aku sudah mandi.
Tentu saja bukan hanya sekedar berendam.
Namun sejak hamil, Jimin melarangku untuk terlalu banyak mondar mandir di kamar mandi. Takut aku terpeleset katanya. Dia bilang akan menggunakan shower saja sementara untuk mandi. Sampai aku melahirkan sepertinya.
Aku juga merindukan itu, rindu saling mengosokkan sabun satu sama lain. Rasanya romantis dan sangat mempererat hubungan kami karena aku sering tertawa geli dibuatnya.
Tidak lama setelah aku duduk menunggunya di ruang tengah, sosok Jimin muncul di balik pintu.
Aku langsung berdiri dari sofa untuk menyambut kehadirannya.
"Kau menata rambutmu." Adalah hal pertama yang ia tangkap saat melihatku.
"Ah, iya. Aku blow-dry sedikit." Aku memelintir rambutku canggung.
"Mau mandi dulu atau makan dulu?" Tanyaku sembari mengikuti langkahnya masuk ke dalam kamar.
"Mandi saja, aku masih agak kenyang."
Jimin terus melangkah tanpa menatapku, berlalu terus sampai masuk ke kamar mandi.
Padahal aku mengenakan baju tidur terusan yang dia sukai, aku ingat ketika terakhir aku memakainya dia sampai enggan melepasku untuk bangun.
'Kehidupan pernikahan memang tidak bisa di tebak.' Batinku murung.
Aku diam saja, berbaring di kasur sembari menunggunya mandi.
Pikiranku jauh melanglang buana sampai dikejutkan dengan pintu kamar mandi yang terbuka, mengeluarkan uap panas sisa Jimin mandi.
Pasti udaranya hangat sekali didalam sana, wajahnya saja sampai merah.
Jemariku dingin, gugup ketika Jimin keluar dengan rambut basah, handuk yang dipakai untuk menutupi badan bawahnya, dan muka segar selayaknya orang habis mandi.
Kalau didalam film animasi, mungkin karakterku sekarang sudah keluar iler saking terpesonanya dengan pemadanganku saat ini.
"Kau kenapa?" Tanya Jimin cuek, langsung meraih hairdryer yang tersimpan di laci meja.
"T-tidak kenapa-kenapa."
Tidak mungkin kan aku bilang padanya kalau aku sedang berada pada gairah tertinggiku saat ini.
Gengsiku mau di taruh dimana?!
Aku masih memperhatikan dia yang mengeringkan rambutnya dengan sembarangan, asal kering saja.
"J-jim..."
"...ya? Kau memanggilku?" Ia mematikan hairdryer agar suara mesinnya tak meredam suaraku.
"Mau aku bantu? Mengeringkan rambut..." tanyaku memberanikan diri.
"Tidak perlu, sudah hampir kering."
Kaget sendiri ketika mendengar nada bicaraku yang jelas sekali menunjukan rasa kecewa.
Ya, memangsih. Agak sedih karena usahaku masih tidak membuahkan hasil, padahal aku sungguh-sungguh ingin membantunya mengeringkan rambut, tidak lebih.
Bagiku sekedar berdekatan dengannya saja sudah cukup untuk mengobati rasa rinduku.
Tidak perlu sampai ditiduri kok.
Karena terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri, aku sampai tidak menyadari kalau Jimin telah selesai mengeringkan rambut dan sedang berjalan mendekatiku.
Tangannya mengangkat daguku untuk menatapnya, "Kau mau?"
Aku diam sebentar, memproses pertanyaannya.
"E-eh, itu... anu..."
"Kau sedang ingin, ya?" Tanyanya sekali lagi, tidak terlalu frontal tapi cukup untuk membuat pipiku bersemu malu.
Akhirnya, kuputuskan untuk jujur saja dan mengangguk mengiyakan pertanyaannya. Toh aku meminta pada suamiku sendiri, pikirku.
Jimin tidak tertawa, juga tidak menyeringai seperti biasanya saat menggodaku. Ekspresinya cukup serius untuk orang yang sedang menawarkan untuk bergumul panas diranjang.
"T-tapi kalau kau sibuk, tidak apa. A-aku bisa menahannya." Suaraku makin pelan, seperti mencicit makin kecil. Tidak berani bersuara lantang ketika di intimidasi dengan raut dingin Jimin.
"Kau bisa tahan?"
Jimin menatapku miring, seperti menganalisa kesungguhanku.
Walaupun dengan berat hati, aku tetap berusaha mengerti dengan keadaannya. Mungkin dia memang benar-benar sedang tidak ingin melakukan itu.
"Iya, bisa kok." Jawabku mantap.
Jemarinya mulai berpindah, dari yang tadinya di daguku sekarang menelusuri pipiku, kemudian berhenti untuk mengelusi leher bagian belakang telingaku.
"Padahal sulit sekali menahannya." Ujarnya serius, matanya masih menatapku dalam.
"Aku tidak mau memaksamu melakukannya, karena kupikir kau akan mengkhawatirkan kandunganmu..." ucapannya membuatku seketika mengerti pada apa yang sedang terjadi.
"Tapi kalau kau sudah sampai meminta seperti ini, aku dengan senang hati memberimu malam yang indah."
Ternyata selama ini, dia menghindariku karena tidak ingin terpancing gairahnya untuk meniduriku.
Aduuuuuhhh paakkk, hampir negatiff thingking nih readers lu bikin😌
Ternyata punya maksut mulia wkwkwkwk
Kalo gitu kuy gas ngeng dong semalem suntuk💪🏼
Asal gak kebablasan ya tar anak lu babar belur dalam perut wkakakakakak
Taukan mesti ngapain🙄 yang bisa bikin anin seneng gt taulaaah kaaaannnn.....