Brave Things

Brave Things
Part 20 Comeback



"Oh tuhan, syukurlah. Yatuhan, aku benar-benar berterimakasih, Luna..." Jimin meracau tidak jelas memanjatkan rasa syukurnya setelah melihatku sadar.


Tanganku bergerak, berusaha untuk menjadikannya penopang agar bisa bangkit walau aku merasa belum memiliki energi seperti biasa. Dengan sigap Jimin menahanku,


"Tidak, jangan bangun dulu Lun. Darahmu sangat rendah." Ujarnya, sekilas menunjuk beberapa kantong infus yang tergantung di sisi tempat tidur.


"A-apa yang terjadi?" Tanyaku serak.


"Kau pingsan, tekanan darahmu sangat rendah. Juga kau kelelahan..." ia menatapku ragu-ragu. Meneliti raut wajahku.


"Aku tak tahu... kalau aku tahu tentu tidak akan kubiarkan ibumu bergadang setiap malam dan berkerja keras. Maafkan ayah." Lanjutnya parau sembari mengusap perutku pelan.


Nafasku tercekat,


"Benarkah?"


Jimin mengangguk menanggapi antusiasku walau masih terbaring lemah, "Masih sangat muda, kita masih harus berhati-hati."


Aku masih belum percaya dengan kebenaran firasat yang aku rasakan sejak tadi pagi, sekedar menyaksikan bagaimana dokter memeriksa keadaanku dan menjelaskan semuanya secara rinci kepada Jimin.


Entah kenapa, ia terlihat sangat serius mendengarkan kata demi kata yang disampaikan oleh dokter yang memeriksa keadaanku.


Berbanding terbalik dengan kepanikan yang tiba-tiba kurasakan.


Sungguh perasaanku kini sangat bercampur aduk, aku akhirnya mengandung anak Jimin!


Tapi apakah waktunya tepat? Mengingat Jimin yang selalu tampak sibuk akhir-akhir ini. Takutnya kandunganku malah membuat hubungan kami memburuk, atau lebih parahnya merepotkan Jimin.


Selepas kepergian dokter, Jimin menarik bangku dan mendudukan dirinya disisiku. Mengenggam tanganku dan mengusap sudut wajahku lembut,


Perasaanku sungguh gelisah. Beribu andai-andai negatif bermunculan dalam benakku tentang kandungan ini. Berusaha mengumpulkan keberanian agar bisa melontarkan pertanyaan singkat pada Jimin yang agaknya masih menikmati keheningan kami.


"Apakah tidak apa-apa, kalau aku hamil begini?"


Ia mengernyir heran, "Apa maksutmu?"


"Tidak... aku hanya takut kondisiku akan merepotkanmu seiring berjalannya waktu."


Aku tahu, pertanyaanku tadi terdengar seolah menyudutkannya, walau kami sama-sama tahu bukan itu maksutku.


Jimin kemudian mengusap wajahnya kasar, raut lelah jelas terpatri diwajahnya yang tampak beratantakan. "Kau melantur,"


"Kau berhasil memberikanku sebuah anugerah indah dan kau khawatir kehamilanmu akan merepotkanku?" Tanyanya heran, seolah masih tak percaya dengan pernyataan yang aku lontarkan barusan kepadanya.


"Aku..."


"Huh, Maafkan aku, tanpa sadar aku telah sering membuatmu merasa tidak dihargai, bahkan merasa merepotkanku." Potongnya cepat, tak membiarkan aku melanjutkan kalimat untuk menjawab pertanyaan sarkastiknya.


Perasaanku menghangat, aku akhirnya berhasil menjumpai kembali sosok Jimin yang lembut dan perhatian. Menikmati bagaimana usapan ibu jarinya pada punggung tanganku yang masih ia genggam erat.


Tidak lama, karena aku mendadak mengingat kembali sosok Jisung yang sempat hadir dihadapanku saat collapse tadi, aku tak menemukannya disini?


"Omong-omong, bagaimana kau menemukanku tadi?" Tanyaku pada Jimin.


"Well, kau tidak bisa dihubungi. Aku memutuskan pulang lebih cepat dan menemukanmu tergeletak di tengah rumah."


Nafasku tercekat, "Bagaimana dengan Jisung?"


"Jisung? Dia tidak jadi pulang hari ini. Tiba-tiba ingin menginap dirumah temannya."


Bagaimana bisa? Aku jelas melihatnya pulang dan memasuki penthouse tadi siang. Tidak mungkin hanya mimpi karena aku ingat bagaimana aku mencium bau parfumnya, hal yang tidak bisa kurasakan kalau itu hanya mimpi.


"Jam berapa dia memberitahumu kalau dia akan menginap dirumah teman?"


"Hmm, sekitar pukul 2.30. Kenapa?"


Huh, jamnya pun masuk akal. Ia datang ke penthouse kemudian keluar dan memutuskan tidak ingin masuk lagi. Tapi kenapa?


Kenapa dia tidak mau membantuku?


"Kau bisa cek cctv hari ini?"


Jimin mulai mencurigai permintaanku, "Ada apa?" Selidiknya tajam.


Aku menggeleng pelan, "Aku sempat bermimpi melihat Jisung masuk ke rumah."


Dan aku akan terdengar bodoh karena ingin memeriksakan mimpiku pada rekaman cctv di penthouse milik Jimin.


Ia mengernyitkan alisnya ragu, mungkin ingin mencecar hayalan tidak masuk akalku namun berusaha menahannya.


"Bisa, tapi tidak sekarang." Jawabnya santai, ia mulai beranjak naik ke atas kasur rawatku, bergabung dengan hati-hati agar tidak mengacaukan selang yang tertancap pada pergelangan tanganku.


"Aku ingin memelukmu." Bisiknya didepan wajahku.


Ia telah berhasil naik, malah sedang mencari posisi nyamannya untuk mendekapku diatas ranjang sempit ini.


"Kau berantakan." Aku mengangkat sebelah tanganku yang tidak tertusuk jarum infus, mengusap dahinya yang tertempel beberapa helai anak rambut, mungkin keluar dari tatanan ketika ia sedang bercucuran keringat.


"Apa aku tidak terlihat tampan lagi?"


Mendengarnya, Jimin ikut tersenyum. Kemudian dengan antusias menarik wajahku dan ******* bibirku dengan intens.


Memaksaku untuk memberikan celah pada lidahnya yang mendesak masuk, walau gerakannya terkesan liar ia tetap melakukannya secara lembut dan bertahap.


Bulu kudukku berdiri ketika tangan Jimin sudah mulai mengusap leherku perlahan, menjalar menyusuri punggungku, lurus sampai ke pinggang.


"Ehmmhh..." desahku rancu, berusaha melepaskan diri dari ciuman mematikannya.


Dapat kulihat bagaimana ia sama terengahnya denganku, berusaha mengontrol sesuatu yang mulai naik pada darah muda kami.


"Kita masih harus berhati-hati." Ucapku, mengulangi kata-kata yang sempat ia katakan padaku tadi.


Dengan nafas berat, Jimin menelan ludahnya, "Kau benar, aku harus menahan diri."


Jimin terbiasa melakukan itu padaku kapanpun ia ingin, mungkin sekarang dia merasa sedikit shock ketika harus meredam nafsunya dikarenakan ada makhluk kecil didalam perutku yang harus kami jaga.


Aku mengerti, sebagai seorang istri dan juga partnernya bercinta, aku tahu bagaimana kegiatan itu begitu candu untuk dilakukan. Aku tak memungkirinya.


Bahkan rasanya masih aneh bagaimana aku sekarang memiliki alasan untuk menghindar dari serangan Jimin. Sebuah alasan yang mutlak, tak bisa diganggu gugat.


Aku menatapnya sekali lagi, tampak jelas bagaimana Jimin berusaha menghindar dan memilih tidak menatapku. Ia justru membawa wajahku bersembunyi pada ceruk lehernya, mendekapku erat sembari menatap langit-langit kamar.


"Aku melangkah terlalu jauh." Ujarnya pelan.


Tidak kuindahkan karena masih menikmati hangat tubuh Jimin pada tubuhku, merasakan kehadirannya yang sangat menenangkan sekaligus meresahkan hormonku.


"Kau harus jadi wanita yang kuat, kau harus mampu melindungi dirimu sendiri, terutama melindungi dirimu dariku." Ujarnya tegas.


"Hmm?" Gumamku asal-asalan, sungguh masih belum bisa diajak bicara serius, masih terbawa nafsu.


Setelah beberapa saat, barulah nafas kami mulai beraturan, naik turun secara bersahutan walau tubuh masih menempel satu sama lain.


Bahkan diam dan heningpun terasa menyenangkan bila kulalui bersamanya.


Aku masih betah berlama-lama dalam pelukannya. Kubiarkan dia melakukan apapun yang bisa ia lakukan dengan aku yang masih terkurung dalam rengkuhannya erat.


Namun hangat tubuhnya lama-kelamaan terasa pengap, membuatku memutuskan untuk  merubah posisiku untuk terlentang sepertinya.


Aku mendapati Jimin berkutat membalasi emailnya tanpa kesulitan sedikitpun walau salah satu lengannya aku jadikan bantal untuk kepalaku, bahkan ia tetap mendekapku erat sembari membalasi pesan-pesan yang ia terima di ponsel tanpa beban sedikitpun.


"Ada apa?" Tanyanya lembut, membiarkan aku menyaksikannya yang masih sangat sibuk dengan ponsel.


"Email siapa?"


"Teman bisnisku, ibu tirinya Jackson."


"Namanya Meredith?"


Dia berhenti mengetik sejenak, mengalihkan pandangannya padaku. "Kau mengenalnya?"


"Apa dia Bule? Cukup awet muda walau berumur 30 tahunan?"


"Iya," rautnya terkejut.


"Apa dia menikah dengan kakek tua?"


"Ya, ayah Jackson. Bagaimana kau tahu?"


Oh tidak, aku tahu aku akan mengacaukan perasaan Jimin sekali lagi kalau aku kembali menjalin hubungan dengan rekan kerjanya.


Jimin sangat tidak menyukai itu.


Aku juga tak mungkin berbohong dan mengakui kalau ia adalah kenalanku sebelum bertemu dengan Jimin. Pergaulanku terlalu kelas bawah untuk bertemu wanita semewah itu. Ia bahkan pergi diiringi penjaga dengan badan super kekar.


"Luna, ayo katakan. Aku tidak akan marah..."


Dia akan marah.


Aku tahu dia bohong, aku tahu dia mulai risih ketika aku masuk begitu jauh dalam dunia perkerjaannya.


Aku mengutuk pertemuanku dengan Meredith yang menempatkanku dalam posisi sulit ini. Harusnya aku belanja lebih awal beberapa jam hari itu, agar aku tidak pernah bertemu dengannya.


Kenapa aku harus lupa, kalau posisiku sebagai istri Jimin memang membuatku tidak dapat sembarangan bergaul dengan orang lain!


Mungkin karena merasa terlalu gugup menghadapi pertanyaan Jimin, aku merasa kalau perutku kembali tidak nyaman. Seperti naik asam lambung lagi, ingin muntah lagi.


Aku menutup mulutku dengan tangan ketika aku merasa gejolak itu datang lagi, membuat kerongkonganku terasa pedih seketika.


"Hgh." Aku menahan mualku susah payah.


Jimin menatapku khawatir, melihat perubahan wajahku yang mungkin pucat pasi ketika ia todong pertanyaan sederhana.


"Aku akan panggilkan dokternya." Ia bergegas turun dan menekan tombol disamping kasur kami, berbicara pada microfon kecil yang disediakan pihak rumah sakit.


Sisi positifnya, aku sepertinya akan punya alasan tetap untuk terhindar dari kemarahan Jimin dalam 9 bulan kedepan.


Siap kirim badut frojen untuk ultah anak pak Jimin dan bunda Luna🥰