
"Luna, maafkan aku."
Aku seketika mendorong tubuhnya yang juga terduduk didepanku, berdiri meninggalkannya dan berjalan cepat sembari menghapus air mataku yang menggenang.
Hanya dengan tiga kata itu saja rasanya hatiku remuk dihantam palu godam, tidak percaya rasanya dengan apa yang terjadi.
Kenapa aku tidak pernah tahu tentang ini? Inikah alasan Jimin menikahiku? Karena aku tak tahu apapun tentang masalalu kelamnya?
Seharusnya aku tahu, tidak mungkin laki-laki dari keluarga berada, jabatan mentereng, fisik sempurna sepertinya, menginginkanku untuk di persunting.
Aku bahkan tak punya apapun untuk ditawarkan.
"Lepaskan aku..." tangisku pelan ketika Jimin menahanku,
"Kau tidak bisa pergi kemanapun, kau tidak tahu negara ini." Tangannya mencengkram erat lengan bagian atasku, menahan agar aku tidak berlari pergi.
"Aku tidak mau berdua denganmu, AKU TAKUT!"
Dengan cepat, telapak tangan Jimin menutup mulutku kuat. Kami masih berada di taman rumah sakit, suasananya lengang sekali karena taman ini sudah jauh dari ruang rawat, sudah mendekati parkiran. Keadaan taman yang kosong membuat suara teriakanku yang sebenarnya lemah dan serak itu dengan mudah terdengar nyaring di sini.
"Kumohon tenangkan dirimu. Kita bicarakan didalam mobil."
"Tidak, aku tak mau." Aku masih berusaha melepaskan pegangannya pada tubuhku, susah sekali walau kucoba dengan sekuat tenaga.
"Aku memegang passport dan id-mu! Kau tak bisa kemana-mana!" Ucapnya menatapku tajam.
"Kau mengancamku?" Aku tertohok tak percaya, untuk berlari menenangkan diriku saja aku tidak bisa, suami sialanku ini memegang semua kendali dalam hidupku.
"Kalau memang diperlukan, aku akan melakukannya!" Jimin menatapku nyalang,
Aku baru menyadari bahwa disetiap situasi ketika ia merasa terancam, maka dia akan marah.
Tangisku makin berderai, menyadari monster macam apa yang telah kunikahi, yang sialnya menjadi tumpuanku dan keluargaku melanjutkan hidup.
"Aku akan menjelaskannya! Apapun yang kau ingin tahu, tapi tidak disini, tidak saat kau masih dalam keadaan tak stabil." Ucapnya frustasi.
Jimin meraih tubuhku yang masih menangis, memelukku dengan erat mencoba untuk menenangkan.
Aku benci dengan kenyataan bahwa aroma parfumnya begitu lembut, usapan jarinya terasa tulus, dan ciumannya di keningku terasa hangat, membuatku melupakan fakta bahwa sesungguhnya aku tak mengetahui apapun tentangnya. Dia menyimpan begitu banyak cerita yang tak kuketahui, yang kurasa akan menyakitiku satu persatu ketika terungkap.
Sore itu , Jimin tidak membawaku kembali ke rumah ibu di Victoria. Ia mengemudi kearah luar kota dengan seenaknya tanpa membiarkanku pamit terlebih dahulu pada ibu.
Aku tak tahu apa yang dikatakan ibu pada Jimin lewat telfon ketika Jimin menghubunginya, aku juga tidak bisa menelfonnya walau ponselku siap siaga di genggaman.
Ponselku tak punya jaringan. Jimin mematikan bantuan sinyal dari ponselnya, saat sampai disini memang hanya Jimin yang memiliki kartu, sedangkan aku selalu mengandalkan wifi hotel atau dari ponsel Jimin. Ponselku saat ini benar-benar tak ada gunanya.
Aku hanya bisa pasrah, duduk di kursi penumpang dengan Jimin yang kebut-kebutan.
Ketakutanku pada kecepatan mobil ini membawa ku untuk memejamkan mata sejenak. Entah karna kurang istirahat atau terlalu lelah menangis, aku terlelap dengan instan hingga tak menyadari kalau mobil ini sudah sampai di tujuan.
Kupikir tujuan Jimin mengemudi adalah kembali ke Canberra, namun sepertinya tidak. Aku menerka-nerka dimana aku berada ketika membuka mata dan melihat kami berhenti di pekarangan sebuah rumah yang asri.
"Kita sudah sampai." Jimin menyapaku yang masih mengusap mata, ia tersender di jok mobil dan menghadapku dengan mata sayu. Apakah dia tertidur karena menunggui ku bangun?
"Dimana ini?" Suaraku serak sekali, Jimin langsung bangkit dan membuka botol mineral yang tersedia di samping kursinya.
"Minum dulu."
Aku meneguknya dengan rakus, setelah mengalami shock bertubi-tubi rasanya tubuhku dehidrasi, satu botol pun rasanya tak cukup.
"Kita di villa milik keluargaku, menginap disini saja malam ini." Ia mengusap kepalaku lembut, menatapku yang terengah-engah meminum air.
Aku masih diam tidak merespon ucapannya, hingga Jimin meraih tanganku untuk digenggam, "tidak apa-apa kan?"
"Kau akan menyakitiku?" Tanyaku sendu.
"Tidak! Luna, aku benar-benar meminta maaf karena terus membuatmu ketakutan. Aku..."
Ia menggantung kalimatnya,
"Kau membunuh anakmu sendiri?"
Dengan tampang terkejut ia menjawab, "Tentu saja tidak, kalau itu yang kau takutkan maka jawabannya tidak!"
"Kau memperkosa kekasihmu saat hamil?"
"Tidak, yang kulakukan adalah sebaliknya, aku benar-benar menjaganya." Jawabnya sendu.
"Lantas kenapa dia berteriak menunjuk dirimu seperti itu?"
Jimin menghela nafas, menyenderkan kepalanya kesandaran kursi dengan lelah.
"Aku membiarkannya berfikiran seperti itu, aku rasa itu akan sedikit mengurangi bebannya. Yang ia alami lebih menyedihkan dari itu..."
Ia kemudian menegapkan badannya,
"Ayo turun dulu, aku sudah telfon penjaga villa ini untuk menyiapkan makan malam." Dia mendekat untuk melepas sabuk pengamanku, "Masuklah duluan, aku akan membawa turun barang-barangmu."
Jimin keluar dan berjalan mengitari mobil untuk membuka pintuku, bermaksut menuntunku untuk turun.
"Apa yang membuatku harus percaya pada kata-katamu?" Tanyaku, masih ragu untuk mengulurkan tangan pada Jimin turun dari mobil.
Maksutku, Jimin bisa saja bohong. Mengarang cerita untuk menutupi kalau ternyata yang dikatakan mantan kekasihnya itu benar. Toh aku juga tak tahu bagaimana cerita aslinya.
"Kenapa aku harus percaya padamu?" Aku mengulangi pertanyaanku ketika melihat Jimin hanya terdiam didepan pintu mobil yang terbuka,
"Karena aku bukan orang yang sejahat itu." Jawabnya singkat sembari menatap kedua mataku dengan mantap.
Kalau hanya aku yang terikat dengan Jimin, aku mungkin masih bisa lari dari keadaan ini. Aku masih bisa pergi ke pedalaman provinsi kecil di Seoul, atau aku bisa pergi ke luar negeri dengan mengambil beasiswa atau apapun itu.
Namun ini tidak semudah itu. Aku memikirkan bagaimana nasib ibu dan kedua adikku jika aku melarikan diri dari Jimin.
Pasti tidak akan mudah hidup yang mereka lalui kalau aku bersikap egois seperti itu, walaupun seandainya Jimin tetap bertanggung jawab atas pengobatan mereka, aku yakin ibu akan tertekan dan mengutukku, berfikir aku wanita tak tahu terimakasih, tanpa mau mencari tahu kebenarannya seperti apa.
Menyedihkan memang, tapi apa yang kulakukan saat ini rasanya sudah langkah yang paling benar. Tetap disisi Jimin adalah posisi teraman yang tak bisa dijangkau oleh siapapun, kecuali Jimin itu sendiri.
Maka, kalau dia yang menghancurkanku, aku sedikit banyak bisa menerimanya.
"Kau sudah mandi?" Tanya Jimin yang sedang berbaring, tangannya bertumpu pada dahi, seketika ia angkat saat mendengar aku telah keluar dari pintu kamar mandi.
Aku mengangguk, "Mandilah, aku sudah siapkan air hangatnya." Ucapku berlalu tanpa melihat kearahnya.
Terlalu banyak pikiran yang berkecamuk di otakku, seperti bagaimana kalau Jimin memang tidak bisa menahan nafsu saat kekasihnya hamil, atau bagaimana caranya agar aku tidak mengalami kejadian yang sama,
bagaimana caranya aku dapat mencegah kehamilanku...
Rasanya sungguh membebani. Terus berputar-putar di kepalaku, mengambil alih fokusku sepenuhnya.
Hingga aku tak sadar bagaimana peganganku pada piring kaca mahal ini terlepas, hancur pecah seribu karena aku yang tidak konsentrasi saat mencuci piring.
Usai makan malam tadi aku memang tak menemukan lagi sosok yang menghidangkan makanan dimeja, laki-laki paruh baya itu pergi begitu saja tanpa pamit, membuatku berinisiatif untuk membereskan bekas makanku dengan Jimin.
Sejujurnya, aku hanya enggan lama-lama berdua dengannya. Mencari-cari kesibukan lain agar tak terlalu lama terjebak di ruang yang sama dengannya.
Mendengar suara piring terjatuh, Jimin menghampiriku dengan tergesa, memeriksa keadaanku.
"Aku memecahkan piring." Ucapku pada Jimin yang berdiri meneliti situasi.
Ia menghela nafas lega, kemudian mengulurkan tangannya padaku, mengajakku untuk berdiri.
"Biarkan saja, aku akan menelfon penjaga rumah untuk membersihkannya."
"Tidak enak, sudah malam." Aku tetap bersikeras mengumpulkan serpihan-serpihan kaca yang berserak mengelilingiku.
Ia terdiam cukup lama, memperhatikan gerak-gerikku yang tak kunjung selesai dan malah cenderung memperlama kegiatan itu.
"Kau menghindariku." Katanya tajam.
"Aku bilang aku akan menjelaskan semua yang kau ingin ketahui, tapi kau menghindariku..." dia berjalan maju mendekat, tidak memperdulikan pecahan kaca yang mengepungku bagai pagar berbahaya.
"Berhenti disitu!" Teriakku memperingatkannya.
Matanya tajam menatapku bagai elang, sedikitpun tak mengindahkan aku yang memintanya berhenti.
"Jimin, stop. Kau menginjak serpihan kaca nya!" Aku berdiri, hendak meloncat melewati serpihan tajam itu agar ia tak perlu berjalan diatasnya.
Aku tak mengerti kenapa ia terus maju, seperti sengaja menginjakkan kakinya disana, membuat jejak darah pada lantai dan kakinya.
Raut wajahnya sangat mengintimidasi, seperti tidak merasakan sakit sama sekali padahal telapak kakinya sudah bersimbah darah.
Aku tersudut diantara wastafel cuci piring, serpihan kaca, dan Jimin yang menghalangi aksesku untuk kemana-mana.
"K-kau berdarah..." aku mencicit ketakutan, wajahnya hanya berjarak dua jengkal dengan wajahku, bahkan aku dapat mendengar hembusan nafasnya yang berat dan jarang-jarang.
"Aku sengaja melakukannya untukmu." Ucapnya membuatku tak percaya.
"A-apa? Kenapa?"
"Aku menghukum diriku sendiri karena telah membuatmu setakut ini padaku." Ia mengambil rambut yang menempel di pipiku, meminggirkannya dan menyelipkan ke belakang telinga.
"Tidakkah kau pikir aku dapat memperoleh kepercayaanmu lagi? Aku... sangat mencintaimu." Lanjutnya setengah memohon.
Sungguh pernyataan cinta di waktu yang salah, aku sampai bingung harus menjawab apa, pikiranku masih gelisah memikirkan kakinya yang berdarah, butuh segera di obati.
Aku menangkup wajah Jimin, berusaha menyadarkannya dari tingkah laku tidak normalnya saat ini, "Jimin, aku mohon, biarkan aku mengobati kakimu terlebih dahulu."
Namun ia hanya sekedar menggeleng, memegang tanganku yang masih bertengger dipipinya,
"Berjanjilah, bahwa kau akan tetap bersamaku sampai akhir." Pintanya dengan tatapan sayu,
Tentu saja aku mengiyakan saja, apapun asal aku bisa mengurus lukanya terlebih dahulu. Aku mengangguk asal, membiarkan Jimin membawa tubuhku ke pelukannya tanpa perduli resiko apa yang akan menungguku akibat keputusan ini.
Kalau memang ada yang harus menderita, maka orang itu harus aku. Bukan orang tuaku atau adik-adikku. I take one for the team.
Bertahan dengan Jimin sudah sering kulakukan beberapa bulan ini, akan kupertahankan setidaknya sampai keadaan membaik, setelah itu akan kucoba untuk melepaskan diri dari Jimin. Kalau bisa.
Kalau tidak bisa maka sepertinya sudah takdirku untuk bersamanya, menghadapi kemarahannya, tersakiti fakta tentangnya yang satu persatu terkuak, menghadapi resiko menjadi sosok Anna yang selanjutnya...
Aku bersedia.
Sebagaimana aku tetap perduli pada Jimin, membersihkan lukanya setelah membawanya untuk berbaring di ranjang kami.
Sedikitpun tak kudengar keluhan perih yang kudengar dari mulutnya, aku bahkan mencabuti beling yang menancap di kulitnya tanpa bius sama sekali.
Ia tetap terdiam memandangiku, entah apa yang ia pikirkan, raut wajahnya tak bisa kutebak.
Tak mau membuat suasana kembali menegang, aku memutuskan untuk menyelesaikan membalut lukanya dalam diam, aliran darahnya juga sudah berhenti setelah aku kompres dengan batu es tadi.
Saking heningnya situasi ini, bunyi jam dinding berdetik terdengar begitu besar di telingaku. Entah apa yang dipertimbangkan oleh Jimin dalam hening itu, yang membuat ia akhirnya membuka suara,
"Aku tak tahu kalau Anna hamil..." ujarnya pelan, membuatku mengangkat kepala untuk memberi perhatian penuh padanya.