Brave Things

Brave Things
Part 24 Death



Situasi nya sangat canggung.


Aku tidak pernah merasa canggung seperti ini sebelumnya bersama bocah ini. Tapi sejak ia memutuskan untuk tidak jadi tinggal bersamaku dan Jimin 3 bulan lalu, ikatan kami jadi berbeda.


Mungkin faktor aku juga yang terkesan menjaga jarak, masih mencoba memahami arti dibalik prilaku Jisung beberapa bulan silam.


Jimin juga masih sangat menjaga rahasia dibalik prilaku Jisung, sampai ditahap aku memeriksa ponselnya, namun tak menemukan apapun.


Dia malah berkata semua hanya salah paham dan membuat Jisung kembali kesini.


Jisung menurut, sudah beberapa hari tinggal disini, mengingat Jimin harus pulang-pergi Beijing-Australie dikarenakan kondisi Anna yang semakin memburuk. Jimin mengutus Jisung untuk menginap dan menemaniku.


Dan tentang Anna, aku sama sekali tidak cemburu. Dia wanita yang malang, pihak rumah sakit bahkan mengirimkan rekaman cctv bagaimana Anna berlari dan meloncat secepat kilat kearah balkon.


Padahal saat itu ada 4 petugas yang memeganginya, Anna seperti bertekat keras untuk menjemput ajal sampai-sampai caregiver-nya kewalahan.


Aku mendukung suamiku bertanggung jawab padanya.


Malam inipun aku dengan sungguh-sungguh mempack baju Jimin, pakai tas jinjing saja karena dia cuma kesana sekitar 2 hari, disana dia juga akan bertemu ibu dan mengurus keperluan kedua adikku yang satu minggu lagi sudah boleh dijenguk.


Entah bagaimana Jimin mengatur jadwalnya yang padat dengan waktu tidak lebih dari 48jam disana.


Aku mengusap perutku pelan, menunggui air panas di kettle listrik ini mendidih. Tidak terasa perutku sudah semakin membuncit. Dibawa berdiri lama juga mudah lelah, itu alasannya aku tidak ikut Jimin bolak-balik Australi.


Jimin bilang dia kemungkinan akan bergadang lagi malam ini, mengoreksi beberapa laporan. Atas inisiatif sendiri aku menyiapkan kopi kesukaannya. Diseduh dan difilter secara manual tanpa mesin kopi. Agak repot memang, tapi suamiku menyukainya.


Sekalian juga aku siapkan buah agar dia tidak mengkonsumsi biskuit sebagai teman ngopinya, kolestrol nya harus terjaga.


"Jisung sudah tidur?" Tanya Jimin yang tiba-tiba menghampiriku didapur memecah keheningan.


"Sepertinya sudah."


Anak itu memang sudah masuk kamar setelah jam 10 malam, jarang keluar lagi. Kuketahui karena memang sejak kehamilan ini aku sering menjelajah dapur tengah malam, sekedar mencari camilan. Jisung tidak pernah menampakkan diri walau aku berjam-jam diruang keluarga saat tengah malam.


"Aku baru saja mau buat kopi." Bisik Jimin ditelingaku, tangannya dengan luwes terkait mengelilingi pinggangku, memeluk perut buncitku dengan lembut.


"Hum sudah aku buatkan."


"Kau memang istri terbaik."


Tak luput pula leherku sudah menjadi santapan empuk bibir penuh Jimin. Dikecup dan sesekali dihisap kuat. Melewati rantai kalungku yang ia sematkan sendiri beberapa bulan lalu.


Aku tak tahu kenapa, tapi Jimin belakangan sering sekali membuat bekas ciuman di daerah leher dan dadaku. Terkadang membuatku kewalahan, karena aku harus menahan malu saat Jisung melirik leherku dengan wajah masam. Seolah lelah dengan apa yang dia lihat.


"Jim, nanti bekasnya makin banyak." Ucapku lembut saat Jimin tidak berhenti membuat bekas kemerahanku semakin jelas.


Dia tak bergeming, yang ada malah berpindah posisi ke leher kananku. Menciptakan pola-pola baru tidak beraturan.


Enak juga kalau dia membiarkanku menutupinya, ini aku tidak boleh menutupi bekasnya sama sekali.


Harus dibiarkan terlihat, malah kemarin Jimin dengan gilanya memotong pendek rambutku dengan tangannya sendiri, sehingga bekas-bekasnya semakin tak bisa kututupi. Mau pakai concealer juga tidak diizinkan.


Langkah satu-satunya hanya berusaha menggunakan turtle-neck saat Jimin berkerja dan Jisung pulang sekolah. Walau aku jadi kegerahan, dan harus mengurung diri dikamar yang sengaja aku dinginkan ac-nya.


Aku memperingati Jimin ketika aku menuang air panas mendidih ke kertas filter kopinya. Takut tidak seimbang karena tangan Jimin telah menangkup dadaku, diremas bergantian.


"Kau bisa melakukannya, pelan-pelan saja." Ucap Jimin yang malah menyemangatiku dalam proses membuatkannya kopi, bukannya membantu malah mengacaukan konsentrasiku, walau akhirnya aku berhasil menyelesaikannya dan meminggirkan semua barang berbahaya.


"Aaww, sakit!" Aku terpekik pelan merasakan ngilu mendadak, Jimin meremas payudara ku kelewat kencang, padahal rasanya sedang menegang beberapa hari belakangan. Sakit kalau terlalu dimainkan.


Jimin memang orang yang suka skinship.


Kami berdua sempat terdiam lama dengan Jimin yang memelukku dari belakang, menempatkan dagunya pada bahuku sembari memperhatikan filter kopi Jimin berkerja.


"Apa kau pikir Anna akan baik-baik saja?" Tanyanya ragu.


Aku tahu Jimin sangat terbebani dengan ini, dia akan menyalahkan dirinya dengan sangat parah jika sesuatu terjadi pada gadis itu.


"Aku pikir tuhan akan memberikan jalan terbaik untuknya, dan itu tidak ada sangkut pautnya denganmu." Aku mencoba jujur, namun memcoba mengatakannya secara tidak langsung.


Aku fikir Anna tidak bisa bertahan lebih lama lagi, menahannya disana hanya membuat perempuan itu makin rajin menyiksa dirinya sendiri, bahkan saat perawat lengah sedikit saja dia berhasil menciptakan banyak luka baru.


Dosis obatnya juga terus dinaikkan, Anna hanya tidur, dan bangun untuk membunuh dirinya sendiri.


"Kau benar, aku tidak seharusnya merasa tuhan tidak adil." Aku tersenyum lembut mendengar ucapannya.


"Tuhan bahkan telah mengirimmu sebagai penguatku menghadapi kondisi Anna, aku bajingan yang beruntung." Lanjutnya terkekeh hambar.


Aku merasakan sakit mendalam mendengarnya, walau Jimin mengucapkan dengan nada candaan.


Tangannya aku lepaskan dan aku membalik badan untuk bertatap muka dengannya.


Bibirnya segera menjemput bibirku, segera kujauhkan karena aku ingin melihat raut wajahnya. Walau tak berhasil karena Jimin malah mendaratkan kecupan-kecupan ringannya di seluruh wajahku.


"Kau cantik sekali," ujar Jimin disela kecupannya. " kau akan kujaga 10x lipat lebih ketat. Kejadian yang menimpa Anna tak akan terjadi padamu..."


Iya, inilah bentuk dari unresolved trauma yang menimpa Jimin, yang sialnya berdampak langsung padaku.


Aku jadi seperti anjing dalam kerangkeng. Hanya keluar rumah ketika pergi ke dokter kandungan bersamanya, selebihnya kuhabiskan didalam rumah untuk mengurus keperluan Jimin.


Tidak mungkin aku tidak muak dengan keadaan ini, namun aku terus berusaha menanamkan pikiran kalau yang dilakukan Jimin hanyalah sebuah bentuk perhatian, dia hanya takut karena telah mengalami kejadian tidak menyenangkan di masa lalu.


"Kau baik-baik saja? Kau tampak pucat." Jimin memperhatikan wajahku dengan seksama.


"Mungkin karena aku tidak pakai riasan?"


Dia kembali menciumi wajahku, "Aku tak pernah menyadari kau berhias atau tidak." Gombalnya membuatku memutar bola mata.


Bulu kudukku meremang ketika Jimin mulai melancarkan aksinya lebih dalam. Tangannya mulai masuk ke gaun tidurku, mengelus perutku dari dalam tanpa terhalang kain.


"Nngghh, Jim, kopinya nanti dingin..."


Aku tahu dia tak perduli lagi dengan kopinya, sepertinya malah aku yang jadi santapan sebelum ia berkerja.


"Aahhh, Jim," desahku parau, tak kuat menahan semua titik sensitifku disentuh mesra oleh Jimin.


Aku melirik ke arah pintu kamar Jisung yang sedikit terhalang oleh tembok dapur, jaga-jaga kalau anak itu malam ini terbangun dan memutuskan untuk keluar kamar.


Sebisa mungkin aku tak menyebut namanya di tengah sesiku bersama Jimin kali ini, mengingat terakhir kali melakukan itu, Jimin benar-benar tak terima. Aku sampai kewalahan karna dihabisi berkali-kali.


"Langsung saja Lun, aku tak punya banyak waktu." Tegasnya yang kemudian segera membalik tubuhku serta menarik turun panties ku hingga ke paha, tidak lupa ia pun sedikit menarik turun celananya.


"J-jim, a-aku tak-ut ketahuan." Rasanya sudah tidak karuan ketika Jimin menggesek naik turun kejantanannya pada permukaan ****** ku dari belakang,


Rasanya sangat sulit melakukan ini tanpa mencium bibirnya, posisi kami yang melakukannya dari belakang membuatku sukar untuk meraih ciuman dari Jimin, apalagi dia terus mendorong badanku agar aku tak banyak bergerak.