Brave Things

Brave Things
Part 3 Jackson



Malam ini Jimin membawaku ke gala dinner perusahaan. Dia memberitahuku mendadak sekali dari waktu acara, aku sempat khawatir karena merasa tidak punya baju yang layak dan bingung harus berdadan bagaimana.


Namun ternyata sore tadi Jimin mengirimkan stylist dan makeup artist ke penthouse kami, dalam waktu dua jam aku berubah dari itik buruk rupa menjadi angsa cantik jelita.


Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir aku bertemu orang sebanyak ini. Setelah aku menikah aku hanya bertemu dengan Jimin dan orang yang mengantarkan bahan masakan kerumah. Hanya dua orang itu.


"Tenang saja, mereka hanya rekan kerjaku, tidak menggigit." Ucap Jimin yang mungkin merasakan kegelisahanku sebelum memasuki ballroom.


Aku melingkarkan tanganku di lengan Jimin erat-erat, walau sepatu ini nyaman dipakai tapi tetap saja aku takut tergelincir, aku merasa berjudi dengan keseimbanganku sendiri dengan sepatu setinggi ini.


Jimin membawa ku keliling berkenalan pada orang-orang. Tugasku hanya mengenalkan diri dalam bahasa Mandarin, sesekali Jimin akan memberitahuku kalau rekan kerjanya mengucapkan kata pujian dan aku akan langsung mengucapkan terimakasih dalam bahasa Mandarin.


Karena keterbatasan bahasa, pesta yang ramai dan mewah ini terasa sepi dan suram untukku. Aku dipamerkan kesana kemari oleh Jimin tapi tak satupun yang bisa mengobrol denganku. Disaat seperti inilah aku menyesali keadaan ku yang sering bolos kelas mandarin karena ketiduran.


"Terakhir, aku akan mengenalkanmu dengan orang ini," ucap Jimin merangkul pinggangku dan membawaku ke meja dekat podium.


"Dia orang Korea, satu alumni denganmu, sama-sama universitas Yonsei,"


Kenapa tidak dari tadi mengenalkanku pada orang yang bisa bahasa korea. Aku sudah hampir mati bosan malah mengenalkan orang Koreanya jadi agenda terakhir. Aku menghela nafas sebal.


"Kau akan ngobrol bersamanya karena aku harus naik podium beberapa menit lagi." Jimin melihat jam tangannya sambil membawaku berjalan ke arah salah satu meja.


"Sudah selesai memerkan istrimu kepada seisi pesta?" Ucap orang itu dalam bahasa Korea, rasanya senang sekali bisa mendengar bahasa Korea langsung dari orang selain Jimin.


Jimin tersenyum dan mengabaikan pertanyaan salty tersebut, "Luna, perkenalkan Jackson, CTO di perusahaan kami."


Orang itu mengulurkan tangannya dan berkata "Senang bertemu denganmu, Luna. Aku bawahan Jimin di kantor." Sambil tersenyum.


Aku menyambut uluran tangannya, sementara Jimin mendengus dan memutar bola mata mendengar pernyataan Jackson.


"Aku Luna, istri Jimin." Jawabku membalas senyuman Jackson.


"Wajar saja Jimin buru-buru menikahimu, kau secantik ini, Jimin pasti takut kau berubah pikiran." Kami tertawa mendengar guyonannya,


"kalau aku datang di sumpah pernikahan kalian kemarin, aku akan mengintrupsi dan menggagalkan acaranya." Aku dan Jackson masih tertawa ketika Jimin dengan muka kesal memukul bahu Jackson dengan tinju tangannya.


Ketika Jimin naik podium pun, aku dan Jackson masih asyik bercerita. Sedikit banyak kuketahui ternyata dia alumni berbakat dengan GPA 4.00 dari Yonsei. Aku juga baru tahu kalau dia adalah mantan president organisasi kemahasiswaan di Yonsei,


Pantas mukanya tidak asing, gambar mukanya digantung dipelataran kampus.


Ketika dia bertanya tentang kelanjutan kampusku, aku menceritakan kalau aku cuti dari kuliah ketika menikahi Jimin.


"... ide bagus, kau bisa melanjutkan kuliahmu disini. Tapi aku tidak yakin Jimin mengizinkanmu." Ucapnya dengan muka serius kehadapanku.


"Loh, malah dia yang menyuruhku melanjutkan kuliah disini. Aku hanya sedang belajar bahasa Mandarin, makanya Jimin sering melarangku keluar." Aku mengakui, aku sedikit kesulitan keluar rumah tanpa pengawasan Jimin, aku bahkan belanja dengan cara menuliskan apa yang aku ingin beli, lalu Jimin memperkerjakan delivery man untuk mengantarkannya kerumah.


"Dia padahal bisa memasukkanmu ke gereja orang Korea disini, tetapi dia membiarkanmu terkurung dirumah. Jimin benar-benar tidak berubah." Jackson tertawa sembari menatap Jimin yang berbicara diatas podium penuh wibawa.


"Apa maksutmu tidak berubah?" Tanyaku penasaran. Masalahnya aku kan benar-benar tidak tahu bagaimana masalalu Jimin. Kami juga belum sedekat itu untuk menanyakan masa lalu satu sama lain.


"Tidak ada sih, dia memang orang yang bossy, makanya jadi bos." Jawabnya enteng,


"lihat suamimu melihat kearah kita. Sepertinya dia mulai menyesali keputusannya memberimu teman disini." Lanjutnya sambil tertawa.


Jimin memang melihat kearah aku dan Jackson ketika gilirannya berbicara digantikan oleh orang lain, aku melihatnya memiringkan kepala dan melihat kami dengan sinis.


Kurasa dia khawatir kalau Jackson ngomong macam-macam tentang dia, makanya aku langsung bergegas mencari cara bagaimana aku bisa berteman dengan Jackson.


Aku mengeluarkan ponselku secara santai, berusaha tidak memancing perhatian Jimin dengan cara meletakkan ponselku datar di meja tempat kami berdiri.


"Bisakah kita bertukar nomor ponsel?" Tanyaku pada Jackson yang baru saja meladeni orang yang menghampirinya.


Aku menyimpan nomor Jackson dengan nama Lily, jaga-jaga saja walaupun Jimin tidak pernah membuka ponselku. Aku takut kalau tiba-tiba berkirim pesan didepan Jimin dan terbaca olehnya aku berkirim pesan dengan rekan kerjanya Jackson.


Aku bukannya apa-apa. Aku hanya ingin tahu Jimin itu bagaimana dari teman dekatnya, kata Jackson mereka membangun bisnis ini bersama, dari awal sebuah lelucon di bar sambil minum-minum, sampai jadi kenyataan dengan lebih dari 300 karyawan di satu gedung.


Jackson pasti tahu banyak hal.


Untung aku sudah bertukar nomor dengan Jackson, karena ketika Jimin kembali, dia memangkas space antara aku dan jackson dengan cara berdiri diantara kami, memisahkan aku dan Jackson.


Tangannya melingkar erat di pinggangku, bahkan rasanya sampai keperut. Kami melihat penampilan persembahan diatas panggung dengan saling diam. Kenapa aku malah merasa habis selingkuh di belakangnya ya.


----


"Kau harusnya tahu bagaimana bersikap di depan orang ramai." Ucap Jimin ketika kami masuk kemobil diperjalanan pulang ke penthouse. Dia menekan tombol dimobil yang membuat kursi belakang tempat kami duduk, dan kursi supir Jimin menjadi ada pembatas.


Sepertinya ini pertengkaran pertama kami setelah satu bulan lebih menikah.


"Saat kutinggalkan dengan Jackson, rasanya kau melupakan fakta kalau kau datang kesana sebagai istriku." Ucapnya dengan nada rendah namun menuntut.


"Kami hanya ngobrol biasa." Aku mencicit, walaupun Jimin mengatakan unek-uneknya dengan suara pelan entah kenapa aku malah makin berdebar. Takut tiba-tiba dilempar keluar mobil.


"Sampai harus berbisik-bisik didepan orang ramai?" Jimin menatapku dengan muka kesal. Ekspesi ini baru pertama ia perlihatkan di hadapanku, tentu saja aku kaget.


"Kau beruntung dibawah gelap dan hanya panggung yang terang. Bayangkan kalau orang-orang bisa melihat interaksimu dengan Jackson." Ia mengembalikan logika berpikirnya padaku, yang sebenarnya tidak perduli. Yang aku perduli hanyalah bagaimana aku bisa tahu seluk beluk Jimin. Aku istrinya tapi merasa seperti orang yang paling tidak akrab dengannya.


"Aku minta maaf." Jawabku pelan.


"Kau tidak terlihat bersungguh-sungguh." Jimin membuang muka.


Aku meraih tangannya yang bertopang diatas kursi, menggenggamnya atas inisiatif ku sendiri dan berucap dengan lembut, "aku sungguh menyesal telah melakukan itu, aku berjanji tidak akan terulang lagi."


"Berikan aku ponselmu." Jimin mengulurkan tangan yang tadi kugenggam menjadi gerakan meminta.


Aku sangat bersyukur aku menyimpan nama Jackson dengan nama perempuan karena Jimin sedang memeriksa kontak dan log panggilanku, ia bertanya


"Dimana kau simpan nomor ponsel Jackson?" Dengan nada dingin.


Aku terkejut, darimana dia tahu aku dan Jackson tukaran nomor? Padahal aku mengeluarkan ponselku ketika dia lengah, dia juga tidak sempat ngobrol dengan Jackson dibelakangku, jadi tidak mungkin Jackson mengadu.


"Hah? Aku tidak ada nomornya." Jawabku akting pura-pura tidak tahu, aku merasakan suaraku bergetar ketika barusan berbohong, tapi semoga saja Jimin tidak menyadarinya.


Jimin menatapku, sampai aku canggung dan berkata, "aku benar-benar tidak tukaran nomor ponsel dengannya." Dengan nada tinggi.


Ia menghela nafas, "Aku minta maaf kalau aku membuatmu merasa risih, aku tahu kau menganggapku berlebihan..." ucapnya membuatku merasa bersalah,


"Aku seperti ini demi dirimu sendiri, Jackson itu orang licik gila tantangan. Kemampuan teknologinya diatas rata-rata. Aku tidak mau terjadi hal buruk denganmu." Ucapnya lembut. Aku semakin merasa bersalah ketika dia menunjukkan raut khawatir kepadaku.


"Lalu kenapa kau mengenalkannya padaku?"


"Karena aku merasa bersalah melihatmu murung di pesta, aku kasihan kau tidak punya teman bicara. Aku fikir setidaknya kau ada teman bicara ketika aku naik podium," jawabnya dengan suara meninggi.


"Kau boleh menganggapku berlebihan, tapi aku melarangmu untuk terlalu dekat dengan Jackson." Ucapnya final.


"Baiklah aku mengerti." Jawabku patuh.


"Aku akan melakukkan sesuatu agar kau punya teman disini." Jimin kemudian mengusap kepalaku,


Aku hanya berharap Jackson tidak bermulut besar dan bilang ke Jimin kalau aku minta nomor ponselnya, kalau dia melakukan itu, sepertinya aku akan jadi janda.